
Keesokan paginya saat Lydia bangun Ryan sudah gak berada dikamarnya membuat Lydia menghela nafasnya. Lydia mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan dari Ryan yang bilang kalau suaminya itu berangkat pagi sebab kak Anton mengajak ketemuan pagi. Lydia mencari no kak Aziz untuk mengantarkannya berangkat sekarang. Untung saja Aziz langsung mengangkat panggilan itu jadi Lydia tak bertambah kesal.
[Hallo Asalamualikum dek, ada apa pagi ini kamu menghubungiku pagi-pagi sekali?]
[Waikumsalam, kakak sudah bangun atau belum ini?]
[Sudah, ada apa memangnya?]
[Bisa antarkan aku sekarang ke Bogor gak?]
[Jam segini memangnya Ryan kemana?]
[Kak Ryan sudah pergi daritadi pagi cari mbak Shinta yang hilang dari semalam.]
[Kamu gak mau nunggu Ryan saja dulu dek? Aku takutnya kalau nanti dia marah bisa berabe.]
[Aku gak ada waktu buat nunggu kak soalnya kita gak bakal tau kapan mbak Shinta akan ketemunya dan aku juga gak bisa menunggu lama-lama aku takut terjadi sesuatu denganku jika gak sembuh-sembuh.]
[Memangnya kamu kenapa dek?]
[Nanti saja kalau diperjalanan aku akan cerita sama kakak. Kakak mau gak nganterin aku sekarang?]
[Iya sebentar aku akan antar kamu. Aku mandi dulu, kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]
Lydia menutup panggilan itu lalu diberanjak bangun untuk pergi ke kamar mandi setelah itu siap-siap. Saat Lydia selesai bersiap bertepatan dengan Aziz sampai diapartemen Lydia.
Ting tong ting tong
Lydia yang mendengar kalau bell pintu berbunyi langsung saja berjalan sambil membawa kopernya keluar. Lydia berpikir jika itu kak Aziz maka dia akan langsung mengajak kakaknya itu jalan saat itu juga. Benar ternyata saat membuka pintu Aziz yang ada didepan rumah, Aziz sendiri terkejut saat Lydia sudah membawa kopernya.
"Dek, kok kamu sudah bawa koper kesini sih?"kata Aziz.
"Kita berangkat sekarang saja yuk kak?"kata Lydia.
"Kamu gak mau menunggu Ryan dulu dek?"kata Aziz.
"Sudah gak ada waktu ayo berangkat sekarang biar nanti saja aku menghubunginya kalau sudah sampai sana."kata Lydia.
"Ya sudah ayo kalau kayak gitu?"kata Aziz.
Aziz mengambil koper milik Lydia sedangkan Lydia menutup pintu apartemen setelah itu mereka berjalan menuju mobilnya Aziz yang terparkir didepan apartemen. Lydia masuk kedalam mobil Aziz sedangkan Aziz lebih dahulu memasukkan koper Lydia kedalam bagasi. Aziz masuk kedalam mobil setelah itu menjalankan menuju Bogor.
__ADS_1
"Kak, kita cari sarapan dulu ya. Aku mau makan pecel pinggir jalan."kata Lydia.
"Ya sudah kamu mau makan dimana?"kata Aziz.
"Didepan kos aku dulu masih buka gak ya yang jual pecel?"kata Lydia.
"Kita cari disana kalau gak ada mau cari kemana?"kata Aziz.
"Kita cari disana saja dulu."kata Lydia.
"Oke baiklah, tunggu-tunggu kamu kok tumben pengen makan nasi pecel pagi-pagi begini biasanya gak begini?"kata Aziz.
"Aku hamil kak tapi kakak Ryan belum tau soal ini."kata Lydia membuat Aziz terkejut lalu mengrem dadak mobil membuat kening Lydia terbentur dasboard mobil.
"Kak hati-hati bawa mobilnya bisa gak kening aku sakit tau gak?"kata Lydia kesal karena keningnya sakit terbentur dasboard.
"Maaf dek, tadi kamu bilang apa? Kamu tadi bilang hamil."kata Aziz untuk mencaritau kebenaran apa yang dia dengar.
"Iya kak, aku hamil ada yang salah?"kata Lydia.
"Kamu seriusan dek gak bohongkan?"kata Aziz.
"Aku serius kak, makanya aku ingin cepat-cepat ke Bogor untuk nyembuhin traumaku."kata Lydia.
