
"Kamu itu kalau ada maunya panggil aku kak, maaf ya kalau aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja."kata Jono.
"Gak papa, makasih sekali lagi kalau gak ada kamu aku gak tau lagi harus gimana."kata Lydia sambil tersenyum.
"Nanti sampai disana kamu akan dijemput sepupuku namanya Dahlia, kamu tinggal sama dia saja nanti. Aku juga sudah meminta sama Dahlia untuk mencari psikolog agar traumamu bisa cepat sembuh."kata Jono.
"Iya, makasih. Kalau gitu aku pergi dulu ya."kata Jono.
"Iya, nanti aku akan sering main kesana kalau ada waktu luang."kata Jono tersenyum.
"Aku pegang janji kakak."kata Lydia sambil tersenyum.
Lydia memeluk Jono setelah itu mereka berpisah, Jono berharap keputusan yang Lydia ambil adalah keputusan yang benar. Jono menjalankan mobilnya kembali ke Jakarta. Lydia yang berada didalam pesawat memandang kearah luar entah apa yang dipikirkan sambil memeluk kemeja suaminya yang dipakai kemarin jadi masih ada bau badan suaminya.
"Aku berat meninggalkanmu kak, tapi mungkin ini yang terbaik. Aku ingin kamu bahagia kak walaupun tanpa aku."kata Lydia.
Lydia menghebuskan nafas yang berat sambil mengelus perutnya dan berharap agar kelak anaknya itu bisa menjadi obat rindu kepada suaminya. Lydia sampai diItalia sudah ditunggu oleh Dahlia yang menunggu diruang tunggu bandara. Dahlia yang melihat Lydia tersenyum lalu berjalan menghampiri perempuan yang dititipkan oleh kakaknya.
"Hai, aku Dahlia kamu Lydia 'kan?"kata Dahlia sambil tersenyum.
"Iya, kamu Dahlia 'kan sepupunya Jono?"kata Lydia sambil tersenyum.
"Iya, kita cerita dirumah saja. Kita pulang dulu sekarang soalnya udara disini sudah mulai dingin."kata Dahlia mengajak Lydia pulang.
Di Itali Lydia sedang menuju rumah Dahlia sedangkan diBogor Ryan yang baru terbangun mencari istrinya tapi disana tak ada istrinya. Ryan mencari kesudut rumah dan bertanya pada bu Narti tapi perempuan paruhbaya itu tak tau keberadaan suaminya. Saat dia sedang putus asa didalam kamarnya Ryan menemukan sebuah kertas yang dilipat diatas meja. Ryan mengambil kertas itu lalu membuka kertas itu yang ternyata itu surat dari Lydia.
Ryan yang membaca surat itu langsung saja tertunduk sedih, dia gak menyangka jika Lydia akan meninggalkannya lagi seperti dulu saat mereka berdua belum menikah dulu. Ryan mengambil tasnya lalu meninggalkan rumah itu sambil membawa surat dari Lydia. Bu Narti yang melihat kalau Ryan berjalan buru-buru meninggalkan rumah itu memilih untuk menghampiri pria itu.
"Yan, kamu mau kemana?"kata bu Narti membuat Ryan menghentikan langkahnya.
"Bu, aku mau mencari Lydia. Dia pergi meninggalkanku, bu aku titip sertifikat ini ya."kata Ryan sambil menyerahkan sertifikat rumah itu yang sudah atas nama Lydia.
"Kenapa kamu gak bawa sendiri saja nak?"kata bu Narti.
"Sebaiknya ibu saja yang bawa agar tak terjadi sesuatu yang diinginkan."kata Ryan.
"Ya sudah, kalian mau kemana setelah ini?"kata bu Narti.
"Saya mau kembali ke Jakarta mungkin Lydia pulang ke Jakarta."kata Ryan.
"Ya sudah hati-hati."kata bu Narti.
