Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Aziz kerumah Lydia


__ADS_3

Aziz keluar dari Rumah Sakit setelah itu berjalan menuju mobilnya lalu menuju ke apotik setelah itu menghubungi Lydia gak mungkin dia malam-malam begini datang kerumah Lydia apalagi Perempuan itu sudah menikah sekarang. Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Lydia agar adiknya itu bisa keluar dari rumah. Untung saja Lydia langsung mengangkat panggilan itu tapi membuat Aziz semakin khawatir karena Lydia menangis.


[Hallo kak...]


[Dek, aku sudah ada didepan rumah kamu nih. Kamu bisa keluar gak aku gak mungkin masuk ke dalam rumah apa kata orang nanti.]


[Iya kak, aku keluar sekarang tapi bawa aku pergi dari sini aku mau tenangin perasaanku.]


[Iya kamu bawa baju ganti, aku akan bawa kamu kemana kamu mau pergi.]


[Itu dipikir nanti saja malam ini aku menginap diapartemen kamu bolehkan?]


[Iya sekarang kamu keluar ya.]


[Aku tutup dulu panggilannya.]


Lydia menutup panggilan itu lalu ganti pakaian setelah itu menarik koper yang sudah dia persiapkan sebelum berangkat ke Rumah Sakit tadi. Lydia keluar dengan mengendap-endap agar orang rumah tak tau kalau dia pergi. Hari ini Lydia benar-benar ingin menenangkan diri selain itu dia juga ingin bertemu psikolog yang menanganinya. Sampai diluar rumah dia berjalan cepat karena sudah melihat mobil Aziz diluar gerbang. Naya meletakkan kopernya dibelakang setelah itu masuk kedalam mobil.


"Kita jalan dulu ya setelah itu kamu cerita kenapa trauma kamu bisa kambuh lagi."kata Aziz yang hanya diangguki oleh Lydia.


Diperjalanan Lydia hanya memandang kearah luar membuat Aziz menghera nafasnya, apa ini berkaitan dengan Ryan. Kalau Lydia tak mau berbicara dia akan cari tau sendiri apa yang terjadi dengan adiknya ini. Aziz sampai diapartemennya mengajak Lydia masuk kedalam sambil membawakan koper milik Lydia. Saat masuk kedalam apartemennya barulah Lydia menangis sejadi-jadinya membuat Aziz memeluk adiknya dengan erat.


"Kak aku takut..."kata Lydia.


Lydia berkata seperti itu berulang-ulang, Aziz membiarkan Lydia menangis setelah tenang dia akan bertanya apa yang terjadi dan memberikan obat yang dia beli diapotik lagi. Aziz mengajak Lydia duduk disofa saat perempuan didepannya itu sudah tenang. Aziz mengambilkan air untuk minum Lydia agar perempuan itu tenang.


"Ada apa cerita sama kakak kenapa trauma kamu kambuh lagi?"kata Aziz.


"Kak apa aku salah jika aku belum siap disentuh oleh suamiku sendiri?"kata Lydia membuat Aziz menghera nafasnya.


"Apa Ryan memaksamu meminta haknya?"kata Aziz.


"Dia gak memaksa kak tapi setelah aku menolak dia mendiamkan aku, aku bukannya gak mau melakukan hubungan itu tapi setiap dia menyentuhku aku teringat kejadian itu kak."kata Lydia.


"Dek, boleh aku tanya sama kamu?"kata Aziz.


"Kakak mau tanya apa katakan saja?"kata Lydia.


"Apa kamu mencintai Ryan?"kata Aziz membuat Lydia diam.


"Aku mencintainya sejak pertama bertemu dengannya kak, tapi aku membuang perasaan itu saat gosip tentangnya dan Shinta beredar."kata Lydia.


"Kamu tau siapa Shinta dek?"kata Aziz.


"Setelah menikah kak Ryan mengatakan siapa kak Shinta tapi hati aku masih belum yakin dengan perasaan kak Ryan. Apalagi kemarin Vira menghubungi kak Ryan meminta supaya kak Ryan menikahi Vira karena dia hamil."kata Lydia membuat Aziz menghera nafasnya.


"Dokter Sari pernah bilang sama kamu kan jangan mikir yang berat-berat kalau kamu ada yang menganjar kamu tanya sama Ryan."kata Aziz memberikan saran pada Lydia.


"Aku takut kak, aku takut jika kak Ryan akan meninggalkanku kalau dia tau aku pernah disentuh oleh orang yang gak dikenal."kata Lydia menangis.


