Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia belanja ke supermarket


__ADS_3

"Kamu itu bisa gak, gak usah gunain nama kak Ryan buat tameng nanti dikira kita hanya memanfaatkan nama besar kak Ryan lagi."kata Lydia.


Saat Lydia baru selesai berbicara seperti itu, Ziva masuk dengan seorang pria yang Lydia kenal dan saat teringat siapa pria itu Lydia hanya tersenyum. Pria yang bersama Ziva saat melihat Lydia tersenyum lalu berjalan menghampiri Lydia dan juga Rini. Ziva yang tau kemana arah pria yang bersamannya merasa kesal tapi setelah itu tersenyum karena dia pikir bisa memamerkan Bagas pada Lydia apalagai Bagas adalah seorang dokter muda.


"Hai Ly, bagaimana kabarmu sudah lama gak ketemu?"kata Bagas.


"Kabarku baik, kamu sini bagaimana kabarnya pak dokter?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Kamu ini ada-ada saja, sekarang kerja dimana?"kata Bagas.


"Aku gak kerja hanya pengangguran, kamu sendiri bekerja diRumah Sakit mana?"kata Lydia.


"DiRumah Sakit Sejahtera."kata Bagas.


"Kamu ini sok kenal banget sama kak Bagas, gak usah sok-sokan deh ingat pria yang mengaku-ngaku sebagai pemilk mall ini."kata Ziva sombong membuat Lydia tersenyum.


"Siapa perempuan disebelahmu ini Gas?"kata Lydia.


"Gak tau tadi aku nemu dipinggir jalan tiba-tiba ngikut."kata Bagas membyat Ziva memandang kearah Bagas sedangkan Lydia dan Rini tersenyum.


"Oalah aku pikir pacar kakak, kalau kakak pacaran sama dia aku merasa kasian sama kamu kak."kata Rini membuat Bagas mengerutkan keningnya.


"Maksutnya kasian sama aku kalau sama dia bagaimana?"kata Bagas.


"Sudah gak usah dengarkan perkataan temanku kak, maaf ya kak aku harus segera kembali ke apartemen soalnya aku daritadi keluarnya. Ayo tolong bawain belanjaanku maaf kalau merepotkanmu."kata Lydia bicara sama karyawan.


"Gak papa bu."kata karyawan pria.


"Gak usah bawa banyak biar setengahnya aku yang bawa soalnya belanjaannya banyak."kata Lydia.


"Gak berat kok bu, saya kan pakai alat ini."kata karyawan pria.


"Ya sudah kalau kayak gitu ayo berangkat, kami pergi dulu."kata Lydia.


Lydia dan karyawan pria itu pergi dari sana sedangkan Rini setelah kepergian mereka berdua juga ikut pergi kembali bekerja. Ziva malah cerewet membicarakan tentang keburukan Lydia membuat Bagas ilfeel padahal mereka baru saja bertemu satu kali itu. Bagas sebenarnya malas mau bertemu Ziva kalau bukan karena orangtuanya yang memaksa untuk bertemu.

__ADS_1


Lydia yang sampai apartemennya dan karyawan tadi setelah menurunkan belanjaannya pamitan untuk kembali ke supermarket. Tapi sebelum ke supermarket Lydia memberikan karyawan itu minuman dan tips.


"Ini buatmu."kata Lydia.


"Gak usah bu, saya minumnya saja uangnya gak usah."kata karyawan.


"Ambil saja itu reseki buatmu."kata Lydia tetap memaksa agar karyawan itu menerima uang yang dia berikan.


"Tapi ini kebanyakan nanti kalau atasan saya tau pasti marah."kata karyawan itu karena Lydia memberikan 3lembar uang berwarna merah.


"Gak papa ambil saja, asal kamu gak bilang sama atasan kamu pasti dia gak akan tau. Oh ya nama kamu siapa biar nanti kalau aku belanja sendiri lagi bisa minta tolong kamu buat bawain belanjaanku lagi?"kata Lydia.


"Nama saya Adi bu, kalau begitu saya permisi dulu. Sekali lagi terimakasih dengan ini saya bisa memberikan tas sekolah adik saya."kata Adi.


"Iya semoga bermanfaat deh uangnya."kata Lydia.


Lydia setelah kepergian Adi menutup pintu lalu pergi ke dapur untuk menata belanjaan kedalam kulkas yang bisa dimasukkan kedalam kulkas yang gak bisa dia tata ditempat yang kering. Lydia membawa barang kebutuhan untuk mandi kedalam kamarnya untuk diletakkan kedalam kamar mandi. Selesai memberekan itu terdengar ponselnya berbunyi Lydia mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari mama mertuanya Lydia mengangkat panggilan itu karena penasaran tumben mama mertuanya itu menghubunginya.


