
Lydia mengakhiri panggilannya lalu menyimpan kembali ponselnya kedalam tas setelah itu dia menghela nafasnya membuat Aziz yang daritadi fokus nyetir memandang kearah Lydia.
"Kenapa menyesal?"kata Aziz.
"Gak, hanya saja aku merasa bersalah sudah bohongi bunda Airin soal kak Ryan."kata Lydia.
"Kenapa kamu gak bilang saja apa yang sebenarnya terjadi?"kata Aziz.
"Aku gak mau bunda khawatir, pasti mereka gak bilang kalau mbak Shinta hilang."kata Lydia.
"Ya sudah kalau gitu jangan sedih karena ini keputusanmu sendiri."kata Aziz.
"Iya sudah ayo jalan, aku mau tidur bentar."kata Lydia.
"Kalau tidur ambil posisi yang nyaman soalnya aku gak berani memegangmu takut kalau nanti tau Ryan pasti dia bakalan marah sama aku."kata Aziz.
"Iya, bawel."kata Lydia.
Lydia mencari posisi untuk tidur setelah menemukan yang nyaman dia tertidur pulas sedangkan Aziz hanya mengelengkan kepalanya saat melihat Lydia cepat sekali tertidur. Berbeda degan Aziz yang sedang mempertahankan kesadarannya agar tak tertidur, Ryan kesal karena tak menemukan Shinta ditempat yang mereka tuju karena kata mereka Shinta sudah pergi darisana.
"Aku gak yakin kalau Shinta sudah pergi darisana."kata Jono membuat Anton dan Ryan memandang kearah Jono.
"Lalu maksutmu bagaimana?"kata Ryan.
"Aku yakin jika Shinta masih disana."kata Jono.
"Gini saja bagaimana kalau kita pura-pura pergi dari sini tapi kita gak benar-benar pergi."kata Ryan.
"Baiklah, kita lakukan itu gimana kak?"kata Jono bertanya pada Anton.
"Aku ikut kalian saja yang terpenting bisa mengetahui dimana Shinta berada. Oh ya Yan, kamu sudah kasih tau Lydia belum bukannya kamu mau ke Bogor hari ini?"kata Anton yang ingat jika semalam bunda Airin sama Lydia paking semalam.
"Aku tadi sudah bilang, aku yakin Lydia bisa ngerti. Sekarang mbak Shinta yang lebih penting kalau sampai bunda tau kalau mbak Shinta hilang bisa marah dia."kata Ryan.
"Ya sudah ayo kita jalankan rencana kita."kata Anton terpaksa padahal entah mengapa dia khawatir pada Lydia sebab perempuan itu akan berbuat nekat jika keinginannya gak dipenuhi.
Ketiga pria itu pura-pura meninggalkan rumah itu tapi Jono menghentikan mobilnya ditempat yang aman lalu berjalan kaki menuju rumah yang tadi mereka datangi. Benar apa yang dikatakan oleh Ryan kalau Shinta berada dirumah itu, teman Shinta yang melihat kedatangan ketiga pria itu langsung saja terkejut.
"Kamu kenapa?"kata Shinta yang melihat kalau temannya terkejut.
"Itu liat dibelakangmu."kata teman Shinta.
Shinta memutar kursi rodanya, saat dia memutar kursi rodanya Shinta terkejut karena itu adalah suami dan kedua saudaranya.
"Bukannya kalian sudah pergi tadi?"kata Shinta.
"Kalau kita sudah pergi gak mungkin ada disini sekarang."kata Anton.
"Maaf kak."kata Shinta.
"Seharusnya kamu minta maaf sama suamimu karena sudah buat dia kebingungan mencarimu semalaman. Kalau ada apa-apa tu dibicarakan berdua. Kamu sudah menikah harusnya bisa lebih dewasa dan mendengarkan apa yang dikatakan suamimu jangan malah percaya sama orang lain dulu."kata Anton.
"Siapa suruh mas Jono meninggalkan aku sendirian."kata Shinta.
"Dia meninggalkanmu karena dia gak mau jika dia lepas kontrol bukannya marah buatmu sedih dan akan menambah masalah besar?"kata Anton.
