
Lydia berjalan menuju kamarnya dengan pikiran yang gak ada disana, dia teringat perkataan teman-temannya tadi saat berada diRumah Sakit. Walaupun Ryan bilang mau menunggunya sampai dia siap tapi Lydia takut jika suaminya itu akan berpindah kelain hati. Ryan yang melihat Lydia masuk kedalam kamar memutuskan untuk berjalan menuju ruang tengah sambil menonton tv. Saat dia sedang mencari cahnnel tv yang menarik baginya terdengar suara ponselnya berbunyi. Ryan mengambil ponselnya ternyata itu panggilan dari Dayat membuat Ryan langsung mengangkat panggilan itu.
[Hallo ada apa jam segini kamu menghubungiku?]
[Maaf tuan kalau saya menganggu tuan, saya mau tanya apa tuan sudah membuka email yang saya kirimkan pada tuan?]
[Aku belum sempat membuka email itu ada apa memangnya?]
[Tuan tolong liat dulu email itu karena ini penting banget saya butuh pendapat tuan.]
[Baiklah, aku liat dulu nanti aku kabari lagi.]
Ryan mematikan panggilan itu setelah itu berjalan menuju ruang kerjanya, Ryan penasaran apa yang terjadi kok buat Dayat terlihat khawatir banget. Ryan sampai diruang kerjanya memutuskan untuk langsung untuk melihat email yang dikirim oleh Dayat, Ryan terkejut saat Ryan membaca email itu membuatnya mengepalkan tangannya. Ryan menghubungi kak Anton untuk menanyakan dimana keberadaan om Damar karena kali ini Ryan gak bisa mendiamkannya saja. Untung saja tak butuh waktu lama kakaknya itu sudah mengangkat panggilannya.
[Hallo Asalamualikum Yan...]
[Walaiakumsalam.. Kakak ada dimana sekarang?]
[Aku ada dirumah ini lagi sama ayahbunda memangnya ada apa?]
[Kak, aku butuh bantuan kakak. Aku sudah gak bisa bersabar lagi sekarang.]
[Memangnya ada apa coba kamu tenang dulu cerita sama aku ada apa memangnya?]
[Kak, kamu tau dimana sekarang om Damar berada? Aku sudah gak sabar buat memberikan hukuman padanya.]
[Memangnya kenapa dengan om Damar apa dia bikin masalah sama kamu?]
[Iya, dia sudah berani-beraninya menipu salah satu klienku dengan memakai nama perusahaan dan parahnya lagi dia menipu uang klienku banyak banget. Sekarang aku harus mengembalikan uang yang sudah ditransfer ke rek pribadi om Damar.]
[Tapi darimana om Damar tau kalau itu perusahaanmu?]
[Maka dari itu aku ingin tanya sama kamu apa kakak tau dimana om Damar tinggal agar aku bisa bertanya langsung padanya dan mengembalikan uang yang sudah dibawa kabur oleh om Damar.]
[Baiklah, kalau kayak gitu aku akan menghubungi om Damar dulu setelah tau aku akan menghubungimu.]
__ADS_1
[Makasih kak, kalau kayak gitu aku tutup dulu. Aku mau menyelesaikan masalahku dengan klien.]
[Baiklah, aku kabari secepatnya.]
Ryan setelah mengakhiri panggilan dengan kakaknya memutuskan untuk menghubungi Dayat untuk melakukan penawaran dengan klien yang sudah ditipu oleh om Damar untung saja klien itu mau bekerjasama dengan penawaran Ryan tapi tanpa mengelurkan modal lagi sebab perusahaan itu sudah mengeluarkan sejumlah uang. Kalau pun harus mengeluarkan uang mereka hanya mau mengeluarkan biaya 15% saja. Syarat itu disetujui oleh Ryan, Ryan setelah bebicara dengan klien itu membuat sebuah desain produk sedangkan perjanjian kerjasama mereka Dayat yang buat.
Ryan sibuk dengan pekerjaannya berbeda dengan Lydia yang baru selesai mandi keluar dari kamarnya dan tak melihat Ryan disana membuat Lydia kebingungan mencari Ryan karena salah Lydia yang lama mandi sebab dia bimbang apakah malam ini akan siap menyerahkan semuanya pada Ryan. Dalam kebingungannya mencari Ryan, Lydia berjanji pada dirinya untuk menyerahkan semuanya pada Ryan malam ini. Dia cari Ryan kesekeliling apartemen gak ada hanya satu ruangan yang belum Lydia masuki tapi Lydia takut karena itu ruangan kerja Ryan.
