
"Eh, ada pengantin baru. Selamat pagi kapten Alan dan dokter Rea!" sapa Ryan, dengan suara lantangnya.
"Kalian ngapain di luar?" tanya Alan.
"Ish, kapten Alan ini, kita ya mau olahraga dong," ucap Ryan.
"Tumben, biasanya juga kalau olahraga langsung ke lapangan," ucap Alan.
"Sekali-kali lah, oh iya kapten Alan sama dokter Rea kau olahraga juga ya kalau gitu kebetulan dong. Ayo kita olahraga bareng aja kalau gitu," ucap Ryan.
Akhirnya Rea ditemani oleh Alan dan juga anggota Alan, sebenarnya tadi Alan menolak, tapi anggotanya tetap keras kepala mau tidak mau Alan pun setuju. Saat ini mereka semua berada di taman karena memang di taman tersebut terdapat beberapa alat kebugaran, "Dokter Rea lari pake ini aja," ucap Raka.
"Gak usah, saya sama kapten Alan aja," ucap Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan pun menghampiri Rea yang tengah duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya, "Udah selesai kita pulang kan takutnya nanti kamu telat," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Tapi, tunggu sebentar lagi ya kakiku masih lemes banget ini," ucap Rea.
Alan pun jongkok dan membelakangi Rea, "Kenapa?" tanya Rea.
"Naik," ucap Alan.
"Gak usah, kita tunggu sebentar lagi pasti kakiku udah gak lemes lagi," ucap Rea.
Alan tidak menurut dan meraih tangan Rea lalu menggendong Rea di punggungnya, Rea pun mengeratkan gendongan tersebut karena jujur saja ia juga takut jika terjatuh. Disisi lain para anggota Alan yang melihatnya pun merasa panas dingin, "Kapan nih punggung gue ada yang mau gue gendong," ucap Ryan.
"Sabar jomblo," ucap Alvin.
"Ck, mentang-mentang mau nikah songong lo," ucap Ryan.
"Kayaknya kapten Alan sayang banget ya sama dokter Rea," ucap Raka.
"Ya iyalah orang istri modelannya kayak dokter Rea siapa yang mau nyia-nyiain juga, mungkin orang gila sih yang nyia-nyiain," ucap Ryan.
"Padahal dulu nih ya aku pernah bilang ke kuno kalau target selanjutnya dokter Rea, eh ternyata udah ada yang punya jadi gagal deh," ucap Gara.
"Mampus!" teriak Ryan.
"Mampus kenapa?" tanya Raka.
"Gue dulu pernah nembak dokter Rea, apa dokter Rea cerita ke Alan ya aduh semoga gak deh bisa-bisa gue habis di tangan Alan," ucap Ryan.
__ADS_1
"Hah! lo pernah nembak dokter Rea," ucap Alvin.
"Ya, dulu pernah sih. Gak nembak juga sih gimana ya pokoknya gue ngerayu dokter Rea gitu, tapi di tolak," ucap Ryan.
"Emang pantes lo di tolak," ucap Alvin.
"S**l*n lo," ucap Ryan.
"Udah kita harus siap-siap menghadap komandan Ivan nanti," ucap Alvin dan diangguki semuanya.
Disisi lain, Alan dan Rea sudah berada di rumah dan Rea pun sudah bersiap-siap untuk bekerja, "Hari ini aku ada jadwal malam," ucap Rea.
"Iya, aku tahu kok," ucap Alan.
"Aku juga udah masak nanti tinggal kamu angetin atau kalau kamu gak mau angetin kamu bisa beli," ucap Rea.
"Iya sayangku," ucap Alan dan mengecup pelipis Rea.
"Ish, kamu cepet siap-siap sana," ucap Rea
"Kan aku agak siang berangkatnya," ucap Alan.
"Oh iya, yaudah kalau gitu aku duluan ya," ucap Rea.
Rea pun keluar dari rumah dari masuk ke dalam mobil, "Dokter Rea mau ke rumah sakit ya?" taubat Ryan, yang sepertinya baru pulang setelah olahraga tadi.
"Iya, kalau gitu saya permisi," pamit Rea dan mengendarai mobil tersebut.
