
Di Itali
Lydia selesai makan siang langsung saja melakukan meeting dengan karyawan yang berada didivisinya. Saat mereka sedang sibuk karyawan didivisi lain kesal dan iri karena sejak Lydia bekerja disana semua klien suka dengan proyek yang tim Lydia punya.
"Ly, kalau kamu gak ada pasti kita akan jarang mendapatkan pekerjaan."kata karyawan.
"Kok gitu memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Iya, karena hanya kamu yang punya ide cemerlang. Mereka boro-boro punya ide bagus disuruh buat ide saja pusing katanya."kata pak Hardi.
"Bapak bisa saja saya hanya menuangkan ide yang ada dipikiran saya saja."kata Lydia.
"Inilah orang yang nanti akan sukses karena dia selalu merendah."kata pak Hardi.
"Bapak bisa saja, sudah ayo kembali fokus dengan pekerjaan. Aku takut jika pak Alex tau nanti gajiku dipotong setengah kasian anakku gak bisa beli susu nanti."kata Lydia membuat semua orang tertawa.
Setelah Lydia berkata begitu mereka kembali fokus dengan pekerjaan mereka karena Alex ingin segera mendapatkan laporan proyek yang akan dikerjakan. Jika Alex setuju maka Divisi Lydia yang akan menangani proyek itu tapi kalau gak maka proyek itu akan diserahhkan pada devisi lain. Setelah satu jam mereka sepakat mengunakan ide Lydia lalu dari karyawan lain mereka menyempurnakannya ada yang memberi ide untuk mengembangkannya ada juga yang tak setuju hingga terjadi perdebatan yang alot tadi. Lydia dan pak Hardi setelah selesai meeting pergi dari ruangan untuk menemui Alex. Mereka berdua akan membicarakan proyek yang mereka buat itu, jika Alex setuju mereka akan mengembangkan dan meyempurnakannya.
"Tuan Alex ada didalam?"kata pak Hardi bertanya pada Rara.
"Ada pak, masuk saja."kata Rara.
"Makasih, Ra."kata pak Hardi.
Pak Hardi mengetuk pintu terlebih dahulu setelah itu masuk kedalam bersama dengan Lydia yang ada dibelakangnya. Alex yang melihat kedatangan keduanya tersenyum lalu berjalan menuju sofa sambil mempersilahkan kedua karyawannya untuk duduk.
"Bagaimana apa kalian sudah punya ide atau kerangka untuk proyek baru kita?"kata Alex.
"Maaf tuan, ini kerangka dari kami coba tuan liat dulu sambil tuan tambahkan atau kritik jika ada yang belum benar?"kata pak Hardi sambil menyerahkan sebuah map yang berisi ide dan kerangka yang mereka buat.
__ADS_1
Alex menerima map itu lalu mempelajari kerangka proyek yang dibuat oleh divisi pak Hardi, Alex tersenyum karena ide-ide Lydia itu selalu saja bikin dia takjub. Alex setelah mempelajari kerangka itu memberikan sedikit masukan pada mereka berdua, saat mereka sedang membahas proyek baru itu terdengar ponsel Alex berbunyi. Alex bangun dari duduknya lalu berjalan mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari no yang tak dikenal. Alex mengangkat panggilan itu karena dia penasaran siapa yang menghubunginya.
[Hallo, How are you?]
[Sorry sir, I am Dayat for a representative from the company that will work with your company.]
[OK, how can I help you?]
[My boss asks that you immediately send us a cooperation proposal immediately, is that possible?]
[Of course you can, I will send you the proposal soon, please send your company email address!]
[I will send it after this call, then I will end the call first.]
Alex menghela nafasnya saat mengakhiri panggilan itu, Lydia dan pak Hardi tau apa yang dipikirkan oleh atasannya itu.
"Maaf tuan apa mereka meminta proposal kita untuk segera dikirimkan?"kata Lydia.
