Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Akrab


__ADS_3

Sore harinya Rea dan Nina pun selesai bekerja dan akan menjemput Sivia di bandara, "Btw, dia dari negara mana emangnya?" tanya Nina.


"Gak tahu juga sih kayaknya Inggris deh atau dimana ya, gak tahu lah gue," ucap Rea.


"Cantik gak dia?" tanya Nina.


"Gue gak tahu soalnya lupa gak lihat dulu fotonya," ucap Rea.


"Terus kita nanti tahu dianya gimana?" tanya Nina.


"Gue udah punya kontaknya kok nanti gue chat dia," ucap Rea dan diangguki Nina.


Mereka berdua pun menuju bandara dan beberapa saat kemudian mereka sampai di bandara, "Rame banget ya," ucap Nina.


"Namanya juga bandara kalau lo mau sepi ya ke kuburan sana," ucap Rea.


"Sewot aja lo," ucap Nina.


Mereka menunggu hingga 10 menit. Namin, belum ada tanda-tanda kedatangan Sivia, "Dia sampe mana?" tanya Nina.


"Tadi dia bilang uda di pesawat kok terus pas gue tanya sampainya ya kemungkinan jam setengah 5," ucap Rea.


"Bentar lagi berarti," ucap Nina.


Benar saja setelah mengatakan hal itu tiba-tiba terlihat seorang perempuan cantik yang berjalan menggeret koper dan melihat ke sekelilingnya, "Itu bukan dia?" tanya Nina dan menunjuk perempuan tersebut.


"Mana gue tahu, tadi katanya dia bakal nelpon kok kalau udah sampe," ucap Rea.


Terdengar suara dering ponsel yan berasal dari ponsel Rea, Rea pun segera mengangkat sambungan telepon tersebut yang ternyata dari Sivia, Rea hanya menanyakan keberadaan Sivia dan setelah tahu dimana Sivia berada Rea pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Gimana?" tanya Nina.


"Iya, perempuan yang lo tunjuk tadi Sivia," ucap Rea.


"Beneran? wah cantik banget dong berarti dia, kayaknya dia model deh kok tinggi gitu mana pakaiannya kelihatan mahal," ucap Nina.


"Udah ayo kita samperin dia," ajak Rea.


Rea dan Nina pun menghampiri Sivia, "Sivia ya?" tanya Rea.


Sivia mendongak menatap Rea dan Nina, "Rea ya, istrinya kapten Alan," ucap Sivia dan diangguki Rea.


"Maaf ya ngerepotin," ucap Sivia.


"Gapapa kok lagian aku juga gak merasa repot, oh iya kenalin ini sahabatku namanya Nina," ucap Rea.


"Hai, Sivia," sapa Sivia.


"Nina," ucap Nina.


"Kalau gitu kita kemana ini?" tanya Rea.


"Gimana kalau kita ke rumahnya Alvin aja soalnya nanti aku sama Alvin mau ke rumah keluargaku," ucap Sivia dan diangguki Rea.


"Yaudah ayolah kita berangkat," ucap Nina.


Mereka bertiga pun dalam perjalanan menuju rumah Alvin, Nina yang berada di kursi kemudi dan di sebelahnya ada Rea lalu di kursi belakang di tempati Sivia, "Btw, kamu kuliah ya?" tanya Nina.


"Iya, aku kuliah," ucap Sivia.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu kamu kuliah dimana ya?" tanya Nina.


"Oh aku kuliah di Belgia," ucap Sivia.


"Oh Belgia, lo salah Re katanya tadi kuliah di Inggris," ucap Nina.


"Kan gue tadi juga bilang gak tahu, hehehee," ucap Rea.


"Jurusan apa?" tanya Nina.


"Design," ucap Sivia.


"Fashion?" tanya Rea.


"Ya, design fashion," ucap Sivia.


"Wah, designer dong. Dulu aku itu juga pengen masuk ke jurusan designer, tapi orangtua gak setuju malah nyuruh ngambil kedokteran," ucap Nina.


"Kedokteran justru keren loh," ucap Sivia.


"Iya, tapi ya gitu capek kalau ada pasien," ucap Nina.


"Hush," peringat Rea dan membuat mobil penuh dengan tawa


"Usia kandungan kamu berapa bulan?" tanya Sivia.


"Hem, 21 Minggu kira-kira udah 5 bulan lah," ucap Rea.


"Udah 5 bulan aja kayaknya dulu Alvin bilang kalau Alan nikahnya gak lama deh," ucap Sivia.


"Iya, mereka kan nikahnya sembunyi-sembunyi," ucap Nina.


"Hehehe, iya aku nikahnya gak bilang-bilang ke semuanya makanya mungkin kayak gak lama ya," ucap Rea dan diangguki Sivia.


"Kan mereka lagi ada urusan," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gitu gue pergi pulang dulu deh," ucap Nina.


"Loh kok pulang, makan di sini duluan aja, lagian lo pasti capek kan," ucap Rea.


"Gak usah deh, gue langsung pulang aja biar cepet istirahat," ucap Nina.


