
"Kalau panggil nama aja gimana?" tanya Rea.
"Masa sama suami sendiri manggilnya pake nama sih," ucap Alan.
"Tapi, kan emang tadi katanya aku bisa pake nama," ucap Rea.
"Padahal aku pengennya kamu manggil aku sayang loh biar samaan gitu, tapi ternyata nama ya yaudah gapapa deh kamu manggilnya pake nama aja yang penting senyaman nya kamu, nanti kalau kamu mulai menerimaku, aku harap kamu manggilnya sayang. Kamu bisa kok panggil aku dengan sebut nama atau seperti biasanya," ucap Alan, yang kentara wajah sedihnya.
"Maaf," lirih Rea.
"Iya, gapapa," ucap Alan dan memeluk Rea dari belakang untuk menghangatkan tubuhnya.
Rea merasa tidak enak karena melihat wajah Alan yang sedih, "Yaudah deh, saya juga panggil sayang," ucap Rea.
"Hah." Alan masih terdiam dan harus mencerna kata-kata Rea.
"Kamu gak perlu ngelakuin itu karena kasihan sama aku," ucap Alan.
"Saya gak kasihan kok," ucap Rea, yang sangat kentara jika ia berbohong.
"Lebih baik kamu panggil aku seperti biasa saja ya," ucap Alan dan mau tidak mau Rea pun menyetujuinya. Karena jujur saja Rea memang belum siap harus memanggil sayang, Rea masih canggung bahkan takut jika ia memanggil seperti itu.
"Anggota timnya kapten belum ada yang ke sini?" tanya Rea.
"Aku tadi bilang ke mereka untuk tidak ke sini, kota harus menunggu hujan reda supaya kita bisa kembali. Sekarang kamu bisa cerita kenapa kamu bisa ada di sini sendirian?" tanya Alan.
Rea pun membalikkan tubuhnya dan posisinya saat ini berada di hadapan dan kungkungan Alan, Alan pun lantas menarik Rea mendekat hingga tubuh mereka berdua menempel.
"Jadi sebenarnya ...,"
# Flashback On #
Team dan Qilla berjalan santai hingga di kamp militer, di sana hanya ada mereka berdua karena Nina dan Fafi sedang berada di tempat pengungsian, "Re, gue keluar bentar ya mau cuci muka dulu. Lihat gara-gara dokter Panji muka gue kucel kayak gini, ya sekalian setoran ke alam," ucap Qilla.
"Iya, hati-hati loh," ucap Rea.
"Btw, lo gak mau ikut apa?" tanya Qilla.
"Gak ah, males kalau naiknya," ucap Rea dan diangguki Qilla.
Setelah Qilla keluar, Rea lun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasurnya, "Nikmatnya hidup," gumam Rea.
__ADS_1
Baru saja Rea ingin memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya bergetar dan menampilkan pesan dari dokter Gina, "Dokter Gina, tumben banget dokter Gina chat aku," gumam Rea dan melihat isi pesan tersebut.
* Dokter Gina *
Dokter Rea bisa bantu saya ambil daun pohon jati yang ada di hutan.
"Hah! buat apa daun pohon jati? ngadi-ngadi nih dokter," gumam Rea.
^^^Buat apa dok daun pohon jati?^^^
Ini ada anak kecil yang habis jatuh, terus mau saya kasih obat. Tapi, dia gak mau, dia takut dan dia minta di obati paket daun pohon jati.
"Kenapa gak suruh orang lain aja, ini malah nyuruh gue. Gue kan cewek," gumam Rea.
^^^Kenapa dokter Gina tidak minta yang laki-laki saja soalnya saya tidak tahu tempat daun jati dimana?^^^
Saya tidak akrab dengan yang laki-laki dan hanya dokter Rea yang saya kenal.
^^^Yasudah dokter Gina tunggu di sana nanti saya akan kembali dengan daun pohon jati.^^^
Terima kasih dokter Rea.