"Dek, mereka memang menyentuhmu tapi kan gak sampai melakukan hubungan badan."kata Aziz.


"Aku tau kak, tapi aku takut jika kak Ryan akan meninggalkanku. Aku hanya ingin menyakinkan diriku tapi kak Ryan malah mendiamkanku."kata Lydia.


"Apa perlu aku kasih tau ke Ryan tentang trauma kamu ini?"kata Aziz.


"Gak kak, kak bawa aku besok ke dokter Sari."kata Lydia.


"Iya besok aku antarin sekarang kamu minum obatnya setelah itu kamu tidur dikamar. Kamarnya bersih kok setiap hari bibi yang bersihin."kata Aziz.


"Makasih kak, maaf seharusnya kakak jaga Ita bukannya malah jaga aku disini."kata Lydia.

__ADS_1


"Kamu yang lebih membutuhkanku, disana ada Cindy yang menemani Ita."kata Aziz sambil memberikan obat yang dia beli diapotik tadi.


Lydia setelah meminum obat diantar Aziz untuk masuk ke dalam kamar tamu yang biasa Lydia pakai saat dia menginap disini. Saat Aziz baru menutup pintu kamar ponselnya berbunyi ternyata itu panggilan dari Dion. Aziz mengerutkan keningnya tumben jam segini temannya itu menghubunginya.


[Hallo ada apa kamu menghubungiku malam-malam begini?]


[Kamu bisa kesini gak Ryan ngamuk aku gak bisa menahannya.]


[Kamu dimana?]


[Aku ada diclub tempat biasa.]


[Baiklah aku kesana sekarang.]


Aziz menghera nafasnya lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya. Sebenarnya dia gak tega meninggalkan Lydia sendirian tapi Dion butuh dirinya untuk menahan Ryan. Aziz tau kalau Ryan sedang marah pasti akan sulit didinginkan. Aziz membawa mobilnya menuju club yang sering mereka datangi. Benar saja saat dia sampai diruangan yang sering mereka pesan suasananya sudah kacau Ryan memukuli seseorang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"kata Aziz bertanya pada Dion.


"Pria itu bilang sudah pernah melihat tubuh Lydia kalau tidak ada kakaknya Lydia mungkin dia dan temannya sudah menikmati tubuh Lydia saat itu. Setelah mendengar itu Ryan gak terima lalu memukul pria itu dan tak bisa direlai sebab kemarahan Ryan terlalu kuat."kata Dion.


"Biar aku saja yang melerainya."kata Aziz.


Aziz mendekati Ryan lalu menarik Ryan agar menjauh dari pria itu, Aziz bisa melihat pria yang dihajar oleh Ryan ternyata orang suruhan Ziva dulu. Aziz tersenyum sinis pada pria itu.


"Kamu masih ingat aku?"kata Aziz.


"Kamu..."kata pria itu.


"Iya aku kakaknya Lydia yang sudah menjebloskan kamu dan ketiga temanmu ke penjara."kata Aziz membuat pria itu tersenyum.


"Tapi sayangnya adik kamu itu mencabut laporannya."kata Pria itu.


"Kamu tau kenapa Lydia mencabut laporannya?"kata Aziz.


"Kamu pikir adikku akan melepaskan kamu kalau gak ada seorang ibu yang memohon-mohon agar putranya bisa dibebaskan apalagi ibu yang memohon-mohon itu adalah ibu yang gak diakui sebagai ibu oleh anaknya."kata Aziz.


"Apa maksutmu?"kata pria itu.


"Kamu pikir kalau bukan karena ibumu Lydia akan mencabut laporan itu, seharusnya kamu membusuk dipenjara. Kamu bisa bersenang-senang sedangkan Lydia sampai sekarang masih trauma karena ulahmu dan teman-temanmu. Oh iya aku ingat kamu cinta banget sama Ziva kan?"kata Aziz.


"Memang kenapa?"kata Pria itu.


"Jika aku suruh orang buat melakukan apa yang kamu lakukan pada Lydia bagaimana?"kata Aziz.


"Kamu gak akan berani."kata pria itu.


"Kamu belum tau siapa aku, seandainya saja waktu itu Lydia tak menghalangiku mungkin Ziva juga merasakan dinginya lantai penjara. Jika kamu tak ingin Ziva aku ganggu sebaiknya kamu jangan pernah ngomong yang macam-macam soal Lydia."kata Aziz.


