Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Memaksa Lydia untuk menginap


__ADS_3

"Tuan saya permisi kembali ke kamar saja."kata Dayat.


"Makan disini saja dulu kak."kata Lydia.


"Saya gak mau menganggu kalian."kata Dayat.


"Gak ada yang menganggu kamu makan disini saja ada yang mau aku diskusikan sama kamu."kata Ryan sambil tetap fokus dengan laptop Dayat.


"Baiklah kalau begitu maaf kalau aku ganggu kalian."kata Dayat akhirnya mengalah.


"Kamu mau pesan apa kak?"kata Lydia bertanya pada Dayat.


"Saya stik dan kopi saja."kata Dayat.


"Kamu mau pesan apa kak?"kata Lydia.


"Samain saja sama kamu."kata Ryan.


"Bisa gak itu nanti dulu?"kata Lydia kesal karena Ryan sibuk dengan laptopnya terus daritadi.


Dayat yang melihat Lydia kesal tersenyum sedangkan Ryan hanya memandangnya sebentar setelah itu kembali fokus lagi tanpa mengatakan sepatah kata pun membuat Lydia semakin kesal.


"Ryan sedang sibuk, liat ini saja belum sempat kami periksa."kata Dayat.


"Iya tau tapi bisakan kerja nanti lagi setelah makan?"kata Lydia.


"Kan makanannya belum datang, nanti kalau sudah datang baru aku makan. Lagian kalau aku gak segera menyelesaikan ini Dayat gak bisa pulang ke Jakarta."kata Ryan membuat Lydia memandang kearah Ryan.


"Kalian mau pulang ke Jakarta?"kata Lydia ada kekecewaan dimatanya tapi Ryan tak melihat itu.


"Iya masih banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan."kata Ryan yang masih tetap fokus dengan pekerjaannya.


Lydia yang mendengar perkataan Ryan merasa kecewa tapi dia sadar jika dia tak ada alasan untuk memaksa Ryan untuk tinggal lebih lama lagi disini. Dayat yang melihat kekecewaan dimata Lydia hanya menghela nafasnya, Dayat tau pasti Lydia kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Ryan. Ryan kalau sudah kerja memang fokus dengan pekerjaannya tanpa bisa mengontrol apa yang dia bicarakan. Lydia yang tak mau sakit hati lagi saat mendengar perkataan Ryan memutuskan untuk fokus dengan ponselnya tanpa dia sadari jika ponsel yang dia pegang adalah ponsel Ryan. Lydia terkejut saat melihat pesan baru masuk dari bunda Airin yang ingin Ryan segera mencari dirinya dan membawa pulang dirinya beserta cucunya membuat Lydia tak ada alasan lagi untuk menyembunyikan Raka.


Saat Lydia sedang fokus dengan ponsel Ryan, dia terkejut saat Ryan berbicara dengan Dayat. Lydia memandang kearah keduanya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lydia merasa bersalah karena datang diwaktu yang tak tepat, Lydia memutuskan untuk pergi tapi saat dia bangun Ryan yang melihat istrinya bangun langsung bertanya.


"Kamu mau kemana?"kata Ryan sambil memandang Lydia.


"Aku pulang saja kalian sedang sibuk."kata Lydia.


"Kami selesaikan ini dulu, kalau kamu gak mau melihat kami kerja. Kamu istirahat saja diranjang pasti kamu capek 'kan pulang kerja langsung kesini tadi?"kata Ryan.


"Baiklah kalau begitu aku tunggu sambil rebahan saja nanti kalau makanannya datang panggil ya tapi?"kata Lydia yang diangguki oleh Ryan.


Lydia berjalan menuju ranjang dia sebenarnya mau pulang tapi terlihat sekali wajah Ryan yang kelelahan dan banyak pikiran membuat Lydia tak ingin buat masalah lagi. Saat Lydia meletakkan tasnya Lydia melihat ada kolam dikamar itu membuat dia berjalan membuka jendela karena dia penasaran apakah kolam itu berada didalam kamar itu ternyata benar kolam itu masih berada dikamar itu. Lydia tak menyangka dihotel itu ada kamar yang jadi satu dengan kolam padahal seingatnya dihotel itu gak ada yang seperti ini. Lydia mencelupkan kakinya dikolam dia tersenyum saat merasakan kalau air kolam itu hangat membuatnya betah seandainya saja dia bawa baju ganti pasti dia akan merendam dikolam itu untuk menghilangkan penatnya. Ryan yang ingin memanggil Lydia karena makanan mereka datang terkejut karena istrinya tak ada. Tapi dia kemudian tersenyum saat melihat Lydia sedang bermain air dikolam, Ryan berjalan menuju kolam tapi Lydia tak sadar jika Ryan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Kenapa gak berendam?"kata Ryan sambil memeluk Lydia dari belakang membuat Lydia terkejut.


"Aku gak bawa baju, apa makanannya sudah datang?"kata Lydia sambil melepaskan pelukann Ryan.


"Sudah, ayo makan nanti kalau kamu mau berendam, berendam saja biar aku suruh Dayat untuk mencarikanmu baju ganti."kata Ryan yang sebenarnya kecewa karena istrinya itu melepaskan pelukannya.


"Gak usah masak baju dalam harus Dayat yang beli?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kamu lepaskan saja baju dalammu gak ada masalahkan saat berendam lagian gak ada yang liat juga disini."kata Ryan.


"Kamu bisa melihatnya."kata Lydia.


"Kalau aku bedalah, lagian kamu halal bila aku sentuh karena kita belum berpisah."kata Ryan.


"Masak sih aku gak percaya?"kata Lydia.


"Kalau kamu gak percaya kamu bisa cek dipengadilan agama apakah status kita sudah bercerai atau masih suami istri."kata Ryan.


