Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Cuma Kapten Alan


__ADS_3


revisi -



#


Hingga beberapa saat kemudian, bus pun berhenti di pemberhentian terakhir, baru saja Alan akan membangunkan Rea. Namun, tiba-tiba ibu-ibu yang tadi bicara dengan Rea pun membangunkan Rea dan mengembalikan jaket milik Alan.


"Nak Rea bangun udah sampe," ucap Bu Hani.


Rea pun mengerjapkan matanya, "Makasih ya, Bu," ucap Rea dan diangguki Bu Hani.


Semua orang yang ada di sana pun turun dari bus karena memang ini tempat pemberhentian terakhir, baru saja Rea keluar dari bus tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang karena seseorang yang tiba-tiba memeluknya. Untung saja seseorang menahannya dari belakang kalau tidak Rea pastikan ia akan terjatuh saat ini.


"Rea, lo kemana aja sih? gue kirain lo gak bakal dateng," ucap Qilla.


"Apa sih, La. Lepas napa gue gak bisa napas nih," ucap Rea.


Qilla pun melepaskan tersebut dan menatap Rea, "Lo kok bisa telat sih?" tanya Qilla.


"Ya, bisa ini buktinya," ucap Rea.


"Kita ke kamp aja kasihan Rea pasti capek," ucap Nina.


"Yaudah, ayo," ajak Qilla.


Sebelum Rea pergi ia terlebih dahulu menghadap ke belakang dan menatap Alan yang saat ini menahan pinggangnya, "Terima kasih," ucap Rea, lalu pergi meninggalkan Alan dan Alan hanya tersenyum mendengarnya.


Rea ingin kembali mengatakan sesuatu pada Alan, tapi tangannya tiba-tiba ditarik oleh Qilla, "Pelan-pelan Qilla," ucap Rea.


Setelah cukup jauh dari Alan, Rea pun kembali fokus pada Qilla dan sekelilingnya. Rea dapat melihat pemandangan di depan matanya, "Bagus banget tempatnya, lihat luas gitu ya," ucap Rea.


"Loh tahu gak tadi pas baru nyampe di sini banyak banget tentaranya, tapi lo sih datengnya telat jadi gak bisa ketemu sama tentaranya kan, mana tadi banyak yang ganteng lagi," ucap Nina.


"Iya, tadi banyak yang ganteng salah satunya kapten Alan," ucap Qilla.


"Kapten Alan?" tanya Rea.


"Iya, kapten Alan itu cowok yang tadi ada di belakang lo," ucap Nina.


"Dia kapten!" pekik Rea.

__ADS_1


"Iya, dia kapten di sini, tadi sebenarnya gue pengen nyapa gitu, tapi gue takut aja soalnya wajahnya kapten Alan rada serem gitu. Nih ya, gue juga dapat kabar kalau kapten Alan itu termasuk kejam lebih tepatnya sih disiplin gitu dan banyak tentara yang pernah kena amarahnya salah satunya saudara gue, gue kemarin tanya kan ke saudara gue dan dia bilang kalau kapten Alan itu bisa dibilang tentara yang paling bikin takut hampir seluruh tentara," ucap Qilla.


"Masa sampe segitunya sih," ucap Nina.


"Iya, kalau kata saudara gue sih gitu, pokoknya kapten Alan itu tentara yang paling di hormati gitu bahkan banyak komandan yang juga takut sama kapten Alan," ucap Qilla.


"Kalau pasangan gimana? kapten Alan udah punya pasangan belum?" tanya Nina.


"Gue juga tanya itu ke saudara gue dan dia gak tahu kalau soal pasangannya kapten Alan soalnya kapten Alan tuh tertutup banget kalau masalah pasangan. Tapi, kata saudara gue banyak komandan yang jodohin kapten Alan sama anak perempuannya, tapi gak ada yang tahu sih orang kapten Alan kayak gak deket sama siapa-siapa," ucap Qilla.


"Sabilah Re, lo deketin kapten Alan," ucap Nina.


"Apa sih gak jelas kalian, btw ini masih lama gak sih udah capek nih gue jalannya?" tanya Rea.


"Tuh, yang di depannya ada kayunya. Itu kamp kita," ucap Qilla.


"Di sana tempatnya siapa aja?" tanya Rea.


"Di sana cuma kita bertiga," ucap Nina dan diangguki Rea.


