
Ryan terkejut saat membuka pintu apartemennya ternyata yang datang Lydia. Lydia sendiri juga merasa tidak enak hati karena melihat Ryan seperti orang yang baru saja bangun tidur.
"Maaf kalau aku menganggu."kata Lydia.
"Eh gak papa kok, ayo masuk tapi jangan terkejut ya soalnya apartemenku masih berantakan belum sempat buat beresin."kata Ryan membuka pintu apartemennya lebih lebar lagi agar Lydia bisa masuk.
Lydia masuk ke dalam dan ternyata benar apa kata Ryan kalau apartemennya berantakan. Lydia juga terkejut saat melihat Aziz, Dion dan Anton sedang tertidur disana.
"Maaf ya mereka pasti susah dibangunin soalnya tadi tidur pagi jam 3."kata Ryan.
"Ngapain kok jam 3 baru tidur?"kata Lydia sambil duduk disofa yang sudah dibersihkan oleh Ryan.
"Tu main ps, kamu mau minum apa biar aku buatin tapi jangan yang aneh-aneh karena gak ada disini."kata Ryan.
"Kamu yang aneh minumnya tu."kata Lydia menunjuk kaleng bir yang berserakan disana.
"Kalau ngumpul gak minum gak enak Ly, lagian itu hanya dibuat taruhan yang kalah main ps minum."kata Ryan.
"Kamu juga ikut minum?"kata Lydia.
"Iya tapi gak banyak, kamu mau minum apa?"kata Ryan bertanya lagi.
"Apa saja asal jangan kopi sama air putih."kata Lydia.
"Memangnya kenapa kalau kopi?"kata Ryan.
"Perutku gak kuat kalau minum kopi."kata Lydia.
"Baiklah kalau kayak gitu aku bikinin sirup saja tunggu sebentar."kata Ryan.
Ryan berjalan ke dapur sedangkan Lydia mendekati Aziz untuk membangunkannya. Tapi Aziz bukannya bangun dia hanya pindah posisi lalu tidur lagi membuat Lydia kesal. Ryan yang baru saja dari dapur tersenyum.
"Percuma kamu bangunin kayak gitu gak bakalan bangun apalagi semalam Aziz minum banyak karena kalah tanding."kata Ryan.
"Ish ini jam berapa kok belum pada bangun?"kata Lydia.
"Biarkan saja, lagian waktu libur kayak gini waktunya kita istirahat kecuali yang punya pasangan pasti mereka akan bersama pasangan tapi yang gak punya pasti dilampiaskan dengan tidur."kata Ryan.
"Tapikan bisa main sama teman atau kemana kek."kata Lydia.
"Orang itu kan sifatnya gak sama, nih minum dulu. Kamu tadi sudah makan belum?"kata Ryan.
"Sudah tadi sama orangtuaku, kamu mau pesan makanan?"kata Lydia.
"Iya, memangnya kamu mau masakin aku?"kata Ryan membuat Lydia terkejut.
"Maaf aku gak bisa masak sebaiknya kamu beli saja."kata Lydia sebenarnya dia bisa memasak tapi dia gak pernah mencoba masak sendiri dia takut jika masakannya gak enak.
"Ya sudah aku mau pesan makanan kamu beneran gak mau pesan apa gitu?"kata Ryan.
"Gak usah, aku kesini hanya mau ambil kunci mobil saja kok. Aku ada janji sama temanku dibawah."kata Lydia.
"Oh gitu, bentar aku ambilin dulu kuncinya."kata Ryan berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil Lydia.
Saat Ryan masuk ke dalam kamar Aziz bangun, dia merasakan pusing dikepalanya. Saat dia melihat Lydia dia gak percaya karena dia pikir itu hanya halusinasinya. Aziz mendekati Lydia dan mencubit pipi Lydia membuat dia teriak kesakitan. Mendengar Lydia kesakitan Dion dan Anton bangun, apalagi Ryan berlari keluar karena dia khawatir terjadi sesuatu pada Lydia.
"Sakit kak."kata Lydia sambil memukul perut Aziz membuat pria itu kesakitan.
"Augh gila sakit banget tau gak dek, aku hanya mau memastikan saja kamu malah memukulku kuat lagi."kata Aziz.
"Siapa suruh cubit pipiku."kata Lydia.
