Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Dahlia datang ke tempat kerja Lydia


__ADS_3

Saat mereka sedang serius berdiskusi tiba-tiba Alex masuk kedalam divisi Lydia membawa makanan dan juga barang yang dibutuhkan oleh Lydia. Saat Alex masuk kedalam ruangan itu ada tiga karyawan yang melihat atasannya itu masuk kesana.


"Ish pasti divisi mereka dapat proyek lagi? Enak banget mereka gara-gara Lydia mereka selalu dapat proyek."kata karyawan.


"Palingan dia jual diri."kata karyawan baru.


"Kok kamu bisa ngomong kayak gitu?"kata karyawan lain.


"Coba saja kalian pikir Lydia itu punya anak tanpa suami, pastilah perempuan itu sudah menjual dirinya atau jangan-jangan itu anak tuan Alex lagi?"kata karyawan baru.


Saat karyawan baru itu berbicara seperti itu bertepatan dengan Dahlia yang datang kesana, Dahlia kesal dengan omongan tiga karywan itu yang gak bisa dijaga mulutnya. Kok bisa Alex merekrut karyawan yang gak bisa menjaga ucapannya gak tau kerjaannya bagus atau malah berantakan.


"Kalian sedang bicarakan siapa?"kata Dahlia.


"Itu Lydia si perempuan murahan."kata karyawan baru.


"Masak sih? Bukannya ini masih jam kerja ngapain kalian disini malah ngurusin orang lain gak kerja?"kata Dahlia.


Ketiga karyawan itu saat mendengar pertanyaan Dahlia langsung memandang kebelakang kedua karyawan lama terkejut karena dia tau siapa Dahlia sedangkan karyawan baru yang bilang Lydia murahan itu gak tau jadi dia gak takut sama sekali.


"Memang benar kalau Lydia itu perempuan murahan, kalau gak murahan pasti anaknya itu jelas siapa ayah kandungnya atau jangan-jangan itu anak tuan ALex lagi?"kata karyawan baru.


"Masak sih, kalian bisa tau kayak gitu darimana?"kata Dahlia.


"Mungkin sajakan."kata karyawan baru.


"Sudah kamu jangan bahas lagi soal Lydia."kata karyawan lama yang gak mau jika mereka dapat sangsi karena mereka tau siapa Dahlia.


"Memangnya dia siapa? Aku gak akan takut sama perempuan rendahan kayak dia apalagi sama Lydia itu."kata karyawan baru.


"Kayaknya kamu punya dendam sama Lydia?"kata Dahlia.


"Gak ada, aku hanya gak suka sama karyawan yang suka memberikan badannya pada atasan hanya untuk mendapatkan perhatian darinya."kata karyawan baru.


"Kamu tau darimana kalau Lydia itu menyerahkan tubuhnya pada Alex?"kata Dahlia.


"Sudah jangan bicara lagi, bisa kena masalah kita."kata karyawan.


"Masalah apa palingan dia juga sama kayak Lydia menyerahkan tubuhnya pada atasan."kata karyawan baru.


Saat Dahlia mau menjawab dia, Alex keluar dari divisi Lydia membuat Dahlia diam. Alex yang melihat Dahlia sedang berbicara dengan ketiga karyawan dengan wajah masamnya membuat Alex ingin tau apa yang dibicarakan oleh keempat orang itu.


"Ada apa ini?"kata Alex.


"Gak ada tuan, kami hanya ngobrol saja."kata karyawan baru.

__ADS_1


"Masak? Lalu omongan kamu yang bilang kalau aku sama Lydia memberiakan tubuhku pada atasan apa? Terus kamu juga bilang kalau anak Lydia itu anak haram Lydia sama Alex bagaimana?"kata Dahlia membuat Alex berwajah dingin.


"Mana ada aku gak bilang kayak gitu, kamu kali yang bilang kayak gitu supaya aku dihukum sama tuan Alex."kata karyawan baru mealah menyalahkan Dahlia.


