Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rencana liburan


__ADS_3

"Eh kalian hari ini ada jam kuliah lagi gak?"kata Aziz.


"Ada kak, kalau gak ada pasti 2 cecunguk tu sudah pergi ke tempat kerjanya."kata Roni.


"Enak saja tu mulut bilang kita cecunguk, kalau kami cecunguk kamu apa?"kata Sandra yang gak ingin dibilang cecunguk.


"Apa ya enaknya?"kata Roni pura-pura.


"Kampret lu."kata Sandra membuat semua orang tersenyum termasuk Lydia.


Dion yang melihat kalau Sandra bercanda dengan Roni sebenarnya hatinya kesal tapi dia mencoba untuk memendamnya sendiri.


"Sudah sudah kalian berdua itu bisa gak sehari gak berdebat."kata Rani kesal.


"Kekasih kamu tu yang mulai duluan bukan aku."kata Sandra.


"Ish kalian berdua sama saja gak ada yang dipilih, oh ya kalian kok nanyai ada mata kuliah lagi apa gak memangnya ada apa ya?"kata Rani.


"Kami mau jalan-jalan siapa tau kalian mau ikut kami?"kata Aziz.


"Kami sebenarnya mau ikut tapi mau bagaimana lagi kami masih ada jam kuliah, kapan-kapan saja deh kak kalau kakak ada libur lagi kita jalan bareng."kata Jono.


"Iya benar tu, lagian aku sama Sandra juga gak mungkin minta cuti apalagi kami tinggalin Ita bekerja sendiri."kata Lydia.


"Iya juga kasian Ita kalau gak diajak, kalau gitu kapan-kapan kalau kalian libur kerja dan kami sedang gak sibuk kita adakan liburan bareng gimana?"kata Aziz.


"Siap kalau itu mah kami tunggu kak, apalagi kalau liburannya gratis itu yang paling kita tunggu-tunggu."kata Sandra.


"Kalau soal biaya bilang sama kak Dion pasti dia akan traktir kalian."kata Aziz sambil memandang kearah Dion.


"Gak usah percaya dia, aku saja kerjaan masih belum ada kok malah traktir kalian uang darimana memangnya."kata Dion.


"Kita ke villa saja kalau kayak gitu kan gratis Yon?"kata Gabriel.


"Iya kalau mereka mau mah aku bisa bilang sama mang asep buat bersihin villa."kata Dion yang setuju dengan ide dari Gabriel.


"Bagaimana kalian mau gak liburan ke villa?"kata Gabriel.


"Villanya dimana kak kalau kami boleh tau?"kata Sandra.


"Ada dipuncak."kata Dion membuat Sandra langsung tersenyum senang.


"Kamu kenapa tersenyum Dra?"kata Aziz yang melihat Sandra tersenyum.


"Kami bertiga hari jumat rencananya mau ke puncak, pulang kerja berangkat pagikan sudah sampai sana main-main dan besok malamnya kami pulang."kata Sandra membicarakan rencana mereka bertiga.


"Kok cuma sehari gak seru lah San."kata Rani.


"Kamu kan tau kami cutinya hanya sehari kalau mau cuti banyak-banyak gak enak sama yang lain."kata Sandra.


"Gak enak sama teman apa takut kalau uang gajinya berkurang?"kata Roni.


"Dua duanya puas."kata Sandra kesal karena Roni selalu saja membuka aib mereka.


"Belum."kata Roni.


"Ran, pacar kamu tu minta ditabok mulutnya."kata Sandra yang sudah kesal.


"Nanti kamu tabok saja kalau dia mulai lagi."kata Rani.


"Tu aku sudah dikasih izin jadi jangan salahkan aku kalau aku tabok kamu setelah ini."kata Sandra.


"Sudah ayo makan bentar lagi kita masuk ruangan sudah waktunya mata kuliah kedua."kata Jono.


Mereka berempat senang karena Jono selalu bisa menjadi penengah mereka jika ada salah satu dari mereka yang sedang berdebat. Mereka langsung saja menghabiskan makanannya cepat agar bisa cepat kembali ke kelas takut terllambat saat masuk kelas.


