
Nial merasa tidurnya terganggu karena seseorang yang menepuk bahunya, meskipun tepukan tersebut pelan, tapi tetap saja Nial terganggu dan membuka matanya.
Saat membuka matanya Nial dapat melihat dokter Farah yang berada tepat dihadapannya, "Kenapa aunty?" tanya Nial.
"Maudy kemana?" tanya dokter Farah.
"Maudy di brankar," ucap Nial.
"Gak ada," ucap dokter Farah.
Nial pun akhirnya sadar dan melihat brankar yang kosong bahkan sudah rapi, "Loh Maudy kemana kok gak ada?" tanya Nial.
"Itu juga yang aunty tanya ke kamu, Maudy kemana?" tanya dokter Farah.
"Maudy ke kamar mandi mungkin aunty," ucap Nial.
"Gak ada, udah aunty cari tadi," ucap dokter Farah.
"Terus kemana dong?" tanya Nial.
"Aunty juga gak tau," ucap dokter Farah.
"Emangnya udah jam berapa sih aunty ini?" tanya Nial dan melihat jam tangannya.
"Udah jam 1 dini hari, tapi Maudy gak ada apa jangan-jangan Maudy pulang," lanjut Nial.
"Bisa jadi, Maudy kan gak pengen di rawat," ucap dokter Farah.
"Bentar ya aunty, Nial lihat dulu apa Maudy pulang atau gak," ucap Nial.
"Kamu gak pulang dulu, bunda kamu pasti khawatir sama kamu," ucap dokter Farah.
"Tapi, aunty keadaan Maudy gimana kalau Nial pulang," ucap Nial.
"Tapi, bunda kamu juga pasti khawatir sama kamu," ucap dokter Farah.
Belum sempat Nial menjawab perkataan dokter Farah tiba-tiba ponselnya bergetar dan Nial segera mengangkat sambungan telepon dari bunda Rea. Namun, saat mengangkat
Kamu dimana?
^^^Nial lagi ada urusan Ayah.^^^
Pulang sekarang, ini udah dini hari loh Nial. Kamu gak kasihan sama bunda kamu, bunda kamu daritadi khawatirin kamu bahkan bunda kamu sampe nangis karena kamu gak ngasih kabar. Sekarang kamu pulang dan untuk urusan kamu, kamu bisa urus besok.
^^^Tapi, Yah...^^^
Belum sempat Nial menyelesaikan ucapannya tiba-tiba sambungan telepon tersebut dimatikan oleh ayah Alan.
"Siapa?" tanya dokter Farah.
Huh, ayah," ucap Nial.
"Udah kamu pulang sekarang, pasti bunda kamu khawatir sama kamu," ucap dokter Farah.
"Iya aunty, kalau gitu Nial pulang dulu, sekali lagi maaf karena Nial udah mengganggu waktu istirahat aunty," ucap Nial.
"Iya gapapa kok," ucap dokter Farah.
Beberapa saat kemudian, Nial pun sampai di rumah dan segera masuk ke dalam rumah yang ternyata masih ada bunda Rea dan ayah Alan di ruang tamu.
"Bunda kira kamu udah lupa buat pulang," ucap bunda Rea.
"Maafin Nial karena buat bunda khawatir," ucap Nial.
"Iya gapapa, tapi lain kali jangan diulangi ya," ucap bunda Rea.
"Iya Bun," ucap Nial.
"Yaudah kamu istirahat," ucap bunda Rea dan diangguki Nial.
"Kalau butuh bantuan ayah, kamu bisa kasih tau ayah," ucap ayah Alan.
"Iya Yah," ucap Nial.
Nial pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Besok gue harus ke kosnya Maudy," gumam Nial.
Pagi harinya Nial sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke kos tempat tinggal Maudy, "Kamu mau kemana pagi-pagi udah siap-siap gitu?" tanya bunda Rea.
"Nial ada urusan bentar bunda," ucap Nial.
"Urusan apa sih kok dari kemarin kamu sibuk banget bahkan gak pulang-pulang?" tanya Lea.
"Nanti ya kak, setelah urusannya selesai Nial cerita. Untuk sekarang Nial harus pergi," ucap Nial.
__ADS_1
"Gak sarapan dulu kamu?" tanya bunda Rea.
"Gak Bun, nanti aja. Nial berangkat dulu ya," ucap Nial dan pergi.
Hari ini Nial memutuskan untuk membawa mobil karena takutnya nanti ada keadaan darurat.
Beberapa saat kemudian, Nial pun sampai di kos Maudy dan tidak melihat siapapun di depan kos tersebut. Nial keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling kos, hingga beberapa saat setelah itu Dena datang dengan berjalan kaki.
"Loh bukannya mas yang kemarin ya, ada apa ya mas? mau ketemu Maudy?" tanya Dena.
"Iya mbak, Maudy nya ada gak ya mbak?" tanya Nial.
