Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
CUMA 2 MINGGU!


__ADS_3

Usia kandungan Rea saat ini sudah memasuki 7 bulan dan saat ini Rea masih belum cuti, "Re, lo lama banget dah cutinya," ucap Nina.


"Lo kenapa sih kayaknya selalu tanya gitu? jangan bilang kalau lo udah bosen ya lihat gue?" tanya Rea.


"Astaga gak gitulah Re, gue itu cuma khawatir aja nanti kalau lo tiba-tiba brojol di sini gimana?" tanya Nina.


"Ini masih 7 bulan kali lagian kan ada dokter Karin," ucap Rea.


"Iya juga sih ya, tapi kalau lo kecapean gimana? bisa-bisa gue yang kena semprot kapten Alan," ucap Nina.


"Yaudah, lo semprot balik aja kalau gitu," ucap Rea.


"Gak beranilah gue," ucap Nina.


"Btw, Qilla belum dateng ya?" tanya Rea.


"Dia tadi udah berangkat kok sama sersan Ryan," ucap Nina.


"Gue gak nyangka deh ternyata Qilla jodohnya sama sersan Ryan," ucap Rea.


"Sama gue juga gak nyangka bahkan nih ya gue kira sersan Ryan itu cuma bercanda waktu ngajak Qilla nikah eh tau-taunya ternyata beneran jadi dong," ucap Nina.


"Mereka udah seminggu lamarannya kan?" tanya Rea dan diangguki Nina.


"Terus sersan Ryan udah tahu dimana papanya Qilla belum?" tanya Rea.


"Belum, Qilla udah tanya ke sersan Ryan, tapi katanya dia gak tahu dimana papanya, tapi sersan Ryan tetep nyari papanya Qilla," ucap Nina.


"Semoga sersan Ryan cepet ketemu sama papanya Qilla ya," ucap Rea.


"Amin."


Beberapa saat kemudian, Qilla pun datang dan duduk di kursinya, "Kenapa tuh muka?" tanya Nina, saya melihat Qilla masuk dengan wajah cemberutnya.


"Sebel banget! masa katanya Ryan bakal ada tugas di perbatasan lagi," ucap Qilla.


"Sersan Ryan? terus kalau yang kapten Alan gimana?" tanya Rea.


"Gak tahu katanya sih iya juga," ucap Qilla.


"Ihhh kok gak bilang sih. Masa istrinya lagi hamil malah ditinggal," ucap Rea.


"Berapa lama emangnya?" tanya Nina.


"2 Minggu," ucap Qilla.


"Astaga, cuma 2 Minggu aja santai kali," ucap Nina.


"CUMA 2 MINGGU!" pekik Rea dan Qilla.


"Wah, santai dong masa langsung ngegas gitu sih," ucap Nina.


"2 Minggu itu lama loh ya, masa gue sendirian di rumah kan takut," ucap Rea.


"Yaudah, lo tinggal di rumah gue aja nanti kita bertiga bisa satu rumah," ucap Nina.

__ADS_1


"Pinter juga yaudah deh nanti kalau Alan ngasih tahu gue, gue bakal izin ke dia," ucap Rea.


Malam harinya Rea sudah berada di rumah dan menunggu Alan yang tengah mandi hingga beberapa saat kemudian, Alan pun keluar dari kamar mandi, "Kenapa sayang?" tanya Alan.


"Gapapa kok, kamu pasti laper ya ini udah aku masakin," ucap Rea dan diangguki Alan.


Mereka berdua pun makan malam dengan nikmat dan setelah makan malam Rea tiba-tiba saja ingin semangka sehingga Alan membelikannya terlebih dahulu di minimarket dekat rumah dan setelah membelinya Alan memberikannya pada Rea. Mereka saat ini duduk di sofa yang ada di ruang tamu, dengan Alan yang berada di belakang Rea dan memeluk Rea serta Rea yang menyenderkan tubuhnya pada Alan. Tak lupa Alan juga selalu mengusap lembut perut istrinya yang semakin hari semakin besar bahkan Rea semakin sering merasakan sakit pada perutnya karena memang usia kehamilannya yang mendekati lahiran.


"Sayang," panggil Rea.


Tangan kiri Alan yang menganggur pun ia gunakan untuk mengusap lembut rambut istrinya itu, Alan tahu jika sedari tadi ada yang ingin dibicarakan istrinya apalagi saat ini Rea memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.


"Ada apa hem?" tanya Alan.


"Kata Qilla sersan Ryan bakal ada tugas di perbatasan lagi, itu artinya kamu juga dong?" tanya Rea.


"Huh, aku memang ditawari soal itu, tapi aku belum mutusin bakal pergi atau gak," ucap Alan.


"Kenapa? bukannya kalau tugas itu harus pergi ya?" tanya Rea.


"Iya, tapi aku gak mau kamu sendirian, apalagi kamu lagi hamil. Pasti nanti baby-nya kalau malam nakal," ucap Alan.


"Gapapa kok kamu ikut aja, aku baik-baik aja," ucap Rea.