Ryan meninggalkan rumah itu untuk kembali ke Jakarta sampai Jakarta Ryan pergi menuju apartemennya tapi disana dia juga tak menemukan istrinya. Pakaian istrinya pun masih berada disana tak kurang satu pun, Ryan menuju rumah orangtua Lydia. Ryan masuk kesana, dia bertanya pada pembantu dirumah orangtua Lydia.
"Bi, apa Lydia pulang kesini?"kata Ryan.
"Maaf den, nona gak kesini memangnya nona gak berada diapartemen aden."kata bi Nah.
"Gak ada bi, ya sudah bi makasih ya kalau begitu aku permisi dulu."kata Ryan yang buru-buru keluar dari rumah itu.
Saat berada didalam mobil Ryan bingung harus mencari kemana lagi Lydia. Saat Ryan sedang bingung terdengar ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya saat melihat panggilan dari ayahnya Ryan hanya menghela nafasnya. Ryan tak mengangkat panggilan itu tapi lama kelamaan Ryan kesal karena panggilan itu terus menerus hingga dia terpaksa mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam, kamu kemana saja sih? Kamu tau gak mbakmu merengek terus mencarimu.]
[Mau apa dia?]
[Kamu ini cepat ke Rumah Sakit jenguk mbakmu.]
[Iya.]
Setelah berkata begitu Ryan mematikan panggilan itu dengan kesal Ryan terpaksa melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit dimana Shinta dirawat. Ryan berjalan gontai menuju ruang rawat Shinta, Shinta tersenyum saat melihat Ryan datang. Dia merentangkan tangannya agar Ryan memeluknya. Ryan berjalan menghampiri Shinta dengan wajah datarnya, Anton yang tau jika terjadi sesuatu dengan adiknya hanya diam saja. Anton juga bingung apa yang harus dilakukan disisi lain dia ingin melihat Shinta bahagia tapi dia juga ingin Ryan bahagia. Baginya keduanya adalah seseorang yang sangat berharga dan jika disuruh memilih dia tak bisa memilih.
"Mbak kangen sama kamu, kamu kenapa kemarin gak datang kesini sih?"kata Shinta.
"Bukannya sekarang aku ada disini."kata Ryan dingin.
"Yah, Ryan sudah gak sayang aku lagi."kata Shinta sambil merengek pada ayahnya.
"Sudah cukup, bukannya kamu sudah puas setelah ini kamu menikah denganku. Apalagi yang kamu mau?"kata Ryan dengan nada kasar.
"Yan..."kata ayah Danny tak suka dengan teriakan Ryan.
"Terserah kalian lakukan apa yang kalian mau aku gak perduli dan kamu mbak walaupun kita menikah itu hanya diatas kertas saja karena sampai kapanpun aku hanya menganggapmu sebagai kakakku."kata Ryan sambil pergi dari ruangan itu diikuri bunda Airin.
Saat berada diluar bunda Airin menghentikan langkah Ryan, dia ingin menanyakan dimana menantunya itu.
"Yan..."kata bunda Airin.
"Ada apa, bun?"kata Ryan sambil memandang bundanya.
"Lydia dimana Yan?"kata bunda Airin sambil menghela nafasnya Ryan memberikan surat yang ditinggalkan Lydia pada bundanya.
"Apa ini Yan?"kata bunda Airin bingung.
"Bunda baca sendiri saja bun."kata Ryan.
Bunda Airin membaca kertas itu lalu terduduk sambil menangis tersedu, bunda Airin merasa bersalah karena semua ini terjadi karenanya seandainya saja bunda Airin tak memaksa ingin menikahkan Ryan dengan Lydia mungkin semua ini tak akan terjadi.
"Maafin bunda nak, ini semua salah bunda yang memaksamu untuk menikah dengan Lydia."kata bunda Airin sambil menangis.
"Bun, ini bukan salah bunda. Ini salah Ryan yang selama ini gak bisa tegas dengan Shinta, seandainya saja aku bisa tegas gak akan ada perasaan suka seperti ini padaku. Sudahlah bun, aku terima nasibku jika Lydia jodohku pasti kami akan dipertemukan lagi. Aku pergi dulu, bunda jangan bersedih lagi ya."kata Ryan sambil mengusap airmatanya.
