
Ryan mandi cepat setelah itu bersiap-siap untuk berangkat, saat mobil yang dinaiki Ryan keluar bertepatan dengan mobil papa Irwan masuk ke dalam gerbang. Tapi mereka tak menyadari satu sama lain, Ryan sibuk dengan ponselnya sedangkan Lydia sibuk mendengarkan wejangan dari orangtuanya.
"Mama sama papa nganter sampai sini saja ya, nanti barang-barangmu biar mama suruh mang Soleh sekalian sama mobilmu."kata mama Intan.
"Gak usah ma, nanti biar aku ambil sama Ryan saja."kata Lydia.
"Ly, baru mama bilang beberapa menit yang lalu jangan panggil Ryan nama itu gak sopan tau gak?"kata mama Intan.
"Iya ma iya."kata Lydia.
"Awas saja kalau sampai mama dengar kamu manggil Ryan pakai nama saja. Mama akan kasih hukuman buatmu."kata mama Intan.
"Memangnya mama mau kasih hukuman apa?"kata Lydia.
"Nanti kamu tau sendiri, sudah sana masuk mama sama papa pulang dulu."kata mama Intan.
"Kalian saja pergi dulu nanti setelah kalian gak terlihat lagi aku akan naik keatas."kata Lydia.
Mereka bertiga saling berpelukan sebenarnya mama Intan tak bisa melepas Lydia tinggal dengan Ryan karena mama Intan takut jika putrinya itu gak bisa mengurus Ryan dengan baik. Tapi kalau Lydia gak belajar mandiri bagaimana putrinya itu bisa toh dia dulu juga menikah sama papanya Lydia juga gak mengerti apa-apa.Setelah berpamitan dan memberi nasehat pada putrinya orangtua Lydia masuk ke dalam mobil. Lydia sendiri naik keatas setelah mobil orangtuanya tak terlihat lagi, saat dia membuka pintu apartemen Ryan didalam sana sepi banget. Lydia masuk dan mencari Ryan disetiap kamar tapi gak ada, dikamar utama terlihat kamar yang berantakan tapi orangnya gak ada. Lydia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ryan, Ryan yang sibuk dengan tabletnya kesal saat ada yang menghubunginya tapi saat melihat yang menghubunginya Lydia dia langsung tersenyum.
[Hallo Asalamualaikum...]
[Walaikumsalam, kamu dimana aku sampai apartemen kok gak ada orang?]
[Maaf sayang, aku lupa kalau kamu pulang sekarang aku ada diperjalanan mau ke Surabaya.]
[Ish kamu nih, tau gitu aku pulang kerumah orangtuaku saja.]
[Maaf ya.]
Lydia kesal lalu mematikan panggilan itu lalu membuang ponselnya kesembarang arah, dia merebahkan diri diranjang dan mecium bau Ryan yang membuat dia tenang lalu tertidur lagi. Ryan yang dimatikan panggilannya oleh Lydia hanya menghera nafasnya kali ini pasti istrinya itu akan susah memaafkannya.
"Ada apa tuan?"kata Dayat.
"Gak papa Yat, kamu terus jalan saja."kata Ryan.
Ryan menghubungi mbok Marni yang biasa bersih-bersih dikamarnya untuk membeli bahan makanan. Ryan gak mau kalau istrinya itu sampai kelaparan walaupun dia tau kalau Lydia bisa beli apa saja tapi Ryan tau kalau sudah dirumah Lydia paling malas kalau disuruh keluar lagi.
"Tuan anda sudah menikah?"tanya Dayat saat Ryan menyelesaikan panggilannya dengan mbok Marni.
"Iya aku sudah menikah kenapa memangnya?"kata Ryan.
"Gak papa tuan, tapi dulu tuan pernah bilang kalau sudah menikah akan tinggal dirumah anda kenapa sekarang masih tinggal diapartemen?"kata Dayat.
"Aku masih ingin tinggal berdua dulu sama istriku menikmati masa-masa pacaran."kata Ryan sambil tersenyum.