"Oalah yaudah deh, makasih ya tadi udah mau anterin pulang," ucap Rea.


"Santai aja kali yaudah gue pergi dulu dah," pamit Nina, yang diangguki Rea dan Sivia lalu setelah itu Nina pun pergi meninggalkan rumah Alvin.


"Kamu mau masuk ke rumah Alvin atau mau mampir ke rumahku dulu?" tanya Rea.


"Hem, ke rumah kamu aja dulu deh soalnya gak ada siapa-siapa di rumahnya Alvin," ucap Sivia dan diangguki Rea.


Mereka berdua berjalan menuju rumah Alan dan setelah itu masuk ke dalam, "Kamu duduk aja dulu biar aku siapin minumannya," ucap Rea dan diangguki Sivia.


Beberapa saat kemudian, Rea pun kembali dan membawa minuman untuk Sivia dan ia duduk di sebelah Sivia, "Kalau boleh tahu kamu udah berapa lama menjalin hubungan sama sersan Alvin?" tanya Rea.


"Hem, kalau tunangannya sih baru 1 tahun, tapi kalau kenalnya udah cukup lama karena aku itu kenal waktu kapten Alan naik pangkat," ucap Sivia.


"Kok bisa kamu kenal sersan Alvin saat Alan naik pangkat?" tanya Rea.


"Ayahku itu pensiunan tentara dan saat kapten Alan naik pangkat ayahku hadir dan tiba-tiba jodohin aku sama Alvin nah mulai dari situ aku sama Alvin kenal dan yaudah kita memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius," ucap Sivia dan diangguki Rea.

__ADS_1


"Sersan Alvin itu orangnya nakutin gak sih?" tanya Rea.


"Kenapa kamu tanya gitu? pasti kamu takut kan sama Alvin karena dia jarang bicara sama kamu dan kalau bicara pun dia jutek banget," tanya Sivia.


"Ehm, i-iya sih," ucap Rea.


"Dia emang gitu, kalau pun dia ngomong pasti langsung bikin sakit hati, aku aja sering kok dibikin sakit hati sama ucapannya Alvin," ucap Sivia.


"Oh gitu, aku soalnya agar gimana gitu kalau sama sersan Alvin, dia kayak kurang bersahabat gitu sama aku bahkan sama yang lainnya juga hampir sama sih," ucap Rea.


"Gapapa kamu gak usah takut, dia emang orangnya kayak gitu, tapi kami percaya deh sama aku. Dia itu orangnya baik banget bahkan dia itu cuek, tapi pedulinya minta ampun," ucap Sivia.


"Oh iya, aku mau mandi dulu ya," ucap Rea.


"Oh iya, terlalu fokus ngobrol sih kita," ucap Sivia.


Rea pun membersihkan dirinya dan setelah itu membuat susu ibu hamil terlebih dahulu dan setelah semuanya selesai barulah Rea kembali ke ruang tamu dan melanjutkan obrolannya tadi dengan Sivia. Mereka berdua saling mengobrol dan lambat laun mereka menjadi akrab antara satu sama lain.


Karena terlalu asik mengobrol mereka tidak sadar jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah, "Kebiasaan deh kalau lagi ngobrol pasti gak denger apa-apa," ucap Alan dan membuat Rea dan Sivia menatap kearahnya.


"Loh kok udah pulang," ucap Rea dan menghampiri Alan.


"Kamu tuh ya kebiasaan kalau lagi asik ngobrol itu gak denger apa-apa masa aku ketuk pintu gak di respon dan waktu aku masuk kamunya malah gak tahu," ucap Alan.


"Hehehe, maaf ya," ucap Rea, dengan senyum cerahnya.


"Iya aku maafin, tapi lain kali gak boleh kayak gitu lagi ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Oh ada Sivia," ucap Alan.


"I-iya kapten," ucap Sivia.


"Tadi Alvin udah pulang coba aja ke sana," ucap Alan dan diangguki Sivia.


"Kalau begitu saya ke rumahnya Alvin dulu, makasih ya Rea udah bantuin aku," ucap Sivia dan diangguki Rea.


"Kalau begitu permisi," pamit Sivia dan pergi meninggalkan Rea dan Alan.


"Lain kali gak boleh kayak gitu," ucap Rea.


"Gak boleh kenapa?" tanya Alan.


"Kamu itu kalau bicara sama orang harus senyum gak boleh datar gitu mukanya," ucap Rea.


"Gapapa kok, oh iya kamu udah mandi?" tanya Alan.


"Udah," ucap Rea.


"Udah minum susu hamil?" tanya Alan dan diangguki Rea.


"Yaudah, kalau gitu kamu istirahat duduk dulu aja nanti kan katanya mau makan malam sama pasien kamu itu kan," ucap Alan.


"Astaga iya aku lupa kalau nanti malam malam sama Bu Andriani," ucap Rea.


"Yaudah, aku mandi dulu biar kita bisa langsung pergi," ucap Alan dan diangguki Rea.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2