
Saat Lydia dan teman-temannya berada dikantin Rima dan kedua temannya juga berada disana. Dia memandang sinis kearah Lydia, Rima ingin menghasut teman-temannya agar membenci Lydia.
"Kalian tau gak, kalau ada mahasiswa yang sok alim tapi ternyata kelakuannya sangat tidak baik."kata Rima.
"Masak sih Rim, memangnya dia ngelakuin apa?"kata Tiara.
"Dia menjual dirinya."kata Rima.
"Masak sih, ya ampun menakutkan."kata Tiara.
"Jijik aku."kata Sisil.
Lydia dan yang lain hanya mendengarkan sindiran mereka bertiga padahal sebenarnya mereka gak sabar untuk menjawab sindiran itu tapi Lydia menahan mereka. Lydia berusaha untuk menahan emsoinya karena dia tau jika menanggapi perkataan mereka bertiga maka mereka akan sama seperti mereka.
"Maaf kak, bukannya seharusnya kakak sekarang sedang magang ya?"kata Jono.
"Aku memang sedang magang tapi kamu tau sendirikan kalau perusahaan itu milik siapa?"kata Rima.
"Lalu apa hubungannya dengan semua itu, walaupun perusahaan itu milik saudara kamu bukannya kamu harus tetap tanggungjawab ya?"kata Roni.
"Kamu gak usah nasihatin aku, kamu urus saja diri kamu sendiri. Asal kamu tau ya magang disana gak semua orang bisa aku yakin kalian nanti juga gak akan bisa magang disana."kata Rima dengan pedenya.
"Kalau kami bisa magang disana apa yang akan kamu lakukan?"kata Lydia sambil tersenyum.
"Kalian gak akan bisa."kata Rima yakin.
"Kenapa memangnya?"kata Lydia.
"Aku yakin kalian bisa tapi karena kalian bayar orang dalam."kata Rima.
"Berarti kamu bayar orang dalam dong."kata Lydia yang langsung ditertawai mahasiswa yang ada dikantin.
"Jaga ucapan kamu, bukankah kalian tau kalau pemilik perusahaan itu sudah menganggapku seperti putrinya sendiri."kata Rima.
"Walaupun begitu gak seharusnya kamu seenaknya sendiri kamu tetap punya tanggungjawab buat mengerjakan pekerjaan yang sudah dipercaya buat kamu."kata Lydia.
"Iya benar itu, daripada gosip yang belum tentu kebenarannya."kata salah satu mahasiswa yang ada disana.
"Kalian kenapa bela perempuan gak bener ini."kata Rima sambil menunjuk ke arah Lydia.
"Kami gak membela tapi memang perkataannya benar walaupun perusahaan itu milik saudara sendiri kita tetap saja harus tanggungjawab atas pekerjaan itu, iya gak?"tanya mahasiswa itu dan dijawab iya oleh semua mahasiswa membuat Rima kesal.
"Awas saja kamu Ly."kata Rima.
"Emangnya aku buat apa?"kata Lydia.
"Kamu sudah rebut kak Rayyan dariku sekarang juga sudah mencemarkan nama baikku."kata Rima.
__ADS_1
"Maaf kalau aku ganggu kalian semua, apa aku boleh tanya sama kalian?"tanya Lydia.
"Mau tanya apa tanya saja."kata mahasiswa yang duduk dibelakang Lydia.
"Apa tadi aku mencemarkan namanya?"kata Lydia sambil memandang kearah Rima.
"Gak dia sendiri yang menjelekkan namanya."kata salah satu mahasiswa.
"Iya dia sendiri yang bilang dengan pedenya kita kan hanya memperjelas saja."kata mahasiswa lain membuat Rima semin kesal.
"Awas kalian semua akan mendapatkan balasan karena telah menghinaku."kata Rima yang langsung pergi dari kantin. Saat dia pergi banyak mahasiswa yang menyorakinya.
"Ly jangan-jangan foto yang tersebar itu perbuatan Rima?"tanya mahasiswa.
"Aku gak tau, aku gak mau sembarangan menuduh nanti kalau salah jatuhnya fitnah."kata Lydia.
"Ya sudah yang sabar ya, kami yakin kok kalau kamu gak melakukan hal yang kayak gitu."kata mahasiswa yang lain.
"Makasih karena sudah mempercayaiku."kata Lydia senang.
"Sudahlah, sekarang kamu harus cari bukti buat bersihin nama kamu."kata mahasiswa itu.
"Biar saja kak, aku gak punya uang buat nyuruh orang untuk menyelidiki ini semua."kata Lydia yang hanya diberi anggukan oleh mahasiswa lain. Memang benar apa kata Lydia lebih baik uang itu digunakan untuk biaya hidup.
