
"Gak papa aku pulang sendiri saja, kelihatannya Shinta lebih membutuhkanmu."kata Lydia.
"Aku antar pulang gak ada bantahan."kata Ryan membuat Lydia menghera nafasnya karena Ryan perkataannya gak bisa dibantah.
"Aku beneran bisa pulang sendiri kok,kasian Shinta pasti lebih membutuhkanmu."kata Lydia.
"Baiklah kalau kamu gak mau aku anter pulang, aku gak akan pergi ke Rumah Sakit. Aku disini saja sama kamu biar nanti kalau orangtuamu dan orangtuaku tau kita akan langsung dinikahkan bagaimana?"kata Ryan.
"Pemaksaan banget sih, ya sudah ya sudah ayo antar pulang."kata Lydia sambil mengelucutkan bibirnya.
"Jangan sampai aku makan bibirmu itu kalau kamu gituin terus lama-lama aku gak tahan."kata Ryan.
"Apa sih sumpah sudah ayo antar aku pulang."kata Lydia membuat Ryan senang karena bisa membuat Lydia kesal.
"Kenapa aku bisa ketemu pria kayak kamu sih?"kata Lydia saat mereka berada didalam lift.
"Memangnya kamu mau pria kayak gimana?"kata Ryan.
"Cari pria yang perhatian dan gak pemaksa."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Pemaksa gimana, kayak gini?"kata Ryan sambil mendekatkan wajah Lydia ke wajahnya dan kemudian dia mencium bibir yang sudah menjadi candunya.
"Kamu apaan sih?"kata Lydia setelah mereka melepaskan ciumannya.
"Manis, bibirmu ini sudah menjadi candu buatku."kata Ryan sambil mengusap bibir Lydia.
"Minggir bagaimana kalau orang lain liat?"kata Lydia.
"Biar saja aku akan tunjukan pada mereka kalau kamu adalah milikku."kata Ryan membuat Lydia geleng-geleng kepala saat mendengar perkataan Ryan.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran, saat hampir sampai dekat mobil Ryan ada yang memanggil Lydia. Lydia berbalik memandang siapa yang memanggilnya ternyata itu Rini. Rini menghampiri temannya itu untuk menanyakan apa benar yang dibilangin oleh teman-teman kerjanya jika tadi Ziva kena marah atasannya gara-gara Lydia.
"Rin, kamu mau pulang?"kata Lydia.
"Iya aku mau pulang tapi masih nunggu jemputan, aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh gak?"kata Rini.
"Lain kali saja ya tanyanya soalnya kak Ryan buru-buru harus ke rumah sakit."kata Lydia.
"Memangnya siapa yang sakit?"kata Rini terkejut.
"Kakakku yang sakit, kalau kamu mau bicara-bicara saja dulu lagian mbaknya nunggu jemputan kan?"kata Ryan.
"Tapi..."kata Lydia gak jadi meneruksan pembicaraannya karena Ryan sudah memandangnya tajam.
"Kamu mau tanya apa?"kata Lydia akhirnya.
"Memangnya benar apa kata orang-orang tadi kalau kamu membuat Ziva mau hampir dipecat apa benar?"kata Rini.
"Ish kamu itu ngapain bahas yang kayak gitu sih, lagian kalau iya ada apa? Aku juga gak mau kayak gitu tadi tapi dia sudah keterlaluan."kata Lydia.
"Ish kamu selama ini terlalu baik sama dia, Zivanya saja matanya buta."kata Rini membuat Ryan penasaran apa yang terjadi dengan Lydia dan Ziva.
"Memangnya kamu ada masalah apa sama Ziva?"kata Ryan akhirnya.
"Teman yang gak tau balas budi kak."kata Rini.
"Rin, sudah biarkan saja. Kapan jemputanmu datang?"kata Lydia yang gak mau Rini cerita tentang Ziva. Lydia gak mau kalau Ryan akan berbuat lebih tadi saja Ziva hampir dipecat untung saja Ryan masih baik hati tapi kalau sampai Ryan tau apa masalah yang sebenarnya bisa jadi Ziva dipecat beneran.
"Sebentar lagi kayaknya, eh tu dia datang."kata Rini.
Lydia dan Ryan memandang kerah mobil yang ditunjuk oleh Rini. Ryan yang tau itu mobil siapa hanya tersenyum pantas saja karyawannya itu sering sekali berada didaerah sini ternyata dia sedang mengincar temannya Lydia.
"Loh tuan kok ada disini?"kata Digo.