Beberapa saat kemudian, Rea pun sampai di rumah sakit dan ia segera masuk ke dalam rumah sakit. Baru saja Rea sampai di lobby rumah sakit tiba-tiba dokter Shinta datang dan menamparnya di depan banyak orang, Rea tentunya terkejut dan menatap tajam dokter Shinta.
"Apa maksud dokter Shinta? kenapa dokter Shinta menampar saya? emangnya saya ada salah dan dokter Shinta?" tanya Rea.
"Iya, lo kan yang udah laporin direktur Bagas dan gara-gara lo direktur Bagas di pecat!" bentak dokter Shinta.
"Saya gak tahu apa maksud dari dokter Shinta yang jelas saya tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang dokter Shinta maksud," ucap Rea, yang berusaha untuk sabar dan tidak tersulut emosi.
"Alah! ngaku aja deh lo, lo gak suka kan karena gue mau nikah sama direktur Bagas dan asal lo tahu karena direktur Bagas di pecat gagal sudah pernikahan gue sama direktur Bagas!" teriak dokter Shinta.
"Saya rasa meskipun dokter Bagas di pecat harusnya pernikahan anda tidak batal," ucap Rea.
"Oh, jadi semua ini emang rencana lo," ucap dokter Shinta.
__ADS_1
"Saya tidak mengerti kenapa dokter Shinta menuduh saya, apa dokter Shinta bisa jelaskan kenapa dokter Shinta dan juga direktur Bagas menuduh saya?" tanya Rea.
"Karena lo dendam sama direktur Bagas yang hampir ngelecehin sahabat lo," ucap dokter Shinta, yang tentunya membuat semua orang terkejut.
"Padahal saya tidak pernah mengatakannya bahkan saya berusaha untuk menutupi kelakuan bejat direktur Bagas, tapi anda justru mengatakan yang sebenarnya dengan santai. Perlu anda ketahui dokter Shinta bahwa saya tidak terlibat apapun mengenai pemecatan dari direktur Bagas, tapi saya sangat bersyukur karena akhirnya hama di rumah sakit bisa hilang. Kalau begitu saya permisi karena masih banyak yang harus saya kerjakan daripada menanggapi omongan dokter Shinta yang menuduh saya tanpa bukti," ucap Rea, lalu pergi meninggalkan Nina.
Rea jadi penasaran siapa yang sudah membuat direktur Bagas di pecat, setahu Rea hanya ia dan Nina yang tahu perihal kasus pelecehan yang dilakukan direktur Bagas. Rea pun masuk ke dalam ruangannya dan untung saja di dalam sana hanya ada Nina dengan cepat Rea menghampiri Nina, "Nin," panggil Rea.
"Kenapa, Re?" tanya Nina.
"Sorry, kalau gue tanya ini, tapi lo tahu siapa yang buat direktur Bagas di pecat, yang tahu soal kasus pelecehan direktur Bagas cuma kita?" tanya Rea.
"Direktur Bagas di pecat?" tanya Nina dan diangguki Rea.
"Kok bisa?" tanya Nina.
"Itu gue juga gak tahu makanya gue tanya ke lo masalah hanya kita berdua yang tahu," ucap Rea.
"Gue gak tahu kalau direktur Bagas di pecat jangan itu gue aja gak tahu kalau mau ngelaporin direktur Bagas itu kemana," ucap Nina.
"Terus siapa dong yang ngelaporin direktur Bagas kalau bukan kita berdua, kan hanya kita berdua yang tahu soal itu?" tanya Rea.
"Itu artinya ada orang lain yang tahu soal kasus direktur Bagas selain kita dan pastinya dia gak bilang ke kita," ucap Nina.
"Siapa ya kira-kira?" tanya Rea.
"Gue juga gak tahu, tapi gue sangat bersyukur karena dia akhirnya direktur Bagas di pecat dan gue gak harus ngehindar terus," ucap Nina.
"Apa dia juga salah satu korban dari direktur Bagas?" tanya Rea.
"Udahlah Re, gak usah dipikirin lagi yang penting sekarang direktur Bagas udah gak di rumah sakit lagi," ucap Nina dan diangguki Rea.
"Qilla mana dah?" tanya Rea.
"Gak tahu sih, tapi katanya dia ada pasien penting gitu," ucap Nina.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.