
Saat ini di rumah Alan kedatangan sangat ramai mulai dari keluarganya dan Rea serta para sahabatnya serta jangan lupakan anggota Alan, "Lan, gimana anak lo cowok dua-duanya?" tanya Ryan.
"Gak tau, yang kelihatan cuma yang cowok," ucap Alan.
"Sakit gak, Re?" tanya Nina.
"Maksudnya?" tanya Nina.
"Sakit gak perut lo bawa dua bayi, gue aja yang satu udah sering sakit," ucap Nina.
"Ya, gitu deh. Kalau sakit ya kadang-kadang," ucap Rea.
"Ada bedanya gak sama yang hamil pertama?" tanya Qilla.
"Apa ya, mungkin gue lebih gampang engap sih, kayak kalau bicara panjang dikit udah gak kuat gitu," ucap Rea.
"Iya lah orang gue yang hamil satu aja udah engap banget nah lo malah dua," ucap Qilla.
"Mama yang ngelihatnya aja udah ngeri sendiri loh," ucap mama Dira.
"Iya, apalagi ini udah 9 bulan dan kurang 2 Minggu lagi bakal lahiran, jadi kelihatan besar banget," ucap bunda Nara.
Ya, saat ini usia kandung Rea memang sudah memasuki bulan ke 9, Rea semakin hari semakin merasakan nyeri pada perutnya dan yang lebih parah adalah Rea sangat mudah capek, mungkin karena ia membawa dua bayi sehingga mudah lelah.
"Iya, Gia ngelihatnya juga takut, perutnya kak Rea kayak mau meletus gitu," ucap Gia.
"Hush, gak boleh kayak gitu," ucap ayah Argi.
"Hehehe, bercanda," ucap Gia.
"Gue penasaran deh, gimana anak lo kalau cowok," ucap Ryan.
"Setuju, kayaknya bakal mirip kapten Alan atau dokter Rea," ucap Raka.
"Terserah sih mirip siapa aja, soalnya dua-duanya gak ada yang jelek," ucap Ryan.
"Iya juga sih," ucap Raka.
"Yang penting mah anaknya kapten Alan gak mirip gue gitu aja," ucap Gara.
"Iyalah, kalau mirip lo yang ada musibah," ucap Ryan.
"Lagian ngapain anaknya Alan sama dokter Rea mirip lo dah," ucap Nando.
"Ya, kan siapa tau gituloh. Secara kan dokter Rea pernah ngidam pengen nyubit pipi gue," ucap Gara.
"Setelah ngidam itu Rea langsung nyesel," ucap Sivia.
"Bener sayang," ucap Alvin.
"Perbucinan dimulai," ucap Gara.
"Udah kalian makan dulu deh, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Rea.
__ADS_1
"Mau apa di kamar mandi?" tanya Alan.
"Mau pipis bentar," ucap Rea.
"Kayaknya tadi dokter Rea dari kamar mandi deh, kok sekarang ke kamar mandi lagi," ucap Raka.
"Kalau udah hamil tua itu emang sering ngerasain pengen buang air kecil, itu tanda-tanda sebentar lagi bakal lahiran. Apalagi Rea kan tinggal 2 Minggu lagi, jadi bakal sering ngerasain kayak gitu," ucap bunda Nara.
"Tuh denger," ucap Ryan
Rea pun berdiri berniat untuk ke kamar mandi, "Kalau gitu ayo aku anterin," ucap Alan.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok," ucap Rea.
"Gapapa, aku takut kamunya kenapa-napa," ucap Alan dan menuntun Rea ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Alan dan Rea kembali ke ruang tamu dengan Alan yang masih menuntun Rea, "Rea kayak nenek aja harus di tuntun," ucap Rea.
"Namanya juga khawatir sayang," ucap Alan dan mendudukkan Rea ke tempatnya tadi.
"Alan nih kayak kakak dulu," ucap kak Ray.
"Alah, kamu waktu ines hamil aja sering lembur," ucap bunda Nara.
"Bunda mah, kan Ray juga kerja buat istri sama anak Ray," ucap kak Ray.
"Baby Lea anteng banget sama Inez," ucap bunda Nara.
"Kalau sama Inez aja diem masa tadi sama Ray, dia nangis gitu," ucap kak Ray.
"Siap ya kak Ray nakutin, ucap Qilla.
"Heh, enak aja kalau ngomong bener," ucap Rea.
"Emang ya inilah resiko cowok ganteng," ucap Ray.
