
"Akhirnya aku bisa tenang meninggalkan Raka kerja bi, maaf ya aku merepotkan bi Masnah."kata Lydia.
"Bibi gak merasa direpotkan, bibi malah senang karena bisa merawat bayi lagi."kata bi Masnah.
"Bi, kak Tio sekarang kerja dimana sudah lama aku gak bertemu dengannya? Dia juga jarang kesini sekarang?"kata Dahlia.
"Tio sudah bekerja diperusahaan papamu yang ada diKalimantan makanya dia jarang kesini."kata bi Masnah.
"Kenapa bibi gak ikut anak bibi malah memilih kesini memangnya anak bibi gak marah?"kata Lydia membuat bi Masnah menghela nafasnya.
"Bibi gak cocok sama menantunya yang sok kaya itu, apalagi keluarganya yang gak pernah izinin bibi buat hadirin acara penting kak Tio membuat bibi lebih memilih tetap kerja dengan keluargaku."kata Dahlia.
"Maafin aku ya bi, aku gak tau."kata Lydia yang gak enak hati dengan bi Masnah.
"Gak papa kok non, oh ya aden minum susu formula atau dari nona?"kata bi Masnah.
"Bibi gak usah panggil aku non, panggil nama saja sama juga bibi panggil nama saja sama Raka. Jadikan Raka cucunya bibi agar terobati rasa rindu bibi sama cucunya."kata Lydia membuat bi Masnah tersenyum.
"Makasih ya Ly."kata bi Masnah.
"Disini panggil aku Dia saja bi, soalnya aku sedang menyembunyikan identitasku dari seseorang."kata Lydia membuat Dahlia tersenyum.
"Dia kabur dari suaminya bi, lagian suaminya juga sudah menikah dengan kakak perempuannya."kata Dahlia membuat bi Masnah terkejut.
"Memangnya boleh menikah dengan saudara sendiri?"kata bi Masnah.
"Dia anak dari adiknya papa suamiku bi, saudara sepupulah makanya boleh menikah."kata Lydia.
"Sudah gak usah pikirkan itu kalau dia jodoh kamu pasti akan kembali lagi sekarang fokus saja sama Raka dia membutuhkan kasih sayang ibunya. Lagian anak akan ikut tenang jika ibunya juga tenang dan bahagia."kata bi Masnah.
"Iya bi, bi aku mau istirahat sebentar."kata Lydia yang merasa lelah.
"Isitrahatlah, aku mau belanja sama bibi sebentar."kata Dahlia.
"Ya sudah ini uangnya buat belanja."kata Lydia sambil mengambil dompetnya untuk memberikan uang pada Dahlia.
"Pakai uangku saja dulu nanti kalau belanja lagi pakai uangmu."kata Dahlia.
"Baiklah, aku nitip susu buat Raka ya takutnya nanti ASIku gak keluar banyak."kata Lydia.
"Oke aku beliin yang banyak sekalian."kata Dahlia.
"Terserahmu."kata Lydia membuat Dahlia tersenyum.
Lydia membawa Raka ke kamarnya sedangkan bi Masnah dan Dahlia pergi ke supermarket untuk belanja. Dahlia sengaja mengajak bibi karena pasti bibi tau makanan apa yang sehat buat Lydia dan juga melancarkan ASInya. Lydia sendiri dikamar masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih setelah menidurkan Raka.
Lydia mengambil Raka dari tempat tidurnya lalu membaringkan putranya itu disamping ranjangnya. Lydia memandangi wajah putranya yang mirip banget dengan Ryan. Siapapun yang melihatnya pasti akan tau jika itu adalah putranya Ryan.
"Maafin mommy ya sayang, kamu tumbuh tanpa seorang daddy nantinya."kata Lydia sambil menciumi pipi Raka.
Raka yang tertidur pulas hanya mengerakkan badannya saja saat dicium pipinya setelah itu kembali tidur pulas membuat Lydia tersenyum.
"Kamu persis sama daddymu kalau tidur pulas banget."kata Lydia.
Lydia tertidur sampai larut malam kalau bukan karena Dahlia yang membangunkannya mungkin dia gak akan bangun. Lydia melihat kesampingnya tapi tak ada Raka membuat dia mencari keseluruh sudut kamarnya, Dahlia yang tau kalau temannya itu sedang mencari Raka hanya tersenyum.
"Kamu cari Raka?"kata Dahlia.
"Iya, Raka dimana?"kata Lydia.
"Sama bibi tadi dia juga yang mandiin Raka karena aku gak berani mandikan dia sendirian. Kata bibi kalau jam segini anak bayi gak boleh ditidurkan takut nanti ada yang mengajaknya bicara."kata Dahlia.
"Syukurlah, maaf aku tadi ketiduran. Ya sudah aku mandi dulu."kata Lydia.