"Tenang saja, stok ASInya ada banyak. Nanti kalau ASIku penuh, aku bisa memompanya saat pulang baru aku akan kasihkan pada Raka."kata Lydia sambil tersenyum.
"Memangnya gak papa ya, bukannya ASI kalau didiamkan akan menjadi basi?"kata Alex membuat Lydia dan pak Hardi tersenyum.
"Diruangan ruangan saya ada kulkas, nanti Lydia bisa memasukkanya kedalam sana. Nanti saat pukul 5 saya akan keluar sebentar untuk mencari tempat supaya Lydia bisa membawa pulang ASInya."kata pak Hardi.
"Biar saya saja yang cari, ini sebagai bentuk rasa terimakasih saya."kata Alex.
"Biar Alex saja pak yang cari palingan nanti kalau gak ketemu dia bawa Dahlia datang ke perusahaan."kata Lydia membuat Alex memandangnya tajam tapi Lydia gak takut sama sekali tetapi pak Hardi merasa heran kenapa Lydia tak ada takut-takutnya sama Alex.
"Apa tidak merepotkan tuan?"kata pak Hardi.
__ADS_1
"Gak kok pa tenang saja."kata Alex yang tau jika karyawannya itu gak enak hati.
"Baiklah, kalau kayak gitu kami permisi dulu. Nanti kalau tuan gak tau hubungi saya saja."kata pak Hardi.
Pak Hardi dan Lydia setelah berpamitan keluar dari ruangan itu, sebenarnya Lydia tak ingin lembur karena dirinya sudah kangen dengan Raka. Saat mereak berjalan melewati divisi lain tak sengaja mereka mendengar omongan yang gak mengenakkan tentang Lydia. Pak Hardi yang tau ingin menegur mereka tapi Lydia menahan lengannya.
"Sudah biarkan saja, pak."kata Lydia sambil tersenyum.
"Tapi Ly, mereka sudah sangat keterlaluan."kata pak Hardi.
"Biarkan saja, aku sudah terbiasa seperti ini, lagian disini gak terlalu parah coba kalau di Indonesia pasti omongan mereka akan lebih parah lagi. Mereka berbicara begitu pasti karena iri sebab sejak aku bekerja disini bukannya divisi kita yang dipercaya oleh tuan Alex untuk menangani proyek-proyek besar."kata Lydia.
"Kamu benar juga, ya sudah ayo kita kembali keruangan saja. Tapi kalau mereka sudah keterlaluan bilang sama bapak, biar aku yang memberi pelajaran pada mereka."kata pak Hardi.
"Siap pak."kata Lydia sambil hormat pada atasannya itu.
Mereka berdua berjalan lagi menuju divisinya, saat mereka masuk kedalam semua karyawan disana memandang dengan penuh kecemasan. Pak Hardi yang melihat itu tersenyyum, dia berdiri ditengah-tengah tempat duduk bawahannya.
"Beberapa hari ini kita akan lembbur untuk menyelesaikan proyek ini."kata pak Hardi.
Semua karyawan mengeluh tapi yang sebenarnya mereka senang karena pekerjaan mereka disukai lagi oleh tuan Alex.
"Ly, bagaimana dengan Raka?"kata Santi.
"Tenang ada Dahlia dan bi Masnah."kata Lydia.
"Siapa bi Masnah?"kata Santi.
"Bibi yang merawat Dahlia saat dia masih kecil, aku percaya sama beliau karena Raka nyaman dirawat olehnya."kata Lydia.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kayak gitu, aku bisa tenang."kata Santi.
Mereka mulai mengerjakan proposal proyek baru itu agar mereka bisa secepatnya mengirimkan proyek kerjasama itu. Mereka berharap kerjasama itu bisa berhasil sehingga perusahaan mereka semakin maju apalagi kalau sampai membuka perusahaan diIndonesia maka perusahaan ini akan sangat diakui.