Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Mengisi Daftar Hadir


__ADS_3


revisi -



#


"Ada apa?" tanya Alan.


Ya, pria yang memecahkan fokus para anggotanya yang ada di dalam ruangan tersebut adalah Alan. Alan berjalan mendekat ke arah Rea tak lupa dengan tatapan mengintimidasinya.


Untuk Rea sendiri jujur saja ia gugup karena tatapan tersebut, "Ta - tadi teman saya bilang kalau saya harus ke ruangan kapten Alan dan menemui kapten Alan untuk mengisi daftar hadir," ucap Rea, yang menunduk karena tidak berani menatap Alan.


"Kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya Alan.


"Dengan kapten Alan," ucap Rea, yang masih setia menunduk.


"Tapi, saya tidak ada di bawa. saya ada di hadapanmu," ucap Alan.


Rea pun akhirnya mendongak dan menatap Alan. Namun, Rea kembali menunduk setelah beberapa saat melihat wajah tampan Alan.


Alan hanya bisa menghela napas karena gemas dengan sikap Rea. Padahal kata bunda Nara, Rea itu salah satu orang yang cerewet dan gak mau kalah, tapi ini apa Rea justru diam dan menunduk saat berada di depannya.


"Kalau begitu ikut saya," ucap Alan dan diikuti Rea tentunya.


Selama menuju ruangannya Alan melihat banyak tatapan kagum dari para anggotanya untuk Rea dan hal itu membuat Alan emosi, "Jangan menatap dia seperti itu, dia bukan santapan kalian paham. Kalau kalian mau santapan kalian bisa langsung ke bar milik Gladis," ucap Alan, dengan nada datar dan tegas.


Ucapan Alan tentunya membuat semua orang yang ada di sana takut, bahkan mereka merasakan suasana yang berbeda meskipun Alan sudah masuk ke dalam ruangannya bersama Rea, "Sepertinya kita bakal punya calon kakak ipar nih," ucap Gara.


"Kakak ipar? siapa emangnya pasangannya kapten Alan?" tanya Raka.


"Dokter Rea," ucap Gara.


"Heh! dokter Rea pasangan gue ya," ucap Ryan.


"Gak cocok dokter Rea sama lo, dokter Rea itu emang cocoknya sama Alan," ucap Alvin.


"Iya juga sih, tapi tetep aja dokter Rea cocoknya sama gue," ucap Ryan.


"Terserah lo dah," ucap Alvin.


Sedangkan, di dalam ruangan Alan terjadi keheningan, Alan hanya mengambil beberapa buku catatan dan Rea hanya berdiri dekat pintu, "Duduk aja jangan berdiri," ucap Alan dan setelah dipersilahkan duduk barulah Rea duduk.

__ADS_1


"Ini," ucap Alan dan memberikan daftar hadir pada Rea.


Rea pun mengisi biodata untuk daftar hadir, "Kapten, ini sudah saya isi daftar hadirnya," ucap Rea.


"Taruh di meja," ucap Alan dan diangguki Rea.


Rea pun meletakkan daftar hadir tersebut, "Kalau begitu saya permisi kapten," pamit Rea.


Baru saja akan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut karena ia telah mengisi daftar hadir. Saat melangkahkan kakinya tiba-tiba Alan bertanya padanya dan membuat langkah Rea terhenti, "Setelah ini kamu dan para relawan mau ke desa bukan?" tanya Alan.


"Iya, kapten," ucap Rea.


"Kalau gitu tunggu di dekat tenda, nanti mobil akan membawa kalian ke sana," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Kamu boleh pergi," ucap Alan.


Rea pun keluar dari ruangan tersebut dan baru saja ia keluar dari ruangan tersebut, Rea sudah di sambut oleh tatapan mengerikan dari para anggota tim Alan.


"Kalau kalian melihatnya seperti itu lagi, saya pastikan kalian tidak akan pernah melihat dunia pagi harinya," ucap Alan, yang ada di belakang Rea.


Hal itu berhasil membuat semua anggotanya mengalihkan pandangannya dari Rea, "Pergilah sebelum para buaya di ruangan ini menyerangmu," ucap Alan.


Rea pun segera pergi dari tempat tersebut, sejujurnya ia takut dengan tatapan dari para pria itu.


"Ish, jangan kenceng-kenceng kalau ngomong, sakit tau gak telinga gue," ucap Nina, yang berada di sebelah Qilla.