Lydia bangun dari ranjang untuk segera mandi sedangkan Dahlia keluar kamar temannya itu untuk kembali bergabung dengan Raka dan bi Masnah. Saat Lydia keluar dari kamarnya ternyata kedua perempuan itu sedang mengajak bicara Raka.
"Kalian sudah makan belum?"kata Lydia.
"Belum, kami nunggu kamu baru kita akan makan."kata Dahlia.
"Baiklah ayo makan Raka ditidurkan ditempat tidurnya saja bi."kata Lydia.
"Gak usah biar bibi tidurkan distolernya agar kita bisa memperhatikannya."kata bi Masnah.
"Ya sudah aku ikut bibi saja, bi besok ajari aku mandiin Raka ya."kata Lydia yang ingin belajar memandikan Raka sendiri.
"Siap, kapan saja kamu ada waktu akan bibi ajarkan kamu juga mau Li?"kata bi Masnah bertanya pada Dahlia.
"Gak aku gak mau takut, nanti kalau Raka sudah agak besaran dikit aku mau."kata Dahlia membuat kedua perempuan yang lain tersenyum.
Mereka malam itu makan sambil berbincang-bincang, Lydia berharap nanti malam putranya itu gak akan terbangun tengah malam soalnya besok dia harus sudah bekerja. Benar saja tengah malam Raka bangun menangis minta susu untung saja setelah minum ASI putranya itu kembali tidur. Keesokan paginya Lydia bangun saat Raka menangis. Bi Masnah masuk kedalam kamar untuk mengambil Raka, dia mau memandikan Raka.
Saat Lydia berada ditempat kerjanya pikirannya tak fokus dia teringat dengan putranya terus.
"Hey, Di nglamun aja kamu."kata Santi.
"Ada apa memangnya San?"kata Lydia.
__ADS_1
"Itu pak Alex memanggilmu."kata Santi membuat Lydia mengerutkan keningnya.
"Tumben, ya sudah kalau kayak gitu aku pergi dulu."kata Lydia.
Lydia bangun dari duduknya lalu berjalan menuju ruang ceonya itu dia penasaran kenapa atasannya itu mencarinya. Dengan dada bergetar dia masuk kedalam takut kalau dimarahi oleh ceonya karena membuat masalah.
"Ra, tuan Alex didalam?"kata Lydia.
"Ada Di, oh ya kamu tadi dipanggil beliau ya?"kata Rara.
"Iya, kamu tau gak kenapa aku dipanggil tuan Alex?"kata Lydia.
"Aku gak tau tapi yang aku dengar kita mendapatkan klien baru mungkin kamu yang akan disuruh untuk menanganinya. Sudah sana masuk biar gak penasaran."kata Rara.
Rara dan Santi adalah teman baik Lydia saat bekerja karena mereka bertiga masuk hampir bersamaan. Banyak karyawan yang suka dengan mereka tapi gak ada satupun yang ditanggapi oleh ketiganya. Para karyawan pria mulai menjauhi Lydia saat tau kalau dirinya hamil besar banyak desa-desu yang bilang kalau Lydia hamil diluar nikah tapi Lydia tak perduli dengan itu.
"Maaf tuan, apa tuan mencari saya?"kata Lydia saat membuka pintu ruangan Alex.
"Iya, aku mencarimu. Masuk ada yang mau aku bahas sama kamu."kata Alex sambil tersenyum.
"Memangnya ada apa? Mau bahas soal Santi?"kata Lydia sambil tersenyum.
"Bukan ini soal pekerjaan."kata Alex.
"Ada apa memangnya?"kata Lydia.
"Ada klien baru dari Indonesia."kata Alex.
"Lalu ada apa?"kata Lydia.
"Kamu kayaknya yang cocok membahas pekerjaan ini dengannya karena kalian sama-sama dari Indonesia. Kalau kerjasama ini berhasil aku niatnya mau mengirimmu ke Jakrta untuk mewakili perusahaan kita."kata Alex.
"Gila kamu ya, anakku bagaimana dia belum ada paspor tau gak?"kata Lydia.
"Aku akan mengurusnya."kata Alex.
"Nyebelin banget jadi orang untung sahabatnya Dahlia kalau gak aku dan keluar dari sini."kata Lydia.
"Memangnya kamu mau bekerja dimana kalau gak disini?"kata Alex.
"Ada yang banyak menawariku tapi aku lebih memilih disini karena gajinya besar."kata Lydia.
"Itu tau, tolong aku masa depan perusahaan ini ada ditanganmu."kata Alex.
"Apa maksutmu masa depan perusahaan ini ada ditanganku?"kata Lydia.
"Aku dapat apa kalau bisa kerjasama dengan perusahaan itu?"kata Lydia.
