
Rea mengerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke netra nya, Rea merasa nyaman saat ini hingga tiba-tiba ia tersadar jika kemarin malam ia bersama dengan Alan.
"Selamat pagi," sapa Alan, yang berada di belakangnya.
Rea yang mendengar itupun lantas duduk dan menatap ke belakangnya, di sana ia melihat Alan dengan wajah tampannya tengah tersenyum padanya, "Selamat pagi sayang," sapa Alan.
"Selamat pagi juga," ucap Rea.
"Udah pagi kita langsung ke kamp atau bagaimana?" tanya Alan, saat melihat Rea yang hanya diam di hadapannya.
"Eh, iya kita ke kamp aja sekarang," ucap Rea.
Rea pun di bantu berdiri oleh Alan dan betapa terkejutnya Rea saat melihat kakinya yang terbalut dengan kain, "Kenapa?" tanya Alan, saat Rea hanya diam di tempat.
"Kok kakiku bisa di balut sama kain," ucap Rea.
"Semalam aku yang balut kaki kamu, udah ayo kita ke kamp," ucap Alan dan berjongkok di hadapan Rea.
"Loh, kenapa kapten Alan jongkok?" tanya Rea.
"Kaki kamu pasti masih sakit, makanya biar aku gendong belakang," ucap Alan.
Alan benar, kaki Rea memang sakit bahkan meskipun hanya diam saja kakinya terasa sakit dan alhasil Rea pun setuju dengan ucapan Alan. Rea langsung menempatkan dirinya ke belakang Alan dan beberapa saat kemudian, Alan dan Rea keluar dari gua.
Kurang lebih 25 menit Alan berjalan kaki dengan Rea yang berada di gendongannya, akhirnya Alan dan Rea pun sampai di kamp. Di sana sudah ada Qilla dan Nina serta beberapa dokter dan beberapa tentara. Qilla dan Nina langsung berlari saat melihat Rea yang berada di gendongan Alan. Alan sendiri saya melihat kedua sahabat Rea pun memutuskan untuk mendudukkan Rea di salah satu tempat duduk yang berada di depan kamp militer.
"Rea! kangen banget gue sama lo!" pekik Qilla.
"iya, Re. Rasanya dunia berhenti gara-gara lo gak ada!" pekik Nina yang tak kalah kerasa daripada Qilla.
"Ish, kalian berdua jangan teriak-teriak dong, sakit nih telinga gue," ucap Rea.
"Hehehe, habisnya gue itu kangen banget sama lo," ucap Qilla.
__ADS_1
"Iya, gimana lo kok bisa di hutan sih?" tanya Nina.
Rea yang mendengar pertanyaan Nina lun lantas menoleh ke orang yang udah menyuruhnya ke hutan, "Gue di suruh dokter Gina buat nyari daun pohon jati soalnya ada anak kecil yang jatuh dan dia gak mau di obati sama obat dokter, dia maunya paket daun pohon jati terus gue mau minta bantuan sama yang lain, tapi gak ada orang ya udah gue ke hutan sendirian. Eh, ternyata gue malah tersesat," ucap Rea.
Ucapan Rea membuat semua orang yang ada di sana menyapa dokter Gina yang wajahnya sudah pucat saat ini, "Saya gak pernah nyuruh dokter Rea untuk ke hutan nyari itu," ucap dokter Gina.
"Tapi, waktu itu dokter Gina nyuruh saya kok, makanya saya ke hutan terus pas saya tanya katanya kenapa kok gak nyuruh yang cowok kata dokter Gina, dokter Gina gak terlalu kenal dan akrab gitu dan nyuruh saya, padahal saya juga gak terlalu akrab sama dokter Gina bahkan kita gak pernah ngobrol gitu," ucap Rea.
Rea memang bicara yang sebenarnya, Rea ingin membongkar semua niat buruk dari dokter Gina dengan menceritakan semuanya. ia merasa dokter gin sudah keterlaluan dan membuatnya harus ketakutan di dalam hutan.
"Iya juga sih, saya juga tidak pernah melihat dokter Rea dan dokter Gina mengobrol malah saya sering mendapati dokter Gina yang melihat dokter Rea dengan tatapan tidak suka," ucap dokter Jasmine.
"Selain itu juga, beberapa hari yang lalu dokter Gina sempat tanya ke saya di hutan ada pohon itu atau tidak dan saya mengatakan di daerah perbatasan tidak ada pohon tersebut, tapi anehnya dokter Gian justru menyuruh dokter Rea mengambil daun dari pohon tersebut," ucap Gara.