"Kak kami pamit ke kelas dulu ya?"kata Lydia saat mereka sudah selesai makan.


"Ya sudah kalau kayak gitu, biar ini kami yang balikan sekalian bawa ini."kata Aziz.


"Makasih kak kalau kayak gitu."kata Lydia.


Mereka berlima setelah menjadikan satu bekas mereka langsung saja meninggalkan kantin untuk menuju ruang kelas mereka. Sampai dikelas untung saja mereka segera masuk tadi kalau tidak mungkin mereka akan telat.


"Untung saja Jono tadi ingetin kita kalau gak kita telat tadi."kata Sandra.


"Iya untung saja."kata Lydia.


Setelah berkata begitu mereka fokus dengan materi kuliah yang dijelaskan oleh dosen. Lydia sendiri setelah selesai mata kuliah terakhir langsung saja pamitan untuk ke tempat kerja.


"Aku pergi dulu ya."kata Lydia.


"Kamu langsung berangkat kerja sekarang?"kata Jono.


"Iya kasian Ita kalau jaga toko sendirian jam segini pasti rame-ramenya."kata Lydia.


"Ya sudah kalau kayak gitu, hati-hati. Kamu ikut pergi juga San?"kata Jono.


"Iya."kata Sandra.


"Kami hari jumat ikut boleh gak?"kata Rani.

__ADS_1


"Boleh tapi emangnya gak papa kita berangkatnya malam habis pulang kerja soalnya?"kata Lydia.


"Iya gak papa, nanti kami tidur duluan. Saat kalian pulang kerjakan kita fresh."kata Jono.


"Iya nanti aku bawa mobil sendiri."kata Roni.


"Kita bawa mobil dua saja nanti kalau satu gak cukup."kata Rani.


"Iya nanti biar aku yang bawa satu lagi mobilnya."kata Jono.


"Kamu yakin?"kata Sandra.


"Iya nanti aku sewa mobil."kata Jono.


"Kalau kayak gitu nanti berapa sewanya bilang saja, biar kita patungan. Kamu bisa nyetirkan tapi?"kata Lydia.


"Gak usah pakai uangku saja sekali-kali nraktir kalian."kata Jono.


"Tenang saja Jono ini sudah bisa nyetir kok aku kalau pulang sering banget nyuruh dia nyetirin aku."kata Roni.


"Ya sudah kalau kayak gitu kita tenang, kami pergi dulu ya."kata Lydia.


Mereka setelah berpamitan langsung saja keluar dari ruang kelas menuju halte. Untung saja mereka tak perlu menunggu lama dihalte karena baru saja mereka duduk bus yang ingin mereka naiki datang. Mereka langsung saja naik ke dalam bus, sampai dihalte berikutnya mereka turun. Lydia dan Sandra sampai sana langsung berpisah karena arah kerja mereka berbeda.


Saat dijalan Sandra sempat mengirim pesan pada Ita kalau Lydia sudah mengerti kalau Rayyan dan Rima bertunangan kemarin. Sandra bilang sama Ita agar dia bisa membuat Lydia sejenak melupakan tentang pertunangan itu.


Ita yang berkirim pesan dengan Sandra saat melihat kalau Lydia sudah datang langsung saja menyembunyikan ponselnya. Ita pura-pura sibuk memeriksa stok barang, Lydia yang baru datang dan melihat kalau Ita sibuk langsung saja menghampirinya.


"Kamu lagi apa?"kata Lydia saat didekat Ita.


"Ini aku sedang memeriksa stok ada apa?"kata Ita.


"Ada yang bisa aku bantuin gak?"kata Lydia.


"Kamu ganti baju dulu baru bantuin, orang kamu pakai baju itu nanti dikira pembeli lagi."kata Ita.


"Hehehe iya, bentar aku ganti baju dulu."kata Lydia meninggalkan Ita sendirian.


