Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Kebetulan Atau Takdir


__ADS_3

"Kak anterin Daisy dong ke sekolah," ucap Daisy.


"Gak ah, nanti kamu pasti ribet," ucap Nial.


"Gak lah kak," ucap Daisy.


"Emangnya kenapa mobil kamu?" tanya ayah Alan.


"Daisy cuma males aja bawa mobil Yah, lagian kan Daisy udah lama gak di anter kak Nial," ucap Daisy.


"Udah sayang anter aja ya kembaran kamu, mungkin Daisy lagi kangen sama kamu," ucap bunda Rea.


"Lea ikut dong," ucap Lea.


"Gak ya, kamu di rumah aja. Perut kamu udah kelihatan gitu takutnya nanti kalau keluar rumah malah terjadi sesuatu yang membahayakan buat kamu sama baby-nya," ucap ayah Alan.


Lea yang mendengar perkataan ayah Alan pun cemberut dan memajukan bibirnya serta menatap lesu sang ayah, "Ayah mah gak seru, masa Lea di rumah terus sih. Lea kan juga pengen ngelihat dunia luar gitu," ucap Lea.


"Kamu ke taman belakang aja kalau kamu pengen ngelihat dunia luar," ucap ayah Alan.


"Bosen," ucap Lea.


"Yaudah, kalua gitu kamu cat aja dinding yang di sebelah kanan biar gak bosen," ucap ayah Alan.


"Memangnya boleh Yah?" tanya Lea dengan semangat.


"Boleh, takut kamu tanya sama suami kamu dulu, dia ngizinin kamu gak buat cat dinding," ucap ayah Alan.


"Gak boleh lah, kak Noah itu gak bisa ngeliat kak Lea ngelakuin hal berat bahkan kak Lea bawa piring aja di ceramahi sama kak Noah," ucap Daisy.


"Bener pasti gak boleh," ucap Lea.


"Yaudah, kalau gitu gak usah," ucap ayah Alan.


"Ayah mah Lea itu bosen banget loh di rumah," rengek Lea.


"Ya, terus ayah harus apa? kan suami kamu yang larang kamu keluar rumah," tanya ayah Alan.


"Mau ke rumahnya aunty Qilla gak?" tanya bunda Rea.


"Boleh Bun, nanti biar ketemu sama Elvan," ucap Lea.


"Yaudah, kamu habisin dulu sarapan kamu," ucap bunda Rea.


"Iya Bun," ucap bunda Rea.


"Sayang, tanya Noah dulu ya," ucap ayah Alan.


"Gapapa kok Yah, biar Lea ikut aku aja daripada Lea sendirian di rumah kan sebentar lagi kamu, Nial sama Daisy pergi terus aku juga harus ke Qilla buat lihat beberapa bahan makanan yang aku pesen dua hari lalu," ucap bunda Rea.


"Nial di sini kok Bun gak keluar rumah," ucap Nial.


"Bukannya kamu nganterin Daisy," ucap bunda Rea.


"Gak Bun, biar Daisy berangkat sendiri," ucap Nial.


"Gak kak Nial harus anterin Daisy pokoknya, ayo kak udah aku telat ini," ucap Daisy.


Daisy pun menghabiskan sarapannya dan setelah itu berdiri menghampiri orangtuanya lalu mencium tangan dan pipi bunda Rea dan ayah Alan. Daisy menghampiri Nial dan menarik lengan Nial dan alhasil Nial berdiri dengan sigap Daisy menarik Nial hingga keluar rumah.


"Berangkat dulu ya bunda, ayah kak Lea!" teriak Daisy.


"Iya hati-hati sayang!" teriak bunda Rea.


"Yaudah, kalau gitu kalau berdua hati-hati ya. Ayah juga mau berangkat," ucap ayah Alan dan menghampiri bunda Rea lalu mengecup bibir sang istri.


"Ayah sama bunda kalau mesra-mesraan tau tempat dong masa mesra-mesraan di depan Lea sih," ucap Lea.


"Gapapa, kan kamu udah nikah kalau di depan Nial sama Daisy baru gak boleh soalnya mereka kan belum nikah sama belum punya pasangan," ucap ayah Alan dan menghampiri Lea lalu mengecup kening putri tercintanya.


Disisi lain Nial dan Daisy pun berada di mobil Daisy, "Harusnya kan kamu berangkat sendiri tau gak, mana pake mobil kamu lagi. Males banget aku harus nganter padahal masih ngantuk juga," ucap Nial.


"Udah kak Nial jangan banyak bicara ya lebih baik kak Nial mengemudi dengan tenang supaya Daisy cepat sampai karena sebentar lagi Daisy telat," ucap Daisy.

__ADS_1


"Berasa supir tau gak," ucap Nial.


