Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan berkumpul dengan teman-temannya


__ADS_3

Ryan langsung masuk ke dalam mobilnya untuk menemui teman-temannya dicafe Dion. Saat dia mau menjalankan mobilnya ponselnya berbunyi, Dia langsung mengambil ponselnya dan ternyata itu adalah panggilan dari tante Naya. RYan langsung saja mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum tan...]


[Walaikumsalam Yan, bagaimana kamu sudah berhasil nanya sama Hendru belum tentang perasaannya pada Widya?]


[Sudah tan.]


[Lalu jawabannya apa?]


[Gak ada alasan buat Hendru gak suka dengan Widya tante.]


[Maksutmu bagaimana Yan? Tante gak paham?]


[Hendru sudah menerma Widya dan akan berusaha untuk menumbuhkan rasa itu tan.]


[Berarti tante gak salah kalau langsung menikahkan mereka?]


[Kalau soal itu saya gk bisa ngasih pendapat tan karena saya orang luar takutnya salah.]


[Baik tante ngerti, makasih sudah bantu tante.]


[Sama-sama tan.]


[Ya sudah kamu langsung pulang jangan main-main, tante tutup dulu panggilannya. Ingat jangan kasih tau Hendru kami mau bikin kejutan]


[Baik tan.]


Ryan setelah mematikan panggilan langsung saja menghera nafasnya, semoga saja apa yang dia katakan pada tante Naya tadi gak salah. Dia gak mau membuat Hendru tertekan dengan perjodohan ini. Tapi saat kemarin dia melihat bagaimana Hendru berinteraksi dengan Widya, dia dan Aziz bisa melihat kalau Hendru benar-benar menerima Widya dengan tulus.


Ryan langsung saja menjalankan mobilnya menuju cafe Dion, saat dia sampai sana ternyata teman-temannya sudah pada kumpul semua. Ryan langsung menghampiri mereka dan duduk dikursi yang masih kosong.


"Aku pikir kamu gak mau kesini Yan?"kata Aziz.


"Ya gak mungkinlah aku gak dateng apalagi ini acara melepas masa lajang Hendru pasti sebentar lagi dia akan jarang berkumpul sama kita lagi."kata Ryan.


"Enak saja aku menikahnya masih 2bulan lagi ya besok aku ke rumahnya Widya buat lamaran saja."kata Hendru.


"Sama sajalah."kata Dion sambil tersenyum.


"Iya apalagi kamu tau gak akhir-akhir ini aku liat Hendru sering antar jemput Widya."kata Aziz.


"Oh ya aku nitip kado buat Lydia."kata Hendru membuat Ryan langsung saja terdiam sejenak. Siapa Lydia yang dimaksut teman-temannya itu.


"Yah aku sendiri dong ke acara Lydia."kata Dion.


"Kamu ajak Ryan kalau gak mau sendirian."kata Aziz.


"Aku gak yakin kalau dia mau ikut, kalian kan tau dia paling gak suka dengan acara yang begituan."kata Dion sambil memandang Ryan tapi Ryannya malah melamun.


"Yan, kamu dengar gak apa yang aku bilang?"kata Dion sambil menyenggol lengan Ryan membuat dia terkejut.


"Eh ada apa?"kata Ryan yang baru saja sadar dari lamuananya.


"Kamu ya ngelamunin apasih?"kata Aziz yang baru kali ini melihat Ryan melamun.


"Gak ada apa-apa kok, memangnya kamu tanya apa tadi Yon?"kata Ryan.


"Kamu besok mau temanin aku ke acara ulang tahun Lydia gak?"kata Dion lagi pada Ryan.


"Siapa Lydia aku gak kenal malas juga ke acara kayak gituan."kata Ryan.


"Ayo lah temani aku, aku tau kamu gak kenal sama dia, masak kamu tega biarin aku ke acaranya sendirian. Please temani aku ya!"kata Dion memohon.

__ADS_1


"Baiklah tapi jemput aku malas nyetir sendiri."kata Ryan.


