
Ryan mendekati Lydia, Lydia yang tau kalau suaminya mendekatinya memandang kearah Ryan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ryan sendiri yang mendapat tatapan seperti itu hanya santai beda dengan Dayat yang takut jika mereka berdua akan bertengkar. Ryan mendekati Lydia dan balik menatap satu sama lain, Dayat yang tau apa yang terjadi memilih untuk keluar secara diam-diam. Ryan yang mengetahui kalau Dayat keluar dari ruangan itu, mulai mendekati Lydia. Awalnya Ryan hanya menempelkan bibirnya ke bibir Lydia tapi lama-lama Ryan merumat bibir itu. Lydia yang menerima ciuman itu menutup matanya membuat Ryan berani melakukan hal lebih dengan istrinya itu tapi Ryan masih tau batasnya. Saat dia merasa Lydia sudah kehabisan nafas Ryan melepas ciuman itu.
"Kak..."kata Lydia sambil memukul perut Ryan.
"Sakit sayang..."kata Ryan pura-pura kesakitan.
"Siapa suruh cium aku, ini perusahaan kak bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masukkan malu?"kata Lydia.
"Biarkan saja, lagian mereka tau kalau kita sudah menikah. Satu lagi kamu juga menikmati ciuman kita tadi sayang."kata Ryan sambil tersenyum.
"Siapa yang menikmati?"kata Lydia kesal.
"Kamu..."kata Ryan sambil menoel hidung Lydia.
"Siapa yang menikmati gak ada?"kata Lydia.
"Masak kalau gak kenapa menutup mata hayo, tu pipimu juga sudah merah ini."kata Ryan sambil memencet-mencet pipi istrinya..
"Sudah gak usah aneh-aneh deh, nih apa maksutnya?"kata Lydia memberikn kertas print itu.
"Memangnya apa?"kata Ryan yang pura-pura gak tau.
"Kak...."kata Lydia berteriak karena kesal.
"Sayang, telinga aku rusak nanti kalau kamu terus berteriak."kata Ryan.
"Biarin, siapa suruh bikin kesal terus."kata Lydia.
"Baiklah, baiklah ini hasil print rek bank orang yang sudah mencuri uang diperusahaan ayah."kata Ryan.
"Bagaimana kakak bisa mendapatkan data ini?"kata Lydia.
"Meretas bank."kata Ryan santai yang membuat Lydia terkejut.
"Kak, kamu tau ga perbuatan kamu ini kalau diketahui yang berwajib bisa membahayakanmu?"kata Lydia khawatir.
"Aku tau lagian mereka gak akan bisa menenukan jejakku tenang saja suamimu ini tak akan meninggalkan jejak kalau melakukan sesuatu."kata Ryan sambil mencium kening Lydia lama membuat istrinya itu tertegun.
Ryan yang tau kalau istrinya tertegun tersenyum lalu mengambil kertas yang ada ditangan Lydia. Setelah itu Ryan berjalan kembali untuk duduk disofa, saat sampai sofa dia berdehem keras membuat Lydia tersadar. Lydia tersadar lalu menghera nafasnya dan memutuskan untuk fokus dengan pekerjaannya sedangkan Ryan menghubungi Dayat untuk segera masuk ke dalam ruangan Lydia. Lydia yang mendengar kalau Ryan menyuruh Dayat masuk ke dalam ruangannya tersadar kalau tadi Dayat berada diruangannya lalu kapan asisten suaminya itu keluar ruangan.
"Kak..."kata Lydia.
"Ada apa?"kata Ryan.
"Kapan kak Dayat keluar dari ruangan ini?"kata Lydia.
__ADS_1
"Tadi saat aku mendekatimu."kata Ryan santai.
"Kakak tau kalau dia keluar dari ruanganku?"kata Lydia.
"Tau kalau gak tau mana mungkin aku berani menciummu enak saja dia dapat tontnan gratis."kata Ryan.
"Serah kamulah kak."kata Lydia yang kembali fokus dengan pekerjaannya karena kalau meladeni suaminya pasti dia akan kesal sendiri.
Ryan yang tau kalau istrinya kesal hanya tersenyum setelah itu kembali memeriksa kertas yang dia pegang ternyata dana itu mngalir ke rekening om Damar membuat Ryan tak habis pikir apa maunya omnya itu. Dayat yang masuk dengan membawa minuman yang dipesan oleh Ryan terkejut karena atasannya itu sedang melamun pasti ada hal yang sudah terjadi.
