
Alan terus menggempur istrinya hingga dini hari dan Rea benar-benar lelah bahkan Rea saat ini lemas di bawah kungkungan Alan, Rea sendiri lupa berapa kali ia mengalami pelepasan. Untuk Alan sendiri baru 4 kali mengalami pelepasan dan itu belum membuatnya lelah, tapi karena melihat istrinya yang lelah, Alan pun berhenti pada pelepasan keempat tersebut dan tidur di samping Rea.
Alan juga menutupi tubuh polos keduanya dengan selimut, Alan benar-benar bahagia karena saat ini Rea telah menjadi miliknya. Alan memeluk Rea yang sudah tertidur karena kelelahan. Bagaimana tidak, Alan menggempur Rea sampai jam 2 dini hari.
"Terima kasih sayang," bisik Alan dan mengecup kening Rea.
.
Pagi harinya Rea terbangun dengan mata yang benar-benar sulit untuk di buka, bahkan Rea harus menahan untuk membuka matanya beberapa saat hingga matanya dapat terbuka sepenuhnya. Rea membuka matanya dan menatap atap langit kamarnya, Rea melihat ke arah jam yang ada di dinding kamarnya. Saat ini sudah jam 9 dan tentunya jam 9 bagi Rea masih pagi sekali untuk bangun terutama karena dia libur selama satu minggu, karena jika libur Rea biasanya bangun jam 12 atau jam 1 siang.
Rea menoleh ke sampingnya karena merasa hembusan napas di lehernya dan ia melihat wajah tampan Alan yang sangat mempesona di pagi hari, saat tengah menatap ciptaan Tuhan yang sangat indah ini tiba-tiba Rea teringat kegiatan kemarin malam yang menjadikan Rea sepenuhnya milik Alan. Rea merasa pipinya memanas bahkan AC yang ada di kamar Rea seolah-olah tidak berfungsi, Rea memegang pipinya yang benar-benar merah dan panas.
"Kenapa? kamu sakit?" tanya Alan, yang ada di sampingnya dan menempelkan tangannya pada kening Rea.
"Gak-gak kok, a-aku baik-baik aja. Ka-kalau gi-hitu aku ke kamar mandi dulu," ucap Rea dan mengubah posisinya untuk duduk.
Baru saja Rea duduk, ia dapat merasakan perih dan ngilu pada tubuh bagian bawahnya, 'Aduh, kok gini sakit ya,' ucap Rea, dalam hati.
Rea berusaha untuk mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai yang ada di dekatnya. Namun, gerakannya terhenti saat tiba-tiba tubuhnya melayang dan Rea dapat merasakan jika dirinya terbang.
"Turunin, aku bisa sendiri kok," ucap Rea, karena Alan menggendongnya menuju kamar mandi.
Yang membuat Rea malu adalah karena Alan menggendongnya dalam keadaan polos, saat ini baik Alan ataupun Rea benar-benar tidak memakai sehelai benang pun sehingga Rea dapat melihat bagaimana tubuh kekar Alan di depannya, Rea berusaha untuk tidak menatap tubuh milik Alan, tapi entahlah matanya benar-benar jahat karena tidak mau menuruti apa yang Rea inginkan.
Sedangkan, Alan yang melihat istrinya hanya tersenyum, ia memang ingin membawa istrinya ke kamar mandi karena melihat bagaimana Rea yang kesusahan saat bangun tadi. Lagipula Alan tahu jika bagian bawah Rea pasti sakit karena kegiatan panas mereka malam kemarin.
"Kenapa hem? pipinya merah lagi ya?" tanya Alan. Ingin sekali Rea memukul kepala suaminya itu, sudah tahu tapi tetap saja Rea di godain.
Sampai di kamar mandi Alan mendudukkan Rea di sisi bathtub lalu Alan mengisi bathtub tersebut dan setelah itu memasukkan Rea ke dalam bathtub dan ikut masuk ke dalamnya, "Loh kok kamu masuk juga?" tanya Rea.
"Iya dong sayang masa aku tega biarin kamu mandi sendirian," ucap Alan.
"Aku masih bisa kok mandi sendiri," ucap Rea.
"Masa sih, gapapa aku temenin kok," ucap Alan.