__ADS_1
"Yan, apa sebelum pergi Lydia memberitaumu sesuatu?"kata bunda Airin membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Memangnya memberitau apa bun?"kata Ryan.
"Gak ada sayang."kata bunda Airin yang sudah berjanji pada dirinya untuk memegang janjinya pada Lydia tak akan memberitau tentang kehamilannya.
9 bulan kemudian
Setelah percakapan diRumah Sakit itu Ryan tak banyak berbicara dengan keluarganya, pernikahan antara dirinya dan Shinta membuat keluarga besarnya memandang sinis kearah keluarganya. Orangtua Lydia juga memutuskan hubungan dengan keluarganya karena mereka terlalu kecewa dengan keluarga Ryan membuat bunda Airin sedih karena sahabatnya sejak SMA menjauhinya. Ryan juga menghabsikan waktunya untuk kerja dan kerja. Saat dia sedang bekerja entah mengapa dia merasakan sakit dipunggunya, sakit yang tertahankan bertepatan dengan itu Lydia sedang berusaha untuk melahirkan putra mereka. Lydia hanya ditemani oleh Dahlia karena tak ada yang tau dimana keberadaannya kecuali Jono. Akhirnya Lydia melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan wajahnya bennar-benar mirip ayahnya membuat Lydia menghela nafasnya.
"Maafkan mommy sayang."kata Lydia sambil menciumi wajah putranya itu sambil menangis merasa bersalah karena putranya akan tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah disisinya.
"Di, liat siapa yang datang."kata Dahlia sambil berteriak dan masuk kedalam ruang rawatnya.
Lydia mengusap airmatanya agar temannya itu tak melihat kalau dia sedang menangis.
"Kamu bisa gak kecilin suara itu, anakku baru tidur."kata Lydia membuat Dahlia tersenyum tak enak.
"Maafkan aunty ya sayang."kata Dahlia sambil mendekati ranjang Lydia dan keponakannya itu.
"Memangnya siapa yang datang?"kata Lydia.
"Nuh liat."kata Dahlia sambil menunjuk kearah pintu ternyata itu adalah Jono sambil tersenyum dan ditangannya dia memegang beberapa paperbag.
"Asalamualaikum..."kata Jono sambil menghampiri Lydia.
"Walaikumsalam kak, katanya gak bisa datang?"kata Lydia.
"Maaf aku bohong sekalian aku mau tanya sesuatu sama kamu?"kata Jono membuat kedua perempuan itu mengerutkan keningnya.
"Mau tanya apa?"kata Lydia.
"Bentar dulu deh, apa putramu sudah diazankan?"kata Jono.
"Siapa yang azanin kalau disini gak ada laki-laki."kata Lydia kesal dengan pertanyaan Jono.
"Sini biar aku saja."kata Jono mengambil alih bayi tampan itu.
Jono tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menyalakan rekaman suara Ryan adzan membuat Lydia terkejut saat mendengar suara itu. Lydia memandang kearah Jono, dia takut jika suaminya itu tau kalau suaminya mengetahui dimana keberadaannya. Lydia tapi tetap terdiam dengan pikirannya sambil mendengar adzan itu berhenti putranya pun hanya diam saja malah pulas tidurnya. Jono memberikan bayi kecil itu pada mamanya.
"Kak, bagaimana bisa kakak mendapatkan suara adzan kak Ryan?"kata Lydia membuat Jono tersenyum.
"Ya dapatlah orang suamimu sering adzan dikantornya."kata Jono sambil tersenyum.
"Kamu masih berhubungan dengannya?"kata Lydia.
"Ya mau bagaimana lagi kami memiliki kerajasama aku gak mau perusahaan rugi karena membatalkan kerjasama itu."kata Jono.
"Dasar."kata Dahlia membuat Jono tersenyum.
"Oh ya tadi kakak mau tanya apa?"kata Lydia.
"Gak aku gak merasakan sakit punggung hanya perutku saja memangnya kenapa kak?"kata Lydia bingung.
