
Kurang lebih selama 7 jam Rea menunggu pembukaan lengkap, akhirnya pembukaan Rea pun sudah lengkap, Rea membutuhkan waktu 8 jam untuk mencapai pembukaan ke 10 dan tentunya itu menyakitkan bagi Rea bahkan tangan tubuh Alan sudah sakit karena ulah sang istri, tapi itu belum apa-apa bagi Alan saat melihat Rea yang begitu kesakitan, "Kita langsung proses persalinan," ucap dokter Karin.
Alan menemani Rea saat proses persalinan, selama di ruangan tersebut Alan tidak kuat melihat dan mendengar erangan kesakitan dari istrinya itu. Ya, Rea akhirnya memutuskan untuk melakukan persalinan secara normal karena dokter Karin mengatakan jika kondisi Rea sangat baik dan bagus jika melakukan persalinan secara normal dan sebab itu akhirnya Rea memutuskan persalinan secara normal.
"EUNGH AAAA," erang Rea.
"Sayang, kamu pasti bisa," ucap Alan dan memegang tangan Rea berusaha untuk menguatkan istrinya itu.
"Gak ku-kuat," lirih Rea.
"Sedikit lagi dokter Rea," ucap dokter Karin.
Akhirnya setelah beberapa saat kemudian terdengar suara tangis bayi yang membuat Alan melihat secara langsung anaknya yang baru saja lahir, melihat anaknya secara langsung Alan merasa darahnya berdesir hebat dan tanpa aba-aba ia meneteskan air matanya. Namun, ia segera menghapus air matanya dan menoleh pada istrinya yang saat ini sangat lemas.
"Selamat pak, putri cantik anda telah lahir dengan sehat," ucap dokter Karin.
"Anak saya perempuan dok," ucap Alan.
"Iya, anak anda perempuan," ucap dokter Karin.
Alan sangat bahagia karena Tuhan mendengar doanya, selama ini Alan memang mengatakan jika ia tidak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya, tapi jika ditanya Alan ingin memiliki anak perempuan atau laki-laki, maka Alan akan menjawab untuk memilih anak perempuan. Alan menatap putri kecilnya dan kembali menatap istrinya yang tidak sadarkan diri.
"Dok, ini istri saya kenapa?" tanya Alan, saat melihat Rea yang menutup matanya.
"Dokter Rea kelelahan hingga pingsan, sebentar lagi dokter Rea pasti sadar, anda tidak perlu khawatir," ucap dokter Karin dan diangguki Alan.
Dokter Karin dan beberapa perawat lainnya pun membersihkan putri kecilnya Alan dan Alan menemani istrinya, Alan terus mengusap lembut istrinya yang masih menutup matanya, ia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan maaf karena membuat Rea seperti sekarang. Hingga beberapa saat kemudian, Alan merasakan pergerakan dan membuat Alan menatap ke arah istrinya itu.
"Sayang, kamu udah bangun," ucap Alan dan bertepatan dengan itu dokter Karin datang menghampiri Alan dan Rea lalu dokter Karin memeriksa keadaan Rea.
"Dokter Rea sudah mulai membaik, tapi dokter Rea tidak boleh banyak bergerak dulu ya," ucap dokter Karin dan diangguki Rea.
"Anak saya mana dok?" tanya Rea, dengan suara serak.
"Anak dokter Rea sedang di bersihkan, selamat ya dokter Rea anaknya cantik sekali seperti dokter Rea," ucap dokter Karin.
"Anak saya perempuan?" tanya Rea.
"Iya, dok," ucap dokter Karin.
Beberapa saat kemudian, datanglah perawat bersama seorang bayi yang berada di gendongannya, "Ini dok bayinya," ucap perawat tersebut dan Rea pun menggendong putri cantiknya untuk pertama kalinya.
Alan pun setia berada di samping istrinya, ia sangat senang melihat Rea yang menggendong putrinya itu. Namun, kegiatan lihat melihat itu harus buyar karena beberapa orang yang masuk ke dalam ruang inap Rea. Siapa lagi kalau bukan keluarganya dan teman-temannya.
"Aduh, cucu Oma," ucap mama Dira dan menghampiri Rea.
"Cantik banget cucu kita," ucap bunda Nara.
"Banget, ini aneh ngikut Alan semuanya," ucap bunda Nara.
"Masa ngikut mas Alan semuanya sih ma, kan yang hamil aku, yang ngelahirin juga aku," ucap Rea.
__ADS_1
"Hehehehe, iya deh kamu kebagian matanya," ucap bunda Nara.
"Anak kamu cantik banget sumpah, kayaknya kalau udah gede ini bakal jadi playgirl nih," ucap kak Ray.
"Apaan sih kak Ray ini," ucap Rea.
"Tau nih kamu Ray," ucap bunda Nara.
"Mau lihat," ucap Nina.
"Boleh, tapi Qilla gak boleh ya," ucap Rea.
"Lah kok gitu sih, gue juga pengen lihat kali," ucap Qilla.
"Gak boleh, ini hukuman buat lo karena udah buat gue panik," ucap Rea.
"Hehehehe, maaflah. lo nya sih langsung matiin teleponnya kan gue belum selesai ngomong, gue itu mau ngomong, tapi yang kena tembak itu anggotanya kapten Alan dan kapten Alan nya baik-baik aja," ucap Qilla.