"Tuan apa ada masalah?"kata Dayat.
"Iya, kamu bawa yang aku pesan tadi?"kata Ryan.
"Ini nona buatmu."kata Dayat memberikan minuman yang dia bawa untuk Lydia.
"Aku gak pesan minuman."kata Lydia bingung.
"Aku yang memesankan untukmu ambil saja."kata Ryan.
"Makasih."kata Lydia sambil menerima minuman itu.
"Sama-sama nyonya."kata Dayat.
"Tuan ini..."kata Dayat yang diangguki oleh Ryan.
"Ada apa sih kok serius banget?"kata Lydia yang menghampiri mereka berdua.
"Gak ada apa-apa."kata Ryan.
"Gak ada apa-apa kok wajah kak Dayat terkejut begitu?"kata Lydia.
"Dibilang gak ada apa-apa, kamu sudah selesai kerjaannya?"kata Ryan.
"Sudah, makanya aku kesini. Kakak kok tau minuman kesukaanku siapa yang bilang?"kata Lydia.
"Tanya sama Widya."kata Ryan.
"Pantes saja, sudah lanjut kalau kalin masih mau membahas pekerjaan."kata Lydia.
"Kalau kamu sudah selesai kita pulang bagaimana?"kata Ryan.
"Masalah kalian bagaimana?"kata Lydia.
"Biar ini diurus sama kak Anton."kata Ryan.
__ADS_1
"Tuan sekalian mengantar saya ke bandara."kata Dayat.
"Memangnya kamu sudah pesan tiket?"kata Ryan.
"Sudah tuan tadi."kata Ryan.
"Kak, kita gak ikut kembali ke Jakarta bareng kak Dayat?"kata Lydia.
"Aku mau jalan-jalan sudah lama aku gak jalan-jalan kamu maukan?"kata Ryan.
"Mau kalau gratis."kata Lydia tersenyum membuat kedua pria itu mengelengkan kepalanya.
"Ya sudah ayo kita antar Dayat, kamu bilang sama Edwin dulu nanti dia cari kamu."kata Ryan.
Lydia membereskan barang-barangnya setelah itu mengajak kedua pria itu keluar, sebelum mereka keluar dari perusahaan dia memberitau Edwin kalau mereka akan pulang.
"Yan, buatin aku keponakan yang lucu-lucu."kata Edwin.
"Siap."kata Ryan.
"Apasih kak?"kata Lydia sambil wajahnya merona merah.
"Memangnya salah kalau aku minta Ryan buatin aku keponakan kalian sudah menikah jadi gak ada salahnya. Kalau aku mau buat anak sama siapa?"kata Edwin.
"Makanya jangan kelamaan mengaet gadis itu."kata Lydia.
"Pengennya gak lama tapi susah didapat, sudah sana berangkat nanti Dayat ketinggalan pesawat."kata Edwin.
"Baiklah kak, kami pergi dulu."kata Ryan mengajak yang lain pergi.
Dayat menyetir mobilnya dengan cepat agar segera sampai dibandara sedangkan Lydia yang ada dibelakang selama diperjalanan memeluk Ryan karena takut. Ryan bukannya marah tapi senang karena dipeluk oleh Lydia, Dayat melihat juga ikut tersenyum. Dayat berharap keduanya akan menjalani hidup yang bahagia tanpa melihat kekurangan masing-masing. Secepatnya bisa tumbuh rasa cinta diantara mereka berdua. Sampai dibandara Ryan dan Lydia mengantar Dayat ke dalam.
"Yat, sampai Jakarta langsung kabari."kata Ryan.
"Siap tuan."kata Dayat.
"Kak, mumpung gak sama kak Ryan cari perempuan canti buat dijadikan istri."kata Lydia.
"Memangnya kalau ada aku kenapa?"kata Ryan.
"Kalau ada kakak pasti kak Dayat gak bisa tebar pesona karena kalian selalu bicarain kerjaan terus."kata Lydia membuat Ryan mengelengkan kepalanya.
"Doain saja nyonya, saya masuk sekarang."kata Dayat.
"Iya hati-hati."kata Ryan.
__ADS_1