Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ayah Danny tau tentang Shinta


__ADS_3

"Yah, aku gak tau soal ini yang aku tau perusahaan kita sama Jono sudah berakhir."kata Shinta.


"Kamu itu seorang pemimpin seharusnya kamu tau siapa saja yang bekerjasama dengan perusahaan kita. Sekarang kamu sama ayah urus saja siapa yang kerjasama dengan perusahaan setelah itu baru kalian tau apa yang harus kalian lakukan. Maaf aku masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."kata Ryan.


"Kamu ngusir kami, mas?"kata Shinta.


"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan mas aku jijik mendengarnya. Bukannya tadi aku bilang kalau kalian selesaikan saja dulu perusahaan mana saja yang bekerjasama dengan Karya corp dengan begitu kalian akan tau rencana apa yang kalian gunakan untuk menyelesaikan masalah ini."kata Ryan.


"Benar apa kata Ryan sebaiknya kita pergi dari sini, ayah ingin kembali melihat siapa saja yang bekerjasama dengan perusahaan kita."kata ayah Danny entah mengapa dia setuju dengan perkataan Ryan.


"Yah, kita kesini mau minta bantuan Ryan bukan malah kembali ke perusahaan."'kata Shinta.


"Kenapa kamu takut kalau ayah tau sesuatu?"kata Ryan.


"Apa maksutmu? Lagian buat apa aku takut kalau aku gak salah."kata Shinta berusaha tenang padahal dalam hatinya takut jika ketahuan apa yang sudah dia lakukan dengan perusahaan.


"Kalau gitu ikut ayah kembali ke perusahaan apa salahnya gak usah membantah."kata Ryan tegas membuat ayah Danny terkejut karena baru kali ini putranya berkata tegas pada Shinta.


"Sudah ayo kita kembali ke perusahaan."kata ayah Danny.


Shinta dengan terpaksa mengikuti ajakan ayah Danny untuk kembali ke Karya corp. Ryan sendiri setelah kepergian mereka berdua memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya disofa. Baru saja Ryan bisa tertidur pintu ruangannya dibuka dari luar, Dayat yang melihat kalau Ryan terbangun karena ulah menjadi gak enak hati.


"Maaf Yan, aku gak tau kalau kamu sedang tidur."kata Dayat.


"Gak papa ayo masuk ada apa?"kata Ryan.


"Nih, kamu pelajari dulu berkas ini."kata Dayat sambil menyerahkan berkas yang dia bawa pada Ryan.


"Berkas apa ini?"kata Ryan sambil menerima berkas dari Dayat.


"Kontrak kerjasama dengan perusahaan dari Itali."kata Dayat membuat Ryan mengerutkan keningnya.


"Apa untungnya jika kita kerjasama dengan perusahaan ini?"kata Ryan yang mulai tertarik dengan kontrak perjanjian yang dia baca itu.


"Kalau kerjasama kita sukses kita disana perusahaan itu akan membuka perusahaan diJakarta sehinga kita tetap bekerjasama dengan perusahaan kita. Kalau itu terjadi maka wakilnya akan bekerja terlebih dahulu diperusahaan kita sampai perusahaan itu dibuka disini. Bagaimana kamu tertarik gak?"kata Dayat.


"Mana proposal kerjasamanya biar aku baca lebih dahulu."kata Ryan meminta proposal karena dia gak bisa mengambil keputusan tanpa melihat proposal yang diajukan.


"Mereka belum mengirim proposalnya, jika kita mau kerjasama dengan kita baru mereka akan mengirimkan proposal itu."kata Dayat membuat Ryan terkejut.


"Yat, tumben kamu gak berpikir panjang tanpa melihat proposal sudah mau menerima kerjasama ini. Apa kamu mau perusahaan ini rugi jika proposal itu tak sesuai dengan apa yang kita harapkan?"kata Ryan kesal.


Dayat bukannya takut tapi malah tersenyum, dia yakin jika ada sesuatu dibalik kerjasama ini gak mungkin Jono akan melepaskan proyek kerjasama yang mengiurkan ini jika tak ada rahasia. Dayat berharap jika perusahaan itu adalah tempat Lydia bekerja, Dayat tau jika Lydia sekarang tinggal diItali tapi sampai sekarang tak ada yang tau dimana tinggalnya.