"Maaf kak."kata Shinta.
"Sekarang selesaikan masalah kalian berdua biar kami disini saja."kata Anton.
Jono mendorong kursi roda milik Shinta untuk menjauh dari mereka. Jono mengajak bicara Shinta sekalian minta maaf karena sudah meninggalkan Shinta sendirian dirumah bukan maksutnya.
"Maafin aku dek, aku hanya gak mau lepas emosi dan melukaimu makanya aku pergi dari rumah."kata Jono sambil jongkok didepan Shinta.
"Mas, aku juga minta maaf karena sudah buatmu khawatir."kata Shinta.
"Aku yang salah karena gak mau jelasin siapa perempuan itu, aku janji mulai sekarang akan bilang kemanapun aku akan pergi jadi kamu gak curiga padaku. Tapi kamu juga harus janji satu hal padaku."kata Jono.
"Janji apa memangnya?"kata Shinta.
"Janji kalau ada apa-apa dengarkan penjelasanku dulu jangan langsung marah-marah bisa? Pernikahan itu akan langgeng jika kita saling percaya satu sama lain."kata Jono.
"Iya mas, aku janji. Aku boleh minta sesuatu sama kamu mas?"kata Shinta.
"Kamu mau minta apa katakan?"kata Jono.
"Aku mau berobat tradisonal kata temanku dengan pijat syaraf kakiku akan sembuh dengan cepat, jadi boleh ya untuk sementara aku tinggal disini?"kata Shinta.
"Ya sudah tapi aku mau pulang dulu ambil mobil setelah itu balik kesini. Aku juga harus bilang sama asistenku untuk menghendel semua kerjaanku dulu selama aku menemanimu disini."kata Jono.
"Mas pulang saja, aku gak mau kamu meninggalkan pekerjaanmu karena disana banyak karyawan yang harus kamu pikirkan."kata Shinta yang gak mau jika Jono mengorbankan pekerjannya demi dirinya.
"Aku gak papa kok, lagian uang bisa dicari sedangkan kamu gak bisa sayang. Bagiku kamu yang lebih penting."kata Jono.
"Makasih mas, tapi bagaimana kalau nanti papa marah?"kata Shinta.
"Papa gak akan marah karena ini demi kesembuhanmu, apa mau ikut kami pulang dulu?"kata Jono.
__ADS_1
"Gak usah aku disini saja soalnya aku sudah janji sama tukang pijatnya."kata Shinta.
"Ya sudah kalau kayak gitu kita kesana yuk."kata Jono.
Jono kembali mendorong kursi rodanya itu kembali ke tempat yang lainnya. Mereka yang sedang berbicara saat melihat kalau Jono mendorong kursi roda Shinta mendekati mereka.
"Bagaimana?"kata Anton saat melihat suami istri itu mendekat.
"Kita pulang Shinta akan tetap disini karena dia sudah janji sama tukang pijat, nanti aku kembali lagi kesini setelah mengurus pekerjaanku selesai."kata Anton.
"Kamu yakin? Atau kamu disini saja biar aku yang memberitau asistenmu kalau kamu sedang sibuk disini."kata Ryan menawarkan diri untuk membantu Jono.
"Gak usah Yan, aku ikut kalian pulang saja sekalian ambil mobil daripada nanti aku ngerepotin kalian."kata Jono.
"Ya sudah kalau kayak gitu, kalian berdua mau kami antar ke tukang pijat?"kata Ryan bertanya pada kedua perempuan itu.
"Gak usah kalian pulang saja."kata Shinta.
"Kamu yakin?"kata Anton.
"Iya kak, pulang saja aku sama temanku bisa sendiri kok."kata Shinta.
"Ya sudah kalau kayak gitu kami pulang dulu."kata Anton.
