
Tak terasa hari ini Rea hari keempat Rea ditinggal oleh Alan dan Rea berada di rumah ayah Argi, sebenarnya Rea ingin ke rumah Papa Aldi, takut ternyata Papa Aldi dan Mama Dira serta Dea pergi ke Singapura untuk pengobatan Dea, mereka pergi tepat sehari setelah Alan dan Rea ke rumah Papa Aldi dan mereka akan kembali lusa. Sehingga mau tidak mau Rea pun harus tinggal dirumah ayah Argi selama Alan melakukan pelatihan.
"Nanti kamu mau diantar kak Ray atau gimana?" tanya kak Inez.
"Rea diantar kak Ray aja deh kak, soalnya Rea lagi males banget," ucap Rea.
"Kamu masih lemes? pengen muntah terus kepalanya pusing?" tanya kak Inez.
"Masih kak, tapi gak separah tadi mungkin Rea istirahat sebentar aja dah sembuh," ucap Rea.
"Yaudah, kamu istirahat aja nanti biar kakak bangunin kalau mau berangkat," ucap kak Inez dan diangguki Rea, kak Inez pun keluar dari kamar Rea dan membiarkan Rea istirahat.
Kak Inez saat ini memang berada di kamar Rea karena tidak tega melihat Rea yang sejak tadi muntah-muntah dan juga tidak nafsu makan bahkan Rea merasa kepalanya pusing. Untung saja hari ini jadwal Rea siang jadi Rea bisa istirahat terlebih dahulu, sebenarnya kak Inez sudah membujuk Rea untuk istirahat karena takut Rea akan kembali drop saya di rumah sakit. Tapi, namanya juga Rea, ia tidak mau mendengarkan ucapan kak Inez bahkan Bunda Nara dan ayah Argi, ya memang itulah keburukan Rea yaitu sikap keras kepalanya.
Setelah istirahat Rea pun akhirnya memutuskan untuk berangkat menuju rumah sakit ditemani kak Ray tentunya, "Suami kamu kapan pulang emangnya?" tanya kak Ray.
"Kayaknya nanti malam atau gak besok deh," ucap Rea dan diangguki kak Ray.
"Dia selama ini kasar gak jadi suami?" tanya kak Ray.
"Gak kok kak, malah dia sabar banget sama sikap Rea yang kayak anak kecil ini," ucap Rea.
__ADS_1
"Kakak cuma mau ngasih saran sama kamu supaya kurangilah sikap keras kepala kamu, kamu harus terbuka sama suami kamu jangan ada yang kamu sembunyiin. Dia itu imam buat kamu, dia yang akan membimbing kamu jadi apapun masalah kamu, kamu harus bilang ke dia ya," ucap kak Ray.
"Iya kak," ucap Rea, Rea merasa kakaknya ini cenayang karena tahu saja kalau Rea tengah memiliki masalah yang Rea sembunyiin dari Alan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai kak Ray pun sampai di depan rumah sakit, "Kalau gitu Rea masuk dulu ya kak," pamit Rea dan keluar dari mobil.
Menjadi bahan perbincangan seisi rumah sakit adalah hal yang wajah bagi Rea dalam beberapa hari dan sampai saat ini Rea tidak ingin mengklarifikasi berita miring tentangnya karena bagi Rea berita tersebut tidak merugikannya jadi dia hanya diam saja lebih tepatnya terlalu malas dan juga sebenarnya Rea sudah pernah menjelaskannya ke semua orang, tapi tidak ada yang percaya ya sudah Rea tidak mau ambil pusing ia harus memikirkan kehamilannya dan untuk masalah Qilla semuanya tetap sama tidak ada yang berbeda. Rea benar-benar ke rumah sakit hanya untuk bekerja dan setelah itu pulang tidak seperti dulu yang selalu mengobrol sebelum pulang.
Hari ini Rea cukup sibuk karena ia ada jadwal operasi lebih tepatnya pasien dari dokter Andi, tapi karena dokter Andi tengah sakit beberapa hari terakhir akhirnya Rea yang menggantikannya karena di rumah sakit hanya dokter Andi dan Rea saja yang pernah melakukan operasi tersebut. Selama Opera rasanya Rea ingin sekali muntah karena tiba-tiba ia merasakan mual yang teramat parah, tapi Rea tahan karena tidak mungkin ia pergi saat operasi bukan yang ada nyawa pasien menjadi taruhannya.