"Kamu tau gak kalau Ryan yang merasakan sakit punggung itu sampai dia gak bisa melakukan pekerjaannya."kata Jono membuat kedua perempuan itu terkejut.
"Kamu gak bohongkan, kak?"kata Lydia.
"Ngapain aku bohong, nih liat."kata Jono sambil memperlihatkan video Ryan yang mengerang kesakitan.
Lydia terdiam karena tak menyangka jika Ryan yang merasakan kesakitan itu, Lydia saat melihat video itu tersenyum karena bisa mengobati rasa rindunya pada Ryan.
"Kak, boleh aku minta rekaman dan video itu?"kata Lydia.
"Boleh, oh ya aku sampai lupa siapa nama dari keponakanku ini?"kata Jono sambil memandang kearah box anak Lydia dan Ryan.
"Raka Mahardika A."kata Lydia.
"Nama yang bagus tapi A itu singkatan dari apa? Bukannya nama belakangmu Emirat."kata Dahlia bingung sedangkan Jono yang tau tersenyum.
"A itu nama belakang ayah kandungnya Raka."kata Jono.
"Kenapa kamu memakai nama ayah yang gak bertanggungjawab itu?"kata Dahlia yang gak mengerti dengan pemikiran temannya itu.
"Bukan kak Ryan yang gak tanggungjawab tapi aku yang meninggalkannya."kata Lydia.
"Lagian Lydia masih istri Ryan yang sah."kata Jono membuat kedua perempuan itu terkejut.
"Lalu bagaimana Ryan bisa menikah lagi kalau dia tak menceraikan Lydia?"kata Dahlia yang tau kalau suami sahabatnya itu menikah dengan perempuan yang tak lain anak angkat orangtuanya.
"Nikah siri, walaupun mereka sudah menikah Ryan juga tak pernah melakukan hubungan suami istri."kata Jono.
"Bagaimana kamu tau kalau mereka tak melakukan hubungan suami istri itu kak?"kata Dahlia.
"Merekakan masih tetap tinggal dirumah mertuamu tapi gak satu kamar."kata Jono.
"Apa kamu masih berharap dengan istrimu itu kak?"kata Dahlia.
"Gak, aku sekarang sudah menemukan seorang perempuan yang baik dan pantas aku jadika ibu dari anak-anakku kelak."kata Jono sambil membayangkan Rina karyawan diperusahaannya.
"Sudah, sudah gak usah bahas itu. Ya, kapan aku bisa pulang darisini aku bosan disini?"kata Lydia.
"Nanti sore juga bisa pulang."kata Dahlia.
Lydia diItali sedang bahagia dengan kelahiran putranya berbeda dengan Ryan diJakarta dia kesal dengan anak buahnya yang gak becus mengerjakan sesuatu. Ryan setelah kepergian Lydia menjadi semakin dingin tak ada yang bisa meredakan kemarahannya, bundanya sendiri juga gak bisa. Shinta sendiri walaupun menikah dengan Ryan tapi tak pernah mendapatkan perhatian dari suaminya. Shinta merasakan kehilangan kasih sayang Ryan yang dulu dia dapatkan saat masih menjadi adik kakak. Anton sendiri setelah dia menikah menyerahkan perusahaan ayah Danny padanya dengan alasan kalau Anton ingin membuka usahanya sendiri. Siang itu saat Ryan sedang kesal dengan karyawannya ayah Danny datang bersama dengan bunda Airin.
__ADS_1
"Mau ngapain kalian kesini?"kata Ryan dingin membuat bunda Airin menghela nafasnya.
"Yan, tolong bantu Shinta mengurus perusahaan sekarang perusahaan sedang ada masalah."kata ayah Danny.
"Maaf aku sendiri sedang ada masalah diperusahaanku."kata Ryan menolak.
"Yan, bantulah Shinta biar bagaimanapun dia istrimu."kata ayah Danny mendengar kata Istri membuat Ryan kesal lalu memandang tajam ayahnya itu.
