Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Gak Terima?


__ADS_3

Nina pun mengambil jaket yang berada di lengan kiri Rea, betapa terkejutnya saat Nina melihat nama yang tertera pada jaket tersebut. Selain itu juga terdapat pangkat di jaket itu tersebut, Rea yang merasa aneh dengan ekspresi Nina pun segera mengambil jaket yang berada di tangan Nina dan melihat apa yang membuat Nina terkejut, lebih tepatnya nama yang ada di sana. Rea pun ikut terkejut karena ternyata jaket tersebut milik Alan.


"Re, kok jaketnya kapten Alan bisa ada di lo sih?" tanya Nina.


"Gue aja gak tahu kalau ini jaket punya kapten Alan," ucap Rea.


"Gila, sumpah lo kok berhasil buat kapten Alan ngerelain jaketnya buat lo, pasti gara-gara semalem hujan dan akhirnya karena kan ngasih jaket itu supaya lo gak kedinginan. Iiiih kok gue yang baper sih," ucap Nina.


"Apa sih lebay," ucap Rea.


"Gak lebay kok, noh lihat kapten Alan dari tadi ngelihatin kita terus loh," ucap Nina.


Rea pun mengikuti arah mata Nina dan benar saja saat ini akan tengah menatapnya, "Kenapa kapten Alan ganteng banget sih, udah Re kalau seandainya kapten Alan nembak lo mending lo terima aja deh," ucap Nina.


"Mati gue kalau di tembak," ucap Rea, lalu pergi meninggalkan Nina.


Rea meninggalkan Nina dan menghampiri Alan, "Ada apa dokter Rea?" tanya Alvin, yang berada di samping Alan.


"Terima kasih untuk jaketnya, nanti jaketnya akan saya kembalikan setelah saya cuci. Kalua begitu saya permisi," ucap Rea.


Baru saja kakinya melangkah pergi ke meninggalkan Alan tiba-tiba saja jaket yang ada di tangannya di ambil oleh seseorang dan membuat Rea kehilangan jaket tersebut. Rea pun melihat ke arah orang yang mengambil jaket tersebut dan pelukannya adalah Alan.


"Ada apa kapten Alan? ke apa kapten Alan mengambil jaket itu? saya janji kok saya akan kembalikan jaket itu setelah saya cuci bersih," tanya Rea.


"Tidak perlu dokter Rea cuci, jaket ini sudah bersih dan wangi kok," ucap Alan.


"Tapi, jaket itu sudah saya gunakan tadi," ucap Rea.


"Iya, tidak apa-apa," ucap Alan.


"Rea, ayo," ajak Nina.


"Kalau begitu saya permisi dan sekali lagi terima kasih untuk jaketnya," ucap Rea.


Bukannya menjawab Alan justru mendekati Rea, "Tidak perlu berterima kasih, itu adalah kewajiban saya sebagai suami untuk membuat istri saya tidur dengan nyenyak dan tidak kedinginan," bisik Alan.


Rea yang mendengar hal itu benar-benar merinding, dengan cepat Rea menjauhkan tubuhnya dari Alan dan menatap Alan dengan tatapan yang tak terbaca, "Kalau begitu saya permisi," ucap Rea dan pergi dari tempat tersebut. Bisa-bisanya Rea gila karena Alan padahal dia masih marah dengan Alan.


"Lo bisikin apa?" tanya Alvin, saat Rea sudah pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Ada lah," ucap Alan.


"Lo lagi gak nyembunyiin sesuatu dari gue kan?" tanya Alvin.


"Gue lagi nyembunyiin sesuatu dari lo dan lo harus sabar kalau lo mau tahu apa yang gue sembunyiin," ucap Alan, lalu pergi meninggalkan Alvin.


"Bisa-bisanya gue mati nih karena penasaran apa yang di sembunyiin sama Alan, yang pasti ini berhubungan sama dokter Rea, gue yakin banget itu," gumam Alvin.


Disisi lain Rea sangat bosan mendengar celotehan Nina pada Qilla, sejak Nina memberitahu Qilla mengenai jaket Alan yang di gunakan Rea, mereka berdua tidak bisa diam bahkan sejak tadi mereka berdua menggoda Rea. Rea sendiri hanya diam dan memilih untuk menggambar pemandangan yang terlihat indah di kamp militernya.