"Ada apa?"kata Ryan mendekati mereka berdua sedangkan Anton dan Dion terkejut karena Lydia berada disana.
"Ini kak Aziz bangun-bangun mencubit pipiku."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Aku pikir kamu diapa-apain sama dia, ternyata hanya dicubit saja."kata Ryan.
"Sakit tau."kata Lydia.
"Eleh, eleh sini biar aku usap pipinya agar gak sakit lagi."kata Ryan sambil bercanda.
"Gak enak saja ngambil keuntungan, mana kunci mobilku aku mau bertemu dengan temanku."kata Lydia.
"Kamu gak mau menunggu makanannya datang aku memesakan makanan buatmu juga lo?"kaa Ryan.
"Gak suruh kak Aziz saja makan, ingat entar malam makan dirumah nanti lupa lagi. Aku dimarahin sama orangtuaku kalau kamu gak datang nanti dikira aku gak ajak kamu makan."kata Lydia.
"Iya aku akan datang, kamu hati-hati kalau pulang."kata Ryan.
Lydia setelah itu pergi dari apartemen Ryan, sedangkan ketiga pria yang ada disana malah mengejek Ryan.
"Sudah sana kalian bersih-bersih habis ini makanannya sebentar lagi pasti datang."kata Ryan.
__ADS_1
"Siap."kata mereka bertiga.
Mereka bertiga berebutan untuk mandi, Aziz masuk ke dalam kamar Ryan membuat dia aman. Tapi sekarang Dion sama Anton yang masih berebut siapa yang mandi duluan. Ryan meninggalkan mereka karena terdengar bunyi bell pintu berbunyi, ternyata itu makan pesanannya sudah datang. Ryan membawa masuk makanan itu dan meletakkannya dimeja.
"Kok gak mandi kak?"kata Ryan yang melihat kalau Anton ada dimeja makan sedang menikmati kopi hangat.
"Masih dipakai sama Dion, nanti kamu panggil orang saja buat bersihin apartemen ini. Aku ada acara gak bisa bantuin beres-beres."kata Anton.
"Memangnya mau kemana?"kata Ryan.
"Aku mau menjenguk seseorang."kata Anton membuat Ryan menghera nafasnya.
"Bagaimana keadaannya apakah sudah ada kemajuan kak?"kata Ryan.
"Belum Yan, tapi aku percaya dia bisa sembuh."kata Anton.
"Apa traumanya dia sudah hilang, kalau sudah aku yakin pasti cepat dia akan sembuh?"kata Ryan.
"Belum Yan, dia masih ketakutan saat melihat orang baru. Aku gak tau lagi harus melakukan apalagi?"kata Anton.
"Kak kenapa kakak gak bawa dia ke tempat yang baru cari suasana baru bukannya kakak bilang dia sudah mulai membaik?"kata Ryan.
"Kamu benar Yan, tapi kalau aku pergi siapa yang akan mengelola perusahaan. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu dan Shinta apa dia mau?"kata Anton.
"Kakak jujur sama mbak Shinta pasti dia akan mengerti, nanti kalau dia mau aku bisa bantu sedikit-sedikit."kata Ryan.
"Baiklah, nanti kalau kamu gak sibuk bantuin aku bicara sama mama papa dan Shinta."kata Anton.
"Kapan saja kakak siap aku akan temani kakak, tapi kalau malam ini aku gak bisa."kata Ryan.
"Iya gak buru-buru karena aku juga masih bingung mau pergi kemana."kata Anton.
"Baiklah, kakak pastikan keadaannya juga."kata Ryan.
Mereka berdua menghentikan pembicaraan saat Dion dan Aziz datang ke meja makan. Lydia sendiri habis dari apartemen Ryan langsung pergi menemui Rini yang bekerja disupermarket dibawah apartemen Ryan.
"Kok kamu baru datang sih?"kata Rini.
"Aku baru saja dari apartemen temanku mengambil kunci mobilku."kata Lydia.
"Pria yang sudah membantumu semalam?"kata Rini.
"Kamu tau Rin?"kata Lydia.
"Ish gak usah ngomong yang gak, gak dia sudah punya kekasih kamu gak usah macam-macam deh."kata Lydia.
"Ya siapa tau."kata Rini.
"Kamu ngapain menyuruhku kesini?"kata Lydia.