"Oke, kedua temanmu bisa jadi saksi siapa yang mengatakan perkataan itu."kata Dahlia.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi kalau gak kalian aku pecat."kata Alex.


"Maaf tuan, apa kata nona Dahlia benar jika tadi kami membicarakan tentang Lydia."kata karyawan takut-takut.


Alex yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya, Dahlia yang tau kalau Alex malah mendekati Alex lalu mengelus lengan pria itu.


"Sudah biarkan saja, aku sama Lydia gak papa kok. Tapi kalau mereka masih berbicara seperti itu lagi pecat saja, lagian mereka pasti tau kalau dipecat darisini gak akan susah dapat kerja."kata Dahlia.


"Tapi mereka menuduhmu sama Lydia yang gak gak tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi."kata Alex yang ingin memberikan mereka hukuman.


"Biarkan saja, Lydia ada didalam gak?"kata Dahlia.


"Ada tu lagi meeting sama yang lain tumben kamu ada waktu datang kesini?"kata Alex.


"Kalau buat Lydia aku pasti ada waktulah, kalau sama kamu malas aku."kata Dahlia membuat Alex tersenyum.


"Sakit hati aku Li, kamu tega banget sama aku."kata Alex membuat Dahlia hanya mengelengkan kepalanya saja.


"Malas aku sama kamu, bagaimana jadi kerjasama dengan perusahaan kak Jono?"kata Dahlia.


"Oalah, oh ya kalau kamu gak mau ada yang membicarakan Lydia tolong bagi kerjaan sama rata agar gak ada rasa iri didivisi yang lain."kata Dahlia membuat Alex menaikkan alisnya.


"Kenapa gitu? Aku pilih divisi pak Hardi bukan karena aku teman dekat Lydia tapi karena ide-ide mereka akhir-akhir ini bagus dibandingkan ide dari divisi lain."kata Alex.


"Tu dengar, kalau kalian mau dipercaya buat menangani proyek kerja lebih keras lagi jangan bisanya ngomongin orang dibelakang."kata Dahlia membuat Alex tersenyum.


"Aku seriusan kamu ngapain datang kesini?"kata Alex.


"Aku mau ambil makanan buat Raka, mau ngapain lagi kesini kalau gak ngambil ASInya Lydia?"kata Dahlia.


"Siapa tau kamu mau bertemu denganku? Kangen sama aku."kata Alex sambil menaik turunkan alisnya.


"Santi mau kamu kemanain? Aku sudah trauma berhubungan sama kamu. Sudah aku mau keruangan Lydia dulu."kata Dahlia.


Alex yang melihat Dahlia berjalan meninggalkannya hanya tersenyum, Alex gak menyangka seorang perempuan yang dulu pernah dia sakiti sekarang malah jadi sahabatnya. Dahlia memang perempuan yang baik, Alex hanya bisa berharap jika perempuan itu bisa mendapatkan pendamping hidup yang sayang padanya. Dahlia masuk keruangan Lydia dan melihat kalau mereka sedang sibuk pelan-pelan berjalan menghampiri mereka.


"Maaf kalau aku ganggu."kata Dahlia membuat yang lain memandang kearah Dahlia.


"Kamu sudah datang, kok gak bilang saja biar aku yang turun ke bawah?"kata Lydia.

__ADS_1


"Kalau aku menyuruhmu turun kebawah aku gak akan tau para karyawan lain membicarakanmu."kata Dahlia membuat yang lain menghela nafas.


"Kenapa sih memangnya kami gak boleh sering dipercaya oleh tuan Alex buat menangani proyek, padahal kalau kita gak dapat mereka yang dapat kita biasa saja?"kata karyawan.


"Iya benar, memangnya mereka bilang apa biar aku yang samperin mereka?"kata Santi.


"Biasalah katanya Lydia simpanannya tuan Alex, Raka anak diluar nikah mereka."kata Dahlia membuat Lydia menghela nafasnya.


