
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Alan, yang masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu.
Semua orang yang ada di sana pun menatap Alan dan terkejut karena keberadaan Alan, "Kapten Alan," panggil Nina.
Alan merutuki dirinya sendiri karena tidak melihat di ruangan tersebut ada siapa saja, Alan langsung masuk saja bahkan ia tidak mengetuk pintu ruang inap tersebut.
"Eh, i-iya. Ehm, bagaimana keadaan dokter Rea?" tanya Alan dan menghampiri Rea.
"Dokter Rea gapapa kok kapten, cuma butuh bed rest aja," ucap Qilla dan diangguki Alan.
Sedangkan, Qilla dan Nina saat ini benar-benar gemas ingin bertanya mengenai hubungan akan dan Rea, "La, lo tanya dong ke kapten Alan, apa hubungan dia sama Rea," bisik Nina.
"Gue gak berani, Na. Lo aja deh yang tanya," bisik Qilla.
"Tadi aja lo berani sekarang malah gak berani," bisik Nina.
"Itu beda cerita," bisik Qilla.
"Ehm, ma-maaf kapten Alan saya mau tanya a-ada hubungan apa kapten Alan dan Rea?" tanya Nina.
Baru saja Alan akan menjawab pertanyaan Nina, Alan berpikir mungkin sudah saatnya mereka tahu hubungannya dengan Rea, tapi belum sempat Alan bersuara tiba-tiba Qilla menyela perkataannya.
"Kapten Alan suaminya Rea ya?" tanya Qilla.
"Huh, iya saya suaminya Rea," ucap Alan.
"HAH!" pekik Qilla dan Nina, padahal tadi Qilla hanya menebak saja.
"Kok bisa? kapan nikahnya?" tanya Qilla.
"Untuk masalah itu biar Rea yang jelasin semuanya ke kalian berdua, kalian dengerin penjelasannya dulu dan setelah mendengar semua penjelasan dari Rea kalian bisa menyimpulkan sendiri, kalian mau tetep jadi sahabatnya Rea atau menjauh. Saya harap kalian berpikir lebih dewasa dalam hal ini, kalian tidak boleh kekanak-kanakan dengan marah seenaknya saja," ucap Alan, yang memang dengan sengaja ia menyindir Qilla.
"Eungh." Terdengar suara dari brankar dan tentunya membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Rea melihat Rea yang mulai mengerjapkan matanya.
"Sayang," panggil Alan dan menghampiri Rea.
"Saya panggilkan dokter Karin dulu," ucap Nina.
"Gak perlu kan kita tinggal pencet aja," ucap Qilla.
"Oh iya lupa," ucap Nina.
Beberapa saat kemudian, dokter Karin pun masuk ke dalam ruangan tersebut, "Dokter Rea sudah sadar, baguslah kalau begitu saya periksa terlebih dahulu," ucap dokter Karin dan memeriksa Rea.
"Bagaimana keadaan Rea?" tanya Alan, setelah melihat dokter Karin yang selesai memeriksa Rea.
"Keadaan dokter Rea mulai membaik, saya harap untuk kejadian seperti tadi tidak terjadi lagi, untung saja kandungan dokter Rea kuat, saya tidak tahu lagi bagaimana jika kandungannya lemah dapat saya pastikan kam dokter Rea akan kehilangan calon bayinya," ucap dokter Karin.
__ADS_1
"Iya, dok," ucap Qilla dan Nina.
"Saya dan dokter Gabby sudah laporkan masalah tadi ke komite kedisiplinan dan saya harap kejadian seperti tadi tidak terjadi lagi bukan hanya pada dokter Rea, tapi ada semua tenaga medis dan pasien di sini," ucap dokter Karin.
Alan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, 'Kejadian? kejadian maksudnya apa?' tanya Alan, dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi dan saya akan meresepkan obat penguat untuk dokter Rea," ucap dokter Karin.
"Maksudnya apa? kejadian? kejadian apa? apa ada sesuatu yang saya tidak tahu?" tanya Alan, setelah dokter Karin pergi.
"Ehm, se-sebenarnya Rea menjadi korban bullying di rumah sakit," ucap Qilla.
"APA!" teriak Alan.
"Mas, aku gapapa kok," ucap Rea.
"Gapapa kamu bilang, oke kamu yang gapapa, tapi aku yang apa-apa. Siapa yang berani bullying Rea?" tanya Alan, dengan datar bahkan terkesan dingin.
"Engh I-itu...," Qilla benar-benar gugup bahkan untuk bicara pun susah.
"Mas udah aku gapapa," ucap Rea.
