Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia semangat bekerja


__ADS_3

"Di, siapa yang ada pria yang ada video itu tampan banget?"kata Santi.


"Iya tampan, tapi sayang dia kalau marah menakutkan. Kalau aku punya suami kayak dia mah ogah."kata karyawan.


"Eh belum tentu dia kejam kalau sama istri, dia bisa kejam sama orang untuk melindungi diri tapi kalau sama istri lembut juga bisa lo."kata karyawan lain.


"Sudah gak usah bahas hal yang gak penting, sekarang kita fokus saja dengan pekerjaan dulu."kata Lydia yang gak mau membahas soal Ryan.


"Baiklah, baiklah tapi kamu punya hutang sama kami."kata Santi.


"Hutang apa?"kata Lydia bingung dengan perkataan Santi.


"Hutang penjelasan siapa pria yang kamu liat tadi?"kata Santi.


"Iya Di, kami juga penasaran siapa yang menghubungimu itu."kata karyawan lain.


"Kalian ini sudah bekerja lagi gak usah bahas hal yang gak penting, nanti kalau tuan Alex datang dan liat kita ngobrol marah lagi."kata Lydia.


"Oke, oke."kata Santi.


Mereka kembali fokus dengan pekerjaan hingga larut malam, sebelum pulang Lydia membuat copyan takut jika ada yang menyabotase karena perasaannya sedang gak enak. Benar saja baru saja Lydia keluar dari ruangannya ada seseorang masuk lalu mulai mengotak-atik komputer milik Lydia entah apa yang dia lakukan. Tapi tanpa dia sadari jika komputer itu kameranya dinyalakan oleh Lydia. Lydia sendiri sampai rumah langsung saja memeluk Dahlia membuat temannya itu mengerutkan keningnya ada apa dengan temannya ini.


"Kamu kenapa?"kata Dahlia.


"Aku capek banget hari ini, kenapa sih gak suruh orang lain untuk handel proyek ini?"kata Lydia.


"Karena Alex tau kamu pasti bisa menaklukan bos dingin itu."kata Dahlia membuat Lydia memandangnya.


"Maksutmu bos dingin bagaimana?"kata Lydia.


"Yang aku dengar dari Jono sih, orang yang diajak kerjasama ini sangat sulit. Banyak pengusaha disini yang mencoba kerjasama dengannya tapi tak ada satu pun yang diterima."kata Dahlia membuat Lydia merasa tertantang.


"Masak sih, aku jadi penasaran seperti apa pemimpin perusahaan itu, oh ya Raka mana?"kata Lydia.


"Raka tidurlah, hari ini keponakanku itu anteng banget mungkin tau jika mommynya hari ini sibuk."kata Dahlia.


"Syukurlah kalau dia anteng, aku khawatir kalau dia rewel kasian sama mak Masnah."kata Lydia lega.

__ADS_1


"Raka hari ini anteng kok seharian, hanya saja saat mandi itu rewel saat mak ajak keluar dari bak mandi."kata mak Masnah.


"Iya aku juga bingung mak kenapa Raka suka sekali sama air padahal mommynya tu paling malas kalau disuruh mandi."kata Dahlia yang langsung dihadiahi cubitan oleh Lydia.


"Mungkin dia nurun ayahnya? oh iya Di, boleh mak tanya sama kamu?"kata mak Masnah.


"Boleh mak, mak mau tanya apa?"kata Lydia.


"Saat mak melihat Raka, kok mak liat dia mirip sama Ryan pemilik mall dan perusahaan RAM ya?"kata mak Masnah.


"Memang itu ayahnya."kata Dahlia.


"Mak, tapi aku mohon jangan sampai ada orang yang tau soal ini. Ayahnya sudah bahagia dengan keluarganya yang baru, aku gak mau menganggu ke bahagiaan mereka."kata Lydia.


"Tapi Di yang mak tau walaupun tuan Ryan menikah dengan saudaranya itu mereka beda rumah, kemana-mana tuan Ryan juga gak pernah sama perempuan itu dan yang mak tau sampai sekarang tuan Ryan masih mencari istrinya. Tunggu apa tuan Ryan gak tau kalau kalian punya anak?"kata mak Masnah.


"Gak mak, aku belum sempat mengatakan kehamilanku saat pergi, lagian aku gak akan kembali sama dia jika mbak Shinta belum sadar sudah cukup Tiara jadi korbannya aku gak mau jika putraku jadi korbannya juga."kata Lydia.


"Maksutmu kematian Tiara? Siapa Tiara?"kata Dahlia.


"Tiara sepupuku, aku pikir dulu kecelakaan itu saudara dari mamanya Tiara yang melakukan itu karena menginginkan hartanya tapi setelah diselidiki diam-diam ternyata Shinta yang melakukannya. Seandainya Tiara masih hidup mungkin kak Anton akan bahagia."kata Lydia.