"Hehehehe."


"Kok lama lo, Re?" tanya Nina.


"Gimana gak lama orang gue mau masuk ke dalam aja takut tadi, tapi untung aja gue di sana gak diapa-apain," ucap Rea.


"Ck, lebay lo," ucap Qilla.


"Udah kita bawa ini ke tenda aja soalnya katanya nanti mobilnya nunggu di tenda, jadi nanti kita gak usah bolak balik," ucap Rea dan diangguki oleh kedua sahabatnya itu.


Rea, Nina, dan Qilla selesai membawa semua perlengkapannya dan mereka saat ini sedang duduk santai di tenda sambil menunggu mobil yang akan mereka gunakan menuju desa.


Beberapa saat kemudian, sebuah truk militer datang, "Kita pake truk militer ini? bukannya katanya pake mobil?" tanya Qilla.


"Kita pake ini karena jumlah kalian cukup banyak dan kalau pake mobil saya yakin tidak akan cukup dan harus bolak balik," ucap Alvin dan diangguki semua orang yang ada di sana.


"Siapa sih tuh orang kok ganteng banget?" tanya Nina.

__ADS_1


Rea menatap jengah Nina yang selalu lebay jika bertemu dengan pria tampan, ya Rea akui Alvin memang tampan.


"Mana barangnya?" tanya Alan, yang tiba-tiba muncul di truk bagian belakang.


Banyak perempuan yang melihat Alan dengan tatapan memuja. Bagaimana tidak, Alan menggunakan kaos militer yang jelas memperlihatkan tubuh kekarnya.


"Gila, kapten Alan ganteng banget. Lihat dong ototnya uh mantap banget dah kayaknya," ucap Nina, pada Rea dengan berbisik tentunya.


Rea hanya menatap jengah sahabatnya itu, lalu ia membawa barang-barang tersebut pada Alan. Namun, belum sempat Rea mengambil barang-barang tersebut tiba-tiba Alan turun dan mengambil barang-barang yang akan di bawa Rea.


"Kalian bawa barang-barangnya ke truk militer," ucap Alan, lalu membawa barang-barang tersebut menuju truk militer yang diikuti anggota timnya.


"Ekhem, seneng banget nih," goda Qilla.


"Apaan sih gak jelas," ucap Rea.


Setelah barang-barang tersebut dimasukkan ke dalam truk militer sekarang giliran para relawan yang masuk ke dalam truk militer. Satu persatu tim relawan masuk ke dalam truk militer dengan dibantu Alvin dan sekarang giliran Rea, Rea menatap ke Alvin dan mengulurkan tangannya, tapi Alvin justru diam dan tidak memegang tangan Rea.


"Kenapa?" tanya Rea.


"Gapapa, ayo," ucap Alvin, sejujurnya Alvin merasakan aura-aura menakutkan di sana.


Benar saja saat akan memegang tangan Rea tiba-tiba tubuhnya di geser oleh seseorang yang saya saat berada di samping Alvin dan memegang tangan Rea lalu menarik Rea untuk masuk ke dalam truk militer.


'Astaga, Vin. Lo pake lupa segala kalau dokter Rea udah ada pawangnya,' ucap Alvin dalam hati.


Rea sendiri saat ini sudah berada di truk militer dan duduk di sebelah Alan, sebenarnya Rea ingin duduk dekat Qilla dan Nina. Tapi, sayang di sana tempatnya sudah penuh dan cukup sesak karena itu akhirnya Rea pun duduk si samping Alan. Mereka berdua duduk di bagian depan yang menghadap langsung ke belakang karena truk militer yang belakang sudah penuh dengan para anggota tim Alan yang ingin duduk dekat dengan pintu sehingga mereka terkena angin yang sejuk.


Rea sebenarnya sedikit gerah karena ia duduk di bagian depan truk militer belakang, "Mau minum?" tanah Alan.


Rea menoleh pada Alan dan menggelengkan kepalanya, "Kenapa panas ya?" tanya Alan.


"Gak kok," ucap Rea.


Informasi saja jika saat ini Rea duduk dengan akan hanya berdua karena di sana memang hanya muat untuk dua orang dan hal itu membuat Rea tidak enak dan takut para relawan lainnya memikirkan yang tidak-tidak tentang Rea dan Alan.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2