Sedangkan diRumah Sakit Rayyan hari ini benar-benar gak bisa fokus dalam kerjanya untung saja ada Panji yang satu kelompok sama dia. Saat istirahat Panji langsung duduk disebelah Rayyan, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi padahal dia bilang semalam Rayyan mengajak Lydia bertemu orangtuanya.
"Kamu kenapa?"kata Panji.
"Aku juga gak tau, hari ini Rayyan gak fokus dalam bekerja untung saja tadi gak salah nyuntik orang."kata Panji.
"Kamu ada apa?"kata Bagas.
"Aku putus sama Lydia."kata Rayyan membuat kedua temannya itu terkejut.
"Kok bisa, memangnya ada apa?"kata Panji.
"Orangtuaku punya bukti kalau Lydia suka bermain dengan pria hidung belang."kata Rayyan.
"Kamu yakin kalau itu Lydia?"kata Bagas.
"Aku yakin."kata Rayyan.
"Kamu gak tanya siapa pria itu, aku dengar dia punya keluarga disini. Siapa tau itu salah satu keluarganya."kata Bagas.
"Saudara bagaimana aku liat salah satu foto itu dia sedang berhubungan badan dengan seorang laki-laki dikamar hotel."kata Rayyan.
"Kamu tau zaman sekarang orang bisa mengedit foto."kata Panji.
__ADS_1
"Iya panji benar aku takut ini ulah seseorang yang sengaja agar kamu putus dengannya."kata Bagas.
"Sudah kalian gak usah bela dia."kata Rayyan.
"Terserah kamu lah Yan, aku harap kamu gak menyesal."kata Bagas yang sudah menyerah dengan Rayyan.
Beda lagi diperusahaan papa Irwan marah besar karena Rima dan kedua temannya benar-benar bikin naik darah. Sudahlah pekerjaannya gak benar mereka juga sering keluar dijam kerja. Apalagi sekarang dia tau jika Rima menjebak putrinya dengan foto dirinya dan putrinya sendiri.
"Panggilkan Sahrul dan ketiga karyawan magang itu."kata papa Irwan berbicara dengan sekertarisnya.
Sekertarisnya langsung memanggil Sahrul dan ketiga karyawan magang tapi karyawan magang itu tak ada ditempatnya. Sahrul langsung datang ke ruangan Irwan, dia ingin tau ada apa dipanggil oleh Irwan apa ada masalah yang terjadi.
Tok tok tok
"Masuk."kata papa Irwan tapi tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Ada apa kamu memanggilku?"kata Sahrul.
"Kamu Rul, duduk dulu kita tunggu putrimu dan teman-temannya."kata papa Irwan.
Sahrul sadar jika putrinya pasti berbuat masalah sehingga Irwan memanggilnya apalagi yang dilakukan oleh anak itu. Sahrul hanya bisa menghera nafas, dia tak menyangka jika Rima bisa berbuat seperti itu.
"Apalagi yang dilakukan oleh anak itu?"kata Sahrul.
"Kamu nanti juga tau."kata papa Irwan.
Saat mereka sedang berbicara sekertaris papa Irwan masuk dan memberitau kalau mereka tidak ada ditempatnya membuat papa Irwan semakin kesal. Papa Irwan langsung saja menyuruh Sahrul untuk menelpon putrinya, agar Rima dan lainnya segera datang kesini. Sahrul langsung saja menghubungi Rima agar dia cepat datang ke perusahaan.
"Dia akan segera datang kemari."kata Sahrul.
"Aku gak tau bagaimana kamu mengajari putrimu hingga sifatnya sampai sesombong ini."kata papa Irwan.
"Apa maksut kamu?"kata Sahrul.
Papa Irwan langsung saja membunyikan rekaman yang dikirim oleh Lydia tadi, Sahrul yang mendengar itu menjadi kesal. Dia tak tau lagi apa yang harus dia lakukan pada putrinya itu. Sudah sering dia menasehati putrinya itu tapi tetap saja dia berbuat masalah. Rima dan kedua temannya langsung saja masuk ke dalam ruangan papa Irwan.
"Ada apa om mencariku, loh kok ada papa disini?"kata Rima.
"Kamu darimana?"kata Sahrul.
"Aku dari kampus sebentar ada apa?"kata Rima.
"Kamu dari kampus buat apa? Bukannya seharusnya kamu mengerjakan tugas kantor?"kata papa Irwan dingin membuat Tiara dan Sisil takut.
"Kami ada urusan."kata Rima.
"Urusan, memangnya urusan apa yang lebih penting."kata papa Irwan.
__ADS_1
"Om, aku benar-benar ada urusan penting."kata Rima.
"Urusan seperti ini yang kamu maksut."kata papa Irwan yang langsung merekam rekaman suara yang membuat Rima dan kedua temannya itu terkejut.