Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Waspada


__ADS_3

"I-ini anaknya dokter Rea sama kapten Alan ya, cantik ya," ucap Fafi.


"Terima kasih," ucap Rea dan tersenyum canggung.


"Namanya siapa dok?" tanya Fafi.


"Namanya Lea," ucap Rea.


"Wah, sama kayak dokter Rea ya cuma beda depannya aja," ucap Fafi dan diangguki Rea.


"Dokter Rea," panggil Fafi.


"Iya, ada apa?" tanya Rea.


"Maafin semua kesalahan saya sama dokter Rea ya, saya tau saya salah, saya juga menyesal," ucap Fafi.


"Saya sudah memaafkan kamu kok, saya tau kamu gak salah. Kamu kan juga tidak percaya dengan berita yang ada waktu itu," ucap Rea.


"Saya dengar dokter Shinta sudah meninggal sebab itu saya kembali untuk melihat pemakaman dokter Shinta," ucap Fafi.


"Iya, dokter Shinta sudah meninggal kurang lebih 1 tahun yang lalu," ucap Rea.


"Saya sebenarnya sudah mendengarnya, tapi saya baru bisa datang sekarang dan betapa beruntungnya saya bisa bertemu dengan dokter Rea," ucap Fafi.


"Kalau boleh tau selama ini kamu kemana?" tanya Rea.


"Saya menenangkan diri ke sebuah negara yang sangat indah dengan pemandangan kota kunonya," ucap Fafi.


"Kota kuno?" tanya Rea.


"Iya, saya tinggal di Praha, di sana saya bisa menjadi Fafi sesuai dengan apa yang saya inginkan. Saya sangat senang bisa di sana, tapi meski begitu saya merasa bersalah dan karena saya saat ini bertemu dengan dokter Rea, jadi saya ingin meminta maaf pada dokter Rea. Setelah ini, saya berharap bisa menjalani kehidupannya saya lebih tenang, saya akan memulai kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya," ucap Fafi.


"Saya sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf hari ini pada saya, saya tidak pernah membenci kamu, mungkin kecewa dan marah ya pernah lah," ucap Rea.

__ADS_1


"Saya akan berubah dan saya akan berusaha untuk melupakan kapten Alan karena saya tau kalau kapten Alan bukan jodoh yang dikirim Tuhan untuk saya," ucap Fafi dan diangguki Rea.


Mereka berdua pun mengobrol dan tertawaan bersama hingga suara seorang pria membuat keduanya berhenti dan menatap pria tersebut, "Sayang," panggil Alan.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Alan, dengan tidak suka.


"Mas, jangan gitu ah," ucap Rea.


"Ayo kita pulang, saya gak mau kamu sama baby Lea kenapa-napa," ucap Alan.


"Mas, Fafi cuma mau minta maaf kok," ucap Rea.


"Terserah, saya tidak peduli," ucap Alan dan menarik Rea, dengan lembut agar tidak membangunkan baby Lea yang sedang tertidur.


Rea sendiri yang melihat sikap Alan yang begitu dingin bahkan dengan wajah datar pun membuatnya merinding dan memilih mengikuti Alan dan tidak membantahnya bahkan Alan sendiri sudah berbicara dengan bahasa yang formal artinya ia tidak ingin dibantah oleh siapapun termasuk Rea.


Mereka pun sudah masuk ke dalam mobil, selama di mobil tidak ada perbincangan antara keduanya hingga akhirnya Rea tidak sanggup dengan situasi yang ada pun mulai memberanikan diri untuk membuka suara, "Kamu marah ya? maaf, tadi aku gak sengaja ketemu sama Fafi terus dia minta maaf ke aku dan akhirnya kita berdua ngobrol deh," ucap Rea.


"Kamu boleh naik ke siapapun, aku juga gak akan ngelarang itu. Tapi, kamu juga harus waspada, kamu gak tau gimana hati manusia," ucap Alan.


"Iya, aku tau sayang, tapi gak salah kan kalau kita waspada. Aku hanya takut dia bertindak yang tidak-tidak," ucap Alan.