"Kamu pasti gak percaya Ziva kerja disini."kata Rini.
"Syukurlah kalau begitu lalu apa masalahnya?"kata Lydia.
"Dia sombong banget, tu dia bekerja sebagai manager ditoko perhiasan itu."kata Rini.
"Biar sajalah yang penting dia gak menganggumu. Kamu nyuruh aku datang kesini hanya untuk itu?"kata Lydia.
"Bukan sebentar lagi Itakan mau ulang tahun aku sama Sandra mau bikin kejutan, kamu punya ide gak?"kata Rini.
"Ya ampun aku kok lupa ya, oke deh kalau kayak gitu aku pikir dulu. Temani aku buat belanja bahan makanan yuk tadi mama menyuruhku belanja."kata Lydia.
"Ayo tumben tante menyuruhmu belanja?"kata Rini.
"Nanti malam ada tamu makannya mama mau masak makanan spesial."kata Lydia.
"Siapa yang datang calon suamimu?"kata Rini.
"Sudah gak usah aneh-aneh, eh bagaimana pria yang sering menganggumu apa dia masih menganggumu?"kata Lydia sambil memilih bahan makanan yang dipesan oleh mamanya.
"Masihlah, tapi kamu tau gak kalau ada yang geer saat pria itu kesini?"kata Rini.
"Siapa yang geer itu kalau aku boleh tau?"kata Lydia.
"Mantan temanmu setiap pria itu datang kesini Ziva selalu cari perhatian."kata Rini membuat Lydia tersenyum.
"Jangan bilang kamu cemburu lagi?"kata Lydia.
"Gaklah lagian mana mungkin aku cemburu sama dia?"kata Rini.
"Ya siapa tau saja, semoga saja kamu gak akan menyesal kalau pria itu memilih Ziva karena kamu cuek jadi perempuan."kata Lydia.
"Gak sudah gak usah bahas dia, kamu sudah belum belanjanya aku harus kembali ke toko nih?"kata Rini.
__ADS_1
"Sudah ayo kita bayar ke kasir."kata Lydia.
Mereka berdua menuju kasir setelah membayar belanjaan Lydia berpamitan sama Rini untuk pulang. Saat dia keluar dari supermarket itu tak sengaja bertemu dengan Ziva, Lydia tersenyum sedangkan Ziva melengos. Lydia hanya mengelengkan kepalanya setelah itu dia meneruskan berjalan menuju mobil.
"Mau pulang Ly?"kata Anton yang berpapasan dengan Lydia saat sama-sama mau menuju mobil mereka.
"Iya, kamu mau pulang juga?"kata Lydia.
"Iya nih, mau aku bantu bawain barangnya?"kata Anton.
"Gak usah makasih."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku duluan ya."kata Anton.
"Iya hati-hati."kata Lydia.
Lydia menghera nafasnya setelah Anton pergi, ternyata Ryan mengenal Anton pantas saja saat dia bercerita tentang Anton diperusahaan Hendru Ryan diam. Lydia menghenyakan pikirannya setelah itu masuk ke dalam mobilnya. Dia menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah. Sampai dirumah saat dia masuk ternyata dia mendengar suara ributt-ribut. Lydia berjalan cepat menuju suara ribut-ribut itu ternyata mama dan bi Nah sedang mengobrol.
"Ish kalian ngobrolin apa kok sampai depan kedengeran suaranya?"kata Lydia sambil meletakkan belanjaannya diatas meja.
"Dapat semua yang mama pesan Ly?"kata mama Intan.
"Dapat ma, mama sama bibi sedang bicarain apasih?"kata Lydia.
"Lagi bicarain menantu mama malam ini makan malam disini."kata mama Intan.
"Ma gak usah ngomong aneh-aneh deh, jangan terlalu berharap nanti kalau gak kesampaian sakit lo."kata Lydia.
"Mama yakin jika dia akan jadi menantu mama, memangnya kamu gak suka sama Ryan?"kata mama Intan.
"Gak."kata Lydia yang setelah berkata begitu memutuskan untuk pergi dari dapur agar mamanya gak bertanya macam-macam lagi.
Mama Intan yang melihat putrinya pergi hanya tersenyum. Mama Intan tau jika putrinya itu sebenarnya juga suka dengan Ryan hanya saja Lydia masih gak mau mengaku.