"Tuan saya boleh tanya sesuatu?"kata Dayat.
"Mau tanya apa katakan saja?"kata Ryan.
"Apa anda dijodohkan oleh orangtua anda?"kata Dayat.
"Gak aku yang lamar dia memangnya kenapa?"kata Ryan.
"Tapi kenapa anda bilang menikamti masa pacaran kalau yang melamar anda?"kata Dayat.
"Kamu ini aku memang gak pacaran dengannya."kata Ryan.
__ADS_1
"Maksutnya saya gak ngerti tuan?"kata Dayat.
"Sudah kamu gak usah paham, kamu fokus saja sama nyetirnya. Aku gak mau celaka hanya gara-gara kamu kasian istriku jadi janda kembang lagi."kata Ryan.
"Janda kembang kaya pasti banyak yang mau tuan."kata Dayat yang langsung dipukul kepalanya oleh Ryan.
"Jaga bicaramu apa kamu mau aku potong setengah gajimu?"kata Dayat.
"Jangan tuan."kata Dayat yang setelah berkata begitu lebih memilih untuk diam.
"Yat, kamu sudah siapkan kebutuhan buat meeting kita hari ini?"kata Ryan.
"Sudah tuan saya juga sudah kirim materi meeting ke email tuan."kata Dayat.
Ryan setelah Dayat bertanya begitu kembali fokus dengan tabletnya sedangkan Lydia yang tertidur bangun karena ada suara bising diluar kamarnya. Lydia masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka setelah itu keluar dari kamar. Lydia terkejut melihat ada perempuan paruhbaya yang sedang membersihkan apartemen ini, Lydia karena penasaran mendekati perempuan itu untuk bertanya.
"Maaf anda siapa ya?"kata Lydia membuat mbok Marni menghentikan kegiatannya dan memadang kearah Lydia sambil tersenyum.
"Nona sudah bangun? Saya tukang bersih-bersih diapartemen ini, nona mau dibuatkan makanan?"kata mbok Marni.
"Gak usah, aku harus panggil anda apa ya?"kata Lydia.
"Panggil saya mbok Marni saja non."kata mbok Marni.
"Mbok memangnya dikulkas ada bahan makanan gak?"kata Lydia.
"Ada non, tadi tuan suruh saya buat beli bahan makanan sebelum saya naik keatas tadi."kata mbok Marni membuat Lydia tersenyum.
"Ada ayam gak mbok?"kata Lydia.
"Mbok ajari aku masak kentaky yuk, aku pengen makan ayam geprek mau beli malas."kata Lydia.
"Kalau itu mah mbok bisa, ayo mbok ajarin."kata mbok Marni.
Kedua perempuan itu memasak ayam geperk sambil bercanda satu sama lain, mbok Marni senang karena tuannya mendapatkan istri sebaik nona Lydia. Dia berharap rumahtangga mereka berdua bisa bahagia sampai kakek nenek seperti tuan besar.
"Mbok ayo makan bareng."kata Lydia.
"Gak usah non, mbok mau memeneruskan bersih-bersih dulu."kata mbok Marni.
"Nanti saja selesaiin bersih-bersihnya sekarang kita makan dulu, nanti aku bantuin deh."kata Lydia.
"Tapi Non, kalau tuan marah bagaimana?"kata mbok Marni.
"Dia gak akan marah lagian kak Ryan kayaknya gak akan pulang soalnya tadi dia bilang ke Surabaya ada kerjaan disana."kata Lydia.
"Baiklah kalau gitu, mbok ambil piring bentar."kata mbok Marni yang berjalan untuk mengambil piring.
Mereka makan sambil bercanda satu sama lain membuat Lydia yang awalnya kesal ditinggal sendiri karena ada mbok Marni jadi melupakan rasa kesalnya. Selesai makan Lydia mencuci semua peralatan makan mereka sedangkan mbok Marni kembali bersih-bersih diruang tengah. Lydia selesai mencuci piring bekas makanan mereka masuk kedalam kamarnya untuk membereskan kamarnya yang berantakan, selesai membersihkan kamarnya Lydia membawa pakaian kotor miliknya dan milik Ryan keluar kamar untuk dia cuci. Saat dia mau memberi sabun tenyata sabun cucinya habis, Lydia menghampiri mbok Marni untuk bertanya apa ada simpanan sabun.