"Iya nungguin kamu sampai lumutan disini gak datang-datang."kata Ryan.
"Maaf tuan, memangnya tuan kenal dengan pacar saya ini?"kata Digo.
"Siapa yang pacar kamu, aku bukan pacar kamu tau gak?"kata Rini membuat Lydia dan Ryan tersenyum.
"Sudah kalian lanjutin berdebatnya, aku permisi pulang dulu gak mau ganggu."kata Ryan.
"Baik tuan, makasih sudah temani pacar saya."kata Digo.
"Dibilangin aku bukan pacar kamu masih ngeyel."kata Rini.
Lydia dan Ryan tak memperdulikan perdebatan dua orang itu. Ryan melajukan mobilnya menuju rumah Lydia. Tapi didalam mobil mereka berdua terdiam gak ada satupun yang berbicara.
"Ini cincinnya bagaimana?"kata Lydia.
"Bagaimana gimana?"kata Ryan.
"Aku kembalikan saja sama kamu ya?"kata Lydia sambil melepas cincin yang ada dijari manisnya.
"Kalau kamu lepas cincin itu aku akan putar balik mobil ini dan bawa kamu ke apartemenku."kata Ryan.
"Yan, aku gak mau menganggu hubunganmu dengan Shinta. Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan kekasih aku gak mau menjadi penyebab perempuan lain tersakiti."kata Lydia.
__ADS_1
Ryan diam saja tak mau menjawab, biar bagaiamanpun Lydia benar karena Lydia taunya kalau Shinta itu kekasihnya bukan kakaknya. Ryan memang sengaja menyembunyikan identitasnya pada Lydia nanti kalau sudah menikah dia akan mengaku. Mereka berdua tak berbicara lagi setelah itu sampai didepan rumah Lydia.
"Makasih sudah mau nganter aku pulang."kata Lydia.
"Maaf aku gak bisa nganterin kamu ke dalam."kata Ryan.
"Iya, gak papa kok kamu hati-hati dijalan ya."kata Lydia sambil tersenyum.
"Ly..."kata Ryan yang tak meneruskan perkataannya.
"Ada apa?"kata Lydia.
Ryan tak berkata apa-apa dia memilih untuk memeluk Lydia untuk menghilangkan sesak didadanya. Lydia hanya bisa menghera nafasnya dan mengelus punggung pria yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Ada apa?"kata Lydia.
"Biarkan seperti ini sebentar."kata Ryan membuat Lydia tak berbicara lagi dia pasrah saja menunggu sampai Ryan melepaskan pelukannya sendiri.
"Maaf kalau aku peluk kamu, aku hanya ingin menenangkan hatiku."kata Ryan sambil melepas pelukannya.
"Kamu kenapa?"kata Lydia sambil memadang kearah Ryan.
"Aku gak papa kok, sudah kamu masuk gih sudah malam."kata Ryan mengalihkan pembicaraan.
"Yan, kalau ada masalah bilang sama aku kalau aku bisa bantu akan aku bantu?"kata Lydia.
"Aku hanya butuh dukunganmu agar aku bisa menyelesaikannya sendiri."kata Ryan.
"Ada apa katakan?"kata Lydia.
"Sudah gak papa kok, kamu masuk gih."kata Ryan.
"Ya sudah aku masuk, tapi kamu yakin mau bawa mobil sendiri?"kata Lydia yang khawatir dengan Ryan yang terlihat sedang banyak masalah.
"Aku bisa kok, nanti saat aku sampai Rumah Sakit akan menghubungimu."kata Ryan.
"Baiklah, aku masuk dulu."kata Lydia.
Lydia keluar dari mobil Ryan, Ryan setelah Lydia keluar dari mobilnya langsung saja menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit. Lydia masuk ke dalam rumah tapi susana dalam rumah sepi hanya ada bi Nah yang sedang membersihkan meja makan.
"Bi, mama sama papa kemana kok gak keliahatan?"kata Lydia.
"Tadi katanya mau ke Rumah Sakit non, ada anak dari temannya nyonya kecelakaan dan tadi katanya kakinya lumpuh."kata bi Nah membuat Lydia terkejut apa mungkin perempuan itu Shinta.
"Ya sudah bi kalau kayak gitu aku ke atas dulu."kata Lydia.
"Gak usah bi, aku tadi sudah makan kok."kata Lydia.