"Mbak Shinta lebih penting daripada aku kak, sudah ayo jalan nanti kemalaman lagi sampai Bogor."kata Lydia.
"Bilang saja kalau kamu sudah lapar dan gak sabar mau makan nasi pecel."kata Aziz.
"Tau saja sudah ayo berangkat."kata Lydia.
Aziz tanpa bicara lagi menjalankan mobilnya menuju kos-kosan Lydia dulu, sampai didepan kosan beruntung karena penjual pecel yang dulu masih ada. Penjual pecel juga masih ingat dengan Lydia sehingga mereka saling mengobrol satu sama lain membuat Lydia teringat masalalunya dulu. Saat mereka sedang menikmati makanannya ada dua perempuan yang datang menghampiri sambil tepe-tepe pada Aziz membuat Lydia tersenyum dengan keadaan Aziz yang gak nyaman itu.
"Kak, boleh minta no wa gak?"kata perempuan.
"Buat apa?"kata Aziz.
"Siapa tau kita bisa lebih akrab lagi atau mungkin kita bisa punya hubungan kak."kata perempuan itu sambil tersenyum.
"Maaf aku sudah mempunyai kekasih hatiku."kata Aziz menolak dengan halus.
"Memangnya siapa kekasih hati kakak, perempuan disebelah kakak itu?"kata perempuan itu sambil menujuk Lydia.
__ADS_1
"Dia mah gak ada tandingannya kak lebih cantikan temanku ini daripada dia kak."kata perempuan itu.
"Kalian itu masih kecil gak tau apa-apa lebih baik fokus sama kuliahmu saja kenapa?"kata Aziz.
"Kasih saja kartu namamu sama mereka kak, tapi ingat kalau jadian traktir makan aku."kata Lydia membuat kedua perempuan yang ada didepan Aziz terdiam.
"Kamu siapa kenapa memanggil kakak sama dia?"kata perempuan itu.
"Dek, kamu sudah belum makannya?"kata Aziz yang gak mau menjawab pertanyaan kedua perempuan itu.
"Sudah kak, ayo pergi sekarang. Berapa bu semuanya?"kata Lydia.
"Semuanya 35.000."kata penjual nasi pecel.
"Ini bu, sisanya buat ibu saja. Ayo dek, kita pergi sekarang! Kamu mau beli makanan sama minuman untuk dimakan dimobil gak?"kata Aziz.
"Aku beli camilan ditoserba saja."kata Lydia.
"Makasih ya mas, mbak, kapan-kapan main lagi kesini."kata penjual pecel.
"Iya bu, insyaallah. Kalau gitu kami pergi dulu."kata Lydia.
Lydia dan Aziz meninggalkan warung pecel untuk meneruskan perjalanan tapi sebelum itu mereka memberi camilan dan minuman untuk dimakan saat diperjalanan. Saat memberi camilan Lydia dan Aziz sering berdebat karena Aziz mau Lydia makan-makanan yang bergizi dan gak sembarangan makan. Lydia teringat jika belum menghubungi bunda Airin pasti dia sedang pusing mencarinya, Lydia mengambil ponselnya lalu menghubungi bunda Airin. Bunda Airin yang melihat kalau menantunya yang menghubunginya langsung saja mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum sayang...]
[Walaikumsalam bun, bun maaf kalau aku ganggu bunda pagi-pagi begini.]
[Gak papa sayang, ada apa kamu menghubungi bunda?]
[Maaf ya bun, aku sekarang sedang dalam perjalanan ke Bogor sama Kak Aziz. Aku hanya mau kasih tau bunda takut kalau bunda khawatirin aku juga.]
[Kamu kenapa gak pergi sama Ryan sih Ly?]
[Kak Ryan sedang sibuk bun, aku gak mau ganggu kasian. Lagian insyaallah aku bisa sendiri soalnya kalau lama-lama takut aku gak bisa menahan emosiku jika nanti trauma itu muncul. Aku takut jika trauma ini gak segera diobati maka akan terjadi sesuatu dengan anakku bun.]
[Maafin anak bunda ya sayang, seharusnya disaat-saat begini dia selalu ada buatmu tapi nyatanya dia selalu saja ingkar janji dan lebih mementingkan pekerjaannya.]
[Gak papa kok bun, bunda doain aku supaya cepat sembuh dan bisa cepat berkumpul sama kalian.]
[Iya sayang kalau ada apa-apa kamu bilang sama bunda sayang.]
__ADS_1
[Iya bun, kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]
[Ya sudah kalau sudah sampai Bogor kabari bunda ya.]