"Aku yakin dengan Jono."kata Dayat yakin.


"Apa maksutmu dengan Jono, aku gak ngerti?"kata Ryan.


"Yang mengenalkan perusahaan ini padaku adalah Jono."kata Dayat membuat Ryan terkejut.


"Kamu yakin kalau ini Jono yang memberikannya?"kata Ryan mencari kebenaran dari Dayat.


"Iya, aku yakin karena Jono bilang jika ini perusahaan milik teman sepupunya. Jadi kalau ada masalah kita bisa mencari melalui sepupu Jono itu."kata Dayat.


"Kenapa Jono malah memberikan pada kita padahal dia sendiri punya perusahaan?"kata Ryan.

__ADS_1


"Dia bilang kalau malas mau kerjasama dengan perusahaan yang bukan dibidangnya, dia ingat jika kamu suka tantangan dan hal baru makanya dia berikan pada perusahaan ini. Apalagi perusahaan ini sama dengan bidang kita fashion, makanan dan yang paling menarik mereka juga bekerja dibidang lingkungan."kata Dayat.


"Menarik, ya sudah kalau kayak gitu kamu hubungi Jono supaya mereka bisa mengirimkan proposal itu. Jika proposal itu menarik dan menguntungkan perusahaan akan aku terima."kata Ryan.


"Baiklah, kalau kayak gitu. Aku hubungi langsung pemilik perusahaan itu."kata Dayat.


"Kamu punya no pemilik perusahaan itu?"kata Ryan yang hanya bisa mengelengkan saat tau bagaimana temannya.


"Ada Jono sudah memberikannya padaku."kata Dayat.


"Ya sudah kalau kayak gitu aku mau tidur dulu bentar."kata Ryan.


Ryan menutup matanya lagi sambil menyandalkan punggungnya disofa, Dayat yang melihat hanya menghela nafasnya. Dayat berharap jika apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi jika Lydia berada diperusahaan itu. Dayat meninggalkan ruangan itu untuk menghampiri sekertaris Ryan, supaya sekertaris itu tak menerima tamu karena Ryan mau istirahat. Ryan juga tau kalau temannya itu bukan hanya lelah mencari Lydia tapi juga dengan sikap ayah dan Shinta yang selalu mengejarnya.


Dirumah orangtua Ryan, bunda Airin bersiap-siap ingin pergi kerumah mama Intan. Dia ingin mencaritau apa temannya itu tau dimana keberadaan Lydia. Bunda Airin gak tega melihat Ryan yang waktunya hanya dihabiskan untuk kerja, kerja dan mencari Lydia. Putranya itu sekarang seperti mayat hidup, apalagi tuntutan suami dan Shinta membuat Ryan semakin mejauh dari keluarganya. Saat bunda Airin turun dari tangga terlihat kalau suaminya datang dengan lesu, disana juga ada asisten pribadinya yang menunduk bunda Airin yakin jika terjadi sesuatu pada perusahaan. Bunda Airin menghampiri suaminya untuk menanyakan ada masalah apa sekalian dia mau izin keluar sebentar.


"Yah, kok jam segini sudah pulang? Ajak Hardi lagi, ada masalah?"kata bunda Airin sambil duduk disamping suaminya.


"Banyak sekali masalah diperusahaan tapi Hardi gak cerita sama aku, termasuk perubahan kontrak kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dengan perusahaan kita."kata ayah Danny sambil menghela nafasnya.


"Maksutnya perubahan kontrak bagaimana yah, bunda gak ngerti?"kata bunda Airin.


"Nona Shinta mengubah kontrak kerja sama dengan perusahaan lain agar perusahaan kita mengalami kerugian dengan begitu tuan muda Ryan akan kembali ke perusahaan. Tapi pada kenyataannya tuan muda Ryan tak ingin membantu karena dia sudah mengetahui semua ini lebih dahulu."kata Hardi takut-takut.


"Oke, lalu kenapa kamu gak bilang sama kami soal ini sama sekali?"kata bunda Airin yang kecewa.


"Saya sudah bertanya pada nona Shinta katanya tuan Danny sudah mengetahui semua ini dan beliau sudah menyetujuinya. Bodohnya saya percaya begitu saja sama nona Shinta."kata Hardi.


"Lalu bagaimana yah?"kata bunda Airin.