Ita sendiri meninggalkan pekerjaan memeriksa barang saat pembeli mencarinya untuk membayar barang yang dia beli. Lydia yang melihat jika Ita sibuk dengan pembeli langsung saja mengambil buku laporan untuk mengecek barang-barang yang ada dirak. Lydia benar-benar lupa tentang masalahnya, dia fokus dengan pekerjaannya. Saat dia sedang fokus tiba-tiba saja Ziva datang ke toko mereka untuk membuat masalah.


"Kamu masih kerja disini betah juga memangnya gak ada tempat lain yang menghasilkan uang banyak?"kata Ziva.


"Memangnya kenapa lagian bekerja itu yang penting nyaman?"kata Lydia.


"Nyaman saja kalau gak menghasilkan uang buat apa?"kata Ziva.


"Lalu mau kamu apasih? Mau bekerja disini?"kata Ita yang kesal dengan perkataan Ziva.


"Kalau ogah ngapain kamu tanya-tanya kayak gitu?"kata Ita.


"Memangnya aku gak boleh tanya apa?"kata Ziva.


"Tanya boleh saja gak ada yang ngelarang tapi kamu tanyanya keterlaluan tau."kata Ita.


"Mana ada aku keterlaluan, aku tadikan tanya kok dia betah sih kerja disini."kata Ziva.


"Sudah Ta gak usah dengerin dia, Va kamu mau beli atau gak kalau gak beli mending kamu keluar dari sini."kata Lydia.


"Aku punya uang ya belilah."kata Ziva.


"Kalau begitu silahkan pilih barang yang mau dibeli."kata Lydia sopan.


Ziva langsung saja pergi dari sana dengan kesal,dia niat sebenar hanya ingin mengolok-olok Lydia tapi ternyata malah dia yang dibuat malu.


"Kamu kok malah diam saja sih sama perempuan kayak gitu?"kata Ita yang masih kesal dengan sikap Ziva.


"Sudah biarkan saja gak usah dipikirin lagian kalau kamu emosi malah bikin masalah baru."kata Lydia.


"Tapi aku gak suka dengan tingkahnya yang sok banget itu."kata Ita.


"Sudah Ta, aku gak papa kok, sabaiknya kita fokus sama kerjaan."kata Lydia.


Ita mendengar perkataan Lydia langsung saja terdiam dan lebih memilih fokus dengan pekerjaannya. Mereka sebelum pulang membereskan toko dan tak lupa juga mengecek stok barang untuk besok pagi agar Ita bisa langsung mengatakan pada bu Rosa.


Selesai membereskan toko mereka langsung saja keluar untuk pulang tapi tak lupa dia mengunci pintu. Selesai mengunci pintu toko mereka berjalan menuju tempat pak Yadi, mereka hari ini ingin makan nasi goreng disana sudah lama mereka tak makan disana.


"Pak nasi gorengnya 2 ya."kata Lydia.


"Eh neng sudah lama gak keliatan?"kata pak Yadi.


"Iya pak kemarin-kemarin pulang kerja langsung pulang soalnya bawa mie dari toko."kata Lydia.


"Gak baik lo neng kalau makan mie instan terus buat tubuh."kata pak Yadi.


"Iya sih pak,tapi kalau harus jalan kesini jauh pak."kata Ita.


"Memngnya didekat sana gak ada yang jual nasi neng?"kata bu Ros yang baru saja datang.


"Ada bu tapi tak rasanya beda."kata Ita yang pernah beli nasi goreng didekat kosannya.


"Kan ada selain nasi goreng neng."kata bu Ton.

__ADS_1


"Iya sih bu, tapi takut kalau rasanya tak sesuai."kata Ita.


"Jangan gitu atu neng dicoba dulu siapa tau cocok kan kalau malas jalan kesini bisa beli didekat sana."kata bu Ton.


"Emangnya ibu sama bapak gak papa kalau kami pindah tempat beli?"kata Ita.


"Reseki sudah ada yang ngatur ngapain kami takut."kata bu Ton.


"Iya ibu benar neng reseki, jodoh maut sudah ada yang ngatur. Ini neng nasi gorengnya."kata pak Yadi.


"Makasih pak."kata Lydia.


