
Disisi lain Alan yang sedang berjaga pun terkejut mendengar perkataan Ryan, "Bukannya itu dokter Rea ya, kok tambah cantik aja sih dokter Rea," ucap Ryan.
Ucapan Ryan berhasil membuat atensi Alan teralihkan pada perempuan yang telah menjadi istirnya itu. Dengan cepat Alan mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat, tapi ia tidak menemukan pesan apapun dari Rea.
'Kenapa Rea tidak mengabariku?' tanya Alan, dalam hati.
"Kapten Alan," panggil Ryan dan membuat Alan tersadar dari lamunannya.
"Hem, lebih baik kita kembali berjaga," ucap Alan.
Saat Alan kembali berjaga tiba-tiba saja ia mendengar suara seorang perempuan dari belakangnya, dengan cepat Alan pun membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan perempuan tersebut yang tak lain adalah Rea istrinya.
"Kapten Alan," sapa Rea, dengan senyum manisnya.
"Oh, dokter Rea ada di sini, senang bertemu dengan dokter Rea," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Ada apa ya dokter Rea?" tanya Alan.
"Oh iya, tadi dokter Danu menyuruh saya untuk mengabari kapten Alan karena bagaimanapun kapten Alan kan yang memimpin jadi takutnya nanti kapten Alan tidak tahu jika ada beberapa relawan yang kembali ke sini," ucap Rea.
"Iya, saya tahu, yakin saya tidak tahu kalau salah satunya ada dokter Rea," ucap Alan.
"Yang di sebelah dokter Rea itu siapa?" tanya Ryan.
"Oh, dia perawat di Daiva General Hospital, namanya Fafi," ucap Rea.
Ryan pun mengulurkan tangannya pada Fafi dan memperkenalkan diri, "Perkenalkan nama saya Ryan," ucap Ryan.
Fafi pun membalas uluran tangan Ryan, "Saya Fafi," ucap Fafi.
"Dokter Rea," panggil dokter Danu.
Semua orang yang ada di sana pun ikut menatap dokter Danu yang menghampiri Rea, "Ada apa dokter Danu?" tanya Rea.
"Karena dokter Rea sudah ada di sini, dokter Rea harus memeriksa salah satu warga di sini. Sudah lebih dari seminggu pasien merasakan sakit pada perutnya dan sering muntah, diare dan demam tinggi, dokter juga belum melakukan penanganan terhadap pasien," ucap dokter Danu.
"Kalau pasien sudah di periksa?" tanya Rea dan diangguki dokter Danu.
__ADS_1
"Ya, pasien ternyata memiliki penyakit Peritonitis," ucap dokter Danu.
Rea pun menatap dokter Danu seolah tak percaya, "Peritonitis selama seminggu ini dan tidak ada penanganan," ucap Rea.
"Kalau begitu saya akan ke pasien sekarang," ucap Rea.
Rea, Fafi dan dokter Danu pun pergi meninggalkan Alan dan Ryan yang berada di sana sejak tadi, "Kapten Alan tahu apa itu penyakit Peritonitis?" tanya Ryan.
"Aku ini seorang tentara bukan dokter mana ku tahu," ucap Alan dan meninggalkan Ryan.
"Padahal gue tanya nya baik-baik loh, tapi Alan malah sewot," gumam Ryan.
Disisi lain, Rea saya ini sudah berada di ruangan warga yang terkena Peritonitis, "Kenapa tidak langsung dilakukan penanganan setelah mengetahui penyakitnya?" tanya Rea.
"Tidak pernah ada dokter yang menangani penyakit ini dan hampir semua dokter tidak ingin mengambil resiko untuk penanganannya dan di sini juga tidak ada dokter bedah," ucap dokter Danu.
"Dari banyaknya dokter tidak ada yang dokter bedah?" tanya Rea dan diangguki dokter Danu.
"Apa yang menyebabkan pasien bisa mengalami Peritonitis?" tanya dokter Rea.
"Setelah kita periksa pasien mengalami cedera para perut, pasien juga ditemukan di hutan dengan luka tembak pada perutnya. Tapi, untung dengan cepat para tentara menemukannya, tapi ternyata pasien mengalami Peritonitis karena luka tembak itu," ucap dokter Danu.
"Iya, dokter," ucap dokter Danu.
"Fafi, kamu ikut saya melakukan prosedur bedah dan dokter Danu bisa Carikan saya dokter untuk mendampingi saya," ucap Rea.