Ketiga pria itu berjalan menuju mobilnya untuk kembali ke Jakarta, Ryan sampai diJakarta langsung saja pamit untuk pulang. Dia ingin minta maaf pada istrinya tapi saat sampai diapartemen dia tak menemukan istrinya dimana-mana membuatnya kebingungan. Ryan masuk kedalam kamar, dia terkejut karena disana hanya tinggal kopernya saja sedangkan koper milik istrinya sudah gak ada disana. Ryan menghela nafasnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Lydia tapi sudah beberapa kali Ryan menghubungi istrinya tak diangkat sama Lydia membuat Ryan mengacak-acak rambutnya karena kesal. Ryan teringat dengan perkataan Lydia semalam kalau Ryan gak bisa mengantar maka bunda Airin yang akan mengantarnya ke Bogor. Ryan menghubungi bunda Airin karena hanya bundanya itu harapan terakhirnya.
[Hallo Asalamualikum... Ada apa, Yan?]
[Walaikumsalam bun, bun bunda sama Lydia sekarang?]
[Gak,bunda ada dirumah memangnya kamu lupa kalau istrimu ke Bogor sama Aziz? Tadi Lydia bilang sama bunda kalau kamu sedang sibuk kerja makanya Aziz yang mengantarkan Lydia ke Bogor.]
Ryan yang mendengar perkataan bunda Airin menghela nafasnya, Ryan gak menyangka jika istrinya itu tetap menutupi kesalahannya. Bunda Airin yang tak mendapat jawaban dari putranya tau pasti sudah terjadi sesuatu dengan anak dan menantunya itu.
[Yan, bilang sama bunda apa kamu bertengkar lagi dengan Lydia?]
[Gak bun, aku gak bertengkar. Lydia kesal karena aku selalu ingkar janji sama Lydia setiap kali aku janji akan mengantarkannya pasti esoknya saat mau berangkat ada saja halangan.]
[Kamu susul istrimu ke Bogor mungkin mereka belum sampai sana atau kamu hubungi dulu Aziz tanya dimana mereka sekarang.]
[Iya bu, kalau kayak gitu aku matikan dulu panggilannya.]
[Kamu susul istrimu minta maaf sama dia, bunda gak mau terjadi sesuatu sama istrimu.]
[Iya bun, sekalian aku mau pamit mau nyusul Lydia ke Bogor.]
Ryan mematikan panggilan itu setelah itu mencoba menghubungi Aziz sambil mengeret kopernya keluar dari apartemennya untuk menyusul Lydia ke Bogor. Saat Ryan masuk mobil baru Aziz mengangkat panggilan itu, membuat Ryan tersenyum karena saat itu mereka melakukan vc.
[Hallo Yan...]
[Kamu dimana aku susul kalian berdua kesana?]
[Aku lagi dilest area tapi istrimu masih tidur, kamu sedang dimana?]
[Aku mau jalan ini tadi baru saja dari Bandung ternyata mbak Shinta sama temannya melakukan pengobatan tradisional.]
[Kita tunggu dikontrakan kalian saja, katanya Lydia kontrakan itu masih kalian kontrak.]
[Itu sudah jadi rumah kami, aku sudah membelinya. Nanti kunci kontrakan kamu minta sama tetangga sebelah karena aku meminta bu Narti untuk mengurus rumah itu kalau kami gak berada disana.]
[Oke, baiklah. Kalau kayak gitu aku tutup dulu mau melanjutkan perjalanan.]
[Baiklah, hati-hati aku juga mau mulai jalan ini sampai ketemu disana.]
Ryan mematikan panggilan lalu mulai menjalankan mobilnya baru saja dipertengah jalan ponsel Ryan berbunyi ternyata itu panggilan dari Jono. Ryan mengangkat panggilan itu takut kalau terjadi sesuatu dengan mbak Shinta atau pada Jono sampai dia lupa dengan istrinya.
[Hallo Asalamualikum... Ada apa Jon?]
[Walaikumsalam, kamu ada dimana?]
[Aku ada dijalan memangnya ada apa?]
[Kamu bisa ke perusahaanku gak? Aku mau minta bantuanmu.]
[Baiklah, aku putar balik sekarang.]
[Baiklah aku tunggu disini, aku tutup dulu kalau kayak gitu.]