"Tadi sih saya lihat Maudy di kamar kayaknya perutnya sakit, tapi gak tau lagi ini saya beli makanan buat Maudy," ucap Dena.
"Oh begitu ya, tolong suruh Maudy buat minum obat juga ya mbak," ucap Nial.
"Iya mas, oh iya mau saya panggilkan Maudy?" tanya Dena.
"Gak perlu mbak, saya nunggu maudy aja siapa tau nanti dia keluar kos," ucap Nial dan diangguki Dena.
Dena pun masuk ke dalam kos dan menuju kamar Maudy, "Maudy makan dulu ini buburnya," ucap Dena.
"Gak usah mbak, Maudy gapapa kok," ucap Maudy.
"Muak kamu pucet banget loh, kamu harus makan terus minum obat. Oh iya di luar ada yang nyariin kamu," ucap Dena.
"Siapa mbak?" tanya Maudy, dengan lemah.
"Mbak gak tau namanya, tapi dia nungguin kamu. Ini kamu makan dulu buburnya dan minum obat terus kamu keluar buat temuin dia, kasihan dia pagi-pagi udah ke sini," ucap Dena.
"Maudy samperin dia dulu aja mbak, gak enak kalau dia nunggu lama," ucap Maudy dan berdiri beranjak untuk keluar dengan kondisinya yang bisa dibilang lemah.
Saat sampai di luar rumah ia terkejut saat melihat seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tersenyum, siapa lagi jika bukan Nial. Nial langsung berjalan ke arah Maudy saya melihat Maudy yang kelaut di temani Dena.
"Mbak ke dalam dulu ya," ucap Dena dan pergi.
Nial pun menghampiri Maudy dan membantu Maudy untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah kos tersebut.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Nial.
"Saya baik-baik saja sersan," ucap Maudy.
Jujur saja Maudy gugup saat ini karena ini adalah pertemuan serta percakapan pertama bagi Maudy setelah ia menjauh dari Nial.
Baru saja Nial akan berbicara tiba-tiba Maudy merintih kesakitan dan memegang perutnya, "Kenapa?" tanya Nial, dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Dalam situasi seperti ini kau masih bisa bilang tidak apa-apa, sekarang kita ke rumah sakit," ucap Nial.
"Tidak perlu sersan, saya baik-baik saja. Ini hal wajar mungkin dalam beberapa jam kondisi saya membaik," ucap Maudy.
"Kondisimu gak akan membaik karena yang kau butuhin sekarang itu adalah perawatan intensif di rumah sakit," ucap Nial dan menggendong Maudy.
Tepat saya itu den keluar dari rumah kos, "Saya akan membawa Maudy ke rumah sakit," ucap Nial dan pergi meninggalkan Dena begitu saja.
"I-iya silahkan," ucap Dena yang sedikit bingung karena tiba-tiba saja Nial melewatinya.
Di dalam mobil Maudy masih memegang perutnya yang teramat sakit, "Saya istirahat di kos saja sersan," ucap Maudy.
"Gak, kau harus di rawat," ucap Nial.
"Tapi, saya belum membayar biaya perawatan saya kemarin pada sersan Nial," ucap Maudy.
"Untuk masalah itu gampang,buang terpenting kau di rawat sekarang," ucap Nial.
"Tapi, saya tidak punya biaya untuk dirawat di rumah sakit sersan, jadi lebih baik saya turun di sini saja sebelum jauh dari kos," ucap Maudy.
Namun, Nial seolah tuli, ia tidak mendengar apa yang dikatakan Maudy hingga mereka berdua sampai di rumah sakit. Nial keluar dari mobil dan setelah itu ia menggendong Maudy masuk ke dan rumah sakit.
"Sersan Nial, turunin," ucap Maudy.
"Udah diem," ucap Nial.
"Aunty," panggil Nial setelah masuk ke dalam ruangan dokter Farah.
Ternyata di sana bukan hanya ada dokter Farah, tapi juga ada bunda Rea. Bunda re sendiri terkejut saat melihat putranya menggendong seorang perempuan cantik dan ia tau jika perempuan tersebut adalah perempuan kemarin yang ia ceritakan pada keluarganya.
"Siapa?" tanya bunda Rea.
"Nanti Nial ceritainnya, sekarang aunty periksa Maudy ya tadi pagi perutnya sakit," ucap Nial dan menaruh Maudy di brankar yang ada di sana.
Dokter Farah pun memeriksa Maudy tak lupa dokter Farah menutup dengan gorden. Sedangkan, Nial dan bunda Rea duduk di kursi yang ada di sana. Bunda Rea menatap sang putra dengan tatapan bertanya-tanya.
"Nanti ya, gak sekarang," ucap Nial.
"Huh, iya. Awas aja kalau kamu gak ngasih tau," ucap bunda Rea.
