
"Memangnya kamu mau rumah kayak gini?"kata Ryan.
"Aku mah mau mau saja, buat apa rumah mewah kalau kita gak nyaman menempatinya."kata Lydia.
"Baiklah nanti aku akan buatkan kamu rumah yang nyaman."kata Ryan sambil tersenyum.
"Baiklah, ayo kita turun tu liat bapak sama ibu sudah keluar gak enak kalau gak menyapa."kata Lydia sambil menunjuk ibu sama bapak penjual sate yang sudah ada didepan rumahnya.
sepasang suami istri itu keluar dari mobil untuk meminta izin pada orangtua Sari kalau mereka mau mengajak keluar Sari sebentar. Mereka berdua disambut senyuman oleh kedua orangtua itu, ibu pun memanggil Sari bilang kalau Lydia dan Ryan sudah datang. Sari sudah bilang dari semalam kalau pagi ini mau diajak keluar oleh kedua suami istri itu.
"Bu, pak kami mau minta izin mau mengajak Sari keluar sebentar."kata Ryan.
"Memangnya mau kemana nak Ryan?"kata Bapak penjual sate.
"Kami mau minta tolong sama Sari untuk mengajar anak-anak yang kurang beruntung."kata Ryan.
"Maksutnya bagaimana ya nak?"kata ibu.
"Gini lo bu kami mau minta tolong pada Sari untuk mengajari anak-anak yang tidak beruntung. Kalau saya dan istri gak harus kembali ke Jakarta saya izinkan Lydia buat ngajari mereka tapi kami masih ada kerjaan diJakarta."kata Ryan.
"Oalah kalau begitu kalian perginya hati-hati."kata bapak.
"Makasih pak, bu sudah memberi izin pada Sari. Kalau begitu kami pergi dulu, Asalamualikum..."kata Ryan.
"Walaikumsalam."kata bapak sama ibu bersamaan.
Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam mobil saat didalam mobil Sari dan Lydia saling bercanda satu sama lain. Ryan yang melihat keakraban itu hanya tersenyum, Lydia yang melihat suaminya diam saja langsung menepuk pundak suaminya membuat Ryan memandang kearah Lydia.
"Ada apa?"kata Ryan.
"Kamu kok diam saja ada apa?"kata Lydia yang takut jika suaminya itu marah.
"Gak papa, aku sedang mendengarkan kalian yang berbicara gak mungkin aku bisa nyambung dengan obrolan kalian."kata Ryan.
"Maaf ya kak."kata Lydia yang gak enak hati karena pembicaraannya dengan Sari memang tentang fashion perempuan.
"Gak papa kok, kalian lanjut saja berbicara?"kata Ryan.
__ADS_1
"Kalian katanya mau kembali ke Jakarta memangnya kapan berangkatnya?"kata Sari.
"Habis ini kami langsung berangkat ke Jakarta."kata Lydia.
"Wah kalau gitu nanti biar Sari pulang sendiri saja."kata Sari.
"Kami antar saja nanti dikira kami gak tanggungjawab sudah bawa anak orang eh waktunya pulang gak diantar."kata Ryan.
"Gak papa kak, daripada nanti kakak capek nyetirnya."kata Sari.
"Gak papa kok, nanti kalau capek aku ada tukang pijat kok apalagi gratis lagi."kata Ryan.
"Oh ya aku lupa kak, mbak nanti tolong kak Ryan kalau dia capek pijatin."kata Sari sambil tersenyum sedangkan Lydia malah melototkan matanya ke Sari.
"Kayaknya gak peka mbakmu ni Sar."kata Ryan yang langsung dapat cubitan diperutnya oleh Lydia.
"Augh sakit Ly."kata Ryan sambil mengelus tangannya.
"Biarin punya mulut itu bisa gak dijaga."kata Lydia.
"Kita sudah sampai ya kak?"kata Sari.
"Iya kayaknya dari yang dikatakan ibu kemarin didaerah sini rumahnya."kata Ryan.
"Kak, mobilnya ditaruh sana saja."kata Sari menuju sebuah pohon yang rindang.