Rea memang seorang dokter, tapi ia juga memiliki hobi yaitu menggambar, bahkan saat SMA Rea pernah mengikuti lomba menggambar dan mendapat juara 2. Namun, karena kesibukannya sebagai dokter, Rea jarang melakukan hobinya ini dan karena di sini Rea memiliki waktu luang sampai nanti malam akhirnya Rea memutuskan untuk menggambar di kertas yang memang sempat ia bawa.


"Bagus gak?" tanya Rea, setelah selesai menggambar pemandangan melalui jendela kamp militer.


"Bagus banget, Re. Ini kalau di jual pasti laku deh," ucap Qilla.


"Ini buat gue aja gimana Re," ucap Nina.


"Enak aja ini mau gue bawa pulang terus gue tempelin kamar gue," ucap Rea.


"Di kamar lo kan udah banyak banget gambar Re. Emangnya masih muat gambar itu taruh di kamar lo?" tanya Qilla.


Malam harinya Rea sudah berada di tempat pengungsian bersama Qilla, "Ini para warga udah mulai membaik semuanya ya?" tanya Rea.


"Iya, mereka udah mulai membaik kok. Mungkin tinggal yang mengalami cedera serius aja sih yang masih perlu perawatan intensif, sebenarnya enaknya di bawa ke rumah sakit, tapi rumah sakit di sini jauh banget makanya mereka di rawat di sini lebih lam," ucap Qilla dan diangguki Rea.


"Kalau warga yang udah membaik gimana? mereka masih di sini atau mereka balik ke tempat mereka?" taubat Rea.


"Gue denger-denger sih mereka tetep di sini soalnya tempat mereka ada beberapa rumah yang masih di perbaiki sama fasilitas di sana juga banyak yang rusak," ucap Qilla.


"Btw, lo tau sersan Alvin gak?" tanya Qilla.


"Tau, kenapa emangnya?" tanya Rea.


"Gue denger-denger sersan Alvin udah punya pacar," ucap Qilla.


"Terus?" tahap Rea.


"Ish, lo mah ga tau apa kalau sahabat lo ini lagi patah hati," ucap Qilla.

__ADS_1


"Lo suka sama sersan Alvin?" tanya Rea.


"Sebenarnya kagum sih, hehehehe. Yang suka itu Fafi tuh," ucap Qilla.


"Fafi? emangnya dia suka sama sersan Alvin?" tanya Rea.


"Bukan sih, lebih tepatnya kapten Alan. Gue pernah denger kalau Fafi pengen deketin kapten Alan, tapi gak tahu bisa atau gak. Lo tahu kan gimana kapten Alan yang cuek, dingin datar pokoknya dia itu kayak gay gitu," ucap Qilla.


"Fafi suka sama kapten Alan?" tanya Rea dan diangguki Qilla.


"Iya, pokoknya setelah lo bilang kalau lo gak ada hubungan apa-apa sama kapten Alan, barulah Fafi bilang ke gue sama dokter Gabby kalau gak salah," ucap Qilla.


"Oh, dia suka sama kapten Alan," gumam Rea.


"Lo gapapakan kalau Fafi suka sama kapten Alan?" tanya Qilla.


"Ya, gapapa lah. Lagian itu haknya Fafi juga kan suka sama orang mau itu kapten Alan atau siapapun itu," ucap Rea.


"Gue kirain lo gak terima," ucap Qilla.


"Kenapa gue gak terima?" tanya Rea.


"Mana gue tahu, kan gue kirain," ucap Qilla.


"Kalian berdua ya di cari dokter Danu dari tadi padahal," ucap dokter Gabby.


"Eh, dokter Gabby. Ini kita mau ke sana kok," ucap Qilla.


Setelah itu Rea dan Qilla pun menuju tenda tempat dokter Danu dan beberapa dokter lainnya untuk berdiskusi, "Maaf, kami terlambat," ucap Rea.


"Iya, tidak apa-apa, silahkan duduk terlebih dahulu," ucap dokter Danu.


Setelah membahas beberapa hal dan tanpa terasa saat ini pukul 10 malam, Rea sendiri sebenarnya sedikit takut karena ia berjaga malam hari. Meskipun ia tidak sendiri berharganya, tapi tetap saja suasananya menakutkan bagi Rea.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2