Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia mandi dengan Ryan


__ADS_3

Ryan yang melihat kalau istrinya terus saja memadanginya berjalan menghampiri Lydia, tapi Lydia tak sadar. Saat berada didekat Lydia, Ryan mencium pipi Lydia membuat dia terkejut.


"Kak..."kata Lydia terkejut karena suaminya sudah berada disampingnya.


"Apa sayang?"kata Ryan sambil tersenyum.


"Sejak kapan kakak ada disini?"kata Lydia gugup.


"Barusan tapi kamu gak sadar karena daritadi ngelihatin aku terus."kata Ryan.


"Siapa yang ngelihatin kamu gak ada, kalau aku ngelihatin kamu pasti aku sadar kalau kamu ada disampingku?"kata Lydia gak mau mengaku kalau dia sedang memandang suaminya.


"Orang liatnya sambil melamun mana bisa tau."kata Ryan membuat pipi Lydia menjadi semakin merah karena ketahuan jika memandang suaminya.


"Kamu mandi lagi sana."kata Lydia menyuruh Ryan untuk kembali mandi.


"Kayaknya kita harus mandi bareng deh daripada kamu liatin aku terus."kata Ryan.


"Gak mau kalau kita mandi bareng nanti malah lama selesainya."kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya sambil tersenyum.


"Memangnya kenapa kok lama mandinya?"kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.


"Kakak pikir saja sendiri.'kata Lydia yang kesal dengan suaminya.


"Baiklah karena aku gak bisa mikir jadi sekarang ikut aku."kata Ryan.


Ryan bangun lalu mengendong Lydia membuat istrinya itu menjerit keras tapi tak diperdulikan oleh Ryan. Ryan berjalan menuju shower sampai dibawahnya Ryan menyalakan shower membuat Lydia membenamkan wajahnya didada bidang suaminya membuat Ryan tersenyum.


"Kenapa gak mandi malah bersembunyi didadaku?"kata Ryan.


"Kakak tu nyebelin tau gak, aku malu."kata Lydia.


"Kamu malu kenapa memangnya sayang?"kata Ryan.


"Kakak bisa liat semuanya."kata Lydia semakin membuat Ryan melebarkan senyumannya.

__ADS_1


"Bukannya semalam aku sudah melihat semuanya dan kita sama-sama menikmatinya kalau sekarang aku minta lagi bukannya gak papa. Aku ingin segera kamu hamil dan bisa tinggal dirumah agar setiap aku pulang kerja ada yang menyambutku."kata Ryan dengan wajah yang penuh harap.


"Kalau aku gak mau bagaimana?"kata Lydia membuat Ryan terdiam lalu setelah itu Ryan tersenyum membuat Lydia bingung.


"Aku gak akan menunggumu sampai kamu siap."kata Ryan membuat Lydia tersenyum lalu memeluk erat suaminya.


"Makasih kak, aku siap kalau Allah sudah memberikan kepercayaan pada kita untuk memiliki momongan."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Makasih sayang, aku pikir kamu gak mau punya momongan sama aku?"kata Ryan tersenyum.


"Aku sudah menerima kakak berarti aku siap memiliki takdirku sama kakak tapi apa kakak bisa menerimaku yang memiliki trauma ini?"kata Lydia sambil memainkan jarinya didada Ryan membuat Ryan merangsang.


"Kamu ini ngomong apa, aku terima kamu apa adanya. Kalau masalah trauma aku akan menemanimu sampai kamu sembuh."kata Ryan.


"Makasih kakak."kata Lydia sambil memeluk Ryan erat.


Ryan yang dipeluk istrinya seperti itu merasa senang tapi setelah itu teringat jika keluarganya sudah menunggu mereka dibawah untuk makan malam. Ryan melepaskan pelukannya membuat Lydia mengerutkan keningnya dan tak suka saat Ryan melepaskan pelukannya.


"Kenapa kakak melepaskan pelukannya?"kata Lydia.


"Aku gak suka kakak lepaskan pelukan kakak karena aku nyaman kalau kakak peluk."kata Lydia sambil tetap memeluk pinggang Ryan sambil menghadapkan mukanya keatas agar bisa melihat wajah suaminya.