Mereka bertiga pun sampai di kamp tempat mereka akan tinggal untuk sementara waktu, setelah itu mereka masuk ke dalam kamp tersebut, "Kok kita bisa satu kamp ya?" tanya Nina.


"Mana gue tahu, lo kan tahu sendiri tadi kapten Alan sendiri yang bilang kalau kita bertiga," ucap Qilla.


"Ya, sama sih hampir semuanya 3 orang kalau yang cewek, kalau yang cowok kalau gak salah 5 orang soalnya kan relawannya banyakan cowok," ucap Qilla.


"Tapi, gak ada yang ganteng. Cuma kapten Alan doang yang ganteng," ucap Nina dan Rea hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


"Relawannya bukan hanya dari rumah sakit kita doang ya?" tanya Rea.


"Iya, yang jadi relawan itu ada 3 rumah sakit termasuk rumah sakit kita," ucap Qilla.


"Terus sekarang kita mau langsung ke tempat bencana atau gimana?" tanya Rea.


"Udah ada dokter dan perawat yang ke sana, jadi jadwal kita nanti malam. Terus juga nanti kata dokter Gabby kita di suruh kumpul sama relawan lain buat nentuin jadwal tugasnya," ucap Qilla.


"Kalau gue sih terserah yang penting gak pagi buta aja, gue ngantuk kalau pagi-pagi suruh meriksa pasien," ucap Rea.


"Ya, semoga aja. Gue juga gak mau kalau pagi," ucap Nina.


"Terus kalau kita jalan-jalan sekarang gimana?" tanya Qilla.


"Gak mau ah, gue capek pengen istirahat," ucap Rea.

__ADS_1


"Yahhhh, gak seru lo Re, masa gitu aja capek, harusnya kita lihat pemandangan di luar yang indah," ucap Qilla.


Rea menghiraukan perkataan Qilla dan memejamkan matanya lalu menuju alam mimpi begitupun dengan Nina. Sedangkan, Qilla yang tidak mendapat respon dari Rea ataupun Nina pun menatap sahabatnya yang ternyata sudah terlelap di tempat tidur mereka masing-masing.


"Yeeeh, nih dua bocah udah tidur aja harusnya itu kita jalan-jalan sekalian cuci mata ngelihat para tentara latihan," ucap Qilla.


Qilla keluar sendiri dari kamp dan berjalan sekitar kamp militer, tak lupa Qilla pun mengabadikan pemandangan yang ada di hadapannya menggunakan ponselnya.


"Ekhm." Deheman seseorang membuat Qilla terkejut dan membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya Qilla saya melihat Alan yang tengah berada di hadapannya.


"Ka - kapten Alan," panggil Qilla, yang kentara sekali jika saat ini ia gugup setengah mati.


'Apa gue ngelakuin kesalahan ya?' tanya Qilla, pada dirinya sendiri.


"Kenapa anda sendirian di sini? apa teman dokter anda lainnya tidak ada yang jalan-jalan seperti anda?" tanya Alan.


'Astaga! dia ngomong sama gue lagi. Aduh kapten Alan jangan pake bahasa formal gitu dong masa sama calon jodohnya manggilnya anda sih harusnya kan sayang,' ucap Qilla, dalam hati.


"Halo, anda mendengarkan saya bukan?" tanya Alan dan melambaikan tangannya di depan wajah Qilla.


"Ah, iya kapten Alan. Saya sendirian soalnya teman-teman saya sedang istirahat di kamp," ucap Qilla.


"Apa teman-temanmu sudah makan?" tanya Alan.


"Ada satu yang belum makan sih, kapten. Tapi, nanti saya akan suruh dia ambil makanan di tenda," ucap Qilla.


"Tidak perlu ini ambillah untuk temanmu, tadi dia baru saja datang bukan," ucap Alan dan diangguki Qilla.


"Apa tidak apa-apa kapten, teman saya makannya di ambilin kapten Alan, nanti biar teman saya sendiri saja yang ambil makanannya?" tanya Qilla.


"Iya, tidak apa-apa dan satu lagi nanti suruh dia ke ruangan saya karena temanmu tadi belum mengisi daftar hadir," ucap Alan.


"Iya, kapten," ucap Qilla.


Setelah itu, Alan pun pergi meninggalkan Qilla yang senyum-senyum sendiri, "Rea yang dapat makanan, tapi kok gue yang seneng gini sih ya," gumam Qilla.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2