"Siap kalau gitu mah, berarti Ndru kamu titipin kadomu ke Ryan biar punya Aziz aku yang bawa."kata Dion membuat Ryan menghera nafasnya sedangkan Hendru dan Aziz tersenyum.


"Sabar Yan."kata Hendru.


"Baiklah kalau gitu kamu kasih kadonya kapan bukannya besok pagi kamu sudah berangkat?"kata Ryan.


"Ada dimobil nanti pulang dari sini aku kasih ke kamu."kata Hendru.


"Memangnya gak papa aku datang begitu saja tanpa membawa hadiah?"kata Ryan.


"Gak papa lagian kamu gak kenal nanti bilang saja perwakilannya Hendru 'kan beres iya gak Ndru?'kata Dion.


"Kamu itu minta tolong tapi malah aku yang kamu jadikan tumbal."kata Hendru membuat Dion nyengir.


"Kamu memang gak bisa apa cari alasan yang tepat dikit?"kata Ryan.


"Itu alasan yang tepat buat kamu"kata Dion.


"Aku gak ikut kalau kayak gitu, kamu pergi sendiri saja."kata Ryan.


"Yan, jangan gitu dong Yan."kata Dion yang takut kalau Ryan berubah pikiran tak mau menemaninya. Dia tak tau kalau kesana sendirian karena gak ada yang dia kenal.


"Eh bukannya mantan karyawanmu adalah teman Lydia, kamu bisa ajak dia bareng ke acaranya?"kata Aziz.


"Dia pasti kesananya sama Ita dan mungkin sudah disana sejak pagi, merekakan gak pernah terpisahkan."kata Dion.


"Kamu benar juga sih."kata Aziz sambil menghera nafasnya.


"Kamu kok kayak kesal gitu, jangan bilang kalau kamu ada perasaan sama salah satu dari mereka? Awas saja kalau kamu suka dengan Sandra.'kata Dion megancam Aziz.


"Kamu suka dengan Sandra Yon?"kata Aziz.


"Kalian itu apaan sih kayak anak kecil lagi rebutan mainan saja."kata Hendru.


"Dia yang mulai duluan."kata Dion.


"Aku 'kan cuma nanya saja, kamu saja yang sewot. Lagian aku gak suka dengan Sandra, orang aku gak dekat sama dia mana bisa aku suka sama dia."kata Aziz.


"Lalu perempuan yang kamu suka siapa Ita?"kata Dion.


"Sudah sudah gak usah ngurusin masalah perempuan lagi, memangnya kalian tau kalau mereka menyukaimu?"kata Ryan.


"Iya aku juga gak nyangka jika pemain seperti kalian bisa suka dengan perempaun."kata Hendru.


"Eh kami normal tau gak."kata Aziz kesal.


"Iya kami berdua tau kalian normal tapi apa kalian yakin jika mereka mau sama kalian apalagi kalau sampai mereka tau jam terbangmu?"kata Ryan.


"Yan, kamu jangan nakut-nakutin kami bisa gak sih?"kata Aziz.


"Iya nih, kayaknya aku harus tobat?"kata Dion.


"Iya itu harus apalagi mereka perempuan baik-baik awas saja kalau kamu memainkannya."kata Hendru yang kenal dengan mereka berdua sedangkan Ryan hanya diam saja karena tak tau siapa yang dibicarakan oleh ketiga temannya.


Ryan lebih memilih sibuk dengan ponselnya guna memeriksa laporan keuangan yang dikirim oleh Dayat dan ada email baru masuk ternyata itu email dari Zen yang mengirim tentang perkembangan masalah yang terjadi diperusahaan orangtuanya. Ryan memang badannya sedang bersama teman-temannya tapi pikirannya sudah kemana-mana.


Beda lagi dengan Lydia yang sedang membujuk papanya agar mengizinkan Lydia membawa mobil papanya untuk menemui kedua temannya. Mama Intan hanya melihat saja karena dia tau jika suamimya itu menghawatirkan keselamatan putrinya itu.


"Pa boleh ya aku bawa mobil papa please..."kata Lydia.