"Mbok..."kata Lydia menghampiri mbok Marni.
"Ya nona ada apa?"kata mbok Marni.
"Mbok gak ada simpanan sabun cuci disini?"kata Lydia.
"Memang sabun cucinya sudah habis non?"kata mbok Marni.
__ADS_1
"Sudah mbok."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu biar mbok beli kebawah non."kata mbok Marni.
"Gak usah mbok, mbok selesaikan saja bersih-bersihnya biar aku saja yang turun sekalian aku mau menemui temanku yang bekerja disupermarket bawah."kata Lydia.
"Oh baiklah kalau begitu memangnya gak papa nona turun sendirian?"kata mbok Marni.
"Gak papa mbok tenang saja aku sudah biasa sendiri kok tenang saja. Aku juga mau beli peralatan mandi soalnya yang ada hanya peralatan mandi kak Ryan saja."kata Lydia.
"Ya sudah hati-hati."kata mbok Marni.
"Mbok gak mau nitip?"kata Lydia.
"Gak usah non."kata mbok Marni.
Lydia kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet dan juga ponselnya, saat dia berada didalam lift ada panggilan dari orang kepercayaan papanya yang berada diSurabaya menghubunginya. Lydia saat keluar dari lift mengangkat panggilan itu ternyata ada masalah diSurabaya yang harus segera diselesaikan. Lydia bingung harus bagaimana karena kalau dia pergi sekarang harus minta izin sama kak Ryan. Lydia menghubungi Ryan untung saja panggilan itu langsung diangkat oleh Ryan.
[Hallo Asalmualaikum Ly...]
[Walaikumsalam, loh kak Ryannya mana?]
[Dia sedang ada meeting ada apa?]
[Aku bisa minta tolong bilang sama kamu untuk bilang sama kak Ryan kalau aku harus ke Surabaya sekarang.]
[Wah kalau soal itu sebentar dulu aku tanyakan.]
[Baiklah aku tunggu secepatnya kak.]
Dayat mendekati Ryan dan berbisik kalau Lydia mau minta izin mau ke Surabaya membuat Ryan terkejut dan meminta izin untuk meninggalkan rapat sebentar dan menyuruh Dayat untuk mengantikannya sebentar.
[Hallo Ly, kamu masih disana?]
[Masih kak, kamu lagi sibuk ya maaf ganggu, aku hanya mau minta izin mau pergi ke Surabaya karena ada masalah yang mendesak disana.]
[Memangnya masalah apa kalau aku bisa bantu biar aku saja kebetulan aku ada diSurabaya?]
[Tapi kakak kan masih ada meeting itu aku gak enak menganggu.]
[Sebentar lagi selesai habis ini aku akan pergi ke kantormu. Kamu kirim saja apa masalah perusahaanmu lewat email.]
[Gini saja nanti mas hubungi pak Purnomo saja dia orang kepercayaan papa biar dia yang menjelaskan.]
[Baiklah, kamu kasih tau beliau dan kirimkan alamatnya. Kamu dimana kok ada suara kendaraan?]
[Aku turun kebawah mau membeli sabun cuci sama peralatan mandiku.]
[Baiklah hati-hati, nanti kalau masalah perusahaan gak selesai hari ini gak papakan kamu untuk sementara waktu tinggal sendiri diapartemen?]
[Iya gak papa, sudah aku tutup panggilannya takut ganggu kamu lama-lama.]
[Ya sudah, miss you.]
[Apaan sih.]
Lydia setelah berkata begitu langsung mematikan panggilannya karena pasti sekarang wajahnya sudah merah, sdangkan Ryan hanya menghera nafasnya saja. Ryan masuk kembali kedalam ruang rapat sedangkan Lydia meneruskan jalannya menuju supermarket.
__ADS_1