"Ya, untuk hari ini kak Nial adalah supir Daisy," ucap Daisy dan Nial hanya memutar malas bola matanya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang nial kendarai pun sampai di sekolah tempat Daisy mengajar, "Makasih ya kembaranku tercinta," ucap Daisy dan mengecup pipi Nial.


"Hiiii geli tau gak," ucap Nial.


"Hehehehe, gapapa dong orang Daisy juga yang cium," ucap Daisy.


"Ini mobil kamu parkir di sekolahan aja atau gimana?" tanya Nial.


"Emangnya kak Nial mau nunggu Daisy?" tanya Daisy.


"Ya gaklah, aku pulang," ucap Nial.


"Nah, terus kenapa malah parkir di sekolahan?" tanya Daisy.


"Ya, buat kamu pulang nanti," ucap Nial.


"Terus kak Nial pulangnya pake apa kalau mobilnya aku bawa?" tanya Daisy.


"Aku naik taksi," ucap Nial.


"Oke, kalau gitu kakak bawa aja mobi Daisy dan nanti pulangnya Daisy minta jemput," ucap Daisy.


"Gak aku ya, nanti pulang sendiri," ucap Nial.


"Gak, pokoknya nanti kakak jemput Daisy jam 2 siang mungkin nanti Daisy udah selesai kok," ucap Daisy.


Baru saja Nial akan protes pada Daisy, tapi Daisy terlebih dahulu keluar dari mobil dan masuk ke dalam sekolah, "Dasar ya anak itu," gumam Nial.


Nial pun mengedarkan pandangannya ke sekolahan Daisy hingga netranya menatap seseorang yang sepertinya juga tengah menatap mobilnya dan setelah itu ia tersenyum pada salah satu guru yang ada di sana.


"Maudy," gumam Nial.


Ya, perempuan yang sempat menatap mobil yang dikendarai Nial tadi adalah Maudy, tapi selang beberapa saat kemudian Maudy berbicara dengan guru yang juga ada di gerbang.


Maudy memang berada di gerbang bersama dengan beberapa guru dan sangat kebetulan gerbang sekolah tersebut dibuka cukup lebar sehingga Nial dapat melihat perempuan yang sudah ia cari dalam beberapa bulan.


"Gue gak tau harus seneng atau gimana, tapi gue pengen nyamperin Maudy, entahlah ini memang kebetulan atau takdir," gumam Nial.


Nial benar-benar merasa frustasi karena melihat Maudy tadi, meskipun begitu setidaknya ia tau dimana tempat kerja Maudy yang tidak lain satu tempat kerja dengan kembarannya.


Setelah itu, Nial pun mengendarai mobil tersebut dan kembali ke rumah, ia akan menemui Maudy nanti saat ia menjemput Daisy.


Disisi lain, Maudy yang baru saja masuk ke dalam ruang guru pun terkejut saya melihat perempuan yang ia lihat tadi saat mencium pipi seseorang yang ia kenal ya dia adalah Daisy.


Satu lagi fakta bahwa Maudy tadi melihat Daisy mencium pipi Nial saya di dalam mobil bahkan Maudy tadi melihat Nial yang tersenyum pada Daisy dan senyuman tersebut tidak pernah ia lihat sebelumnya dan yang jelas Nial tidak pernah seperti itu pada dirinya.


Yang membuat Maudy bingung adalah sikap Nial, dimana saat Maudy melihat Daisy mengecup pipi Nial, Nial tidak marah justru Nial tersenyum.


Bahkan ini adalah kedua kalinya Maudy melihat Daisy mengecup pipi Nial, yang pertama adalah saat di taman.


# Flashback On #


Maudy yang baru saja selesai membeli beberapa bahan makanan untuk ia masak dan dijadikannya bekal saya kerja agar menghemat uangnya pun tertarik saat melihat anak-anak yang bermain di taman.


"Aku udah lama di sini, tapi gak pernah ke taman. Coba ke taman kali ya, tapi mau ngapain juga aku ke taman," gumam Maudy.


Maudy pun berjalan menuju taman, tapi langkahnya terhenti karena seseorang yang berjalan dan menabrak punggungnya.


"Heh, orang miskin kalau jalan-jalan tuh minggir dong," ucap perempuan tersebut yang tak lain adalah Bilqis.


"Maaf kak, saya tidak lihat kalau kakak jalan di belakang saya," ucap Maudy.


"Kakak-kakak emangnya gue kakak lo apa, tapi gue ogah ya jadi kakak lo, gak level tau gak," ucap Bilqis dan pergi terus memanggil nama seseorang yang sangat Maudy kenal.


"Kak Nial!" panggil Bilqis dengan cukup keras.