"Ya tetep aja," ucap Rea.
"Gimana sama anggota kamu dia baik-baik aja?" tanya papa Aldi.
"Tadi Alan data kabar kalau kondisi Kino mulai membaik setelah masa kritisnya dan sekarang masih dirawat," ucap Alan.
"Kok bisa ketembak Lan?" tanya mama Dira.
"Tadi ada salah satu anggota tim lain yang kurang setuju dengan pendapat Alan mengenai pembentukan tim khusus dan mereka langsung melayangkan tembakan gitu katanya rencana Alan itu hanya menguntungkan beberapa orang aja dan ternyata setelah di selidiki, pria tadi bukan anggota tentara dan dia itu penyusup. Alan juga kurang tau gimana dia bisa di sana, tapi yang jelas orang dalam ikut andil dalam hal ini karena gak mungkin sembarangan orang bisa masuk ke tempat latihan dan sekarang masih di selidiki pihak berwajib," ucap Alan.
"Iya, Bun," ucap Alan.
Mereka pun saling mengobrol dan tentunya obrolan tersebut mengarah pada bayi mungil yang masih berada di gendongan mama Dira, "Kenapa dia gak mau buka mata sih, kan aunty pengen lihat mata kamu sayang," ucap Qilla.
"Anak gue gak mau lihat lo, La. Kayaknya dia udah dari bayi gak suka sama lo soalnya tadi dia sedikit buka mata kok," ucap Rea.
"Jangan dengerin ucapan mommy mu ya sayang," ucap Qilla.
"Bunda," ucap Alan, yang sedari tadi berada di samping Rea dan tak lupa ia juga mengusap lembut punggung tangan Rea.
"Hah." Qilla menatap Alan dengan tatapan bertanya-tanya.
"Baby-nya nanti manggil Rea bunda dan manggil saya ayah bukan mommy atau daddy," ucap Alan.
"Lah, kenapa kak. Padahal bagusan mommy loh biar keren?" tanya Dea.
"Iya, bagusan mommy loh," ucap mama Dira.
"Alan sukanya bunda," ucap Alan.
"Papa juga setuju, menurut papa panggilan ayah sama bunda itu lebih halus dan lebih indah," ucap papa Aldi dan diangguki Alan.
"Yaudah deh manggilnya ayah bunda kalau gitu," ucap Qilla.
__ADS_1
"Oh iya, siapa nama anak kamu?" tanya mama Dira.
"Nanti Alan kasih tau, tapi untuk saat ini Alan harus bicarain sama Rea dulu," ucap Alan dan diangguki mama Dira.
Tiba-tiba suara tangisan bayi membuat semua orang yang ada di sana terkejut, "Kayaknya anak kamu haus deh, kamu susuin gih," ucap bunda Nara dan diangguki Rea.
"Gimana caranya?" tanya Rea.
"Yaudah, kalau gitu semuanya keluar dari ruangan Rea ya," ucap mama Dira dan semua orang pun pergi kecuali mama Dira, bunda Nara dan Alan tentunya.
"Kamu kenapa gak pergi?" tanya Rea.
"Kalau Alan biarin dia di sini, biar dia belajar dan bisa bantu kamu kalau di rumah," ucap bunda Nara.
"Ish, malu," cicit Rea, yang masih dapat di dengar semua orang yang ada di sana.
"Astaga, malu kenapa sih memangnya kamu waktu cetak anak kamu pake baju apa sampe malu segala, Alan juga udah lihat semuanya kali," ucap bunda Nara, yang membuat Rea semakin malu.
Tak heran bukan jika kak Ray dan Gia asal ceplos jika berbicara ya karena memang keturunan, kalau Rea mah beda, ia lebih mirip ayah Argi, pikir Rea.
"Bunda mah kan Rea makin malu," ucap Rea.
"Udah ini baby-nya susuin duku, gak usah malu kalau Alan mau ya tinggal kamu kasih aja," ucap bunda Nara.
"Ih bunda mah," ucap Rea, yang membuat bunda Nara dan Mama Dira tertawa.
Saat pertama kali Rea merasakan sesuatu yang berbeda-beda bahkan aneh baginya, sakit sudah pasti, geli banget, tapi lama kelamaan Rea mulai terbiasanya. Setelah membantu dan mengajari cara Rea cara menyusui, mama Dira dan bunda Nara pun pergi dari ruangan tersebut sehingga saat ini di ruangan tersebut hanya ada Rea, Alan dan putri cantik mereka.
"Jangan liatin terus, aku malu tau," rengek Rea, karena sedari tadi Alan terus melihat ke arah dadanya.
"Maaf sayang, aku terlalu semangat ngelihat baby-nya minum, ini pertama kalinya aku ngelihat kayak gini," ucap Alan.
"Iyalah, emang kamu mau lihat orang lain kayak gini," ucap Rea.
"Gak sayangku," ucap Alan dan mengecup pipi Rea.
"Awsh," rintih Rea.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Sakit," ucap Rea.
"Tadi kata mama gapapakan soalnya pertama kali menyusui emang sakit," ucap Alan dan diangguki Rea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1