
Rima yang kesal dengan perbuatan papanya yang tidak adil itu langsung saja naik keatas. Dia tak menyangka jika papa mamanya bisa marah sebesar ini padanya. Rima semakin membenci Lydia, dia yakin jika Lydialah yang melaporkannya ke om Irwan. Tapi apa hubungan Lydia dengan om Irwan? Rima yakin jika om Irwan diam-diam jadi sugar daddynya Lydia.
Rima tak terima dengan semua ini dia akan membalas semua ini dengan Lydia. Beda lagi dengan Lydia yang ada ditempat kerjanya, Ita awalnya khawatir dengan keadaan temannya itu dia takut jika Lydia sedih dan berakibat pada pekerjaannya. Tapi ternyata dugaannya salah Lydia malah semangat dalam bekerja dan melupakan kesedihannya padahal Ita yakin jika hati Lydia sedang tidak baik-baik saja.
"Tuan putri boleh minta waktunya sebentar?"kata Hendru yang langsung dapat delikan dari Lydia karena memanggilnya tuan putri tapi yang dipelototi malah tersenyum.
"Gak, aku lagi kerja gak liat apa?"kata Lydia.
"Ta, aku boleh pinjam teman kamu kan?"kata Hendru meminta izin sama Ita.
"Boleh kok kak silahkan, sudah sana bicara dulu kasian kak Hendru jauh-jauh datang kamu cuekin."kata Ita.
Saat mereka sedang berbicara bu Rosa keluar dan melihat kalau itu hendru langsung saja menghampirinya. Dia tak menyangka jika Hendru akan datang kesini. Dia berharap kedua karayawannya itu tak membuat
masalah karena terlihat mereka sedang berdebat.
"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?"kata bu Rosa membuat kedua perempuan itu terkejut.
"Tuan..."kata mereka berdua sedangkan Hendru hanya garuk kepalanya saja.
"Gak ada apa-apa bu, saya hanya mau berbicara denga Lydia saja, apa boleh bu?"kata Hendru.
"Oh silahkan tuan, Ly kau layani tuan Hendru."kata bu Rosa membuat Lydia mau tidak mau mengikuti Hendru keluar dari toko.
Mereka berdua lalu duduk didepan toko tanpa mereka sadari jika disana ada orang suruhan Rima yang memotret mereka berdua diam-diam. Tapi Hendru sadar jika ada orang yang sedang mengawasi mereka, dia ingin tau siapa lagi yang ingin menjebak Lydia.
"Kakak ngapain kesini, bukannya kamu sibuk dibandung ya?"kata Lydia.
"Iya aku memang ada dibandung tapi setelah mendengar kabar tentangmu aku langsung saja kesini."kata Hendru.
"Pasti kak Aziz yang bilang kan?"kata Lydia.
"Iya dan aku sudah mengantongi siapa yang sudah memberikan foto itu ke orangtua Rayyan."kata Hendru.
"Siapa kak?"kata Lydia.
"Orang yang sama yang dulu telah menyebarkan foto kamu sama om Irwan tapi telah diubah oleh Aziz."kata Hendru.
"Dia lagi apa salahku padanya sih kak?"kata Lydia.
"Karena dia berpikir kamu telah merebut Rayyan darinya selama ini banyak perempuan yang hanya dia peringatkan untuk tak dekat dengan Rayyan mereka mundur sedangkan kamu malah menjadi kekasihnya."kata Hendru.
"Kak, bukannya kita bisa bebas memilih ya?"kata Lydia.
__ADS_1
"Iya kita memang bebas memilih tapi sayangnya kamu salah memilih saingan, kalau saingan orang lain mereka bisa mundur secara teratur tapi ini Rima yang selalu mendapakan apapun yang dia mau. Apalagi dia bebas mengunakan nama keluargamu untuk mengancam seseorang."kata Hendru membuat Lydia manggut-manggut.
"Kamu sama Rayyan bagaimana?"kata Hendru.
"Kami putus kak,dia gak mau dengar penjelasaanku."kata Lydia.
"Kamu gak sedih?"kata Hendru.
"Buat apa aku sedih pria kayak gitu gak pantas diperjuangkan, lagian aku bisa melihat kalau orangtuanya dari awal tak suka denganku karena aku miskin."kata Lydia.
"Kamu yakin?"kata Hendru.
"Aku yakin masih banyak pria yang mau dekat denganku tanpa memandang siapa aku. Sekarang aku mau fokus sama kulliah dan kerjaku, aku mau membuat papa bangga dengan prestasiku."kata Lydia.
"Itu baru tuan putriku."kata Hendru membuat Lydia tersenyum.
"Ya sudah aku masuk dulu gak enak sama Ita. Oh ya kok bu Rosa panggil kakak dengan sebutan tuan?"kata Lydia.
"Aku pernah bantu pemilik toko ini untuk memeriksa keuangan disetiap cabang."kata Hendru membuat Lydia tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu, kakak hati-hati salam buat om sama tante."kata Lydia yang hanya dianggukin oleh Hendru.