Tok tok tok
Ryan yang sedang fokus kerja mendengar pintu diketuk langsung menyuruh orang itu masuk karena dia tau jika itu adalah istrinya. Lydia masuk kedalam ruang kerja Ryan sambil bernafas lega karena suaminya itu tak pergi meninggalkannya. Lydia mendekati Ryan untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Ryan sebab terlihat sekali kalau suaminya itu sedang sibuk kerja.
"Lagi sibuk ya?"kata Lydia saat berada disamping Ryan.
"Iya, ini lagi buat produk baru buat perusahaan yang sudah ditipu oleh om Damar mengunakan nama perusahaanku."kata Ryan.
"Memangnya om Damar itu siapa?"kata Lydia.
"Masih saudara sama papa, ada apa kamu mencariku?"kata Ryan memandang istrinya.
"Apa saja asal gak ribet aku gak mau kamu kecapekan."kata Ryan sambil tersenyum.
"Kalau aku kecapekan nanti kan ada tukang pijit."kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Siapa tukang pijitnya laki-laki apa perempuan?"kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Laki-laki."kata Lydia.
"Gak aku gak akan izinin kamu dipijit sama laki-laki lain."kata Ryan.
"Lagian memangnya disini ada laki-laki lain ya?"kata Lydia membuat Ryan terkejut lalu memegang pinggang istrinya.
"Jadi istri aku ini mau dipijitin tapi nanti kalau pijitannya meraba ke yang lain bagaimana?"kata Ryan sambil tersenyum menyeringai.
"Maunya, sudah aku mau masakin makanan dulu katanya kakak mau makan masakanku."kata Lydia.
__ADS_1
"Gak jadi kalau kayak gitu, kamu disini saja temani aku ngerjain ini."kata Ryan sambil mendudukan Lydia dipangkuannya.
"Lalu kakak mau makan pakai apa?"kata Lydia.
"Kita pesan saja, kamu mau makan apa?"kata Ryan.
"Terserah kakak saja, kalau kayak gitu aku mau kembali ke kamar."kata Lydia.
"Kan aku sudah bilang sama kamu kalau kita pesan makanan dan kamu temani aku disini."kata Ryan.
"Memangnya nanti gak ganggu kamu mas?"kata Lydia.
"Gak aku malah semangat kerjanya, mau ya temani aku?"kata Ryan.
"Memangnya gak papa aku kamu pangku kayak gini?"kata Lydia.
"Gak papa kok."kata Ryan.
Ryan setelah memesan makanan kembali fokus dengan pekerjaannya tanpa merasa diganggu oleh Lydia yang suka bertanya pada Ryan tentang apa yang dia kerjakan. Saat Ryan sedang menjelaskan terdengar bel pintu apartemen berbunyi, awalnya Lydia mau membuka pintu apartemen tapi tak diizinin oleh Ryan akhirnya Ryan yang mengambil paket itu. Saat Ryan sedang mengambil makanan pesanan mereka terdengar ponsel Ryan berbunyi Lydia yang penasaran siapa yang menghubungi suaminya karena itu no tak dikenal memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
[Hallo Yan, aku mohon tolong aku Yan...]
[Maaf ini siapa ya mbak?]
[Kamu siapa?]
[Saya istrinya kak Ryan maaf kalau saya boleh tau ini siapa ya?]
[Kamu bohong Ryan belum menikah aku calon istrinya.]
[Memangnya mbak siapa kalau aku boleh tau?]
[Aku Vira, kamu tau aku sedang hamil anak Ryan jadi dia harus tanggungjawab.]
[Baiklah, nanti kalau kak Ryan bangun akan aku kasih tau soalnya dia sekarang sedang tidur mungkin karena kelelahan. Mbak pasti paham kelelahan seperti apa yang aku maksut. Saya tutup dulu ya mbak.]
__ADS_1
Lydia menutup panggilan itu dengan kesal membuat Lydia semakin yakin jika malam ini dia akan menyerahkan semuanya pada Ryan. Lydia gak mau jika harus kehilangan Ryan untuk yang kedua kalinya.