Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Normal Atau Caesar?


__ADS_3

"Sana ih, daritadi deket-deket muluh," ucap Qilla, saat berada di kamar bersama Ryan.


"Apa sih sayang, kan pengen mesra-mesraan gitu kayak pengantin baru," ucap Ryan.


"Ish, udah sana aku gerah tau, kamu daritadi deket terus," ucap Qilla.


"Yaudah, yuk kita mandi bareng biar gak gerah," ucap Ryan.


"Aku udah mandi ya," ucap Qilla.


"Yaudah mandi lagi," ucap Ryan.


"Gak mau," ucap Qilla.


"Yang," panggil Ryan.


"Apa?" tanya Qilla.


"Ibadah malam yuk," ajak Ryan.


"Masih jam segini padahal emang boleh kalau jam 9 malam sholat tahajud?" tanya Qilla.


"Hah, siapa yang mau sholat tahajud?" tanya Ryan.


"Kan tadi katanya kamu aku ngajak ibadah malam," ucap Qilla.


"Astaga sayang, maksudku itu malam pertama sayang, kan kita baru nikah," ucap Ryan.


"Masa baru nikah langsung belah duren sih," ucap Qilla.


"Iya dong, terus belah apalagi kalau gak belah duren," ucap Ryan.


"Nanti aja loh kayak Rea sama kapten Alan, kali bisa ayo kita ngalahin mereka berdua, kalau gak salah Rea sama kapten Alan belah duren kurang dari 3 atau 4 bulan gitu nah kita ngalahin mereka gimana kalau 1 atau 2 tahun?" tanya Qilla dan mengangkat alis sebelah kanannya.


"Gak mau ya, yang ada gak kuat aku," ucap Ryan.


"Salah sendiri gak kuatan dasar le ... mah ... AAAAAAAAA," ucap Qilla dan terpotong karena tiba-tiba Ryan mengangkat tubuhnya kayaknya karung beras dan membawa istrinya itu ke kamar mandi.


Sampainya di kamar mandi Ryan tidak membiarkan Qilla untuk bicara karena Ryan terlebih dulu membungkam mulut istrinya itu dengan mulutnya, "Kita lanjut di sini aja yuk, kita ngalahin Alan sama dokter Rea. Kalau mereka malam pertamanya di ranjang dan kita malam pertamanya di kamar mandi," bisik Ryan dan mengecup telinga Qilla berkali-kali lalu kembali meraup bibir istri itu.

__ADS_1


Akhirnya hal semestinya yang harus mereka lakukan setelah menjadi suami istri pun tuntas, tapi meksipun begitu Ryan masih ingin bahkan Ryan bukan hanya melakukannya di kamar mandi, tapi juga di ranjang dan setelah puas barulah ia berhenti dan tidur di samping istrinya yang sudah kelelahan, "Makasih ya sayang," ucap Ryan.


"Gila, capek banget aku, kamu kalau mau gempur aku ya kira-kira dong masa sampe jam 12 malam sih," ucap Qilla dan menutup matanya kak membalas pelukan Ryan.


Ryan pun tersenyum dan menarik Qilla lalu memeluk gadis eh ralat maksudnya wanita yang sudah resmi menjadi miliknya itu. Ia tidak menyangka pertemuannya menjadi berkah baginya padahal ia tidak pernah berpikir akan menikah secepat ini karena ia dari dulu tidak terlalu memikirkan mengenai pasangan meskipun karakter Ryan yang ceria bahkan beberapa temannya mengatakan jika Ryan playboy, padahal ia tidak pernah berkencan dengan perempuan.


Setelah mendengar napas teratur dari perempuan yang ada di pelukannya, Ryan pun ikut menutup matanya dan mengikuti sang istri menuju alam mimpi.


###


###


###


Saat ini usia kehamilan Rea sudah menginjak bulan ke 9 dan tentunya hal itu membuatnya merasa was-was karena sebentar lagi ia akan melahirkan. Saat bulan ke 8 Rea sudah cuti dari rumah sakit dan saat ini Rea tinggal di rumah bunda Nara karena Alan takut jika Rea tinggal di rumah sendirian dan tiba-tiba Rea mengalami kontraksi apalagi Alan tidak bisa bersama dengan Rea seharian. Alan sengaja tidak memilih di rumah mama Dira karena takutnya saat Rea kontraksi tidak ada orang di sana karena mama Dira yang sering menemani papa di kantor dan Dea yang sekolah, jika di rumah bunda Nara, Alan lebih tenang karena ada kak Inez dan juga bunda Nara yang ada di rumah dan menemani Rea.