"Dia bukan istriku, aku menikahinya karena kamu yang minta. Kalau masih mau aku hormati sebagai orangtuaku mending sekarang kalian pergi darisini."kata Ryan membuat ayah Danny terkejut.
"Kamu... Dasar anak durhaka menyesal aku membesarkanmu."kata ayah Danny.
"Aku gak perduli, sayangi saya anak ayah itu. Jika ayah tau apa yang dilakukan putrimu itu aku yakin ayah pasti akan menyesal. Aku merasa kasian sama kak Anton dan Lydia yang berkorban demi kebahagian perempuan ular itu."kata Ryan.
"Jaga ucapanmu, ayah tau kamu benci sama Shinta tapi jangan kamu memfitnahnya."kata ayah Danny kesal dengan perkataan putra kandungnya itu.
Bunda Airin mendengar perkataan Ryan membuatnya yakin jika ada yang diketahui oleh Ryan tentang Shinta tapi rahasia apa. Bunda Airin akan mencaritau sendiri karena dia tau jika dia bertanya pada Ryan maupun Anton. Bunda Airin akan meminta bantuan Intan karena hanya dia yang tau apa yang terjadi sebenarnya saat mengingat perkataan terakhir besannya itu.
"Kalian akan menyesal saat kalian tau apa yang dilakukan perempuan kesayanganmu itu, tapi disaat itu kalian akan kehilangan semuanya."kata Intan.
Ayah Danny memarahi habis-habisan Ryan tapi pria itu hanya diam saja, bunda Airin baru tersadar dari lamunanya saat mendengar barang jatuh karena dilempar.
"Keluar kalian darisini, aku gak mau ketemu kalian. Aku juga menceraikan Shinta setelah ini."kata Ryan kesal.
"Silahkan saja tapi kamu akan menyesal."kata ayah Danny.
"Kita liat saja siapa yang akan menyesal."kata Ryan.
Kedua orangtua Ryan pergi dari ruangan itu, Ryan setelah kepergian ayahnya menyandalkan punggungnya disofa. Saat dia sedang melamun Dayat masuk kedalam ruangan sambil membawa berkas karyawan yang tadi Ryan suruh untuk menyelesaikannya.
"Maaf tuan, ini berkas yang anda minta untuk diperbaiki tadi."kata Dayat.
"Makasih Yat, nanti kalau ada tamu lagi bilang aku gak ada. Oh ya kamu caritau masalah apa yang dihadapi perusahaan ayahku dan minta bantuan kak Anton untuk menyelesaikannya."kata Ryan.
"Baik tuan kalau begitu aku pergi dulu."kata Dayat.
"Oh ya Yat nanti pulang dari kantor ikut aku pulang ke rumah orangtuaku dan soal apartemen baruku bagaimana apa sudah siap ditinggali?"kata Ryan.
"Sudah tuan, saya juga sudah memindahkan barang-barang nyonya Lydia ke apartmen baru."kata Dayat.
"Baiklah, nanti setelah dari rumah orangtuaku kita langsung ke apartemen itu saja."kata Ryan.
Dayat meninggalkan ruangan Ryan sedangkan Ryan mempelajari berkas yang dia minta pada Dayat tadi. Saat berkas itu gak ada salah lagi Ryan baru menadatangani berkas itu. Ryan mulai fokus dengan pekerjaannya sampai lupa kalau itu sudah waktunya mereka pulang jika bukan Dayat yang masuk kedalam ruangannya. Kedua pria itu pulang menuju rumah orangtua Ryan, Shinta yang melihat kalau suaminya pulang langsung tersenyum lalu berlari keluar untuk menyambut Ryan tapi tak ada tanggapan dari Ryan.
"Ayah sama bunda mana?"kata Ryan dingin.
"Mereka ada dikamar sebentar aku panggilkan dulu."kata Shinta sambil tersenyum.
Dayat bingung apa yang mau dilakukan oleh atasannya itu, tapi dia tak berani bertanya banyak sebab Ryan yang dia kenal sekarang bukan Ryan yang dulu lagi. Tak berapa lama kedua orangtua Ryan datang lalu duduk didepannya sedangkan Shinta duduk didekat Ryan sambil memeluk pria itu. Ryan sebenarnya risih tapi dia mendiamkannya saja, anggap saja itu terakhir mereka bertemu.
