
Lydia selesai mengambil pesanannnya langsung saja kembali ke tempat dimana Ita duduk. Lydia melihat jika Ita sedang melamun.
"Kamu lagi melamunin apa sih Ta?"kata Lydia saat dia sudah didekat Ita dan duduk didepannya.
"Gak ada."kata Ita berbohong.
"Aku gak yakin, kamu pasi lagi nyembunyiin sesuatu."kata Lydia yang tetap ngeyel.
"Aku suka sama kak Aziz."kata Ita membuat Lydia langsung tersedak.
"Apa kamu suka sama kak Aziz?"kata Lydia.
"Iya."kata Ita.
"Lalu kak Dion bagaimana?"kata Lydia.
"Susah kalau aku harus mendekatinya, lagian aku tau dia tak akan pernah melihatku. Sama kak Aziz saja aku hanya bisa menyimpan dalam hatiku saja."kata Ita yang minder dengan keadaan dirinya.
"Kamu dekati saja kak Aziz, lagian dia orang baik aku yakin dia akan menerima kamu apa adanya."kata Lydia yang tau jika sekarang Ita minder.
"Gak ah, aku bahagia kalau melihat kak Aziz bahagia. Bukankah cinta itu harusnya kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia walaupun orang itu tidak bersama kita."kata Ita.
"Kamu benar, tapi memangnya kamu akan terus menyimpan perasan kamu ini?"kata Lydia yang gak menyangka jika Ita lebih memilih memendam perasaanya daripada mengatakan perasaannya.
"Aku akan menyimpannya sendiri, lagian aku sudah bahagia walaupun aku hanya dekat sebagai teman saja. Oh ya aku dengar kalau Sandra suka dengan kak Dion bagaimana apa mereka juga saling menyukai?"kata Ita.
"Kamu tau kalau Sandra suka sama kak Dion?"kata Lydia yang gak menyangka jika Ita bisa melihat kalau Sandra menyukai Dion.
"Gimana aku gak tau dari cara Sandra bercerita saja sudah jelas kalau dia suka sama Dion. Sudah cepat selesaiin makannya nanti ke buru malam."kata Ita.
"Iya, eh Sandra tadi nitip apa gak?"kata Lydia.
"Tadi dia gak bilang apa-apa tu, tapi kita bawa sesuatu buat dia."kata Lydia.
"Siap kalau itu mah, nanti kita beliin kue kesukaannya saja. Tadi aku liat ada yang jual disebelah sana."kata Ita.
"Siap kalau gitu aku letakkan ini dulu ke tempatnya setelah itu kita keliling belanja."kata Lydia sambil berdiri mau meletakkan kembali bekas makanannya.
__ADS_1
Mereka berdua langsung saja keliling mencari barang yang ingin mereka beli. Setelah berkeliling dan memasuki satu toko ke toko lain hingga akhirnya ditoko yang terakhir mereka masuki barulah mendapatkan barang yang mereka berdua inginkan.
Setelah mendapatkannya mereka langsung pergi ke toko kue dan membeli untuk Sandra. Mereka melihat jam ternyata sudah sore mereka memutuskan untuk pulang dengan menggunakan angkutan umum yang lebih ramah dikantong karena uang mereka berdua sudah terkuras untuk membeli barang impiannya.
Beda lagi dengan Rayyan yang berada diRumah Sakit, Rayyan mulai mengerakkan jari tangannya. Mama Dahlia yang melihat jika tangan putranya bergerak langsung saja berterak pada bagas.
"Gas... sini Gas?"kata mama Dahlia sambil teriak membuat Bagas yang duduk disofa langsung berdiri. Dia takut terjadi apa-apa dengan Rayyan.
"Ada apa tan?"kata Bagas yang khawatir, Rima yang mendengar teriakan mamanya Rayyan langsung saja mendekat. Dia takut terjadi sesuatu dengan Rayyan.
"Ada apa tan?"kata Rima.
"Itu Gas, Rim tangan Rayyan tadi bergerak-gerak"kata mama Dahlia.
"Seriusan tante gak bohongkan?"kata Bagas yang langsung memeriksa Rayyan karena dokter yang tadi merawat Rayyan sudah memerintahkan Bagas untuk memeriksa Rayyan jika terjadi sesutu padanya.
