Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan menolak pakaian dari Lydia


__ADS_3

Sesampainya dirumah Lydia, Ryan mengambil paperbag yang ada didalam bagasi. Lydia menyerahkan Raka pada Dahlia supaya Lydia bisa membantu Ryan membawakan barang belanjaannya. Lydia berjalan menghampiri Ryan sambil tersenyum karena suaminya itu sedang kebingungan bagaimana membawa semua barang itu.


"Kak..."kata Lydia membuat Ryan menoleh kearah Lydia.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Gak usah dibawa masuk semua barangnya."kata Lydia membuat Ryan bingung.


"Kenapa gak dibawa masuk semuanya?"kata Ryan.


"Karena yang ini semua pakaian milik kamu kak, aku terpaksa membeli pakaian ini buat kakak masak kakak gak mau pakai?"kata Lydia.


"Bukannya gak mau pakai tapi sayang kalau gak dipakai, soalnya habis masalah hotel selesai aku harus kembali ke Jakarta."kata Ryan.


"Ya sudah kalau gitu kembalikan saja semua baju itu kakak pilih mana yang bagus biar aku kembali ke tokonya."kata Lydia kesal dan kecewa.


Lydia kecewa karena suaminya tak menghargai apa yang dilakukannya yah walaupun uang yang dipakai membeli pakaian itu adalah milik suaminya. Ryan yang tau kalau Lydia kecewa meletakkan kembali paperbagnya lalu menyentuh bahu Lydia dan menaikkan dagu istrinya terlihat airmata istrinya jatuh membuat Ryan langsung memeluk Lydia. Lydia menangis dipelukan Ryan, pertahanan yang beberapa hari dipertahankan kini luluh karena perkataan Ryan yang mau kembali ke Jakarta.


"Bagaimana kalau pakaian ini ditaruh disini saja biar nanti kalau aku kesini bisa langsung datang kesini? Aku gak mungkin meninggalkan pakaian itu dihotel walaupun itu kamar pribadiku tapi karyawan hotel sering masuk untuk membersihkan kamar kalau hilang bagaimana?"kata Ryan berkata lembut.


"Terserah."kata Lydia.


Ryan menghela nafas lalu melepas pelukan itu agar dia menatap mata istrinya, Ryan menghapus airmata Lydia sambil tersenyum.


"Marah?"kata Ryan.


"Gak..."kata Lydia.


"Aku memang harus kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan masalah hotel, pekerjaan disana sudah menungguku. Tapi aku akan kembali kesini setelah menyelesaikan pekerjaanku."kata Ryan.


"Memangnya pekerjaan apa?"kata Lydia akhirnya tenang.

__ADS_1


"Produk yang mau kita luncurkan ternyata sudah disabotase perusahaan lain, jika aku gak pulang bisa-bisa aku bangkrut. Kalau aku bangkrut kamu mau menanggung kebutuhanku?"kata Ryan tersenyum.


"Mana bisa kamu bangkrut, walaupun perusahaan itu gagal kamu masih punya mall, hotel dan mungkin perusahaan lain yang aku gak tau?"kata Lydia.


"Nanti aku kasih tau semuanya, sekarang kamu jangan marah ya biar aku bisa fokus dengan pekerjaanku?"kata Ryan.


"Baiklah, mana pakaian yang mau kakak bawa?"kata Lydia akhirnya mengalah.


"Maaf ya buat kamu harus mengalah lagi, apa kamu mau ikut aku kembali ke Jakarta?"kata Ryan yang berharap jika Lydia mau ikut dia pulang.


"Aku mau memaafkanmu tapi bukan berarti aku mau kembali ke Jakarta."kata Lydia.


"Ya sudah, setelah membawa ini masuk ke rumah aku langsung kembali ke hotel gak papakan?"kata Ryan.


"Aku ikut."kata Lydia.


"Boleh, tapi janji kalau aku marah jangan takut."kata Ryan yang dijawab anggukan oleh Lydia.


"Ly, paperbag itu buat apa?"kata Dahlia.


"Aku mau ikut kak Ryan ke hotel, nitip Raka lagi ya malam ini?"kata Lydia.


"Siap serahkan saja padaku, akhirnya malam ini aku mengusaimu yang gak bisa aku lakukan kalau ada mommymu dirumah."kata Dahlia sambil menciumi pipi gembur Raka.


Raka yang diciumi pipinya bukannya nangis dia malah terkekeh geli membuat Ryan yang melihatnya tersenyum. Lydia juga mendekati Dahlia lalu mengambil alih Raka dari pangkuan Dahlia. Lydia menciumi putranya itu, Ryan yang melihat itu merekam tingkah anak dan istrinya dengan ponselnya.