"Gak, kamu bawa mobil mama mau gak?"kata papa Irwan yang akhirnya menyuruh putrinya membawa mobil istrinya karena itu lebih aman.

__ADS_1


"Baiklah, memang sama mama dibolehin?"kata lydia bertanya pada mamanya.


"Ya mau bagaimana lagi, kalau kamu mau keluar memang lebih aman kalau pakai mobil mama."kata mama Intan.


"Makasih ya ma, kalau kaak gitu aku pergi dulu."kata Lydia sambil memeluk mamanya.


"Hati-hati, jangan pulang malam-malam."kata mama Intan.


"Siap ma, mama sama papa jadi dibawain nasi goreng gak?"kata Lydia.


"Satu saja sayang papa diet."kata papa Irwan yang gak bisa jika makan larut malam.


"Bilang saja gak bisa makan kalau larut malam gitu saja bilang diet."kata Lydia membuat papa Irwan nyengir.


"Ingat jangan pulang malam-malam."kata papa Irwan.


"Iya."kata Lydia.


Lydia setelah berpamitan dan mengambil kunci mobil mamanya langsung saja berangkat untuk bertemu Sandra dan Ita. Saat mau sampai dikosan Lydia langsung menghubungi temannya takutnya mereka gak ada dirumah. Ita gak bisa dihubungi tapi Sandra sekali menghubunginya langsung saja diangkatnya karena jam kerjanya sekarang kan hanya sampai jam 5 sore.


[Hallo Ly kamu ada dimana?]


[Aku ada didekat kosan, kamu sudah pulang belum kalau belum aku akan menunggu disini.]


[Aku ada dikosan tapi Ita belum kembali karena tadi dia bilang ada materi tambahan.]


[Ya sudah kalau kayak gitu aku langsung ke kosan saja sambil menunggu Ita pulang kuliah.]


[Siap aku tunggu kamu disini.]


Lydia setelah mengakhiri panggilan langsung saja menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju kosan. Sampai dikosan langsung saja memarkirkan mobilnya diparkiran. Saat dia mau ke kamar kosan Sandra, dia berpapsan dengan Rini.


"Mbak kok kesini cari siapa?"kata Rini.


"Aku mau ketemu temanku, kamu jadi ngekos disini?"kata Lydia.


"Jadi mbak, alhamdulilah aku juga sudah dapat kerja gantiin mbak Sandra dicafe."kata Rini senang.


"Kamu tinggal dimana kamarnya?"kata Lydia.


"Itu mbak no 2 dari kiri, kamar yang mbak tempati dulu dipakai anak baru juga tapi dia gak mau bertemu sama kita. Pulang kuliah langsung masuk kamar kos."kata Rini.


"Oh kamu mau kemana habis ini?"kata Lydia.


"Mau istirahat mumpung libur kerja mbak, memangnya ada apa?"kata Rini.


"Ayo ikut ngumpul dikamar Sandra!"kata Lydia.


"Lama gak? Kalau lama aku mau mandi dulu, soalnya aku mau mandi bau asem dari semalam gak mandi."kata Rini sambil nyengir.


"Kamu ya, sudah mandi sana. Aku tunggu dikamar Sandra."kata Lydia.


"Siap, tunggu aku."kata Rini sambil berlari menuju kamarnya.


Lydia yang melihat itu hanya mengelengkan kepalanya degan tingkah Rini itu, Lydia langsung saja berjalan menju kamar Sandra. Saat dia berada didepan kamar kosan dia dulu Lydia terkejut karena itu adalah Ziva. Ziva yang melihat Lydia langsung terdiam.


"Kamu kok ada disini?'kata Lydia.


"Memangnya kenapa kalau aku ada disini gak boleh?"kata Ziva.


"Boleh kok, ya sudah kalau aku ganggu. Aku hanya mau lewat saja."kata Lydia yang langsung meninggalkan Ziva.


Lydia sedang malas berdebat dengan orang hari ini, dia ingin beberapa hari ini bahagia dan tak mau memikirkan masalah orang ataupun maslah dia sendiri.

__ADS_1


__ADS_2