"Bagaimana Gas, Rayyan gak apa-apakan?"kata mama Dahlia.
"Alhamdulilah sebentar lagi Rayyan pasti akan sadar."kata Bagas.
Tak lama kemudian dokter yang menangani Rayyan itu datang. Untuk memeriksa keadaan Rayyan.
"Bagaimana apa yang kamu rasakan sekarang?"kata dokter.
"Aku hanya sedikit pusing saja dok."kata Rayyan.
"Syukurlah kalau begitu."kata dokter.
"Dok, apa tidak apa-apa anak saya?"kata mama Dahlia yang masih khawatir dengan keadaan Rayyan.
"Keadaan Rayyan tidak ada yang perlu dikhawatirkan bu, dia hanya perlu istirahat beberapa hari saja disini."kata dokter.
"Terimakasih dok."kata mama Dahlia.
"Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa nanti bisa panggil saya diruangan saya."kata dokter yang langsung pergi dari ruangan Rayyan setelah berkata seperti itu.
"Mama senang kamu sudah sadar Yan, kamu tau gak mama sama Rima daritadi ngawatirin kamu tau gak?"kata mama Dahlia.
__ADS_1
Tapi Rayyan tak menanggapi perkataan mamanya, dia mencari keberadaan Lydia. Rayyan takut terjadi apa-apa padanya. Bagas yang tau jika Rayyan sedang mencari sesuatu langsung bertanya pada temannya itu.
"Kamu lagi cari siapa Yan?"kata Bagas yang membuat Rayyan langsung memandang kearah Bagas.
"Gas, Lydia dimana?"kata Rayyan membuat mama Dahlia kesal.
Rayyan sadar bukannya menayakan dirinya tapi malah menanyakan wanita miskin itu. Bagas sendiri bingung harus menjawab apa kalian dia takut salah menjawab dan akhirnya membuat Rayyan bertengkar dengan mamanya.
"Gas, aku tanya serius dimana Lydia?"kata Rayyan yang kesal karena Bagas hanya diam saja tak menjawab.
"Dia tadi keluar sebentar pasti sebentar lagi datang kesini."kata Bagas akhirnya dia tak mau membuat Rayyan stress.
Saat Rayyan sedang khawatir dengan Lydia, papannya membuka pintu ruang rawat Rayyan. Awalnya Rayyan senang karena dia yakin jika yang membuka pintu adalah Lydia tapi saat melihat papanya yang datang dia langsung kecewa.
"Bagaimana keadaan kamu Ray? Maaf papa baru bisa datang sekarang."kata papa Hans.
"Aku gak papa kok pa, hanya luka dikepala saja."kata Rayyan yang gak ingin membuat papanya khawatir.
"Bagaimana kamu bisa kecelakaan?"kata papa Hans yang ingin tau kronologi putranya mengalami kecelakaan itu.
"Dia menolong Lydia pa, makanya dia celaka."kata mama Dahlia sinis.
"Ma, apa salahnya sih kita sesama manusia saling tolong menolong?"kata Rayyan.
"Menolong boleh tapi jangan sampai kamu yang hampir kehilangan nyawa kayak gini. Kamu tau gak anak mama sama papa tu hanya kamu saja."kata mama Dahlia membuat papa Hans menghera nafasnya.
Papa Hans tau jika istrinya itu khwatir dengan Rayyan tapi juga jangan terlalu berlebih.
"Kok kamu bisa nolong Lydia?"kata papa Hans yang ingin tau.
"Aku tadi bertemu dengannya sebentar, saat Lydia mau menyebrang jalan ada mobil lajunya kecang ingin menabrak Lydia. Aku mendorongnya ketepi tapi aku sendiri sudah terlambat untuk menyelamatkan diri sehingga aku yang tertabrak."kata Rayyan.
"Lalu penabrak itu bagaimana?"kata papa Hans.
"Pihak kepolisian masih menanganinya om."kata Bagas.
"Syukurlah kalau begitu, semoga saja penabrak itu cepat ditangkap dan mendapatkan hukumannya."kata papa Hans.
__ADS_1