Lydia sendiri sampai dikamarnya langsung menjatuhkan dirinya diranjang. Dia mengingat wajah Ryan yang baru bangun tidur ternyata ketampanannya tak pudar sama sekali dia malah lebih tampan lagi. Lydia setelah itu mengingat kalau dia gak boleh terlalu berharap karena Ryan sudah memiliki kekasih. Lagian Lydia yakin jika Ryan membantunya karena dia kenal dengan Hendru.
Lydia rela memikirkan itu langsung saja tertidur pulas, dia bangun saat mamanya mengedor pintu kamarnya keras sekali. Lydia membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih mengantuk.
"Ada apa sih ma?"kata Lydia.
"Kamu gak liat ini jam berapa?"kata mama Intan.
"Ini jam 5 memangnya kenapa sih ma?"kata Lydia membuat mama Intan mencubit lengan putrinya itu.
"Aduh ma sakit tau gak sih, mama kenapa sih memangnya gak biasanya mama bangunin aku kayak gini?"kata Lydia.
"Kamu gak lupakan kalau hari ini Ryan akan makan malam disini? Masak kamu ada tamu hanya pakai baju biasa saja?"kata mama Intan membuat Lydia terkejut kok dia sampai lupa kalau Ryan akan makan malam disini.
"Ma, lagian buat apasih dandan segara?"kata Lydia.
"Buat hormati tamulah sayang, sudah mandi dan siap-siap pasti sebentar lagi nak Ryan datang."kata mama Intan setelah berkata begitu dia pergi meninggalkan Lydia yang mematung didepan kamarnya.
"Ly cepat mandi."kata mama Intan saat menghadap ke belakang dan putrinya itu masih berdiam didepan pintu.
Lydia setelah mendengar teriakan mamanya langsung masuk ke dalam kamar. Dia masuk ke kamar mandi dan saat mau memakai baju barulah dia kebingungan baju mana yang mau dia pakai. Setelah berganti beberapa kali barulah dia memilih baju yang terakhir. Dia juga merias wajahnya dengan dandanan yang natural. Saat dia baru saja selesai bersiap terdengar pintu kamarnya diketuk.
"Ada apa sih ma?"kata Lydia yang tak jadi meneruskan perkataannya karena yang ada didepan kamarnya bukan mamanya melainkan Ryan yang sedang tersenyum.
"Kok kamu bisa kesini?"kata Lydia sambil keluar dari kamarnya agar Ryan tak melihat kamarnya yang seperti kapal pecah.
"Tante Intan yang menyuruhku untuk memanggilmu. Kenapa ada yang kamu sembunyikan didalam?"kata Ryan sambil berusaha untuk masuk ke dalam kamar Lydia.
"Gak ada apa-apa didalam, sudah ayo turun ke bawah."kata Lydia sambil mendorong Ryan tapi Ryan tak bergerak sama sekali.
"Kamu yakin gak ada apa-apa didalam?"kata Ryan.
"Iya ayo kita ke bawah."kata Lydia.
"Baiklah ayo."kata Ryan berjalan mau ke bawah tapi saat Lydia sudah jauh dari pintu kamarnya Ryan berbalik badan dan langsung membuka kamar Lydia membuat Lydia terkejut.
"Ish kamu ini bisa gak jangan masuk kamar seorang gadis sembarangan."kata Lydia kesal sebenarnya bukan kesal tapi dia malu karena kamarnya berantakan.
"Jadi karena ini aku gak boleh masuk?"kata Ryan yang memlihat kamar Lydia berantakan.
"Sudah taukan jadi ayo kita keluar."kata Lydia.
"Kok banyak banget baju berserakan diranjang? Jangan-jangan kamu mau pilih baju buat menyambutku ya?"kata Ryan.
"Ish gaklah geer banget aku memang selalu begini kalau ada tamu."kata Lydia yang gak mau mengaku jika memang dia berdandan karena Ryan.
"Baiklah, tapi menurutku kamu cantik pakai apapun."kata Ryan sambil mendekati Lydia dan Lydia yang didekati berjalan mundur hingga mentok ditembok membuat Ryan tersenyum.
"Mau ngapain?"kata Lydia.
__ADS_1
"Mau ini."kata Ryan sambil mengambil rambut kecil dipipi Lydia membuat Lydia malu karena sudah berpikir yang gak-gak.