Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Saya Gak Terpesona


__ADS_3

Setelah Alan pergi, banyak orang yang mencibir dokter Shinta karena telah bertindak di luar batas kepada Rea, "Harusnya dokter Shinta gak nyebar fitnah kayak gini, kalau kapten Alan tetap melaporkan dokter Shinta, maka Raila aneh sakit tidak bisa membantu dokter Shinta," ucap dokter Gabby.


Ya, dokter Shinta lah yang menyebarkan berita mengenai Rea yang tengah hamil. Saat di kamar mandi dokter Shinta sebenarnya berada di luar kamar mandi dan berniat untuk masuk, tapi saat baru saja membuka pintu kamar mandi ia melihat Rea, akhirnya dokter Shinta berhenti dan mengintip Rea. Betapa terkejutnya dokter Shinta saat tahu Rea tengah hamil karena itu dokter Shinta mulai menyimpulkan sendiri bahwa Rea hamil di luar nikah. Semua orang tahu jika Rea tidak memiliki pasangan dan dapat di pastikan apa yang di alami Rea adalah karena accident. Tanpa memastikan kebenarannya dokter Shinta justru mengatakannya secara terang-terangan kepada tenaga medis dan juga para pasien yang ada di rumah sakit, dokter Shinta puas karena banyak yang memandang rendah Rea.


Namun, pernyataan Alan tadi adalah sebuah boomerang bagi dokter Shinta, ia takut jika Alan benar-benar melaporkannya ke pihak berwajib. Apalagi ia sudah di laporkan ke komite kedisiplinan, "Gue gimana ini?" tanya dokter Shinta pada dirinya sendiri.


"Iya, direktur Bagas," gumam dokter Shinta dan pergi dari lobby rumah sakit lalu menghubungi direktur Bagas.


Berkali-kali dokter Shinta menghubungi direktur Bagas, tapi tidak diangkat. "Sial! dia beneran jauhin gue," geram dokter Shinta.


Disisi lain Alan kembali ke tempat Rea di rawat, di sana ada Rea dan juga Qilla. Alan menghampiri Rea dan mengecup kening istrinya itu, "Kamu gapapa? ada yang sakit?" tanya Alan.


"A-aku gapapa kok, ehm kamu gak kasar kan sama dokter Shinta?" tanya Rea.


"Kamu mau aku apakan dia?" tanya Alan.


"Aku terserah sih yang penting jangan main tangan, gimanapun dokter Shinta perempuan," ucap Rea.


"Iya, sayang. Aku tahu kok," ucap Alan dan menggenggam tangan Rea tak lupa ia juga mengusap lembut punggung tangan tersebut.


Qilla dan Nina yang melihat kemesraan pasangan di depannya hanya mengerjapkan matanya, "Hem, kita pergi dulu ya, Re," ucap Qilla.


"Saya kira kalian udah pergi," ucap Alan.


"I-ini kita mau pergi kapten," ucap Qilla.


"Saya rasa kalian sudah besar bukan, kalau ada masalah jangan menghindar, tapi selesain," ucap Alan.


"I-iya kapten, saya juga sudah minta maaf sama Rea," ucap Qilla.


"Bagus, kalau begitu kalian pergi," ucap Alan, yang diangguki Qilla dan Nina.


Baru saja Qilla dan Nina akan keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan beberapa orang yang masuk, "Dokter Rea," panggil Laras.


"Ada apa?" tanya Rea.


"Maafin saya, saya sudah berkata buruk tentang dokter Rea," ucap Laras.


"Iya, tapi jangan diulangi. Kamu tahu bukan kalau saya itu orangnya gak enak-an jadi jangan nangis lagi," ucap Rea, sara melihat Laras yang mulai meneteskan air mata.

__ADS_1


Sedangkan, saat ini terdapat seorang perempuan yang sejak masuk ruangan tersebut hanya menatap pemandangan di depannya dimana sang pria yang duduk di kursi yang ada di sebelah brankar dan tak lupa tangannya menggenggam dan mengecup punggung tangan perempuan yang ada di atas brankar. Siapa lagi kalau bukan Fafi, matanya tiba-tiba merasa panas karena melihat kemesraan Alan dan Rea.


Pria yang selama ini ia dambakan dan selalu ia sebut dalam doanya justru bersanding dengan perempuan lain bahkan lebih parahnya perempuan itu adalah Rea yang merupakan orang yang sangat Fafi hormati kare telah membantunya selama ini.


Rea sendiri mengerti arti tatapan Fafi pada Alan, ia juga ingat saat menjadi relawan dulu dimana Fafi dan salah satu dokter yang jadi relawan juga membahas mengenai Alan. Melihat hal itu Rea pun membalas genggaman tangan Alan tak kalah erat dari Alan. Fafi sendiri semakin panas melihatnya, ia tidak kuat lagi melihat kemesraan Alan dan Rea. Dengan cepat Fafi menghapus air matanya agar tidak dilihat oleh orang-orang.


"Dokter Rea maafkan kami semua, kami salah telah memperlakukan dokter Rea dengan buruk," ucap salah satu perawat.