"Ayah gak tau lagi bun, sekarang Anton juga gak mau membantu perusahaan gara-gara perkataan ayah kemarin."kata ayah Danny membuat bunda Airin memandang kearah suaminya.


"Aku bilang sama dia kalau dia gak becus dalam menangani kasus ini, dia hanya bisa memfitnah Shinta saja. Aku juga bilang kalau dia masih ingin menguasai perusahaan makanya dia memfitnah Shinta."kata ayah Danny membuat bunda Airin menghela nafasnya.


"Apasih yah yang diberikan oleh putrimu itu sehingga ayah bisa gelap mata seperti ini?"kata bunda Airin.


"Kamu ngomong apa?"kata ayah Danny bingung dengan perkataan istrinya.


"Apa yang diberikan oleh putrimu sehingga kamu selalu membelanya?"kata bunda Airin.


"Bun, kamu curiga jika aku melakukan sesuatu dibelakangmu?'kata ayah Danny.


"Mungkin saja, aku juga gak taukan makanya kamu membela mati-matian putrimu itu."kata bunda Airin sinis.


"Bun, jaga ucapanmu. Aku selalu membela Shinta karena aku merasa kasian sudah sejak kecil dia tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya."kata ayah Danny.


"Lalu putramu bagaimana yang selalu kamu abaikan? Kamu juga tak perduli apa dia bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, seharusnya sebelum kamu melakukan sesuatu pikirkan dulu putramu. Dia putra kandungmu sedangkan Shinta hanya anak angkat dan belum pasti apakah itu anak dari adikmu atau bukan."kata bunda Airin membuta ayah Danny kesal.


"Apa maskutmu bilang begitu?"kata ayah Danny kesal sedangkan bunda Airin tersenyum sinis.


"Apa kamu lupa mas, perselingkuhan yang dilakukan oleh adik iparmu karena suaminya terlalu sibuk kerja. Apa kamu juga lupa bagaimana adikmu dan keluarganya mengalami kecelakan?"kata bunda Airin yang sudah gak tahan lagi dengan suaminya.


"Kalau Anton aku masih bisa menerimanya karena dia benar anak dari adikmu dan istrinya sedangkan Shinta, kamu tau sendiri kalau mereka sering bertengkar karena kelahiran Shinta. Atau jangan-jangan Shinta anak kamu dan adik iparmu itu karena aku waktu itu gak hamil-hamil juga?"kata bunda Airin yang semakin membuat ayah Danny naik pitam.


Ayah Danny berusaha untuk memendam amarahnya takut jika dia melukai istrinya dan istrinya akan pergi meninggalkan dirinya seperti dahulu. Ayah Danny juga membenarkan perkataan istrinya yang lebih mementingkan Shinta daripada Ryan yang jelas-jelas dia anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Duduklah Di, ada yang mau aku bicarakan sama kamu?"kata ayah Danny.


Hardi yang mendengar perkataan atasannya tanpa banyak bicara langsung saja duduk didepannya.


"Apa aku salah jika aku menyayangi Shinta, Di?"kata ayah Danny.


"Tuan tak salah menyayangi nona Shinta, tapi tuan juga gak bisa mengesampingkan kedua putra, tuan. Apalagi perasaan tuan muda Ryan yang sudah banyak berkorban untuk kebahagiaan kedua kakaknya. Padahal tuan muda Ryanlah yang anak kandung tuan, bukan mereka."kata Hardi.


"Kamu benar, aku terlalu perduli dengan Shinta daripada Ryan yang putraku sendiri. Di, kamu bisa caritau soal yang dikatakan istriku jika Shinta bukan anak dari adikku apa bukan?"kata ayah Danny.


"Baik tuan, tapi kalau memang benar jika nona Shinta bukan anak kandung adik tuan apa yang akan tuan lakukan?"kata Hardi.


"Kalau untuk meneruskan hubungan pernikahan Ryan dan Shinta gak akan aku lakukan karena aku tau jika kebahagiaan Ryan hanya pada Lydia menantuku. Aku ingin tau dimana menantuku itu berada, aku ingin kebahagian putraku tapi aku juga gak bisa membiarkan dia kembali jika Shinta belum sadar jika perasaannya pada Ryan salah."kata ayah Danny sambil menghela nafas.