Sedangkan, Alan sendiri harus bolak balik pangkalan militer dan juga rumah bunda Nara, meskipun jaraknya cukup jauh di bandingkan rumah dinasnya, tapi Alan tetap tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kak, kalau mau ngelahirin emang kayak gini ya?" tanya Rea.


"Kayak gini gimana?" tanya kak Inez.


"Rasanya Rea pengen pipis terus dan yang paling buat Rea tersiksa tuh payudara Rea yang tambah sakit banget," ucap Rea.


"Kak," panggil Rea.


"Iya, kenapa?" tanya kak Inez.


"Melahirkan itu sakit gak?" tanya Rea.


"Bohong kalau kakak bilang melahirkan itu gak sakit, kakak gak mau kam jadi takut. Tapi, yang jelas kamu akan merasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan seumur hidup dan kamu harus tahu nanti," ucap kak Inez.


"Kak, kalau waktu aku ngelahirin terus aku meninggal gimana?" tanya Rea.


"Hei, kok kamu malah tanya kayak gitu. Gak baik loh kalau kamu mikir kayak gitu," ucap kak Inez.


"Aku kemarin lihat berita kalau ada perempuan yang melahirkan dan setelah anaknya lahir dia meninggal, Rea jadi takut deh kak," ucap Rea.


"Kenapa kamu malah mikir kayak gitu, lebih baik kamu berpikir hal yang positif dan gak usah mikir kayak gitu," ucap kak Inez.

__ADS_1


"Rea juga gak mau mikir kayak gitu kak, tapi tetep aja Rea takut," ucap Rea.


"Percaya sama kakak, kamu dan baby-nya pasti baik-baik aja," ucap kak Inez.


"Huh, iya aku gak boleh mikir buruk kayak gitu," gumam Rea.


"Oh iya, kamu nanti rencananya mau lahiran normal atau caesar?" tanya kak Inez.


"Rea pengen lahiran normal kak, tapi Rea takut jadinya Rea milih lahiran caesar aja dan mas Alan juga setuju. Tapi, balik lagi sih kak Rea ngikut apa kata dokter, kalau emang Rea lebih baik lahiran secara normal ya Rea oke-oke aja," ucap Rea dan diangguki kak Inez.


"Mau itu lahiran secara normal atau caesar itu sama aja, kakak gak setuju kalau ada yang bilang mau lahiran normal biar bisa jadi ibu seutuhnya, secara gak langsung mereka itu berpandangan jika perempuan yang lahiran caesar itu tidak menjadi ibu seutuhnya. Asal kamu tahu perempuan yang melahirkan secara caesar resikonya jauh lebih besar," ucap kak Inez.


"Iya kak, dokter Karin juga pernah bilang gitu ke Rea," ucap Rea.


"Baik normal atau caesar itu sama aja karena memiliki resikonya masing-masing dan sang ibu harus berjuang untuk melahirkan baby kan," ucap kak Inez dan diangguki Rea.


"Berarti gapapa dong kak kalau Rea pengen lahiran caesar?" tanya Rea.


"Gapapa dong," ucap kak Inez.


"Ini makan dulu cemilannya," ucap bunda Nara, yang baru saja datang dari dapur.


"Bunda mah selalu ngasih cemilan ke Rea, ini pipi Rea udah tembem banget loh masa harus makan lagi sih bisa-bisa meledak pipi Rea," ucap Rea.


"Apa sih kamu ini lebay, lagian nih ya kamu kan pasti sering ngerasa laper kan makanya bunda buatin cemilan," ucap bunda Nara.


"Hehehe, emang bundanya Rea ini yang terbaik deh," ucap Rea dan memakan cemilannya.


"Apa lihat-lihat? mau ya?" tanya Rea dan menggoda Kaif yang saat ini sedang melihatnya lebih tepatnya melihat cemilan yang ia pegang.


"Kalau mau ya ambil sendiri dong," ucap Rea dan memakan cemilannya dengan santai.


Namun, ia kembali melihat ke arah Kaif dan ternyata anak tersebut masih melihatnya makan, "Aduh, kasihannya anak aunty, sini deh aunty kasih cemilannya buat kamu, tapi cium aunty dulu," ucap Rea dan Kaif pun merangkak menuju Rea lalu mencium pipi Rea.


"Oke, ini buat kamu," ucap Rea dan memberikan cemilan tersebut.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2