
"Kamu ke apa bisik-bisik gitu?" tanya Alan, yang ikut berbisik.
"Kak Rea nya di dalam lagi bobo," ucap Dea dan memperagakan gaya tidur dengan kedua tangannya di tangkupkan ke samping wajah.
"Kakak boleh masuk?" tanya Alan dan diangguki Dea.
Alan pun masuk ke dalam kamar Dea dan benar saja ternyata di atas kasur Dea sudah ada Rea yang saat ini tengah menutup matanya, "Kak Rea cantik ya," bisik Dea, karena melihat Alan yang terus menatap lekat Rea yang tengah tertidur.
"Iya, cantik," bisik Alan.
"Kak Rea udah lama tidurnya?" tanya Alan.
"Dari jam setengah 8 kalau gak salah, kak" ucap Dea dan diangguki Alan.
"Kakak boleh bawa kak Rea ke kamarnya kakak?" tanya Alan.
"Dea tanya Mama dulu ya?" tanya Dea dan diangguki Alan.
Setelah Dea keluar dari kamar barulah Alan mendekat pada Rea, Alan dapat melihat wajah damai istrinya itu, "Sepertinya aku mulai jatuh hati padamu," gumam Alan lalu mengecup kening istrinya itu.
Saat tengah memandang wajah damai istrinya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan Dea yang membawa buah apel dan juga jus dan tak lupa Dea juga memakan buah tersebut, "Kata Mama iya gapapa bawa aja kak Rea ke kamarnya kak Alan," ucap Dea dan diangguki Alan.
"Jangan makan jam segini, malam-malam itu tidur jangan begadang gak baik buat tubuh," ucap Alan.
"Iya kak Alan ku yang ganteng," ucap Dea dan tetap memakan buah apel tersebut, Alan hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya itu.
Alan menghampiri Rea dan menggendongnya ala bridal style, "Ada barangnya kak Rea gak di kamar kamu?" tanya Alan.
"Ini cuma ada tas aja sih kak," ucap Dea dan memberikan tas milik Rea pada Alan.
"Yaudah, kakak ke kamar dulu ya," ucap Alan dan diangguki Dea.
Alan keluar dari kamar Dea dan ia melihat Papa Aldi dan Mama Dira yang masih berada di ruang tamu, "Kamu mau ke kamar?" tanya Mama Dira.
"Iya, Ma. Alan cuma aku mindahin Rea aja, kenapa emangnya, Ma?" tanya Alan.
"Gapapa, udah kamu bawa menantu kesayangan Mama ke kamar aja deh kasihan, lagian Mama sama Papa juga mau tidur," ucap Mama Dira dan diangguki Alan.
Dengan senang hati Alan pun membawa Rea menuju kamarnya, Alan masuk kembali ke dalam kamarnya, tapi kali ini berbeda karena Alan tidak sendirian masuk ke dalam kamarnya melainkan bersama dengan seorang perempuan cantik yang tengah tertidur di gendongannya. Alan membawa Rea ke kasir empuknya dan membaringkan tubuh Rea di kasur tersebut tak lupa Alan juga menyelimuti Rea dan mengecup kembali kening Rea.
__ADS_1
"Selamat tidur cantik," bisik Alan di telinga Rea.
Alan pun memilih untuk ke kamar mandi dan mengganti kaosnya dengan kaos tanpa lengan, setelah itu ia juga membaringkan tubuhnya ke kasur empuknya tepat di sebelah Rea, "Ini gue peluk Rea gapapakan ya," gumam Alan, dengan ragu-ragu ingin memeluk Rea.
"Gak ah, nanti malah pas bangun Rea kaget terus marah sama gue," gumam Alan dan memilih untuk tidak memeluk Rea saat tidur lalu Alan memilihnya tertidur dengan posisi terlentang.
.
Pagi harinya Rea mengerjapkan matanya dan menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang cukup menyilaukan matanya, saat Rea membuka matanya betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh seseorang di depannya bahkan saat ini Rea tengah memeluk orang tersebut. Awalnya Rea ingin berteriak, tapi ia urungkan agar ia dapat keluar dari ruangan tersebut, Rea mengubah posisinya menjadi terlentang dan Rea dapat melihat jika saat ini ia berada di sebuah ruangan yang dominan warna gelap seperti hitam, abu-abu dan juga biru tua untuk warna putih ada itupun tidak terlalu kentara.