[Asalamualikum Bun...]


[Ada bun memangnya ada apa ya?]


[Bunda sama mbakmu mau main ke apartemen apa boleh?]


[Boleh bun, kapan bunda mau kesini?]


[Ini bunda sedang menunggu mbakmu diparkiran.]


[Oh iya bun, aku tunggu bunda datang.]


Lydia mematikan panggilan itu, Lydia bingung mau bikin apa masak mertua dan kakak ipar datang tak ada suguhan. Lydia keluar kamar lalu melihat kulkas ternyata didalam kulkas ada bahan kue akhirnya Lydia membuat kue sederhana dan cepat jadinya. Benar saja bertepatan dengan kuenya jadi terdengar bel apartemennya berbunyi. Lydia berjalan untuk membuka pintu benar saja yang datang mama mertua dan juga kakak iparnya.


"Bun, mbak ayo masuk."kata Lydia.


Kedua perempuan itu masuk lalu tersenyum karena melihat apartemen itu rapi, hidung Shinta mencium bau sedap membuat dia penasaran bau apa itu.

__ADS_1


"Dek, maaf mbak boleh tanya sama kamu?"kata Shinta yang gak enak mau bertanya.


"Memangnya mbak mau tanya apa? Tanya saja gak papa kok."kata Lydia yang penasaran apa yang mau ditanyakan oleh kakak ipranya begitupun dengan bunda Airin.


"Kamu mau tanya apa sih mbak kok bunda jadi penasaran?"kata bunda Airin.


"Aku mau tanya bau harum apa ini?"kata Shinta membuat Lydia tersenyum.


"Oalah aku pikir apa mbak, aku tadi buat kue tapi baru matang jadi belum bisa dipotong sebentar lagi aku bawa kesini. Mbak sama bunda mau minum apa?"kata Lydia.


"Bunda apa saja asal yang segar hari ini panas banget apalagi bunda tadi harus nunggu kakakmu lama banget diluar."kata bunda Airin.


"Kan aku sudah bilang sama bunda untuk naik keatas duluan tapi bunda yang gak mau."kata Shinta membuat Lydia tersenyum saat melihat mertua dan kakak iparnya sedang berdebat.


"Ya sudah aku bikinin kalian jus jeruk saja bagaimana?"kata Lydia.


"Boleh sayang, maaf ya kalau kamu gak nyaman sama kelakuan kakakmu ini yang suka bikin ribut."kata bunda Airin.


"Bun, siapa yang suka bikin ulah bukannya bunda yang selalu keras kepala sama kemauan bunda."kata Shinta yang gak mau disalahkan sama bundanya.


"Gak papa kok bun, mbak. Aku juga terbiasa berantem sama mama kalau ada dirumah tapi kalau gak kelihatan pasti dicariin."kata Lydia.


"Bener tu Ly, bir kakak bantu saja bagaimana buat minumnya sekalian mbak mau nyicipi kue kamu mbak gak sabar."kata Shinta.


"Oh ya Ly, lehermu itu kenapa kok merah-merah sih?"kata bunda Airin.


"Masak sih mbak kok aku tadi gak melihat."kata Lydia sambil menyalakan kamera diponselnya untuk melihat ada apa dilehernya.


Lydia terkejut ternyata benar apa kata bundanya kalau lehernya merah, Lydia kesal dengan suaminya karena dia tau jika itu ulah suaminya yang membuat banyak tanda dilehernya tapi yang Lydia yang gak habis pikir kenapa dia gak bisa melihat bekas itu padahal yang ada didadanya dia bisa melihatnya. Shinta yang melihat kalau adik iparnya sedang kesal hanya tersenyum.


"Mbak gak nyangka kalau Ryan bisa ganas juga padahal setahu mbak dia gak pernaj dekat sama perempuan eh malah tiba-tiba menikah."kata Shinta.


"Mbak apaan sih."kata Lydia sambil pipinya merah karena malu sebab mertua dan kakak iparnya yang tau untung saja tadi saat ke supermarket dia pakai pakaian berkerah kalau gak pasti sudah jadi bahan ejekan Rini dan malah rame digruup.


"Kamu ini liat wajah adik iparmu sudah memerah kasian. Ya sudah Ly kamu gak usah dengarkan perkataan mbakmu sekarang kita bikin minuman bunda sudah haus ini."kata bunda Airin.

__ADS_1


__ADS_2