"Kepedean," gumam Alan dan masih dapat di dengar semua orang.
"Dasar adik ipar uang kurang ajar," ucap Ray dan Alan hanya mengangkat bahunya.
Mereka pun saling mengobrol karena memang hari ini semuanya libur dan ingin menemani Rea saja, semua keluarga Alan dan Rea sudah akrab dengan sahabat mereka berdua bahkan mereka juga seorang mengadakan pertemuan keluarga dan semuanya ikut tentunya.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Alan.
"Aku mau ke kamar ganti baju," ucap Rea.
"Kenapa ganti baju?" tanya Alan.
"Lihat baju aku udah basah," ucap Rea dan menunjukkan dadanya yang memang sudah basah.
Rea merasa di kehamilan keduanya ini ASI-nya sering keluar, memang saat kehamilan pertama ASI-nya juga keluar, tapi tidak sesering dan secepat kehamilan kali ini. Bahkan Rea sudah menutupinya dengan kain sebelum ia menggunakan bra, tapi tetep saja ASI-nya terus merembes hingga membasahi bajunya.
"Astaga, sayang jangan gitu," ucap Alan dan menutupi Rea. Karena tadi anggotanya melihat ke arah Rea, Alan tidak akan rela jika mereka melihat hal itu.
__ADS_1
"Yaudah aku mau ke kamar," ucap Rea.
"Ayo sama aku aja," ucap Alan.
"Ish, aku itu bisa sendiri sayang," ucap Rea.
Alan yang mendengar panggilan tersebut pun tersenyum dan salah tingkah bahkan telinganya mulai merah, "Kenapa tuh telinga?" tanya Ryan.
"Diem!" sentak Alan.
"Ngagetin," ucap Rea.
"Eh, maaf sayang," ucap Alan.
"Yaudah, tapi kamu gapapa sendirian ke kamarnya?" tanya Alan.
"Gapapa dong, kan biasanya juga gitu," ucap Rea.
"Nanti kalau tiba-tiba kamu mau lahiran gimana?" tanya Alan.
"Astaga Lan, ya gak lah kan masih kurang 2 Minggu," ucap mama Dira.
"Lagian kan kamarnya deket kalau ada apa-apa aku tinggal panggil kamu," ucap Rea.
"Huh, yaudah deh," ucap Alan.
Rea pun berdiri dan masuk ke dalam kamar lalu mengganti bajunya, Rea sebenarnya tidak ingin diantar Alan karena ia masih malu jika harus berganti baju di depan Alan. Entahlah tiba-tiba saja ia malu padahal saat hamil baby Lea, Rea biasa saja bahkan dulu saat hamil baby Lea, Rea sering mandi bersama Alan, tapi sekarang ia sangat malu. Di kehamilan keduanya ini Rea hanya beberapa mandi bersama Alan tidak sesering kehamilan pertamanya.
Bahkan pernah suatu hari Rea yang tengah ganti baju di dalam kamar dikejutkan dengan Alan yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu padahal saat itu tubuh Rea benar-benar polos. Setelah kejadian itu suasana tiba-tiba menjadi canggung, Rea akan berbicara saja ditanya saja dan selebihnya ia diam karena malu. Alan yang tidak tahan dengan suasana canggung pun bertanya pada Rea dan Rea menceritakan jika ia malu, Alan hanya tersenyum dan memeluk Rea setelah itu. Karena hal itu juga selama kehamilan Rea, Alan selalu mengetuk pintu terlebih dahulu agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
"Pake baju yang mana ya?" tanya Rea dan menatap baju-bajunya yang ada di lemari.
"Pake yang biru aja deh," gumam Rea dan memakai bajunya.
Setelah itu, berganti baju Rea pun berniat untuk keluar kamar, tapi sebelum ia sampai di pintu ia terlebih dahulu merasakan sakit pada perutnya. Karena tidak kuat Rea pun sampai terjatuh di sebelah lemari, tapi untung saja Rea jatuh dengan posisi duduk dan meluruskan kakinya. Keringat mulai membanjiri wajar Rea bahkan mata Rea rasanya berat dan ingin tertutup saja.
"Awsh, sakit," gumam Rea.
"Ma-mas Alan sssh," panggil Rea, dengan suara pela.
"Gak ku-kuat," lanjut Rea.
"Mas Alan," panggil Rea, lagi dan dengan suara yang pelan.
"Huh huh MAS ALAN!" teriak Rea, dengan sisa tenaganya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1