Dokter Gina sendiri benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ucapan Rea, dokter Jasmine dan Gara yang menyudutkannya, "Saya akan laporkan tindakan dokter Gina pada atasan, saya harap dokter Gina bisa menyadari apa kesalahan dokter Gina," ucap dokter Danu.
"Tapi, saat memang benar-benar tidak ada niatan untuk menyelakai dokter Rea atau apapun itu, saya lupa jika di hutan tidak ada pohon itu," ucap dokter Gina.
"Berarti dokter Gina sengaja dong buat dokter Rea celaka?" tanya Qilla.
"Lebih baik dokter Gina katakan pembelaan dokter Gina saat kita berada di rumah sakit nanti," ucap dokter Danu.
"Lebih baik kita kembali ke pengungsian karena dua hari kita akan kembali ke kota," ucap dokter Gabby dan diangguki para relawan yang ada di sana.
"Untuk dokter Rea lebih baik istirahat terlebih dahulu, kaki dokter Rea pasti sakit bukan," ucap dokter Danu.
"Baik dok," ucap Rea.
Setelah para dokter pergi, Rea pun beranjak dari duduknya dan bersiap melangkah menuju kamp, tapi hal itu urung dilakukan karena Alan yang tiba menggendong Rea ala bridal style, Rea tak habis pikir padahal di sana ada anggota tim Alan dan juga jangan lupakan dua sahabatnya Qilla dan Nina yang mang tidak pergi bersama para relawan lainnya. Mereka berdua ingin menemani Rea, tapi mereka malah di buat terkejut saya rea di gendong oleh Alan hingga sampai di kamp.
Bukan hanya Qilla dan Nina hampir semua anggota tim Alan yang melihat sikap Alan yang tiba-tiba menggendong Rea juga terkejut kecuali Alvin tentunya, "Wah, kapten Alan beneran gendong dokter Rea. Ihhh kok aku baper sih, jadi pengen juga di gendong," ucap Qilla.
"Gendong depan atau belakang nih, sini deh biar saya yang gendong dokter Qilla," ucap Gara.
__ADS_1
"Hiii, saya juga milih-milih kaki kalau mau di gendong, udah ah ayo Na kita ke Rea," ucap Qilla dan menarik tangan Nina.
Disisi lain, Rea yang sudah terbaring cantik di kasurnya pun hanya mampu menyembunyikan rona di pipinya dengan memalingkan wajahnya dari Alan, "Kenapa gak natap aku sih? emangnya mukaku kotor ya?" tanya Alan.
Rea yang mendengar hal itu pun lantas menoleh pada Alan, 'Kotor darimananya, malah ganteng banget gitu. Aduh jantung gue udah gak aman, tolong siapapun datang dan selamatin nyawa gue dari kapten alan,' ucap Rea, dalam hati.
Sepertinya keinginan Rea dikabulkan oleh tuhan karena beberapa saat kemudian, Qilla dan Nina masuk ke dalam kamp. "Eh, lupa kalau ada kapten Alan," ucap Qilla.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Alan setelah itu ia pun keluar dari kamp.
"Wah, gila tatapannya kapten Alan nakutin banget, gue berasa lagi ketemu sama malaikat maut tahu gak," ucap Qilla.
"Lebay," ejek Rea.
"Gue gak lebay, tapi emang beneran tatapan kapten Alan itu bikin takut sekaligus terpesona," ucap Qilla.
"Iya, gue juga setuju sama Qilla. Kapten Alan itu nakutin, tapi gue juga kagum, terpesona sama takjub ngelihat kapten Alan," ucap Nina.
"Btw, lo gapapa kan?" tanya Qilla.
"Gapapa kok, cuma kaki aja yang luka," ucap Rea.
"Sini gue obatin," ucap Nina.
"Wah, kalau sampe Tante Nara tahu lo terluka kayak gini bisa-bisa dunia hancur saat ini juga," ucap Nina dan membuat ruangan di penuhi dengan tawa orang yang ada di sana.
Bunda Nara memang sangat tidak bisa jika melihat luka sedikitpun pada tubuh anak-anaknya, bukan hanya Bunda Nara sih, tapi mungkin semua orangtua pasti tidak kan bisa melihat anaknya terluka sedikitpun.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.