Tidak mau memperpanjang masalah Rea lun mengiyakan saja apa yang akan ucapkan dan apa yan Alan ucapkan benar juga bahkan Rea sendiri juga sempat merasa takut saat berbicara dengan Fafi tadi, tiba-tiba pikiran negatifnya muncul begitu saja, tapi Rea segera menghempaskan pikiran negatif itu karena bagaimanapun ia berharap apa yang Fafi ucapkan tadi tulus dari hati.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah mereka. Sekedar info jika Alan dan Rea saat ini sudah tinggal di rumah mereka sendiri yaitu rumah yang Alan beli dengan uangnya sendiri. Alan sempat ingin membawa Rea dan Lea ke apartemennya, tapi setelah pertimbangan yang matang Alan lebih memilih membeli rumah sendiri karena pertama apartemen lebih sempit dan yang kedua karena apartemen Alan yang berada di lantai atas sehingga akan membutuhkan waktu untuk turun meskipun menggunakan lift tetap saja membutuhkan waktu dan yang terpenting karena Rea takut ketinggian saat Alan mengatakan jika apartemen miliknya berada di lantai 15 Rea langsung panik dan mengatakan untuk tinggal di rumah dinas saja.


Alan dan Rea pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah mereka, rumah tersebut memang tidak luas. Tapi, rumah tersebut sangat nyaman bagi Alan dan Rea bahkan bagian kanan rumah tersebut terbuka dan terdapat taman, kolam renang dan pancuran air di sana yang tentunya dibatasi dengan dinding kaca antar taman tersebut dengan ruang tamu dan ruang makan serta dapur.


"Kamu pasti capek ya, kamu istirahat ya," ucap Alan.


"Kamu gak istirahat?" tanya Rea.


"Aku mau selesain dulu berkas calon prajurit," ucap Alan.

__ADS_1


"Huh, yaudah deh aku duluan ya," ucap Rea dan diangguki Alan.


Rea pun akhirnya masuk ke dalam kamar dan menaruh baby Lea ke dalam box bayi setelah itu ia pun membersihkan dirinya dan setelah itu, ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan terlelap.


Saat tengah asik bergelut dengan mimpinya tiba-tiba saja Rea merasakan mual yang teramat hingga membuatnya harus ke kamar mandi untuk memuntahkannya, tapi tidak ada apapun yang keluar dan hal itu terus terjadi. Sebenarnya bukan hanya hari ini ia merasakan mual, tapi sudah beberapa hari terakhir.


"Kayaknya aku harus cek deh, kok perasaanku gak enak ya," gumam Rea.


Setelah itu, Rea keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Alan di kamar, setiap hari memang inilah yang terjadi sebab itu Alan tidak tau jika Rea muntah malam hari lebih tepatnya ini hari karena sekarang sudah jam 1. Rea yang biasanya akan membangunkan Alan pun lebih memilih untuk kembali ke kasur karena tubuhnya benar-benar lemas dan tidak kuat jika harus keluar kamar.


Pagi harinya Rea terbangun dan melihat Alan yang sudah tidur di kasur sebelahnya, "Mas, kamu gak ke pangkalan?" tanya Rea.


"30 menit lagi ya," ucap Alan, dengan suara seraknya dan dengan mata tertutup tentunya.


"Kok 30 menit? biasanya kan orang-orang kalau di bangunin bilangnya 5 menit, emang aneh nih suami gue," gumam Rea.


"Aku bisa denger sayang," ucap Alan dan membuka matanya.


"Hehehe, bangun yuk nanti telat loh," ucap Rea.


Setelah Alan bangun Rea pun ikut bangun dan mempersiapkan semua keperluan Alan dan tentunya setelah semuanya selesai ia pun melihat putri cantiknya di kamar dan saat di kamar ternyata putri cantiknya itu sudah bangun dan berada di gendongan Alan, "Loh anaknya udah bangun toh, sini biar aku gendong terus kamu siap-siap gih," ucap Rea.


"Bentar sayang, aku masih pengen gendong dia," ucap Alan dan mengecup seluruh wajah baby Lea dan membuat baby Lea tertawa sampai menangis.


"Ish, tuh kan anaknya jadi nangis. Udah aku siap-siap," ucap Rea dan mengambil alih baby Lea yang saat ini histeris akibat ulah sang ayah.


Sedangkan, Alan hanya terkekeh geli melihat anaknya yang menangis karenanya padahal ia tidak ingin membuat anaknya menangis, tapi ternyata anaknya justru menangis dan tidak mau disalahkan akhirnya Alan pun bersiap-siap untuk pergi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2