Mau tidak mau akhirnya Rea pun mandi bersama Alan, hanya mandi karena tubuh Rea masih sakit sehingga Alan tidak ingin melakukan kegiatan seperti kemarin malam. Setelah mandi Alan pun keluar dari kamar mandi sendiri dan mengambil baju yang di maksud Rea. Setelah itu Rea pun memakai pakaiannya sendiri di kamar mandi dan akan tentunya keluar dengan menggunakan handuk dan berganti pakaian di kamar. Selesai berganti pakaian Rea pun di gendong kembali oleh Alan hingga di dudukkan di kasur.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Alan, saat melihat Rea yang mencoba berdiri dari kasur.
"Mau makan," ucap Rea.
"Gak usah kamu di kamar aja," ucap Alan.
"Tapi, aku laper belum makan, lihat ini udah jam berapa," ucap Rea.
"Iya aku tahu, kamu di kamar aja biar aku yang ambilin kamu makanannya," ucap Alan.
"Jangan nanti kalau Bunda curiga gimana," ucap Rea.
"Curiga maksudnya?" tanya Alan.
"Ya, curiga gitu. Kenapa kok aku gak ngambil sendiri makanannya terus Bunda nanti tanya ke kamu kalau kemarin malam habis gituan gimana," ucap Rea.
"Ke apa memangnya? kan emang kita kemarin gituan," tanya Alan.
"Tapi kan malu," ucap Rea.
"Ke apa harus malu sih lagian kan Bunda bilang katanya pengen punya cucu yaudah kan gak salah," ucap Alan.
"Kamu gak usah khawatir kan ada aku, nanti aku yang urus semuanya," ucap Alan.
"Beneran?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Yaudah, kalau gitu cepet ambilin aku makanannya soalnya aku udah laper banget nih," ucap Rea.
"Siap Nyonya," ucap Alan dan keluar dari kamar.
"Ish, kenapa jadi aneh gini sih gue," gumam Rea dan menatap selimut dan seprei yang ada di kasurnya.
"Loh, ini seprei sama selimut baru? mana yang lama? tapi siapa yang ganti? apa jangan-jangan Mas Alan yang ganti?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.
Alan sendiri mengambilkan makanan untuk Rea dan benar saja dalam perjalanan menuju meja makan Alan bertemu dengan Bunda Nara, "Rea belum bangun, Lan?" tamat Bunda Nara.
"Udah kok, Bun," ucap Alan.
__ADS_1
"Terus kamu mau kemana ini?" tanya Bunda Nara.
"Ini Alan mau ambil makanan untuk Rea," ucap Alan.
"Astaga anak itu, harusnya dia yang ambilin buat kamu, tapi ini malah kamu yang ambilin buat dia," ucap Bunda Nara.
"Gapapa kok Bun, lagian jarak kamar sama meja makan kan gak jauh," ucap Alan.
"Ya, tetep aja dong. Terus dia sekarang lagi ngapain di kamar masih tidur? soalnya biasanya dia kalau libur bangunnya siang?" tamat Bunda Nara.
"Gak kok Bun, Rea di kamar gak tidur," ucap Alan dan mengambil makanan untuk Rea.
Hingga beberapa saat kemudian, Alan pun masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan. "Ini seprei sama selimut baru, kamu yang ganti?" tanya Rea.
"Iya, soalnya seprei yang lama kotor terus basah," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Nanti biar aku cuci aja," ucap Rea.
"Gak usah nanti biar aku yang cuci, kamu pasti lagi sakit kan," ucap Alan.
"Yaudah, kalau kamu maksa," ucap Rea dan mulai memakan sarapannya.
Alan tersenyum melihat istrinya yang makan dengan lahap, "Pelan-pelan sayang makannya gak ada yang mau ambil makanan kamu kok," ucap Alan.
"Aku itu laper banget tahu, habisnya kamu yang gak mau berhenti sih padahal aku capek banget," ucap Rea.
"Kamu sih gemesin gak kuat aku jadinya, nanti malam lagi ya sayang," ucap Alan.
"Gila kamu, punyaku aja masih sakit masa mau lagi. Gak ya! nunggu tiga bulan baru kamu boleh minta lagi," ucap Rea.
'Tiga bulan! dulu pas gue belum tahu rasanya sih gak masalah lah ini gue udah tahu rasanya dan di suruh nunggu tiga bulan, bisa gila gue,' ucap Alan, dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.