"Tumben, biasanya aja kalau aku pulangnya malam kamu nyariin kayak orang gila gitu kok sekarang malah nyuruh aku ikut, ini bukan satu atau dua hari loh, tapi dua Minggu," ucap Alan.


"Iya, gapapa. Kamu akan emang harus lakuin tugas kamu," ucap Rea.


"Aku pikir-pikir dulu lagi aja," ucap Alan.


Saat mereka tengah asik berduaan tiba-tiba suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut, "Siapa yang malem-malem datang?" tanya Alan, pada dirinya sendiri.


"Itu Jeffry mungkin," ucap Rea.


"Jeffry? kenapa emangnya Jeffry?" tanya Alan.


"Tadi aku suruh Jeffry beliin pizza," ucap Rea.


"Kamu beli pizza? buat apa? kamu kan gak kau bolehin makan kayak gitu," tanya Alan.


"Ish, aku itu cuma pengen doang, lagian gak mungkin aku beli semuanya kok," ucap Rea.


"Tetep aja sayang," ucap Alan.


"Kamu jangan marah dulu, sekarang kamu buka pintunya kasihan Jeffry pasti lama di luar," ucap Rea.


Mau tidak mau Alan pun berdiri dan membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya saat ia membuka pintu rumahnya ternyata bukan hanya Jeffry yang datang, tapi juga anggotanya dan jangan lupakan pasangan pengantin baru yang baru saja pulang honeymoon siapa lagi kalau bukan Alvin dan Sivia. Ya, mereka sudah menikah 2 minggu yang lalu dan setelah menikah mereka pergi honeymoon ke Jepang selama 5 hari dan baru pulang kemarin.


"Kalian ngapain di sini sih?" tanya Alan.


"Bumil yang nyuruh ya," ucap Ryan dan seenaknya masuk ke dalam rumahnya dan diikuti anggota lainnya.


"Kayaknya sejak gue nikah lo makin seenaknya aja," ucap Alan, yang baru saja sampai di ruang tamu.


"Biarin sih orang aku juga yang nyuruh mereka ke sini, kamu gak suka ya?" tanya Rea.

__ADS_1


"Gak gitu sayang," ucap Alan.


"Sivia, gimana honeymoon di Jepang? pasti seru ya, aku jadi pengen deh," tanya Rea.


"Ya, gitu deh. Nanti kalau baby-nya udah lahir ya baru kita honeymoon," ucap Alan.


"Gak ah, kalau udah ada baby itu malah sibuk terus gak bisa tenang," ucap Rea.


"Lagi pula kalian berdua ngapain pake honeymoon segala sih orang udah mau punya anak juga, harusnya yang honeymoon nanti itu gue sama Qilla," ucap Ryan.


"Halah, cari dulu papanya Qilla baru mikir honeymoon," ucap Rea.


"Hehehe, bisa aja ini dokter Rea. Ini juga saya lagi nyari, tapi tenang aja sebentar lagi pasti bakal ketemu kok," ucap Ryan.


"Ya, harus dong," ucap Rea.


Akhirnya mereka semua di sana saling bertukar cerita dan bercanda tentunya Rea bersama Sivia juga semakin akrab bahkan Sivia sekarang ini sudah masuk grupnya bersama Qilla dan Nina. Untungnya Qilla dan Nina sangat welcome dengan kehadiran Sivia sehingga Rea tidak perlu merasa tidak enak.


Saat ini sudah jam 10 malam dan Rea pun sudah istirahat di kamarnya, sedangkan Alan masih sibuk dengan anggotanya dan seketika Rea menyesal telah mengundang mereka. Dengan kesal Rea pun keluar kamar dan menghampiri Alan lalu duduk di pangkuan Alan, ia tidak memperdulikan tatapan semua orang yang ada di sana.


"Kenapa hem?" tanya Alan.


"Ngantuk," gumam Rea.


"Tidur sayang," ucap Alan.


"Ish, tapi kamunya gak ada di kamar," ucap Rea.


"Ini masih ada orang loh di rumah masa akunya tidur," ucap Alan.


Rea pun menatap semua orang yang ada di sana, "Kalian pulang sana kan tadi saya yang ngundang jadi sekarang kalian bisa pulang," ucap Rea.


"Buset dah bumil galak banget," ucap Rea.


"Hush, udah ayo pulang lagian ini udah malam kasihan juga istri gue udah ngantuk," ucap Alvin.


"Yaudah deh kita pulang dulu kalau gitu," pamit Raka dan akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


"Yaudah, sekarang kamu tidur ya," ucap Alan.


"Ayo sama kamu," ucap Rea.


"Iya sayang, sama aku kok," ucap Alan.


Sesampainya di kamar Rea pin merebahkan tubuhnya dan disusul Alan yang juga merebahkan tubuhnya di samping Rea, "Katanya ngizinin aku tugas, tapi ini belum apa-apa udah kayak gini," ucap Alan.


"Itu beda kasus ya, udah aku mau tidur," ucap Rea dan memejamkan matanya menuju alam mimpi.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2