"Mau apa kamu mencari kami?"kata ayah Danny sinis.
"Aku kesini untuk melaksanakan apa yang aku katakan tadi."kata Ryan.
"Memangnya kamu mengatakan apa sama ayah bunda mas."kata Shinta membuat telinga Dayat geli apalagi Ryan kata Dayat dalam hati.
"Mulai hari ini aku talak kamu, mulai sekarang kita tak ada hubungan lagi begitupun aku dengan keluarga ini."kata Ryan membuat bunda Airin terkejut.
"Kalau itu keputusanmu silahkan tapi kamu harus ingat kamu gak akan pernah mendapatkan sepeserpun harta dariku."kata ayah Danny.
"Aku gak butuh dengan harta itu, kalau begitu aku pergi dulu apa yang aku katakan sudah selesai."kata Ryan.
"Gak, aku gak mau pisah sama kamu Yan. Aku sayang sama kamu."kata Shinta sambil menangis.
Ryan tak memperdulikan rengekan itu dia tetap meninggalkan Shinta yang menangis sambil memohon pada orangtuanya supaya membujuk Ryan agar tak meninggalkannya. Bunda Airin juga tak mau berlama-lama disana dia memutuskan untuk pergi darisana sedangkan ayah Danny hanya menghela nafasnya. Ayah Danny tau jika istrinya itu sudah terlalu kecewa padanya tapi dia juga gak bisa melihat Shinta bersedih.
"Yah, aku gak mau pisah dengan Ryan yah."kata Shinta.
"Shin, dengerin ayah. Apa yang kamu rasakan itu bukan cinta nak tapi opsesi biar bagaimanapun Ryan itu adikmu."kata ayah Danny.
"Gak dia bukan adikku, kalian jahat."kata Shinta.
Shinta pergi menuju kamarnya meninggalkan ayah Danny sendirian, Shinta membanting semua barang-barangnya. Dia tak terima dicampakan oleh Ryan. Shinta mengambil foto pernikahannya dengan Ryan dan berjanji akan membuat Ryan bertekuk lutut padanya bagaimanapun caranya. Dia sudah berhasil menyingkirkan Lydia dari hidup Ryan dengan susah payah makanya dia gak akan terima jika dia harus kehilangan Ryan lagi. Ryan yang berada didalam mobil bersama Dayat hanya diam tapi saat dia sedang melamun ponselnya berbunyi membuat Ryan melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Anton.
[Hallo ada apa kak?]
[Kamu sibuk gak ada yang mau kakak bicarakan sama kamu?]
[Gak ini mau pulang, ya sudah aku ke cafe mu kak.]
[Baiklah, aku tunggu disini.]
Ryan mematikan panggilannya lalu menyuruh Dayat untuk menuju cafe Anton, sampai dicafe Anton ternyata kakaknya itu sudah menunggu diruangannya sambil minum kopi ditemani oleh Zen. Anton tersenyum saat melihat adiknya masuk kedalam dengan Dayat, Ryan sendiri langsung saja duduk disamping kakak laki-lakinya itu.
"Ada apa kakak menyuruhku kesini?"kata Ryan.
"Istirahat dulu, kamu mau minum apa?"kata Anton.
"Kopi saja."kata Ryan.
"Baiklah, aku akan suruh membuatkannya."kata Anton.
Mereka berbicara sambil minum kopi tapi hanya membicarakan masalah sepele saja bukan masalah penting. Setelah dirasa cukup berbasa-basi Ryan bertanya pada kakaknya karena dia ingin segera pulang kerumah.
"Kak, mau bahas soal apa ini?"kata Ryan.
__ADS_1
"Soal apa yang dilakukan Shinta pada Tiara dan Lydia."kata Anton membuat Ryan terkejut.
"Kakak sudah tau tentang semua ini?"kata Ryan.