Lydia berjalan menuju kamarnya, sampai dikamarnya dia langsung saja masuk ke dalam kamar mandi sambil berendam. Saat dia bermain air dia melihat cincin dijari manisnya lalu tersenyum tapi sesaat kemudian dia terdiam saat teringat apa yang dilakukan Ryan didalam mobil dan juga mengingat perkataan bi Nah tadi.
"Apa sebenarnya mau kamu Yan? Aku gak mau terluka untuk kedua kalinya."kata Lydia lirih.
Lydia meneruskan berendamnya sampai dia tertidur. Ryan yang sampai diRumah Sakit terkejut karena disana ada orantuanya dan orangtua Lydia. Tapi ada juga Jono dan entah siapa kedua orang yang seumuran dengan orangtuanya itu.
"Ada apa ini?"kata Ryan.
"Yan, ada yang ayah sama bunda omongin sama kamu."kata ayah Dany.
"Memangnya ayah mau ngomong apa katakan saja?"kata Ryan.
"Ini kenalkan orangtua Jono, mereka melamar mbakmu. Bunda sama ayah sudah setuju, kami hanya menunggu persetujuanmu dan kak Anton."kata papa Dany.
"Sekarang kakak dimana?"kata Ryan.
"Kakakmu pergi setelah mendengar maksut kedatangan keluarga Jono kemari."kata bunda Arina membuatnya menghera nafas dan dia menyuruh orangtua Lydia kemari untuk membantunya.
"Yan..."kata Shinta membuat Ryan menghera nafasnya dan berjalan mendekati mbaknya itu.
"Ada apa?"kata Ryan.
"Izinkan aku menikah dengan Jono, mbak mohon sama kamu."kata Shinta membuat Ryan tak bisa berbicara apa-apa lagi.
"Apa mbak yakin dengan keputusan mbak ini?"kata Ryan akhirnya.
"Mbak yakin dek."kata Shinta membuat Ryan menghera nafasnya dalam.
"Jon, bisa kita bicara diluar?"kata Ryan.
"Dek..."kata Shinta gak jadi meneruskan perkataannya karena tatapan tajam Ryan membuatnya takut.
"Bisa ikut aku?"kata Ryan dingin pada Jono.
"Baiklah."kata Jono.
"Ayo kita keluar."kata Ryan.
"Yah..."kata bunda Arina.
__ADS_1
"Biarkan saja ayah yakin Ryan gak akan berbuat macam-macam."kata ayah Dany.
Ryan keluar bersama dengan Jono, niatnya Ryan mau berbicara berdua tapi saat dia melihat Anton duduk sendirian dikursi taman. Ryan mengajak Jono kesana. Jono ketakutan saat melihat kalau Ryan mengajaknya menemui Anton tapi Jono gak tau kalau Ryanlah yang lebih kejam kalau ada seseorang yang menyakiti keluarganya.
"Kak.."kata Ryan memanggil Jono.
"Kamu ayo duduk, ngapain kamu ajak dia kesini?"kata Anton sinis pada Jono.
"Kak jangan gitu ah biar bagaimanapun dia pria yang dipilih mbak Shinta."kata Ryan.
"Tapi aku gak setuju kalau Shinta menikah dengan pria seperti dia."kata Jono.
"Aku yakin dia bisa jaga mbak Shinta kalau sampai dia sakiti mbak Shinta aku sendiri yang akan beri dia pelajaran."kata Ryan.
"Baiklah, apa kamu dengar perkataan Ryan tadi?"kata Anton.
"Iya aku akan jaga dan lindungi Shinta."kata Jono.
"Apa kamu tau siapa yang menyabotase mobil Shinta?"kata Anton membuat Ryan tersenyum sekarang dia tau kenapa kakaknya gak setuju dengan Jono mungkin dia khawatir kalau perempuan itu akan menganggu lagi.
"Aku gak tau kak."kata Jono.
"Nih kamu liat sendiri."kata Anton sambil melempar ponselnya.
"Kamu liat sendiri bagaimana perempuan kesayanganmu itu mau menghilangkan nyawa perempuan kesayangan kami."kata Ryan.
Jono membuka video yang ada diponsel Anton. Jono terkejut ternyata yang merencanakan kecelakaan itu adalah Mita adik sepupunya Jono.
"Sekarang kamu sudah tau apa yang akan kamu lakukan padanya?"kata Anton.
"Aku akan memberinya pelajaran."kata Jono yang geram dengan perbuatan Mita. Sudah beberapa kali Jono memperingatakan Mita tapi sepupunya itu gak pernah berubah sama sekali.