"Malas, sudah ayo makan aku lapar. Kasian kak Dayat pasti dia sudah menunggu apalagi kalian pasti masih ada pekerjaan lagi 'kan?"kata Lydia.


"Besok lagi saja aku ngerjain itu lagian tinggal masalah hotel ini saja, besok Dayat harus pulang ke Jakarta menyelesaikan masalah yang ada disana."kata Ryan.


"Masalah hotel ini?"kata Lydia.


"Iya memangnya kenapa?"kata Ryan.


"Kalau iya memangnya kenapa ada masalah?"kata Ryan.


"Kapan kakak membeli hotel ini kok aku gak tau?"kata Lydia.


"Saat kamu bilang suka dengan Itali, aku sengaja membeli hotel ini biar kamu saat ingin pergi kesini biar langsung kesini. Tapi sayangnya kamu pergi ninggalin aku."kata Ryan sambil menunduk.


"Sudah nanti lanjut lagi, sekarang kita kedalam kasian kak Dayat."kata Lydia.


Suami istri itu masuk kedalam kamar untuk menemui Dayat ternyata disana Dayat makan duluan, saat melihat Ryan dan Lydia datang dia tersenyum canggung karena dia makan duluan.


"Maaf ya aku makan duluan soalnya sudah kelaparan."kata Dayat gak enak.


"Gak papa kok kak, kami saja yang kelamaan datangnya. Lanjut saja makanannya kami juga mau makan."kata Lydia sambil duduk disofa.


Mereka bertiga menikmati makanannya sambil berbicara yang ringan saja, Ryan berusaha untuk tak membicarakan pekerjaan karena tadi saat Lydia pergi Ryan bisa melihat kekecewaan dimata istrinya itu. Dayat selesai makan pamitan untuk pulang kembali ke kamarnya sedangkan Ryan mengajak Lydia kembali ke kolam. Ryan mencoba berbicara dengan istrinya sambil mendekati Lydia tapi Lydia malah menjauh.


"Kamu gak suka ya berdekatan denganku?"kata Ryan.


"Aku takut kalau ada yang marah."kata Lydia.

__ADS_1


"Siapa yang marah gak ada yang marah? Kamu istriku satu-satunya Ly."kata Ryan.


"Sudahlah kak gak usah gombal, gak mungkin Shinta merelakanmu."kata Lydia.


"Aku sudah gak ada hubungan sama mbak Shinta, dia juga sudah menikah dengan Seno. Ly, kenapa kamu pergi saat itu? Kenapa kamu gak tanya sama aku dulu?"kata Ryan menatap Lydia membuat Lydia menghela nafasnya.


"Dia menghubungiku dan bilang kalau dihatimu hanya untuknya kalau tidak mana mungkin kamu mencarinya sampai gak pulang."kata Lydia membuat Ryan menghela nafasnya.


"Maaf kalau waktu itu membuatmu kecewa, aku mencari Shinta karena aku hanya sayang dia sebagai saudara. Disini hanya ada namamu gak ada yang lain."kata Ryan sambil meletakkan tangan Lydia didadanya.


"Kamu bohong kak."kata Lydia sambil melepas tangannya dari tangan Lydia.


Lydia gak mau tertipu oleh Ryan lagi, dia sudah bahagia tinggal bersama dengan Raka. Walaupun Lydia tau kalau Raka butuh sosok seorang ayah. Anak laki-laki harus menjadikan ayahnya sebagai contohnya.


"Aku harus melakukan apa agar kamu percaya sama aku?"kata Ryan.


"Aku gak tau."kata Lydia.


"Baiklah, aku gak akan paksa kamu untuk maafin aku tapi aku harap sebelum aku kembali ke Jakarta bolehkan aku bertemu dengan anakku? Anak kita laki-laki atau perempuan?"kata Ryan.


"Dia laki-laki namanya Raka."kata Lydia.


"Nama yang bagus apa boleh aku melihat fotonya?"kata Ryan.


"Ada aku ambil kan ponselku dulu, ponselku ada ditas."kata Lydia.


"Nanti saja aku melihat fotonya, kamu kesini Raka sama siapa? Kalau kamu kerja dia tinggal sama siapa?"kata Ryan.


"Dia dirumah sama Dahlia dan mak Masnah, kalau aku dan Dahlia kerja mak Masnah yang merawatnya."kata Lydia.


"Syukurlah kalau begitu kamu bisa tinggal disini malam ini?"kata Ryan.


"Aku pulang kasian mak Masnah pasti kecapekan merawat Raka."kata Lydia.


"Aku mohon malam ini menginaplah disini besok pagi aku akan antarmu pulang ke rumah sekalian bertemu dengan Raka."kata Ryan.


"Baiklah, kapan kamu akan kembali ke Jakarta?"kata Lydia.


"Setelah masalah disini selesai."kata Ryan.


"Bukannya tadi bilang kalau besok kamu kembali ke Jakarta?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Dayat yang kembali ke Jakarta, aku terpaksa membagi pekerjaan karena disana juga ada masalah."kata Ryan sambil mengusap wajahnya.


Lydia yang melihat Ryan mengusap wajahnya sambil menghela nafas memandang nanar suaminya. Benar apa kata Jono jika suaminya itu tak terurus. Tanpa Lydia sadari tangannya melingkar dipinggang suaminya Lydia memeluk Ryan untuk melepaskan kerinduannya selama ini. Ryan awalnya terkejut tapi kemudian dia tersenyum lalu memeluk istrinya itu erat.

__ADS_1


"Kita ke dalam disini sudah mulai dingin."kata Ryan yang diangguki oleh Lydia.


__ADS_2