Maudy pun penasaran dan berniat untuk mengikuti Bilqis, tapi sayang lagi-lagi kesialan menimpa dirinya dimana bola yang dimainkan anak-anak yang ada di lapangan mendarat tepat di kepalanya.


"Maaf kak, Tio gak sengaja," ucap anak kecil yang berada di hadapan Maudy yang bernama Tio.

__ADS_1


"Iya gapapa kok, ini bolanya. Tapi, lain kali hati-hati ya," ucap Maudy dan diangguki Tio.


"Terima kasih kakak cantik," ucap Tio.


"Iya, sama-sama," ucap Maudy.


Setelah membersihkan beberapa tanah yang ada di kepalanya, Maudy pun berjalan menuju tempat yang Bilqis datangi tadi, tapi ia tidak melihat Bilqis dan justru melihat tiga orang dimana dia orang lainnya Maudy kenal.


'Bukannya itu Bu Daisy sama sersan Nial, mereka punya hubungan ya kok Bu Daisy memeluk sersan Nial,' ucap Maudy dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Maudy dapat melihat Daisy yang mengecup pipi Nial, setelah melihat itu Maudy pun tersenyum lalu memilih pergi dari tempat persembunyiannya dan kembali ke kos-kosannya.


Maudy sudah mundur sejak ia memilih untuk menjauh dari Nial, jadi ia rasa keputusannya sudah benar dan ia tidak perlu ragu lagi.


# Flashback Off #


"Kenapa Bu Maudy?" tanya Daisy.


"Saya tidak apa-apa kok Bu Daisy, mungkin kurang tidur saja jadi agak pusing," ucap Maudy.


"Lebih baik Bu Maudy istirahat aja dulu," ucap Daisy.


"Iya Bu, terima kasih," ucap Maudy.


"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu soalnya ada kelas," ucap Bu Daisy.


"Iya Bu, silahkan," ucap Maudy.


Setelah itu, Daisy pun pergi dan Maudy yang melihat kepergian Daisy pun tersenyum, "Memang sih Bu Daisy sangat cocok dengan sersan Nial, apalagi mereka dari keluarga yang berkecukupan dan sama-sama dari keluarga tentara. Benar kata bapak, aku harus sadar diri dengan posisiku," gumam Maudy dan memutuskan untuk kembali ke mejanya.


"Bu Maudy kenapa?" tanya Bu Farah.


"Saya tidak apa-apa kok Bu," ucap Maudy.


"Tapi, muka Bu Maudy pucat sekali, lebih baik Bu Maudy ke UKS," ucap Bu Farah.


"Tapi, saya sebentar lagi ada kelas Bu," ucap Maudy.


"Untuk masalah itu gampang yang penting Bu Maudy sehat dulu ya, ayo saya antarkan Bu Maudy ke UKS," ucap Bu Farah.


"Tidak perlu Bu saya bisa sendiri kok," ucap Maudy.


"Yasudah kalau begitu hati-hati Bu," ucap Bu Farah.


"Iya Bu, saya permisi," ucap Maudy dan pergi dari ruang guru dan menuju ruang UKS.


"Ada apa Bu Maudy?" tanya Bu Laras yang menjadi penjaga UKS.


"Bu saya sangat pusing apa Bu Laras bisa periksa saya sebentar atau berikan resep obat," ucap Maudy.


"Saya periksa dulu ya Bu," ucap Bu Laras dan diangguki Maudy.


"Bu Maudy udah berapa lama gak makan?" tanya Bu Laras.


"Maksud Bu Laras apa? saya terakhir kali makan ya tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah," tanya Maudy.


"Apa sakit Bu?" tanya Bu Laras dan menekan perut Maudy.


Maudy pun merintih kesakitan saya Bu Laras menekan perutnya, "Bahkan saya tidak terlalu keras menekan perut Bu Maudy, saya sarankan Bu Maudy ke rumah sakit karena takutnya kram perut yang Bu Maudy alami semakin parah. Saya akan berikan surat keterangan ke kepala sekolah, jadi Bu Maudy tidak perlu khawatir untuk itu," ucap Bu Laras.


"Tidak perlu Bu, saya masih bisa kok," ucap Maudy.


"Untuk saat ini Bu Maudy memang bisa, takut dalam jangka waktu beberapa saat bu Maudy kan merasakan sakit perut yang teramat jika tidak segera ditangani dokter yang ahli atau gak setidaknya Bu maudy harus di infus," ucap Bu Laras.


"Saya sudah hubungi pak Dino untuk mengantar Bu Maudy, lebih baik Bu Maudy segera ke rumah sakit dan setelah Bu Maudy sembuh baru Bu Maudy bisa kembali mengajar," ucap Bu Laras.


"Terima kasih Bu Laras," ucap Maudy.


"Iya sama-sama Bu," ucap Bu Laras.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2