__ADS_1
"Iya," ucap Nial.
Beberapa saat kemudian, dokter Farah pun membuka gordennya, "Maudy akan dirawat di rumah sakit dan itu tidak bisa dibantah, Kondisi kamu akan semakin parah Jiak kamu tidak dirawat," ucap dokter Farah.
Maudy tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sekuat apapun ia menolak untuk tidak dirawat, tapi tetap saja ia harus dirawat karena kondisinya memang benar-benar sudah lemah, Maudy pun merasakan hal itu.
Maudy sudah dipindahkan ke ruangan rawat dan di ruangan tersebut ada Nial dan juga bunda Rea, bahkan bunda Rea sejak tadi menatap Maudy dengan tatapan yang tidak dapat Maudy artikan.
Nial yang mengerti pun menatap sang bunda, "Bunda jangan kayak gitu lihatnya, kasihan Maudy kayak gak nyaman gitu," bisik Nial.
"Kamu ngusir bunda?" tanya bunda Rea, dengan berbisik.
"Siapa yang ngusir, Nia cuma bilang jangan natap kayak gitu, Maudy kayak gak nyaman gitu ditatap bunda," bisik Nial.
"Yaudah, kalau gitu bunda lihat kamu aja," bisik bunda Rea.
Nial hanya diam saja dan tidak merespon perkataan bunda Rea, Nial bangkit karena melihat Maudy yang beranjak dari brankar.
Arah mata bunda Rea pun mengikuti kemana Nial pergi yaitu ke arah Maudy yang bergerak untuk turun dari brankar.
"Mau kemana?" tanya Nial.
"Ke kamar mandi," ucap Maudy.
"Yaudah, ayo aku antar," ucap Nial dan menggendong Maudy menuju kamar mandi.
"Kenapa sersan Nial di sini?" tanya Maudy.
"Nungguin kamu," ucap Nial.
"Kalau mau nungguin itu di luar Nial, bukan di dalam kamar mandi," ucap bunda Rea dan menarik lengan Nial.
"Kalau Maudy di dalam butuh bantuan gimana?" tanya Nial.
"Nanti Maudy bakal bilang, kita tunggu di luar aja," ucap bunda Rea.
Baru saja Nial akan menjawab tiba-tiba pintu kamar mandi di tutup oleh Maudy, "Ada sesuatu antara kamu sama Maudy?" tanya bunda Rea.
"Gak dan bunda," ucap Nial.
"Kamu mau bunda percaya sama omongan kamu itu, gak akan ya. Kalaupun kalian gak ada hubungan apapun, yakin bunda yakin diantara kalian ada yang ingin memiliki hubungan," ucap bunda Rea.
"Kalau Nial orangnya gimana?" tanya Nial.
"Kamu suka Maudy?" tanya bunda Rea.
"Gak tau bunda, Nial perlu memastikannya dulu," ucap Nial.
"Bunda akan dukung kamu, apapun itu selama itu positif apabila ini soal menantu buat bunda," ucap bunda Rea.
"Tapi, bunda jangan bilang siapa-siapa," ucap Nial.
"Gak kok, mungkin bunda Uma bilang ke ayah kamu aja," ucap bunda Rea.
"Iya, ayah gapapa. Tapi, untuk kak Lea sama Daisy jangan dulu apalagi Daisy," ucap Nial.
"Iya, bunda tau kok," ucap bunda Rea.
Saat mereka tengah mengobrol tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Maudy dengan wajah pucat nya keluar dari kamar mandi.
Dengan sigap Nial menggendong Maudy kembali ke brankar.
"Terima kasih," ucap Maudy.
"Iya, sama-sama. Kau istirahat dulu," ucap Nial dan diangguki Maudy.
"Kamu istirahat ya sayang, bunda mau keluar ada pasien soalnya," ucap bunda Rea.
"Iya tante terima kasih," ucap Maudy dan diangguki bunda Rea.
Bunda Rea pun berbalik dan menghampiri Nial, "Kamu jaga calon menantu bunda ya, awas aja kalau terjadi sesuatu sama calon menantu bunda. Bunda keluarin kamu dari kartu keluarga," bisik bunda Rea dan setelah itu pergi meninggalkan Nial dan Maudy.
Setelah kepergian bunda Rea suasana di ruangan tersebut menjadi canggung, Nial sendiri kembali ke sofa dan menatap Maudy yang tidur di brankar.
Dengan keberanian tinggi Nial berjalan menuju Maudy dan memegang kening Maudy, hal itu tentunya membuat Maudy terkejut dan menatap Nial dengan tatapan bingung.
"Saya cuma mau cek aja demamnya sudah turun apa belum, sepertinya belum turun, jadi jangan banyak gerak," ucap Nial.
"Iya," jawab Maudy.
Jujur saja ia tidak tau harus menjawab apa bahkan ia tidak berani menatap Nial yang ada di sebelahnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.