"Aku kasih kamu bonus yang gede deh, nanti kalau kita jadi mengembangkan perusahaan diIndonesia kamu yang akan memimpin disana."kata Alex.
"Wah kamu ya, aku saja meninggalkan perusahaan papaku masak malah aku memimpin perusahaan orang lain?"kata Lydia membuat Alex tersenyum.
"Sementara waktu saja setelah aku mendapatkan siapa yang pantas menduduki posisi itu kamu bisa kembali kerja diperusahaan papamu bagaimana?"kata Alex.
"Tapi aku belum siap untuk pulang ke Indonesia bagaimana dong?"kata Lydia.
"Kamu ini lagian aku juga gak tau kapan bisa membuka perusahaan diIndonesia sekarang masih berangan-angan yang terpenting kerjasama ini saja dulu."kata Alex.
"Mana berkas pengajuannya biar aku pelajari dulu tapi nanti kalau gak cocok sama perusahaan kita bagaimana?"kata Lydia.
"Aku sudah memeriksanya semua sesuai dengan apa yang kita inginkan hanya saja sekarang tergantung dengan kesepakatan kita bagaimana?"kata Alex.
"Kapan mereka ngajak bertemu?"kata Lydia.
"Belum tau tapi katanya nanti akan dia kasih tau lagi soalnya pemilik perusahaan itu jadwalnya padat sekali."kata Alex.
"Baiklah, nanti kasih tau saja sama aku kalau mereka menghubungi lagi."kata Lydia.
"Aku sudah memberikan no ponselmu pada mereka."kata Alex.
"Kamu memang ya suka seenaknya sendiri ngambil keputusan."kata Lydia kesal.
"Iya iya maaf gak lagi-lagi. Oh ya bagaimana keponakanku kabarnya maaf aku belum sempat menjenguk pekerjaanku banyak banget. Apalagi sejak masalah yang dibuat oleh kakakku itu."kata Alex sambil menghela nafasnya.
"Alhamdulilah dia baik-baik saja, aku juga tenang karena ada bi Masnah yang menjaganya."kata Lydia.
"Siapa bi Masnah kok aku gak pernah dengar nama itu?"kata Alex.
"Perempuan yang menjaga dan merawat Dahlia waktu kecil, lagian aku bingung sama kamu kenapa kamu gak sama Dahlia saja sih kok malah negejar Santi?"kata Lydia membuat Alex tersenyum.
"Kami gak akan mungkin bersatu karena kami beda prinsip, memangnya Dahlia gak pernah cerita kalau kita dulu pernah menjalin hubungan?"kata Alex.
"Gak dia gak bilang tu."kata Lydia.
Saat mereka berdua sedang membicarakan tentang Dahlia tiba-tiba ada keributan diluar membuat Alex menghela nafasnya. Alex tau siapa yang sudah membuat masalah itu sedangkan Lydia hanya tersenyum lalu mengerutkan keningnya saat mendengar suara yang dia kenal.
"Kayaknya perang dunia akan dimulai."kata Lydia.
__ADS_1
"Apa maksutmu?"kata Alex.
"Aku dengar ada suaranya tante Nisa."kata Lydia tersenyum.
"Kamu yakin?"kata Alex.
"Kalau kamu gak percaya ayo kita liat!"kata Lydia.
"Ayo aku juga penasaran ada apa mama tumben kesini."kata Alex yang juga ikut penasaran.
Kedua orang itu berjalan keluar daro ruangan, benar saja seperti apa yang dikatakan oleh Lydia jika disana ada Nisa dan Dira. Terlihat sekali kalau mamanya ALex itu tak suka dengan Dira, Lydia juga bingung kenapa mamanya Alex tak suka dengan Dira padahal Dira adalah seorang model yang sedang naik daun selain itu juga sangat cantik.
"Mama ngapain disini?"kata Alex membuat ketiga perempuan itu memandang kearah sumber suara.
"Memangnya mama gak boleh kesini? Oh mama tau kamu mau berhubungan lagi sama perempuan ini makanya mama gak boleh kesini?"kata Nisa.
"Ma, aku gak melarang mama kesini tapi jangan buat ribut malu diliatin karywan. Lagian aku sama Dira sudah gak ada hubungan apa-apalagi."kata Alex.
"Sayang, aku gak mau putus sama kamu. Aku benar-benar menyesal sayang aku mau balikan lagi sama kamu."kata Dira.
"Dengar ya sampai kapanpun aku gak akan mau punya menantu mata duitan kayak kamu."kata Nisa.
"Ma, Dir sudah cukup. Ra, kamu panggil satpam buat bawa Dira pergi dari sini dan mama ikut aku masuk kedalam."kata Alex.
"Gak sayang aku gak mau pergi darisini kalau kita gak balikan lagi, aku sayang sama kamu."kata Dira.