"Nanti lagi peluknya sekarang kita mandi kasian yang lain sudah menunggu dibawah."kata Ryan membuat Lydia sadar jika keluarga suaminya sedang menunggu mereka untuk makan malam.


"Iya, tapi nanti peluk selesai makan kalau sudah kembali ke kamar?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Tumben istriku ini manja sekali hari ini ada apa memangnya?"kata Ryan.


"Memangnya aku gak boleh manja sama suami sendiri?"kata Lydia sambil tersenyum membuat Ryan terpesona dengan senyuman istrinya.


"Kamu jangan perlihatkan senyuman ini sama orang lain aku bisa mati berdiri kalau ada orang lain yang suka sama kamu."kata Ryan.


"Gombal banget, sudah ayo mandi katanya yang lain sudah menunggu."kata Lydia.


"Baiklah, tapi janji sama aku satu hal nanti malam."kata Ryan sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Memangnya janji apa?"kata Lydia yang penasaran dengan apa yang mau dilakukan oleh suaminya.


"Kita nanti melakukan kegitan seperti semalam lagi bagaimana?"kata Ryan yang langsung diberi cubitan sama Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Aku gak akan paksa kamu kalau kamu gak mau, nanti malam kita pelukan saja sudah membuatku senang."kata Ryan lagi.


"Sudah ayo mandi aku kedinginan."kata Lydia mengaku jika dia sedang kedinginan membuat Ryan tersenyum.


"Kita selesaikan mandinya setelah itu kita turun ya. Kalau kamu masih kedinginan kita makan didalam kamar saja.'kata Ryan khawatir.


"Kita makan dibawah saja gak enak sama yang lain sudah menunggu kita."kata Lydia membuat Ryan tersenyum karena istrinya gak hanya memeningkan dirinya sendiri tapi juga memikirkan orang lain.


"Baiklah."kata Ryan sambil mencium kening Lydia lama.


Mereka berdua mandi sedangkan keluarga Ryan yang sudah berada dimeja makan menunggu terlalu lama membuat Shinta yang tidak sabaran kesal karena adiknya dan istrinya gak turun-turun daritadi.


"Bun, mereka berdua tadi ngapain sih kok lama sekali?"kata Shinta yang membuat bunda Airin gak bisa menjawab pertanyaan putrinya karena dia gak mau jika mereka tau jika dia tadi melihat kegiatan pasangan baru itu.


"Sabar sebentar lagi mereka pasti akan turun."kata Anton yang tau kalau bundanya bingung, Anton yakin jika bundanya tadi melihat sesuatu.


"Tapi lama sekali aku sudah lapar kak."kata Shinta.


"Kalau kamu lapar makan dulu gih, biar kami menunggu mereka."kata Anton membuat Shinta diam karena kalau kakaknya atau Ryan yang berbicara dia tak bisa berkata-kata lagi.


"Benar apa kata kakakmmu kalau kamu mau makan makan saja duluan, yah besok bisa minta tolong sama mamang untuk membenarkan pintu kamar mandi dikamarnya Ryan?"kata bunda Airin membuat semua yang ada disana terkejut.


"Memangnya kenapa dengan pintu kamar mandi dikamar Ryan?"kata ayah Danny yang penasaran apa yang terjadi dengan pintu dikamar mandi Ryan.


"Tadi Ryan mendobraknya karena khawatir dengan Lydia yang berada dikamar mandi gak keluar-keluar."kata bunda Airin.


"Lalu bagaimana keadaannya dia gak papakan bun?"kata Shinta yang khawatir dengan adik iparnya.


"Dia gak papa kok, malah kayaknya sekarang lagi bikin cucu buat bunda."kata bunda Airin sambil terkejut dengan ucapannya sendiri sedangkan yang lain tersenyum.


"Jangan bilang tadi bunda melihat mereka sedang melakukan kegiatan itu kan bunda tadi bilang kalau pintu kamar mandi mereka rusak?"kata Shinta membuat bunda Airin terdiam.

__ADS_1


"Gak saat bunda masuk mereka belum sampai tahap itu masih sekedar dekat-dekat saja, kalau sampai bunda melihat mereka melakukan itu pasti mereka akan malu dan mau ditaruh dimana muka bunda. Masak bunda melihat anak dan menantu sedang begituan."kata bunda Airin membuat mereka semua tertawa.


__ADS_2