"Kamu tau dia sangat terobsesi padamu kalau hanya sekedar suka gak papa kalau sudah separah ini aku gak akan biarkan kakakku menikah denganmu."kata Ryan dingin membuat Jono merinding ketakutan apalagi pandangan Ryan itu lebih menakutkan daripada Anton.
"Kamu harus ingat kalau kamu sampai sakiti Shinta maka kami yanng akan maju buat hancurin kamu dan keluargamu."kata Anton.
"Aku gak akan hancurin keluargamu tapi mungkin perusahaanmu yang akan hancur."kata Ryan.
"Iya aku janji akan menjaga dan melindungi Shinta. Kalian bisa melakukan apapun padaku kalau aku gak bisa jaga dia."kata Jono berkata dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah,ayo kembali ke ruangan mbak Shinta nanti dikira aku menindasmu lagi."kata Ryan.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Shinta. Baru masuk saja mereka bertiga sudah ditatap horor oleh semua orang yang ada disana. Ryan tak mau berbicara lebih memilih mendekati orangtua Lydia membuat Anton menghera nafasnya.
"Kak, dek bagaimana aku bolehkan menikah dengan Jono?'kata Shinta.
Kedua orangtua Jono juga berharap agar keluarga itu mau menikahkan Shinta dengan Jono. Mama Jono sudah terlanjur sayang dengan Shinta dia gak mau kehilangan menantu yang baik seperti Shinta.
"Aku setuju asal ada syarat yang harus kalian penuhi."kata Anton.
"Syarat apa yang ingin kamu ajukan?"kata mama Jono.
"Aku setuju Jono menikah dengan Shinta tapi dengan syarat setelah menikah mereka tingal dirumah sendiri."kata Anton untuk mengantisipasi kalau Mita berbuat nekat karena Mita tinggal dirumah Jono.
"Tapi nak..."kata mama Jono gak jadi meneruskan perkatannya karena tangan suaminya memegang tangannya.
"Apa ada sesuatu yang gak kami ketahui?"kata papa Jono yang tau kalau dirumah itu ada seseorang yang memang selama ini membuatnya khawatir. Papa Jono tau jika Mita menyukai putranya hanya saja dia tak enak bilang sama istrinya karena istrinya itu sangat menyayangi Mita.
"Nih om liat saja sendiri."kata Anton memberikan ponselnya ke papanya Jono.
Orangtua Jono terkejut melihat video itu karena Mita yang sudah merencanakan ini semua. Pantas saja semua keluaraga Shinta tak setuju jika Jono menikah dengan Shinta.
"Bagaimana?"kata Jono.
"Baiklah, mereka bisa tinggal sendiri."kata mama Jono yang gak mau kebahagiaan putranya hilang hanya gara-gara keegoaannya.
"Baiklah kalau begitu pernikahan kalian aku serahkan sama para orangtua."kata Anton membuat mereka semua lega.
Mereka sepakat pernikahan itu akan diadakan lusa sebelum Shinta pulang dari Rumah Sakit. Mereka setelah sepakat membicarakan hal yang lain seperti kapan respsi mereka. Ryan yang bosan dengan pembicaraan itu memilih keluar untuk menghubungi Lydia. Ryan kesal karena beberapa kali menghubungi Lydia gak diangkat oleh Lydia. Ryan menyandarkan kepalanya pada kursi, Ryan tau kalau Lydia marah dengannya.
"Kamu kenapa Yan?"kata papa Irwan.
"Eh om gak papa."kata Ryan.
"Kamu ada masalah?"kata papa Irwan.
"Lydia gak angkay ponselku om."kata Ryan.
"Mungkin dia ketiduran dikamar mandi. Dia kalau kecapekaan pasti ketiduran dikamar mandi kalau sedang mandi. Beberapa hari ini pekerjaan dikantor banyak apalagi sebentar lagi akan ada acara hari jadi perusahaan."kata papa Irwan.
"Memang dia selalu seperti itu om?"kata Ryan.
"Selalu makanya tak tantemu itu sering khawatir dengan Lydia. Tapi saat Lydia kenalkan kamu ke kami mamanya selalu berharap kamu bisa jadi menantu kami. Dia yakin jika kamu bisa menjaga dan momong Lydia."kata papa Irwan berbicara panjang lebar.
"Aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia om, tapi aku gak berjanji semuanya karena aku pasti suatu saat akan ada salah yang aku perbuat tanpa dapat aku duga."kata Ryan.
"Manusia itu tempatnya salah Yan, asal kita bisa menyadari kesalahan kita itu sudah cukup nak."kata papa Irwan.
__ADS_1