"Sudah gak usah khawatir aku gak akan sakit lagi kok tenang saja, oh iya aku sudah lama gak liat dokter Rafael kemana dia?"kata Lydia.


"Sudah gak usah bahas itu malas aku."kata Dahlia membuat Lydia mengerutkan keningnya.


"Ada apa gak biasanya kamu kayak gini? Kamu ada masalah sama dokter Rafael?"kata Lydia.


"Masak dia nembak aku padahal aku anggap dia sebagai teman saja gak lebih?"kata Dahlia.


"Walaupun begitu bukannya kamu masih bisa temenan kalian itu sudah dewasa masak mau musuhan kayak anak kecil?"kata Lydia.


"Sudah ah, sana mandi keburu malam."kata Dahlia kesal membuat Lydia dan mak Masnah tersenyum.


"Aku habisin ini dulu baru mandi lagian aku juga sudah kangen sama Raka."kata Lydia.


"Raka, Raka terus..."kata Dahlia membuat Lydia tersenyum.

__ADS_1


"Lalu kalau bukan Raka siapa lagi? Semangat aku hanya dia."kata Lydia.


"Aku ini apa buatmu hanya seonggok sampah?"kata Dahlia pura-pura sedih.


"Aduh-duh bayi besarku ngambek mak, padahal tadi baru saja mengusirku."kata Lydia.


"Siapa juga yang mengusirmu, lagian kalau gak kamu siapa yang membuatku mau bertahan disini?"kata Dahlia sambil memeluk Lydia membuat perempuan itu tersenyum begitu juga dengan mak Masnah.


"Iya iya, ya sudah aku mau mandi dulu, besok pagi-pagi harus berangkat mau nyerahin proyek yang kami buat sama Alex."kata Lydia.


"Aku juga mau tidur, mak langsung tidur saja biar aku yang cuci gelasnya."kata Dahlia.


"Gak papa biar mak saja."kata mak Masnah.


Ketiga perempuan itu setelah berkata begitu pergi melakukan aktifitas masing-masing. Lydia masuk ke kamarnya tersenyum saat melihat putranya nyenyak tidur. Lydia pelan-pelan melakukan aktifitasnya untuk membersihkan diri, baru setelah selesai dia pelan-pelan naik keranjang sambil mencium kening dan pipi Raka. Bayi kecil itu tak merasa terganggu dengan tingkah Lydia malah memilih tertidur nyenyak.


"Maaf ya sayang mommy gak bisa main sama kamu, maaf juga kamu harus tumbuh tanpa kehadiran Daddymu tapi mommy janji akan membahagiakanmu tanpa seorang Daddy disisimu."kata Lydia sambil mencium kening Raka setelah itu dia tertidur menyusul Raka.


Raka sendiri tak bangun sama sekali malam ini membuat Lydia juga bisa tidur, saat dia bangun pagi-pagi dia tersenyum saat melihat putranya sudah bangun tapi tak menangis.


"Sayangnya mommy sudah bangun? Kita mandi dulu yuk habis ini kita makan oke."kata Lydia mengajak Raka berbicara bayi laki-laki itu hanya tersenyum saja.


Lydia memandikan Raka sambil main-main dengan air membuat Raka tersenyum, tapi saat melihat Raka sudah kedinginan Lydia menyudahi mandinya. Raka tak nangis sama sekali mungkin karena dia sudah kedinginan makanya dia tak menangis sama sekali saat Lydia menyudahi mandinya. Selesai mendadani Raka, Lydia menempatkan putranya itu diboxnya setelah itu dia mandi. Selesai bersiap Lydia membawa Raka keluar ternyata mak Masnah dan Dahlia sedang berbincang dimeja makan. Dahlia yang melihat Lydia keluar tersenyum sambil bangun untuk mengambilkan storell milik Raka.


Lydia meletakkan Raka distorell setelah itu Lydia mengambil makanan untuknya sendiri, mak Masnah dan Dahlia yang melihat Lydia semangat tersenyum.


"Tumben kamu semangat banget?"kata Dahlia.


"Bukannya aku selalu semangat?"kata Lydia.


"Di, aku serius ini. Biasanya kamu akan lesu saat pagi."kata Dahlia.


"Aku gak tau kenapa malam tadi Raka gak bangun sama sekali."kata Lydia.


"Mungkin pijatan yang mak buat kemarin sore sebelum dia mandi membuat badannya enakan?"kata mak Masnah membuat Lydia dan Dahlia tersenyum.


"Pantas saja putranya mommy tenang sekali semalam?"kata Lydia.

__ADS_1


"Mak, makasih ya. Kami sebenarnya mau pergi ke masage tapi belum ada waktu. Aku gak berani kalau bawa Raka sendirian keluar."kata Dahlia.


"Mak, kalau hanya urut biasa mah bisa tapi kalau benerin perut gak bisa."kata mak Masnah.


__ADS_2