"Ya sudah ibu tinggal bantuin bapak kalian makan saja dulu."kata bu Ton.


"Iya bu."kata Lydia.


Mereka berdua mulai makan nasi goreng saat nasi goreng mereka tinggal setengah Sandra datang dengan wajah masam karena ditinggal oleh kedua temannya.


"Kenapa dengan wajah kamu San?"kata Ita menahan tawa sedangkan Lydia malah sudah tertawa.


"Kalian nyebelin banget sih, aku ditinggal gak bilang kalau mau makan disini."kata Sandra.


"Maaf deh, tapi bukannya kami masih menunggu kamu. Nih liat makanan kami masih."kata Lydia sambil menunjukan piringnya yang masih berisi nasi goreng.


"Tau ah."kata Sandra.


"Daripada kamu manyun gitu bukannya lebih baik pesan dulu biar kita pulangnya gak kemalaman."kata Ita.


"Iya tapi tungguin aku awas saja kalau aku ditinggal."kata Sandra.


"Iya siap."kata Lydia.


Sandra langsung saja memesan nasi goreng untuknya sendiri. Sambil menunggu nasi gorengnya datang mereka membicarakan tentang rencana mereka ke puncak.


"Ta, kita ke puncaknya rame-rame gak papa kan?"kata Sandra.


"Rame-rame bagaimana maksutnya?"kata Ita.


"Tiga teman kampus kami mau ikut juga ke puncak."kata Lydia.


"Siapa?"kata Ita.


"Jono, Roni dan Rani."kata Sandra.


"Aku sih gak papa banyak orang tambah rame tapi memangnya gak papa mereka kalau kita berangkatnya pulang kerja?"kata Ita.


"Mereka gak papa, nanti Roni dan Jono bawa mobil sendiri-sendiri jadi mereka berdua yang nyetir."kata Sandra.


"Mereka punya mobil sendiri?"kata Ita.


"Kalau Roni punya tapi tadi Jono bilang mau rental mobil buat kita."kata Sandra.


"Kalau gitu kita patungan saja buat nyewa mobilnya."kata Ita.


"Nanti kamu bujuk dia saja ya."kata Sandra.


"Lah memangnya kenapa?"kata Ita.


"Tadi dia bilang gak usah mau dia saja yang menyewa mobilnya katanya sekali-kali nraktir kita."kata Lydia.


"Tapi aku gak enak kalau kayak gitu, apalagi dia juga masih kuliah pasti masih butuh banyak uang."kata Ita.


"Nanti kamu coba bicara sendiri sama dia."kata Lydia.


"Aku boleh minta no ponselnya biar aku coba hubungin dia saat dikosan nanti kalau dia belum tidur kalau sudah ya besok saja."kata Ita.


Lydia langsung memberikan no kontak Jono dan setelah itu mereka kembali makan nasi goreng mereka karena nasi goreng pesanan Sandra sudah datang. Selesi makan nasi goreng mereka langsung saja pulang ke kosan karena mereka takut jika kemalaman pulang.


Sampai dikosan mereka gak langsung pulang tapi ngumpul dulu dikamar Lydia. Ita langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Jono. Tak butuh waktu lama panggilannya diangkat. Ita juga menyalakan speaker agar kedua temannya dengar.


[Hallo Asalamualaikum, ini siapa ya?]


[Walaikumsalam, ini aku Ita teman satu kosannya Lydia. Apa benar ini Jono?]


[Iya aku sendiri, ada apa ya?]


[Gini aku dengar kamu mau ikut kami ke puncak dan mau rental mobil apa benar?]


[Iya aku memang mau rental memangnya kenapa?]


[Kamu jangan rental sendiri kita patungan saja ya?]


[Gak usah, biar aku yang nraktir saja.]


[Memangnya kamu banyak uang ya kok sok sokan mau ngrental?]


[Alhamdulilah kebetulan aku ada reseki lebih jadi bisa traktir kalian.]


[Tapi kami gak enak, pasti kamu juga butuh uang itu untuk biaya kuliah kamu.]


[Gak papa kok.]

__ADS_1


__ADS_2