Ryan memutar balikkan mobilnya untuk menuju perusahaan Jono, Ryan lupa akan tujuan pertamanya untuk menyusul Lydia dan Aziz ke Bogor. Saat Ryan sampai diperusahaan dia langsung saja masuk ke dalam perusahaan. Saat dia masuk ke perusahaan banyak karyawan yang memandang kearahnya karena mereka baru pertama kali melihat Ryan datang kesana. Para karyawati banyak yang kagum akan ketampanan Ryan yang lebih tampan dari Jono, mereka juga penasaran siapa pria yang datang itu. Ryan yang diperhatikan hanya diam saja meneruskan jalannya menuju ruangan Jono tak memperdulikan para karyawan itu. Ryan sampai didepan ruangan Jono berjalan menghampiri sekertaris Jono..
"Siang, apa Jono ada didalam?"kata Ryan saat berada didepan sekertaris Jono.
"Eh ada tuan silahkan masuk."kata sekertaris Jono yang juga terpesona dengan Ryan.
Ryan masuk kedalam ruangan Jono, saat dia masuk ternyata Jono sedang marah-marah dengan bawahannya membuat Ryan tak enak hati karena menganggu Jono. Jono yang mendengar pintu ruangannya dibuka langsung saja memandang kearah pintu Jono mau marah tapi gak jadi saat melihat yang datang adalah adik iparnya.
"Sorry kalau aku ganggu."kata Ryan.
__ADS_1
"Gak kok, masuk saja sini."kata Jono.
Ryan tak banyak bicara berjalan menghampiri kakak iparnya itu lalu duduk disamping asisten Jono. Dua manger yang ada disana saat melihat Ryan terdiam karena mereka takut dan juga penasaran siapa pria yang baru datang itu.
"Lanjutkan saja aku gak mau ganggu."kata Ryan.
"Bentar ya aku mau nanganin mereka dulu."kata Jono yang diangguki oleh Ryan.
Ryan mengambil ponselnya lalu membuka sosmed entah kenapa saat itu dia ingin sekali melihat sosmed. Saat baru saja membuka sosmed Ryan tersenyum saat melihat wajah istrinya yang sedang tersenyum. Ryan mengerutkan keningnya saat membaca caption istrinya.
Sehat-sehat ya sayang, aku gak sabar menunggu hadirmu...
Ryan penasaran caption itu ditunjukan pada siapa, Ryan yang penasaran memilih untuk melihat-lihat caption istrinya tapi hanya caption baru Lydia saja yang membuat Ryan penasaran siapa yang dimaksut istrinya itu. Ryan yang terdiam memikirkan siapa yang dimaksut Lydia sampai tak sadar jika Jono sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Yan, kamu gak papa?"kata Jono sambil mengoyangkan badan Ryan sebab adik iparnya itu melamun.
"Eh aku gak papa kok, memangnya sudah selesai?"kata Ryan yang tersadar dari lamunannya.
"Sudah, Yan aku butuh bantuanmu beberapa hari ini selama aku menyusul Shinta."kata Jono membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Mau minta bantuan apa memangnya?"kata Ryan.
"Kedua orang tadi membuat masalah dan aku gak mungkin menyelesaikan masalah sebab kamu tau sendiri aku gak tega biarin Shinta lama berada disana sendirian."kata Jono.
"Memangnya masalah apa yang sedang kamu hadapi?"kata Ryan.
"Ini kamu liat sendiri."kata Jono memberikan berkas yang dia bawa daritadi.
Ryan menerima berkas itu lalu membacanya saat tau isi berkas itu membuatnya menghela nafas karena dia bimbang antara membantu Jono atau menyusul istrinya. Lydia juga membutuhkannya tapi dia juga gak bisa membiarkan Shinta sendirian diBandung.
"Baiklah aku bantu sampai selesai tenang saja."kata Ryan.
"Syukurlah kalau kayak gitu, kalau kamu butuh apa-apa panggil Dio saja. Dia yang akan membantumu selama disini."kata Jono.
"Memangnya kamu mau kemana?"kata Ryan.
"Aku mau pulang setelah itu pergi ke Bandung menyusul Shinta."kata Jono.
"Baiklah hati-hati, Yo aku butuh bantuanmu tolong kamu ambilkan laporan keuangan dan pemasaran tiga bulan terakhir ini."kata Ryan.