"Kamu masih tetap mau diam saja Di,mereka sudah membicarakan Raka loh?"kata pak Hardi.


"Iya Di pak Hardi benar."kata Santi.


"Biarkan saja toh, aku yakin mereka sudah dapat balasannya."kata Lydia sambil memandang kearah Dahlia.


"Aku gak melakukan apapun, atasanmu yang memperingatkan mereka. Jika masih membicarakan tentangmu dan dia maka mereka akan langsung dipecat."kata Dahlia.


"Syukurlah kalau kayak gitu."kata Santi yang diangguki oleh semuanya.


"Sudah gak usah bahas itu lagi, mana ASI raka? Aku mau cepat pulang sudah kangen sama keponakanku."kata Dahlia.


"Kamu gak kangen sama aku?"kata Lydia.


"Ogah, ngapain aku kangen sama kamu nanti mereka kira aku lesbi lagi. Aku masih doyan laki-laki."kata Dahlia membuat semua orang yang ada disana tertawa melihat keabsolutan kedua perempuan itu.


Mereka semua tau jika kedua perempuan itu saling menyayangi satu sama lain dan kalau terjadi sesuatu sama salah satunya pasti mereka akan membela mati-matian. Lydia berjalan menuju ruangan pak Hardi untuk mengambil ASI diruangan beliau. Setelah memasukkan ASI kedalam box, Lydia keluar. Saat dia keluar, Lydia melihat Dahlia sedang berbicara dengan karyawan yang lain ternyata mereka sedang membahas proyek yang ditangani sekarang.


"Kalian ini kok kasih bocoran sama Dahlia sih, kalau dia meniru proyek kita bagaimana?"kata Lydia.


"Enak saja mana bisa aku meniru proyek kalian, kamu gak ingat aku kerja dibidang apa? Masak proyek kalian aku bawa ke pengadilan?"kata Dahlia.


"Ups, aku lupa kalau kamu seorang loyer. Nih ASInya bilang sama Raka kalau mommynya pulang malam."kata Lydia.


"Bilang sendiri saat pulang nanti, sudah aku pulang dulu. Bye bye semua."kata Dahlia.


"Iya hati-hati."kata karyawan bersamaan.


Setelah kepergian Dahlia mereka kembali fokus dengan pekerjaan mereka, saat mereka sedang fokus membahas pekerjaan terdengar ponsel Lydia berbunyi ternyata itu panggilan dari Jono. Lydia terkejut tumben temannya itu menghubunginya tapi karena sedang kerja Lydia tak mengangkat panggilan itu. Jono yang panggilannya tak diangkat oleh Lydia mengirim pesan pada Lydia untuk membuka emailnya.


Lydia penasaran email apa yang dikirim oleh Jono membuka email itu dilaptopnya tak disangka saat dibuka itu foto-foto Ryan dan juga video yang sengaja Jono rekam. Lydia membuka satu persatu tanpa sadar jika laptopnya masih terhubung dengan proyektor sehingga apa yang dia lihat terlihat juga oleh karyawan yang lain. Lydia tertegun saat melihat video Ryan yang marah dengan karyawannya, suaminya itu sekarang kalau marah lebih kejam dari biasanya. Ryan juga terlihat dingin saat bekerja tak ada senyum sama sekali saat disapa oleh karyawannya.


"Kalian lihat apa?"kata Lydia yang melihat kalau karyawan yang lain gak fokus dengan pekerjaannya.


"Kamu liat saja ke belakang nanti kamu akan mengerti apa yang terjadi."kata pak Hardi.


Lydia membalik badannya lalu terkejut saat melihat kalau laptopnya masih tersambung dengan proyektor sehingga apa yang dia lihat bisa dilihat juga oleh karyawan yang ada disana.

__ADS_1


"Sudah ayo fokus kerja lagi."kata Lydia.


__ADS_2