"Ra, kamu hubungi satpam sekarang."kata Alex.
"Gak perlu, aku pergi sekarang tapi aku janji sama kamu kalau aku akan balik lagi kesini."kata Dira.
Dira pergi darisana sedangkan Alex dan mamanya masuk kedalam ruangan. Rara dan Lydia kembali ketempat masing-masing. Lydia tak tau jika perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaannya adalah perusahaan milik Ryan. Lydia kembali keruangannya dengan wajah lesunya membuat Santi mengerutkan keningnya.
"Teman-teman nanti kita meeting setelah istirahat ada klien baru yang tuan Alex serahkan pada kita untuk bertanggungjawab."kata Lydia.
"Siap, tapi kenapa wajahmu kok lesu gitu?"kata karyawan.
"Kalau aku berhasil mendapatkan kerjasama ini kayaknya kita akan berpisah sementara waktu."kata Lydia.
"Kenapa gitu?"kata karyawan lain.
"Aku akan dikirim ke Jakarta untuk melihat bagaimana nanti kerjasama kita dan mungkin perusahaan ini akan membangun perusahaan disana."kata Lydia.
"Pantas saja dia memberikan klien ini padamu Ly, kalau yang lain gak mungkin soalnya keluarga mereka ada disini sedangkan kamu 'kan keluarganya diIndonesia."kata pak Hardi senior.
"Iya pak, tapi aku masih belum rela meninggalkan kalian."kata Lydia sedih sedangkan yang lain hanya mengelengkan kepalanya.
"Bilang saja kalau kamu senang karena aku gak akan memberi aturan ketat padamu kalau diJakarta nanti?"kata pak Hardi membuat Lydia tersenyum.
"Hehehe bapak tau saja."kata Lydia.
"Memangnya kamu sudah tau mereka ingin membuat konsep seperti apa?"kata pak Hardi.
"Belum pak mereka hanya memberikan keinginan kita dan kita disuruh membuat beberapa konsep nanti mereka akan memilih satu konsep."kata Lydia.
"Temanya apa?"kata pak Hardi yang diangguki oleh yang lain.
"Fashion, makanan sehat dan lingkungan digabungkan ketiganya itu jadi satu mungkin atau gimana terserah kalian nanti kita diskusi."kata Lydia.
"Baiklah, kalau gitu setelah istirahat kita berkumpul diruang meeting."kata pak Hardi.
Pak Hardi meninggalkan tempat itu begitupun dengan Lydia yang kembali ke tempat dia. Lydia fokus dengan pekerjaannya sedangkan diJakarta Ryan sedang dibuat pusing dengan tingkah Shinta yang terus-terusan menganggu hidupnya.
"Mbak, kamu mau apasih?"kata Ryan saat Shinta berada diperusahaannya dengan ayah Danny.
"Yan, aku mohon kamu kembali ke perusahaan bantu aku untuk menyelesaikan masalah diperusahaan."kata Shinta.
"Bukannya kak Anton sudah membantumu apa itu gak cukup?"kata Ryan.
"Yan, kak Anton gak bisa menyelesaikan masalah perusahaan hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Aku mohon kembalilah ke perusahaan."kata Shinta sambil menujukan wajah memerasnya tapi bagi Ryan itu sudah gak berarti lagi.
"Kenapa kamu gak minta tolong Jono saja?"kata Ryan.
"Yan, kita sudah gak kerjasama dengan perusahaan Jono lagi sejak aku bercerai dengannya."kata Shinta membuat Ryan tersenyum sinis.
"Terserahmu siapa suruh kamu meakhiri kerjasama itu padahal kamu dulu mati-matian mau bekerjasama dengan perusahaan itu."kata Ryan.
"Yan, buat apa kita kerjasama dengan perusahaan yang gak menguntungkan kita?"kata ayah Danny berbicara.
"Berkat perusahaan Jono perusahaan papa mendapatkan untung besar itu yang papa bilang gak mendapatkan keuntungan."kata Ryan.
"Apa maksutmu?"kata ayah Danny gak mengerti.
Ryan bukannya menjawab dia memilih untuk mengambil berkas lama tentang keuntungan perusahaan ayah Danny saat kak Anton masih memegang perusahaan itu.
"Nih, papa liat sendiri apa yang diberikan oleh perusahaan Jono?"kata Ryan sambil menyerahkan berkas itu.
Shinta yang melihat ayah Danny sedang serius mempelajari berkas itu takut jika ayahnya akan marah. Benar yang dikatakan oleh Ryan jika perusahaan Jonolah yang membuat Karya corp mendapatkan keuntungan besar daripada perusahaan lain.
__ADS_1
"Apa ini Shin? Kenapa kamu bilang perusahaan Jono akan merugikan kita?"kata ayah Danny marah pada putrinya itu.