"Kamu gak boleh berpaling dari mommy karena hanya mommy yang harus kamu sayang gak ada yang lain."kata Lydia membuat Dahlia tersenyum.


"Enak saja, Raka pasti lebih sayang sama akulah."kata Dahlia.


"Sudah, sudah kasian nak Ryan katanya mau pergi tadi?"kata mak Masnah yang tau kalau perdebatan itu dilanjutkan akan lama.

__ADS_1


Lydia tersenyum lalu mencium kembali Raka dan mengambil berkas milik Ryan. Ryan juga mencium pipi dan kening putranya setelah itu berpamitan dan meminta maaf pada dua perempuan yang menjaga Raka. Suami istri itu keluar dari rumahnya lalu masuk kedalam mobil. Terdengar ponsel Ryan daritadi berbunyi membuat Ryan menghela nafasnya, Lydia memandang Ryan lalu mengambil ponsel milik Ryan. Lydia terkejut saat melihat itu panggilan dari bunda Airin, Lydia langsung mengangkat panggilan itu tanpa mendengarkan kode Ryan yang tidak mengizinkan Lydia mengangkat. Tapi Lydia sudah terlanjur mengangkat panggilan itu membuat Ryan menghela nafas.


[Ryan, kamu kenapa gak angkat panggilan bunda sih? Kamu kenapa gak ikut pulang Dayat? Kamu tau gak masalah perusahaan papa belum selesai dan sekarang masalah perusahaanmu bagaimana kamu bisa lari dari tanggungjawab cepat pulang?]


Lydia tak mengeluarkan suara sama sekali, dia lebih memilih untuk memandang Ryan agar suaminya itu menjawab perkataan mamanya.


[Maaf bun, aku akan usahakan secepatnya pulang sekarang aku masih mengurus masalah yang ada disini.Lagian disana ada kak Anton aku yakin dia bisa mengurus perusahaan papa dengan baik kalau gak bisa minta bantuan suaminya Shinta.]


Ryan setelah berkata begitu mematikan panggilan dari bundanya sambil menghela nafas. Lydia merasa bersalah karena tak mengendahkan larangan dari Ryan. Lydia memegang lengan suaminya membuat Ryan memandang kearah Lydia tapi hanya sebentar karena dia masih mengemudi mobil.


"Maaf."kata Lydia.


"Maaf buat apa?"kata Ryan.


"Maaf karena aku gak endahkan larangnmu kak untuk tak mengangkat panggilan itu."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Sudah gak papa, jadikan ini pelajaran kalau nanti aku gak mau mengangkat panggilan jangan diangkat lagi."kata Ryan sambil mengelus rambut Lydia.


"Kalau panggilan itu penting bagaimana? Seperti papa atau yang lain terjadi sesuatu."kata Lydia.


"Nanti mereka akan mengirim pesan."kata Ryan membuat Lydia tak bisa berkata-kata lagi.


Lydia gak ingin menambah beban suaminya niatnya tadi ikut Ryan ke hotel karena ingin menemani Ryan bukan menambah masalahnya. Sampai dihotel suami istri itu langsung saja berjalan menuju kamar pribadi Ryan, mereka berdua tak memperdulikan orang-orang yang memandang mereka. Sampai dikamar Ryan, Lydia duduk disofa sambil menghela nafasnya dan tubuhnya dia sandarkan disofa. Ryan yang melihat wajah lelah Lydia berjalan masuk lalu membuka kulkas untuk mengambil minuman untuk dirinya dan untuk Lydia.


"Nih, minum dulu."kata Ryan sambil menyerahkan satu kaleng minuman pada Lydia.


"Makasih kak, kak mau sampai kapan kakak terus sibuk dengan pekerjaan?"kata Lydia membuat Ryan memandang istrinya lalu mendekatkan badannya kearah Lydia.


Ryan tersenyum lalu mengelus rambut Lydia dan mengecup kening istrinya lembut membuat Lydia tersenyum sudah lama dia tak mendapatkan perhatian dari suaminya. Dia benar-benar sangat merindukan Ryan setelah sekian lama tak bertemu. Ryan setelah mencium kening Lydia ikut menyandarkan punggungnya disofa.


"Aku gak tau sampai kapan gak sibuk karena masalah datang silih berganti,kenapa tanya seperti itu hmmm?"kata Ryan.

__ADS_1


__ADS_2