"Baik tapi jangan sentuh Ziva, kalau kamu sentuh Ziva maka kamu akan tau akibatnya."kata pria.


"Memangnya kamu mau apa?"kata Aziz.


"Aku akan buat kamu menyesal."kata pria.


"Kita liat saja nanti siapa yang akan menyesal lagian kamu hanya seorang karyawan diperusahaan Emirat kan?"kata Aziz membuat pria itu terkejut.


"Aku bukan hanya karyawan aku seorang manager pemasaran disana."kata pria itu.


"Hanya manager pemasaran saja bangga, sebaiknya kamu pergi dari sini dan ingat kalau kamu sentuh Lydia sedikitpun kamu akan tau apa yang akan terjadi pada kariermu."kata Aziz.


Pria itu pergi dari sana sedangkan Ryan memandang kearah Aziz bukan hanya Ryan tapi juga Dion. Aziz menghera nafasnya lalu duduk dikursi yang ada diruangan itu tapi sebelum itu dia menghubungi karyawan club untuk membersihkan ruangan itu.

__ADS_1


"Ziz tolong jelaskan apa yang terjadi sama Lydia?"kata Ryan.


"Nanti aku jelaskan setelah karyawan membersihkan ruangan ini."kata Aziz.


Mereka bertiga menunggu karyawan yang membersihkan ruangan itu selesai tapi saat Aziz mau bercerita terdengar ponselnya berbunyi. Aziz mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari Lydia.


[Hallo dek ada apa?]


[Kamu dimana kak dia datang kak mereka datang lagi kak.]


[Dek apa maksutmu?]


[Mereka ada dikamar ini kak.]


[Dek tenangkan dirimu kakak pulang sekarang.]


[Cepat kakak aku takut mereka ada disini.]


[Iya aku pulang sekarang.]


Aziz mematikan panggilan itu setelah itu bergegas mau pulang tapi ditahan oleh Ryan dia ingin tau apa yang terjadi.


"Ziz kamu mau kemana?"kata Ryan.


"Sorry Yan, aku harus pulang besok aku jelaskan semuanya."kata Aziz.


"Kamu gak bohongkan?"kata Ryan.


"Aku gak bohong sekarang aku pergi dulu soalnya ini masalahnya penting banget."kata Aziz.


"Ya sudah kalau kayak gitu hati-hati."kata Ryan.


Aziz pergi dari club menuju apartemennya, saat dia pulang ke apartemennya dia langsung masuk kedalam kamar Lydia dan ternyata adiknya itu sedang duduk dipojokan. Aziz mendekati Lydia lalu memegang pundak Lydia, Lydia yang tau jika itu Aziz dia langsung saja memeluk kakaknya itu.


"Ada apa?"kata Aziz.


"Mereka datang kak tadi."kata Lydia.


"Gak ada yang tau apartemen ini gak mungkin dia datang."kata Aziz.


"Tapi dia datang kerumah ini kak, kakak kemana tadi?"kata Lydia yang mencium bau alkohol dan rokok dijaketnya Aziz.


"Maaf tadi aku pergi ke club."kata Aziz.


"Memangnya kenapa kakak ke Club?"kata Lydia.


"Tadi aku bertemu dengan temanku sekarang tidur lagi ya."kata Aziz.


"Iya tapi kakak jangan tinggalkan aku seenggaknya kakak tinggal dirumah jangan pergi lagi."kata Lydia.


"Iya, kamu tadi mau kemana?"kata Aziz.


"Aku tadi mau ambil minum dan melihat mereka ada diluar sana."kata Lydia.


"Sudah gak usah dipikirkan lagi sekarang tidur katanya besok pagi mau bertemu dokter Sari?"kata Aziz.


"Kak aku bisa tinggal disana gak untuk sementara waktu?"kata Lydia.


"Boleh nanti kakak carikan kontrakan atau kos-kosan ya?"kata Aziz.


"Cariin kontrakan saja biar nanti kalau kakak mau nginap atau ada orang yang mau nginap gak ada masalah."kata Lydia.

__ADS_1


"Baiklah kalau kayak gitu."kata Aziz.


Lydia berbaring lalu memejamkan matanya, saat Lydia sudah tertidur pelan-pelan Aziz meninggalkan kamar Lydia. Aziz masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri lalu keluar lagi dia menuju dapur untuk bikin kopi lalu duduk diruang tv sambil membuka laptopnya untuk memeriksa pekerjaannya.


__ADS_2