"Ini gue di culik ya, kayaknya semalam gue lagi di kamarnya Dea deh, apa jangan-jangan rumahnya Papa Aldi dan Mama Dira kemalingan," gumam Rea.
"Selamat pagi, gak usah mikir yang aneh-aneh," ucap Alan, dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Rea yang mendengar itupun terkejut dan menatap orang yang tadi ia peluk, "Kapten Alan!" pekik Rea dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aduh, jangan kenceng-kenceng sakit telingaku sayang," ucap Alan.
"Kok kapten Alan bisa di sini?" tanya Rea.
"Ya, bisa dong. Kan ini kamarku," ucap Alan.
"Sekarang aku tanya kalau suami istri itu tidurnya bareng atau sendiri-sendiri?" tanya Alan.
"Bareng lah," ucap Rea.
"Itu udah tahu, jadi aku sengaja gendong kamu kemarin malam dari kamarnya Dea," ucap Alan.
"Mau kemana?" tanya Alan, saat melihat Rea yang menyingkap selimutnya dan bersiap untuk pergi.
Namun, belum sempat pergi Alan sudah menahan lengan Rea dan membuat Rea kembali terbaring di kasur, "Mau bersih-bersih terus bantuin Mama, eh tunggu kok kapten Alan bisa pulang ke rumah? bukannya kapten Alan harusnya lagi di daerah perbatasan ya?" tanya Rea.
"Aku baru tahu kalau ternyata istriku ini cukup lola ya," ucap Alan dan memeluk Rea dari samping.
"Ish, apa sih peluk-peluk, kapten Alan belum jawab pertanyaannya loh," ucap Rea.
"Sayang, bisa gak kalau panggilan itu di ganti padahal kamu bukan lagi relawan dan di rumah ini aku sebagai suami kamu bukan sebagai tentara," ucap Alan.
"Terus aku harus manggil apa kan kita udah sepakat waktu itu," ucap Rea.
__ADS_1
"Lebih baik kamu manggil aku Alan aja daripada harus manggil pake embel-embel kapten rasanya aneh aja gitu kalau istri sendiri manggil kayak gitu atau kalau kamu udah siap manggil aku sayang, honey atau baby aku sih gak ada masalah," ucap Alan.
"Itu sih maunya kamu," ucap Rea.
"Ya, emang," ucap Alan.
"Udah ah, kamu jawab dulu pertanyaannya yang tadi," ucap Rea.
"Hem, oke. Jadi aku udah di pindah tugaskan ke pangkalan yang ada di pusat dan aku sudah bukan lagi tentara yang di tugaskan ke daerah perbatasan dan karena itu makanya aku pulang," ucap Alan.
"Hah! di pindah tugaskan? sejak kapan kok aku gak tahu? bahkan waktu aku masih di sana pun belum ada gosip soal itu, tapi kok tiba-tiba kamu pulang dan bilang kalau kamu di pindah tugaskan bukannya itu aneh?" tanya Rea.
"Aku emang gak bilang ke siapa-siapa soal ini kecuali Papa, Mama, Ayah, Bunda dan kak Ray," ucap Alan.
"Kenapa gak ngasih tahu aku?" tanya Rea.
"Biar surprise aja," ucap Alan.
"Terus kenapa kamu bisa di pindah tugaskan ke pusat? apa jangan-jangan kamu bikin masalah ya?" tanya Rea.
"Aku ga pernah bikin masalah sayang, aku yang memilih untuk pindah karena saat ini aku punya tanggungjawab lain yang harus aku emban dan tiga sini lebih penting makanya aku memilih untuk pindah ke kota supaya tugas baruku bisa aku lakukan," ucap Alan.
"Emang apa tugasnya? susah gak tugasnya?" tanya Rea.
"Gak kok tugasnya gak berat," ucap Alan.
"Apa tugasnya?" tanya Rea.
"Kamu," ucap Alan dan mampu membuat pipi Rea merona.
"Ini kenapa pipinya merah kayak gini sih, jadi gemes pengen gigit," ucap Alan.
Rea pun menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, Alan yang melihat itu pun lantas memeluk Rea.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.