"Baik tuan kalau begitu aku permisi dulu."kata Dio.
Saat Dio keluar dari ruangan itu Ryan menghela nafasnya karena dia pasti membuat istrinya itu kecewa lagi. Saat Ryan sedang memikirkan Lydia ponsel Ryan berbunyi dan dia melihat kalau itu panggilan vc dari Lydia. Ryan tersenyum lalu mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum sayang...]
[Walaikumsalam kakak ada dimana sekarang kok itu ruangannya aku gak kenal?]
[Maaf sayang kayaknya aku gak bisa menyusulmu ke Bogor, aku sekarang ada diruangan Jono karena disini ada masalah yang harus diselesaikan.]
[Memangnya Jono kemana kok kamu yang harus mengerjakan pekerjaan itu?]
[Jono menyusul mbak Shinta berobat diBandung.]
[Oalah ya sudah gak papa kok, aku cuma mau kalau sebentar lagi aku sampai Bogor.]
[Iya sayang, maaf ya aku buat kamu kecewa lagi.]
[Gak papa kok, ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]
[Ya sudah kalau sudah sampai kabari lagi ya, tadi aku sudah bilang sama Aziz dimana minta kunci kontrakannya.]
[Iya kalau gitu semangat kerjanya jangan lupa makan.]
Lydia setelah berkata begitu langsung mematikan panggilannya sebab dia sudah gak bisa membendung airmata kekecewaannya pada Ryan. Aziz yang melihat Lydia menangis memberikan tisu pada Lydia untuk mengusap airmata Lydia sedangkan Ryan hanya bisa menghela nafasnya dan berjanji pada dirinya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menyusul Lydia. Saat Ryan sedang melamun Dio masuk keruangan itu sambil membawa apa yang diminta oleh Ryan.
"Ini tuan laporan yang anda minta."kata Dio.
"Yo, aku minta tolong sama kamu kalau nanti ada orang yang mau masuk kamu saja yang menangani mereka karena aku disini hanya menangani kasus ini saja bukan yang lain."kata Ryan.
"Baik tuan, saya akan bilang sama sekertaris untuk mengalihkan keruangan saya. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan tuan?"kata Dio.
"Sudah gak ada kamu bisa kembali keruanganmu nanti kalau aku membutuhkanmu akan aku panggil."kata Ryan.
"Baik tuan kalau begitu saya permisi untuk kembali keruanganku."kata Dio yang hanya diangguki oleh Ryan.
Ryan fokus dengan pekerjaannya setelah Dio pergi dari ruangan itu. Ryan mempelajari laporan itu dan menemukan kejanggalan disana, Ryan mengambil laptop milik Jono lalu membukanya tapi Ryan kesal sebab laptop itu dikunci membuatnya gak bisa membuka laptop itu. Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Jono, untung saja hanya satu kali panggilan Jono sudah mengangkat panggilan itu.
[Hallo ada apa Yan?]
[Apa kata sandi laptopmu dan aku butuh akses masuk ke akun perusahaanmu.]
[Aku kirim lewat pesan saja, maaf tadi aku lupa memberitaumu.]
[Iya gak papa aku tunggu pesan darimu.]
Ryan mematikan panggilan itu dan gak lama pesan dari Jono masuk, Ryan setelah mendapatkan apa yang dia cari langsung saja mengotak-atik laptop itu lalu terkejut saat melihat laporan keuangan dan laporan pemasaran yang beda jauh. Ryan bingung mana yang benar diantara dua laporan itu sehingga Ryan memutuskan untuk fokus dilaporan pemasaran. Ryan juga membuka laporan pemasaran selama satu tahun ini dan perusahaan itu berkembang pesat tapi mengapa malah pengeluaran yang banyak bukan pemasukan. Ryan pusing hingga akhirnya memutuskan untuk meretas rekening keuangan perusahaan itu setelah dapat persetujuan dari Jono. Ryan terkejut saat tau ada dua rek yang bukan nama perusahaan membuatnya mencatat no rek itu lalu menutup kembali retasannya.
__ADS_1