
"Wah bapak hebat, tapi bukankah seharusnya bapak kasih tau ini pada Lydia kenapa bapak malah memberitau pada saya?"kata Edwin.
"Saya mau anda bisa mengatakan ini pada nona Lydia agar anda bisa mendapatkan pujiannya."kata pak Hendra.
"Pak, ini kerja keras anda saya tak ingin mengambil apa yang bukan kerja keras saya."kata Edwin.
"Saya senang kalau kamu bisa mendapatkan pujian itu, dengan begitu bukannya perusahaan ini akan sepenuhnya anda kelola."kata pak Hendra.
"Saya mau mendapatkan kepercayaan om Irwan dan Lydia dengan hasil kerja keras saya sendiri bukan hasil orang lain."kata Edwin yang tetap kekeh dengan pendiriannya.
Diruangan Edwin dia sedang berdebat dengan pak Hendra, beda lagi dengan Lydia yang sedang berbicara dengan pak Purnomo. Tadi setelah kepergian Edwin dari ruangan Lydia, pak Purnomo masuk dengan membawa berkas tentang kejanggalan antara laporan yang diberikan oleh pak Hendra dan juga berkas asli perusahaan.
"Apa ini pak?"kata Lydia.
"Nona bisa melihat sendiri laporan itu dan melihat dari dua laporan itu mana yang asli dan palsu."kata pak Purnomo.
Lydia tadi pagi sudah mendapatkan laporan yang ada ditangan satunya lagi tapi itu tentang kerugian tapi yang satu lagi itu keuntungan yang didapat perusahaan. Lydia memandang ke pak Purnomo untuk menanyakan mana yang benar dari kedua laporan itu.
"Pak yang ini saya sudah mendapatkannya tadi pagi dari kak Ryan, tapi kalau yang ini saya belum dapat."kata Lydia.
"Saya tadi sebelum kesini pergi ke devisi keuangan dan mendapatkan laporan itu nona."kata pak Purnomo.
"Pak saya merasa dari laporan ini ada yang janggal, bagaimana bisa dalam waktu satu hari kerugian sebanyak itu bisa kita atasi?"kata Lydia mengatakan kejanggalannya.
"Maka dari itu saya memberitau anda terlebih dahulu, apa yang akan anda lakukan sekarang?"kata pak Purnomo yang gak ingin masalah ini berlarut-larut karena semakin lama masalah ini terjadi akan meniburkan masalah besar dan bisa jadi perushaan akan bangkrut.
"Pa, saya minta tolong suruh devisi keuangan membawakan saya laporan keuangan selama tiga bulan terakhir."kata Lydia.
"Baik nyonya kalau kayak gitu saya permisi dulu."kata pak Purnomo setelah berkata begitu keluar dari ruangan Lydia.
Lydia yang berada diruangannya menghera nafasnya karena masalah yang dia hadapi kali ini sangat berat. Saat dia sedang memeriksa berkas pintu ruangannya diketuk ternyata itu karyawan keuangan untuk memberikan laporan keuangan. Lydia mempelajari laporan itu dan membuka laporan keuangan yang 3bulan terakhir dikirimkan kepusat ternyata benar dugaannya laporan keuangan itu gak sama. Lydia pusing dengan laporan itu memutuskan untuk menghubungi Ryan. Untung saja suaminya itu langsung mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam kakak ada dimana sekarang? Sudah selesai belum meetingnya? Jam berapa sampai disini?]
[Satu-satu sayang tanyanya, mau aku jawab yang mana dulu ini?]
[Jawab yang mana saja dulu gak papa yang terpenting semuanya dijawab.]
[Baiklah, tadi apa pertanyaannya?]
[Kaaak...] terdengar suara tertawa dari Ryan.
__ADS_1
[Maaf, maaf aku jawab sekarang, Sekarang aku lagi dijalan selesai meeting dan sebentar lagi sampai perusahaan.]
[Syukurlah kalau kayak gitu.]
[Ada apa?]
[Aku pusing sama laporan keuangan ini mana yang benar.]
[Kenapa kamu gak panggil menager keuangan sih sayang sekalian sama pak Purnomo?]
[Iya juga ya mas, kok sekarang aku lola banget ya?]
[Kebanyakan mikirin aku makanya kamu lola.]
[Enak saja, oh ya kak aku sudah tau mas kakak ngapain lama dikamar mandi.]
[Memangnya apa yang aku lakukan dikamar mandi?]
Dayat yang mendengar perkataan Ryan tersenyum sedangkan Ryan malah melototkan matanya dan memukul kepala Dayat mengunakan tangan kanan yang bebas. Lydia yang mendengar teriakan dari seberang telepon langsung bertanya pada Ryan karena dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ryan.