"Enak saja minta maaf, kalian akan tetap di laporkan ke komite kedisiplinan," ucap Alan.


Baru saja Rea akan berbicara tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka dan menampilkan sosok Mama Dira dan Dea yang ada di belakang mama Dira yang berlari kearah Rea, "Astaga menantu Mama, kok bisa kayak gini sih kamu? terus gimana kamu baik-baik aja? ada yang sakit sini bilang ke Mama?" tanya Mama Dira.


"Rea gapapa kok, Ma. Rea baik-baik aja," ucap Rea.


"Terus cucu Mama gimana?" tanya Mama Dira.


"Cucu Mama baik-baik aja kok dia anaknya kuat," ucap Rea.


"Huh syukurlah, siapa yang berani lukai kamu sama cucu Mama sini biar Mama tarik rambutnya sampe jatuh?" tanya Mama Dira.


"Jangan lupa aja Dea ya, Ma," ucap Dea.


"Mama sama Dea kok bisa ada di sini dan tahu kalau Rea di rawat?" tanya Alan.


"Tadi itu Mama habis jenguk menantinya Bu Ajeng yang baru melahirkan terus sekalian Mama mau mampir ke menantu Mama eh di pertengahan jalan Mama denger berita yang gak enak dan langsung nyari menantu Mama yang katanya dirawat," ucap Mama Dira.


"Sekarang mana orang yang udah buat menantu kesayangan Mama kayak gini?" tanya Mama Dira.


"Mama tenang ya udah Mas Alan urus semuanya," ucap Rea.


"Gak bisa sayang, Mama harus kasih perhitungan buat dia, enak aja dia buat menantu Mama kayak gini," ucap Mama Dira.


"Kalau tante mau ke orangnya mari saya antar," ucap Qilla.


Rea menatap tajam Qilla, "Gak usah, biar Mama di sini aja," ucap Rea.


"Yaudah, ayo kamu antar saya ketemu sama orangnya," ucap Mama Dira.


"Siap Tante!" ucap Qilla, dengan semangat. Karena tadi ia tidak melihat pertengkaran antara Alan dan dokter Shinta, maka ia akan melihat pertengkaran mertuanya Rea dan dokter Shinta.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana menatap kepergian Qilla dan Mama Dira, "Oh iya, kalian pergi aja Rea udah gapapa. Lagipula tadi Rea bilang udah maafin kalian kan, tapi meskipun gitu kalian tetap dilaporkan ke komite kedisiplinan," ucap Alan.


Mereka pun menunduk karena melihat ketegasan Alan bahkan Fafi sudah tidak Bernai menatap Alan dan Rea, "Iya, kalian pergi aja. Saya sudah maafkan kalian kok," ucap Rea.


Mereka pun pergi dari ruangan tersebut, "Kenapa harus dimaafin sih Re?" tanya Nina.


"Ya, gapapa pengen aja," ucap Rea.


"Oh iya, kamu kenapa gak ikut Mama, tadi katanya mau ikut batik rambutnya?" tanya Alan, pada Dea yang tengah asik makan buah apel yaitu buah kesukaannya.


"Nanti deh kak, ini sayang banget apelnya kalau gak ada yang makan," ucap Dea.


"Kok ada buah? kayaknya tadi gak ada buah deh," tanya Rea.


"Itu dari mereka tadi loh yang minta maaf," ucap Nina dan diangguki Rea.


Disisi lain saat ini Mama Dira sudah masuk ke dalam ruangan dokter Shinta, di sana ada dokter Shinta dan beberapa tenaga medis, "Cari siapa ya, Bu?" tanya salah satu orang yang ada disana.


Mama Dira tidak menjawab orang tersebut karena Mama Dira justru menatap dokter Shinta, "Kenapa Ibu ngelihat saya gitu banget? oh pasti terpesona sama kecantikan saya ya? ya emang sih saya itu cantiknya gak ketulungan," tanya dokter Shinta, dengan percaya diri.


"Saya gak terpesona, saya itu malah gemes tahu gak saya sama kamu, saya juga mau kasih perhitungan buat kamu," ucap mama Dira dan mendekati dokter Shinta.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengarlah suara teriakan kesakitan dari dokter Shinta, bagaimana tidak tiba-tiba Mama Dira menarik rambut dokter Shinta ke belakang hingga membuat dokter Shinta jatuh dengan posisi terlentang. Dokter Shinta tentunya terkejut lantas berdiri dan menatap Mama Dira.


"Santai dong tuh mata jaya mau jatuh aja nih saya siapin lem siapa tahu matanya copot, udah aja saya sibuk," ucap Mama Dira, dengan memberikan sebuah lem kertas yang ada di atas meja tadi ke dokter Shinta dan setelah itu Mama Dira pergi dengan diikuti Qilla.


"Wah, tante keren!" puji Qilla.


"Iya dong, tante gitu," ucap Mama Dira.


Sedangkan dokter Shinta uring-uringan setelah kepergian Mama Dira, "Siapa sih ibu tua tadi berani-beraninya dia narik rambut gue?" tanya dokter Shinta.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2