Setelah Opera selesai dan pasien juga sudah diurus oleh perawat dan dokter lain barulah Rea berlari menuju kamar mandi, ia benar-benar tidak kuat. Menyedihkan, itulah yang Rea rasakan karena disaat kondisinya seperti ini tidak ada sahabat yang menemaninya padahal dulu Rea sempat berpikir jika suatu saat nanti ia hamil dia bersikap manja pada sahabat-sahabatnya selama bekerja, tapi ternyata itu hanya angan-angannya saja.
"Sayang, kamu bertahan ya. Jangan bikin Bunda mual dulu nanti kalau di rumah deh kamu boleh mual, tapi kalau di rumah sakit jangan ya," gumam Rea dan mengusap perut ratanya dengan tersenyum.
Rea menatap malas kearah dokter Shinta, mungkin karena bawaan bayi Rea jadi terlihat santai dengan dokter Shinta bahkan Rea ingin sekali adu jotos dengan dokter Shinta. Rea berjalan menjauh dari dokter Shinta dan ingin keluar dari kamar mandi, tapi sayang anak buah dokter Shinta justru menarik lengan Rea tersungkur tepat di hadap dokter Shinta. Rea merasa terkejut, tapi untung saja Rea tidak merasakan sakit di perutnya.
"Ada apa ini? kenapa dokter Shinta dan antek-antek dokter Shinta selalu saja mengganggu saya? apa dokter Shinta masih dendam karena direktur Bagas?" tanya Rea.
"Kalau iya kenapa?" tanya dokter Shinta.
Rea menghela napasnya, "Saya sudah bilang kalau bukan saya yang melaporkan direktur Bagas, kalau saya mau melaporkan harusnya saya laporkan direktur Bagas dari dulu setelah kasus pelecahan yang dilakukan direktur Bagas, tapi ini kenapa saya harus melaporkan baru-baru ini lagian nih ya dokter Shinta tidak ada untungnya bagi saya untuk melaporkan direktur Bagas," ucap Rea.
__ADS_1
Seolah tuli dokter Shinta tidak mendengarkan penjelasan Rea dan justru maju lalu dengan cepat dokter Shinta menarik rambut dan setelah itu mencekik Rea, "Lo yang sudah membuat pernikahan impianku batal dan aku tidak akan memaafkanmu," ucap dokter Shinta, lalu mendorong Rea hingga kepala Rea terbentur dinding.
Rea mengambil udara sebanyak-banyaknya, ia menatap sendu dokter Shinta, "Dokter Shinta punya banyak cowok bukan, kenapa harus segitunya dengan direktur Bagas? apa dokter Shinta benar-benar suka dengan direktur Bagas?" tanya Rea, dengan pelan.
"Gue suka sama direktur Bagas, MIMPI! gue mau sama direktur Bagas karena uang lah, lo tahu kalau gue nikah sama dia gue bakal dapat setengah dari harta dia, tapi karena dia di pecat dan beberapa aset dia juga di sita jadinya pernikahan gue batal," ucap dokter Shinta, yang mulai emosi.
"Itu salah dokter Shinta sendiri yang memilih direktur Bagas harusnya dokter Shinta memilih cowok lain," ucap Rea.
"Siapa? om-om lo?" tanya dokter Shinta dan kembali mendekati Rea.
Kali ini bukan hanya dokter Shinta yang menganiaya Rea, tapi juga anak buahnya bahkan mereka sengaja membawa ember yang berisikan air lalu menumpahkannya ke Rea yang tentunya membuat sekujur tubuhnya basah.
"Lo tahu, gue gak suka kalau ada orang yang muji lo di depan gue, asal lo tahu di rumah sakit ini yang cantik cuma gue, lo itu cuma benalu di rumah sakit dan gue itu primadona," bisik dokter Shinta.
Dokter Shinta mengatakan hal tersebut dengan menarik rambut Rea cukup kuat hingga membuat kepala Rea yang sejak tadi pusing semakin pusing. Rea benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk membalas perbuatan dokter Shinta dan anak buahnya bahkan untuk sekedar berucap saja sulit bagi Rea.
Saat dokter Shinta akan menampar Rea tiba-tiba pintu kamar mandi di dobrak dengan kuat dan menampilkan Qilla dan Nina dengan raut wajah marahnya, "GILA YA LO SHINTA!" teriak Qilla, yang sudah tidak mempedulikan masalah sopan santun.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.