"Bisa dokter," ucap dokter Danu.
Beberapa saat kemudian, dokter Danu pun masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan Jasmine, salah satu dokter dari rumah sakit Citra Lestari, "Ini dokter saya bersama dokter Jasmine akan menjadi pendampingnya dokter Rea," ucap dokter Danu dan diangguki Rea.
Hal pertama yang Rea lakukan adalah memberikan antibiotik atau obat antijamur melalui infus hal ini untuk mengobati infeksi dan mencegah agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuh pasien. Setelah itu, Rea melakukan prosedur bedah untuk membuang jaringan yang terinfeksi dan menutup robekan pada organ dalam hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi. Setelah semuanya selesai, Rea pun memberikan obat pereda nyeri pada pasien.
Sebenarnya tidak memerlukan waktu begitu lama untuk prosedur bedah, tapi karena pasien mengalami syok septik yang ditandai dengan penurunan tekanan darah yang drastis dan sangat berbahaya. Bahkan Rea memerlukan kurang lebih 3 jam untuk menyelesaikan prosedur bedah.
"Akhirnya kondisi pasien mulai normal," ucap Rea dan duduk di bawah.
"Dokter Rea gapapa?" tanya dokter Jasmine.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa, terima kasih untuk semuanya karena bantuan kalian keadaan pasien sekarang mulai membaik," ucap Rea dan diangguki semua orang yang ada di sana.
"Saya juga sangat berterima kasih pada dokter Rea karena membiarkan saya menjadi pendamping untuk dokter Rea dan karena itu juga saya tahu bagaimana prosedur yang baik dan benar," ucap dokter Jasmine.
"Dokter Rea mau istirahat, saya yakin pasti dokter Rea capek," ucap Fafi.
"Iya, saya akan kembali ke kamp untuk istirahat dan dokter Jasmine bisa saya minta bantuan lagi untuk merawat pasien takutnya nanti ada kondisi pasien kembali melemah," ucap Rea.
"Tentu dokter Rea, pasti dokter Rea juga capek setelah perjalanan panjang dan dokter Rea justru langsung melakukan prosedur bedah," ucap Jasmine.
Rea dan Fafi menuju kamp militer, "Kalian mau kemana?" tanya Alan.
"Kita mau ke kamp militer kapten," ucap Fafi.
Rea sangat malas untuk menjawab karena badannya benar-benar sakit, yan ia butuhkan saat ini adalah istirahat.
"Dokter Rea kenapa?" tanya Alan, saat melihat Rea yang terus bersandar pada Fafi bahkan Rea tidak melihat ke arahnya dan ia justru menutup matanya.
"Dokter Rea kecapean kapten, soalnya tadi kurang lebih selama 3 jam dokter Rea melakukan prosedur bedah pada salah satu warga," ucap Fafi dan diangguki Alan.
Rea hanya mendengar percakapan Fafi dan Alan tanpa mau ikut serta dalam percakapan tersebut, ia sangat malas untuk berbicara bahkan untuk membuka matanya saja rasanya sangat berat. Hingga tiba-tiba tubuhnya melayang dan hal itu membuat Rea akhirnya membuka matanya.
Betapa terkejutnya Rea saat melihat ia yang berada di gendongan Alan, "Kapten Alan," panggil lirih Rea.
Alan hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Rea yang berada di gendongannya. sedangkan, Rea berusaha untuk menjauh dari Alan karena tubuhnya benar-benar menempel pada Alan.
"Diam, dokter Rea tidak perlu banyak bergerak," ucap Alan.
Alan lun menggendong Rea sampai menuju kamp militer dan tentunya diikuti Fafi, banyak para anggota tim Alan yang menatap sikap Alan yang rela menggendong Rea. Alan terkenal dengan cueknya pada perempuan bahkan putri komandannya pun ditolak mentah-mentah oleh Alan padahal putri dari komandannya itu seorang model ternama di Asia.
Rea hanya mampu menunduk malu saat melewati beberapa anggota tim Alan dan tanpa terasa Rea sudah berada di kamp militer dan dengan cepat Alan menaruh Rea di kasurnya setelah itu Alan pergi meninggalkan Rea dan Fafi yang bengong melihat sikap Alan yang langsung bersikap acuh tidak seperti tadi.
"Kapten Alan itu ganteng banget ya dokter," ucap Fafi, dengan senyum manisnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.