"Kenapa tuan berbicara begitu, apa tuan takut jika hal terjadi dimasalalu terjadi juga dengan nona Lydia?"kata Hardi.


"Iya, kalau saja Lydia tak memiliki trauma aku akan membiarkannya berhadapan dengan Shinta. Tapi kenyataannya trauma Lydia yang membuatku takut jika traumanya itu akan semakin parah jika dibiarkan."kata ayah Danny.


"Jadi karena itu anda mengunakan rencana untuk membiarkan nona Lydia pergi?"kata Hardi.


"Iya, aku ingin Lydia sembuh dari traumanya setelah itu dia kembali dan memperjuangakan kembali Ryan. Jika memang menantunya itu masih mencintai suaminya."kata ayah Danny.


"Jadi ini rencana ayah?"kata Anton yang menghampiri ayahnya.


"Ton, kamu ada disini?"kata ayah Danny terkejut dengan kedatangan putra sulungnya.


"Kenapa aku gak boleh datang juga ke rumahku sendiri?"kata Anton sambil duduk disampingnya.


"Boleh, tapi ayah gak menyangka kalau kamu mau kesini."kata ayah Danny sambil tersenyum.


"Jadi ayah tau jika sudah sejak lama Shinta suka dengan Ryan? Atau jangan-jangan ayah juga tau kalau kematian Tiara juga ada kaitannya dengan Shinta?"kata Anton membuat ayah Danny terkejut.


"Apa maksutmu Shinta ada kaitannya dengan kematian Tiara?"kata ayah Danny meminta penjelasan.


"Putri kesayangan ayah itu bekerjasama dengan om Damar untuk mencelakai Tiara, dia berharap jika Tiara meninggal aku tak akan fokus dengan perusahaan dan Ryan bisa kembali ke perusahaan tapi nyatanya Ryan tak mau kembali ke perusahaan. Shinta juga berharap jika aku akan lebih memperhatikannya dan harapannya benar aku lebih memperhatikannya tapi tidak dengan Ryan yang biasa saja."kata Anton membuat ayah Danny menghela nafasnya.


"Kamu punya bukti jika Shinta dan om Damar yang menyebabkan kecelakaan Shinta?"kata ayah Danny dan juga diangguki oleh Hardi.


"Ada tapi aku sama Ryan masih menyimpannya karena kami ingin tau apalagi yang mau dilakukan oleh Shinta. Jika sudah keterlaluan mereka sepakat akan membawa Shinta dan tante Marsa beserta om Damar ke penjara."kata Anton.


"Kenapa dengan tantemu itu?"kata ayah Danny lagi.


"Keuntungan dari perusahaan kita beberapa bulan ini mengalir ke rek tante Marsa dan belakangan ini aku tau jika tante Marsa secara diam-diam berhubungan dengan om Damar. Kasian om Santo yang mereka bohongi selama ini."kata Anton membuat ayah Danny menghela nafas.


Ayah Danny gak menyangka jika keluarganya mempunyai masalah yang sangat besar dan gak bisa diabaikan begitu saja.


"Di, kamu selidiki semua ini. Selama kamu diperusahaan bersikaplah biasa seperti tak mengetahui tentang hal ini. Kita selesaikan pembiaraan ini sampai disini sebentar lagi Shinta pasti pulang."kata ayah Danny.


"Baik tuan, serahkan semuanya pada saya."kata Hardi berjanji.


Mereka mulai berbicara tentang hal lain seperti berita yang santel akhir-akhir ini, tanpa mereka sadari jika Shinta sudah berada disana. Sebenarnya Anton tau jika adiknya sudah sampai disana tapi dia tak menghiraukan. Anton tetap fokus dengan pembicaraan antara ayah dan asisten pribadi ayahnya itu.


"Ih nyebelin kalian kok gak sadar sih kalau aku ada disini daritadi?"kata Shinta kesal.


"Eh, sejak kapan kamu pulang kok ayah gak tau?"kata ayah Danny.

__ADS_1


"Ih ayah mah nyebelin sekali."kata Shinta sambil bersikap manja pada ayahnya.


Anton yang melihat itu sebenarnya jijik apalagi ada sesuatu yang dia sembunyikan dari keluarganya, Anton benar-benar jijik dengan adiknya yang mehalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan keinginannya termasuk tidur dengan para pimpinan perusahaan maupun wakil perusahaan.


__ADS_2