Ryan menjalankan mobilnya menuju tempat yang ditunjuk oleh Sari. Tapi saat keluar dari dalam mobil Sari takut jika mobil Ryan akan hilang kalau diletakkan disana. Lydia menenangkan Sari mengatakan kalau mobil Ryan akan aman disana. Setelah Sari tenang barulah mereka mencari rumah ibu itu, baru saja dia berjalan kedepan Lydia melihat salah satu anak kecil kemarin malam.
"Dek..."teriak Lydia membuat anak kecil itu memandang kearah Lydia.
"Mbak..."kata anak kecil itu sambil berlari menghampiri Lydia.
"Dek syukurlah kita ketemu disini, kamu bisa antarkan kami ke rumahmu?"kata Lydia.
"Bisa mbak tapi tunggu sebentar ya aku mau beli gula sama teh sebentar."kata adik itu.
"Ya sudah kalau kayak gitu kami tunggu disana saja bagaimana?"kata Sari.
__ADS_1
"Iya mbak boleh, aku hanya sebentar kok."kata adik itu.
Adik itu pergi untuk membeli gula sedangkan ketiga orang itu berjalan menuju sebuah ruko yang gak dipakai. Ryan melihat ruko yang terbengkalai itu membuatnya sadar kalau mereka bisa memanfaatkan ruko itu tapi Ryan mau melihat dulu bagaimana kondisi perumahan yang ada disekitar tempat sampah itu. Tak lama mereka menunggu adik itu sudah datang dan mengajak mereka berjalan menuju rumahnya. Ryan memandang kesekeliling tempat sampah itu ada banyak botol plastik dan juga kain-kain bekas membuat dia punya ide untuk membuat kerajinan tangan.
"Asalamualikum..."kata adik.
"Walaikumsalam, dapat le gulanya?"kata ibu.
"Dapet bu, bu ini ada mbak sama kakak yang kemarin malam."kata adik.
"Ih mbak, mas ayo masuk maaf rumahnya berantakan."kata ibu.
"Gak papa bu, ini siapa bu?"kata Ryan yang melihat ada seorang pria yang sedang berbaring dikasur.
"Ini suami saya mas, dia seperti ini karena jatuh dari pekerjaannya. Mandornya tak mau tanggungjawab dan kami mau ke Rumah Sakit gak ada biaya."kata ibu.
"Bu, apa boleh saya ajak bapak ke Rumah Sakit untuk berobat?"kata Ryan membuat Lydia terkejut gak menyangka kalau suaminya itu mau membantu.
"Memangnya gak ngerepotin mas?"kata ibu.
"Gak kok bu, kalau boleh saya juga minta tolong agar ibu mencari pria untuk membantu saya buat menggotong bapak ke dalam mobil."kata Ryan.
"Baiklah, kalau kayak gitu ibu kerumah pak Rt sebentar siapa tau beliau bisa membantu."kata ibu.
Ibu itu pergi mencari pak Rt sedangkan Ryan dan keduanya berbicara dengan bapak tu ternyata banyak sekali yang dia bicarakan termasuk kejahatan pak Hendra membuat Lydia terkejut. Lydia mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Purnomo dan juga Edwin tak butuh waktu lama kedua pria itu sudah sampai dirumah ibu itu. Saat mereka sampai bertepatan dengan ibu dan pak Rt serta beberapa pria datang kesana.
"Maaf pak kalau kami merepotkan bapak-bapak."kata Ryan.
"Gak papa kok, kami yang harusnya berterimakasi karena kalian mau membantu salah satu warga kami."kata pak Rt.
"Kami minta tolong buat bapak-bapak membawa pak Santo ke mobilnya pak Purnomo. Sekalian nanti mau bicara sama bapak."kata Ryan.
"Memangnya mau bicara apa ya mas?"kata pak Rt.
"Nanti saja pak, sekarang kita tolong pak Santo dulu."kata Ryan.
Beberapa pria membantu menggotong pak Santo, saat para bapak-bapak itu mengotong pak Santo. Ryan berbicara tentang rencananya pada Edwin dan pak Purnomo. Kedua pria itu setuju dengan ide Ryan siapa tau tempat itu bisa jadi wisata, Edwin dan pak Purnomo berjanji akan bertanggungjawab atas rencana itu pak Rt yang mendengar pembicaraan mereka bertiga tersenyum karena masih ada orang yang perduli dengan tempat tinggalnya.
__ADS_1