"Apa saya alah mengkhawatirkan istri saya, saya tidak terima istri saya menjadi korban bullying, bahkan saat saya kerja saja saya selalu memikirkan apa istri saya capek atau tidak. Rasanya tidak tega melihat istri saya kelelahan," tanya Alan dan berhasil membuat Rea diam.
"Jelasin jawab siapa pelakunya?" tanya Alan lagi.
"Dokter Shinta," ucap Nina.
"Sebenarnya udah beberapa hari dokter Shinta melakukannya, biasanya dokter Shinta hanya melontarkan kata-kata kasar, tapi baru hari ini dokter Shinta sampe menganiaya Rea," ucap Nina yang membuat Alan melotot mendengarnya.
"Menganiaya?" tanya Alan dan diangguki Nina.
Nina pun mulai menceritakan semuanya yang di alami Rea tadi bahkan Nina juga menceritakan mengenai alasan dokter Shinta dan juga mengenai direktur Bagas, tak ada yang terlewatkan bagi Nina. Ia benar-benar memberitahukannya pada Alan, bahkan saat Rea memberikan kode pada Nina untuk berhenti, tapi sayang Nina seolah-olah tidak mengerti maksud Rea.
"Berani sekali dia," geram Alan dan mengepalkan tangannya.
"Dimana ruangannya?" tanya Alan.
"Mau apa? Mas jangan macam-macam ya ini masih rumah sakit," tanya Rea, ia takut jika Alan di luar kendali.
"Tunjukkan ruangan dokter itu dan kamu jaga istri saya," ucap Alan.
Nina dan Alan pun keluar dari ruangan tersebut yang tentunya membuat Rea kalang kabut. Rea berusaha untuk turun, tapi Qilla menahannya dan menatap tajam Rea, "La, Mas Alan harus di hentikan kalau gak Mas Alan bisa di luar batas," ucap Rea.
"Biarin, udah sekarang lo istirahat aja kondisi lo emang membaik tapi lo tetep harus istirahat dan gak boleh banyak gerak," ucap Qilla.
Tiba-tiba Rea teringat jika Qilla yang menyelamatkannya tadi, "Terima kasih ya, La. Hem lo masih marah sama gue?" tanya Rea.
__ADS_1
"Udah gak usah banyak tanya lo itu harus istirahat," ucap Qilla, yang mencoba mengalihkan pandangannya.
"Lo masih marah ya?" tanya Rea, dengan suara yang mulai bergetar dan menahan tangisannya.
"Gak," jawab Qilla singkat, padat dan jelas.
"Tapi, kok gak mau lihat gue terus kalau bicara sama gue masih jutek gitu," ucap Rea.
"Huh, gue gak marah sama lo, gue cuma kecewa aja dan gue butuh waktu," ucap Qilla.
"Maafin gue ya, gue bakal jelasin semuanya kok kenapa gue nyembunyiin status gue," ucap Rea.
"Udah tahu," ucap Qilla.
"Hah, kok udah tahu?" tanya Rea.
"Lupa lo kalau ketemu lo selalu bilang alasan lo sembunyiin semuanya yaitu karena lo dijodohin kan," ucap Qilla.
"Hehehehe, iya. Gue dulu juga sempet berpikir kayaknya hubungan gue sama suami gue bakal cepet selesai makanya itu juga salah satu alasan kenapa gue sembunyiin semuanya, apalagi karena perjodohan resiko pisahnya jauh lebih tinggi," ucap Rea.
"Sekali lagi maaf ya," ucap Rea.
"Hem, gue juga minta maaf karena gue bukannya dengerin penjelasan lo dulu, gue justru ngejauh dan cuek sama lo harusnya gue gak ngelakuin itu. Kalau ingat-ingat gue jadi kayak anak kecil," ucap Qilla.
"Gapapa kok, gue juga tahu pasti sedih saat sahabat lo gak ceritain semua masalahnya ke lo, gue juga pernah kayak gitu dulu kan," ucap Rea.
"Kalau gitu mulai sekarang kita baikan nih ya," ucap Rea.
"He'em."
"Peluk," ucap Rea, Qilla pun mendekat dan memeluk Rea.
"Kangen banget gue sama lo!" pekik Qilla.
Akhirnya Qilla mulai kembali seperti dulu, "Gue juga seneng karena kita udah baikan dan mulai kayak dulu lagi," ucap Rea.
"Tapi, gue lo harus tetep ceritain semuanya ke gue loh ya," ucap Qilla.
"Siap, gue bakal ceritain semuanya ke lo," ucap Rea.
"Yaudah, tapi nanti aja sekarang lo harus sehat dulu kasihan baby-nya," ucap Qilla.
"Siap bos!" ucap Rea. Mereka berdua pun saling mengobrol dan tertawa hingga mereka lupa masalah Alan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.