Hendru pergi darisana setelah Lydia masuk ke dalam toko sedangkan seseorang yang disuruh Rima itu langsung saja mengirim foto itu ke Rima. Rima yang mendapatkan foto itu langsung tersenyum senang, dia tetap menturuh orang suruhannya itu untuk mengawasi Lydia kalau ada yang menarik suruh melaporkan langsung.
Rayyan yang penasaran dengan apa yang mau dikatakan oleh Rima langsung saja menemui dia dimall ternyata sampai sana Rima sudah menunggunya dipintu masuk mall. Rayyan langsung menghampiri Rima.
"Buat apa kamu ajak aku kesini?"kata Rayyan.
"Ayo ikut aku, aku tau kalau kamu masih belum percaya sepenuhnya dengan bukti tentang Lydia sekarang kamu akan melihatnya sendiri. Aku akan tunjukan pada siapa Lydia yang sebenarnya."kata Rima.
"Sudahlah,aku gak mau dengar tentang dia lagi."kata Rayyan.
"Ya sudah kalau kayak gitu ayo kita pergi makan dulu kamu belum makan siangkan?"kata Rima.
Saat mereka berdua masuk ke dalam foodcourt mereka melihat Lydia sedang berbicara dengan seorang laki-laki paruhbaya membuat Rayyan yang melihat langsung saja menghampiri Lydia dengan kemarahan yang besar. Dia tak menyangka jika Lydia lebih memilih pria paruhbaya untuk mencukupi kebutuhannya.
"Aku gak nyangka jika kamu lebih memilih pria paruhbaya."kata Rayyan.
"Apa maksut kamu nak?"kata papa Irwan yang sudah geram.
"Benar apa kata Rima jika kamu itu hanya bisa menjadi simpanan pria paruhbaya karena kamu hanya bisa hidup senang dengan mengandalkan uangnya."kata Rayyan.
"Jaga ucapan kamu."kata papa Irwan.
__ADS_1
"Apa yang harus dijaga om, semua memang benarkan. Pantas saja aku membuat masalah dengan Lydia om marah ternyata ini alasannya."kata Rima.
"Apa alasanku?"kata papa Irwan tetap tenang ingin mendengar perkataan Rima selanjutnya.
"Karena om selingkuh dengan Lydia, om takut jika aku tau kalau Lydia adalah selingkuhan om dan aku akan bilang ke tante Intan."kata Rima dengen tersenyum menyeringai.
Rima berpikir kalau ini akan membuat om Irwan takut dan dia bisa kembali magang diperusahaan Emirat dan mendapatkan Fasilitasnya kembali. Lydia yang mendengar itu hanya tersenyum tak menyangka jika Rima berani mengancam papanya tapi dia salah sasaran.
"Kalau kamu mau beritau tante kamu maka katakan saja aku gak takut."kata papa Irwan dengan percaya diri.
"Baiklah, setelah ini aku akan kirim rekaman ini ke tante."kata Rima sambil menunjukan ponselnya.
Lydia yang mendengar hanya tersenyum sambil menikmati makanannya, papa Irwan yang melihat putrinya daritadi tenang hanya tersenyum ternyata putrinya memiliki kontrol diri yang sangat besar tak seperti dirinya yang mudah sekali tersurut emosi.
"Kalian berdua sudah belum bicaranya kalau belum silahkan lanjut aku akan dengarkan?"kata Lydia membuat Rayyan bingung karena Lydia tak takut atau marah sedikitpun.
"Kamu tenang sekali tapi saat bertemu dengan tante Intan aku yakin nyali kamu akan menciut."kata Rima dengan pedenya.
"Mari kita liat siapa yang hancur setelah ini, aku atau keluarga kamu yang akan didepak dari perusahaan? Dan semoga saja saat tau kebenaran gak akan ada yang menyesal atau mengemis-ngemis minta maaf."kata Lydia.
"Itu kamu yang akan mengemis, liat saja."kata Rima.
"Baiklah aku menunggu hari itu tiba, kalian sudah selesaikan berbicarnya?"kata Lydia.
"Iya, aku sudah selesai."kata Rima.
"Kalau begitu mari kita pergi dari sini tuan katanya tadi mau membelikan saya sesuatu. Saya harus kembali ke tempat kerja setelah ini."kata Lydia.
"Ya sudah ayo kita pergi darisini, apa yang kamu minta akan aku turuti."kata papa Irwan.
"Kalau aku minta dibelikan rumah bagaiamana?"kata Lydia manja.
"Aku akan membelikannya, kamu cari saja rumah mana yang mau kamu miliki."kata papa Irwan.
"Makasih."kata Lydia.
"Apapun buat kamu sayang, ayo kita pergi dari sini."kata papa Irwan.
"Aku tak menyangka jika Lydia bisa semenjijikan itu."kata Rayyan.
"Sudahlah Yan, gak usah pikirkan dia lagi."kata Rima.
"Aku semakin yakin untuk melupakannya."kata Rayyan yang membuat Rima tersenyum senang.
__ADS_1