[Ada apa kak? Kok teriak?]
[Ini Dayat kepalanya kepentok.]
[Gak papa kok, sudah ya aku tutup dulu ini sudah sampai kantor kamu.]
Ryan memakhiri panggilan setlah sampai diparkiran perusahaan istrinya, Ryan dan Dayat masuk ke dalam perusahaan banyak karyawan memandang mereka ada yang memandang kagum ada juga yang memandang mereka sinis. Ryan yang dipandang hanya bersikap cuek karena tujuan utamanya datang keperushaan membantu istrinya. Baru saja keluar dari lift mereka berdua berpapasan dengan pak hendra.
"Kalian berani juga datang lagi, apa kurang aku ngasih pelajaran buat kalian kemarin?"kata pak Hendra dengan sinis dan didengar oleh karyawan yang ada disana. Mereka semua berbisik-bisik tapi Ryan hanya senyum.
"Saya kesini bukan untuk mencari anda tapi saya mau mencari nona Lydia."kata Ryan.
"Nona Lydia gak ada disini sebaiknya kamu pergi darisini pembohong sepertimu tak dibutuhkan disini."kata pak Hendra.
"Kita liat saja sebentar lagi siapa yang akan didepak dari perusahaan ini."kata Ryan.
"Jaga bicaramu."kata pak Hendra yang sudah mulai kesal.
"Memangnya saya bicara apa?"kata Ryan.
Saat Ryan dan pak Hendra beradu mulut pak Purnomo dengan manager keuangan keluar dari lift. Pak Purnomo yang melihat Ryan langsung saja berjalan menghampiri Ryan. Sedangkan manager keuangan terlihat ketakutan saat memandang pak Hendra. Pemandangan itu ak luput diliat oleh Dayat, membuat Dayat tersenyum sinis.
"Selamat datang tuan muda, nona Lydia ada didalam. Mari dengan saya sekalian saya juga mau bertemu dengan nona."ajak pak Purnomo.
__ADS_1
"Baiklah, mari pak. Ini siapa kalau saya boleh tau?"kata Ryan.
"Ini manager keuangan kita tuan muda, tadi nona menyuruh saya untuk memanggilnya ada yang ingin nona biarakan dengan beliau."kata pak Purnomo.
"Oh baiklah, ayo masuk kalau kayak gitu jangan sampai buat dia menunggu."kata Ryan.
"Takut kalau singa betina ngamuk tuan?"kata dayat.
"Iya kalau sudah ngamuk hancur padepokan."kata Ryan membuat pak Purnomo tersenyum.
Mereka berempat berjalan masuk meninggalkan pak Hendra sendirian, pak Hendra mengepalkan tangannya. Pak Hendra berjalan keruangannya sambil menghubungi seseorang, manager keuangan yang ikut masuk tadi tangannya gemetaran. Kelakukan manager itu tak luput dari pandangan Lydia membuat Lydia menghera nafasnya.
"Bapak tau kenapa saya panggil kesini?"kata Lydia yang masih lembut.
"Saya tidak tau nona."kata manager keuangan.
"Pak Pur, siapa yang mengirim lapopran keuangan kepusat?"kata Lydia.
"Pak Hendra nona memangnya ada apa?"kata pak Purnomo.
"Laporan yang kami terima dan kalian simpan tak sama banyak sekali perbedaannya. Dilaporan yang kami terima perusahaan ini menagalami keuntungan yang sangat besar tapi dilaporan asli kita mengalami kerugian. Bagaimana anda bisa menjelaskan?"kata Lydia.
"Maafkan saya nona saya hanya disuruh oleh pak Hendra untuk mengubah angka-angka itu."kata manager keuangan itu akhirnya mengaku.
"Kamu yakin disuruh pak Hendra bukan atas keinginanmu sendiri?"kata Ryan.
"Benar tuan, pak Hendra mengancam saya."kata manager keuangan.
"Dia mengancam bagaimana?"kata Ryan.
"Dia akan menyakiti putri saya tuan."kata manager keuangan.
"Bukannya putrimu menantu pak Hendra?"kata pak Purnomo.
"Iya, maka dari itu saya gak bisa berbuat apa-apa."kata manager keuangan.
"Kamu tau kalau pak Hendra itu jahat kenapa kamu mau menikahkan putrimu dengan putranya?"kata pak Purnomo.
"Saya gak punya pilian tuan."kata manager keuangan itu.
"Sudah aku gak mau bahas soal anakmu, yang aku mau bahas sejak kapan kamu nurut sama pak Hendra?"kata Ryan.
"Sejak putri saya menikah dengan putranya 5bulan yang lalu."kata manager keuangan.
__ADS_1