Rea pun keluar dan masuk ke dalam hutan, sebenarnya Rea ingin meminta bantuan para tentara, tapi Rea tidak melihat para tentara baik itu di lapangan atau di area kamp. Sebab itu akhirnya Rea memilih pergi sendiri ke hutan, cukup lama Rea berjalan, tapi ia tidak melihat adanya pohon jati bahkan sampai ia melihat beberapa hewan yang menakutkan menurutnya. Rea berlari agar tidak melihat hewan tersebut, tapi karena Rea berlari dan tidak melihat jalanan di depannya, Rea pun terpeleset dan jatuh di atas tanah dan membuat pakaiannya kotor.
# Flashback Off #
"Jadi yang menyuruhmu itu dokter Gina?" tanya Alan dan diangguki Rea.
"Kamu tahu gak?" tanya Alan.
"Gak tahu," ucap Rea dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau di sini gak ada pohon jati," ucap Alan.
"Hah! gak ada pohon jati, terus kenapa dokter Gina malah nyuruh aku cari daun pohon jati kalau di sini gak ada pohon jati?" tanya Rea.
Alan hanya mengangkat bahunya, karena ia juga tidak tahu ke apa dokter Gina menyuruh Rea mengambil daun pohon jati, pikiran Alan saya ini hanya satu yaitu dokter Gina sengaja menjebak Rea, tapi Alan tidak tahu apa permasalahan yang di hadapi Rea dan dokter Gina.
"Apa jangan-jangan dokter Gina sengaja ngelakuin ini ke aku," ucap Rea.
"Bisa jadi, tapi kamu punya masalah sama dokter Gina?" tanya Alan.
__ADS_1
"Gak ada deh kay ... yaknya," ucap Rea, dengan menatap Alan.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Dokter Gina dulu pernah tanya hubungan kita berdua, apa karena itu dokter Gina ngelakuin ini. Dokter Gina kelihatan banget kalau suka sama kapten Alan," ucap Rea.
"Tapi, kalaupun dia ngelakuin ini buat nyingkirin kamu kan juga percuma," ucap Alan.
"Saya juga gak tahu," ucap Rea.
"Aku, sayang bukan saya," ucap Alan.
"Eh, i-iya lupa hehehe," ucap Rea.
"Udah mulai malam, lebih baik tidur," ucap Alan.
"Takut," cicit Rea.
"Takut kenapa? ada aku kok," tanya Alan.
"Nanti kalau tiba-tiba ada hewan gimana?" tanya Rea dan berhasil membuat Alan terkekeh melihatnya.
"Nanti kalau ada hewan aku bakal nyuruh hewan itu buat makan kamu," ucap Alan.
"Jahat banget sih, nanti kalau aku dimakan terus kamu gimana dong? emangnya udah siap jadi duda atau malah kami yang emang pengen jadi duda bisa bisa sama cewek lain?" tanya Rea, dengan kesal.
Alan semakin terkekeh melihat Rea dan dengan gemas mencubit pelan hidung Rea. Namun, cubitan tersebut tentunya cukup sakit bagi Rea, "Ish, kenapa di cubit sih kan sakit," ucap Rea.
"Habisnya gemes tahu gak aku sama kamu, aku juga bercanda kali, mana mau aku di tinggal sama istri tercinta. Tapi, terima kasih ya udah mau ngakuin aku sebagai suami," ucap Alan.
Rea pun terdiam dan ia baru menyadari perkataannya tadi yang mana secara tidak langsung dia memang mengakui Alan sebagai suaminya, tapi tidak saja juga, kan memang akan suaminya.
"Kenapa emangnya kamu gak mau aku akui sebagai suami ya?" tanya Rea.
"Mau dong, aku malah seneng banget kalau kamu ngakuin aku sebagai suami, aku bahagia banget bisa bersama denganmu, sayang," ucap Alan.
Rea merasakan pipinya yang memanas karena ucapan Alan, Rea tidak percaya jika Alan bisa seromantis ini padahal dari beberapa kabar mengenai Alan. Rea mendengar jika Alan adalah orang yang kaku, tapi selama Rea kenal dengan Alan, Rea jarang bahkan hampir tidak pernah melihat sikap kaku Alan, tapi untuk sikap cuek dan wajah datarnya memang Rea beberapa kali sempat melihatnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.