
Malam harinya Maudy di kamar dan mempelajari materi perkuliahan agar ia tidak lupa, saat tengah mempelajari beberapa materi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Ruslan dengan wajah khawatir.
"Kenapa pak?" tanya Maudy.
"Tadi Caca bilang ke kamu gak dia mau kemana?" tanya Ruslan.
"Gak pak, kenapa emangnya sama Caca?" tanya Maudy.
"Caca belum pulang sampai sekarang," ucap Ruslan dan membuat Maudy terkejut.
"Bapak yakin Caca belum pulang?" tanya Maudy.
"Iya, dia belum pulang. Bapak takut Caca kenapa-napa," ucap Ruslan.
Maudy merasa bersalah karena Caca belum pulang, semua ini salah Maudy karena sudah bertengkar dengan Caca tadi. Seandainya saja mereka berdua tidak bertengkar pasti saat ini Caca ada di rumah.
"Kalau gitu Maudy keluar dulu ya pak cari Caca," ucap Maudy.
"Tapi, ini udah malam nak," ucap Ruslan.
"Gapapa pak, mungkin Caca ada di rumahnya Lita," ucap Maudy.
"Yaudah, hati-hati ya. Maaf bapak gak bisa nyari Caca soalnya bapak besok ada pesanan," ucap Ruslan.
"Iya, gapapa kok pak, kalau gitu Maudy permisi pak," ucap Maudy.
Maudy pun pergi dari rumah untuk mencari keberadaan sang adik, Maudy memutuskan untuk pergi ke rumah Lita salah satu sahabat Caca.
"Ada apa kak?" tanya Lita, yang baru saja membukakan pintu rumahnya.
"Ta, Caca nya ada di rumah kamu?" tanya Maudy.
"Gak tuh kak, malahan dari tadi Lita udah coba hubungi Caca soalnya tadi Caca sempet mau bilang ke sini, eh tapi sampai sekarang gak datang-datang makanya Lita hubungi dia jadi ke sini atau gak," ucap Lita.
"Kalau seandainya Caca hubungi kamu, kamu kabari kakak ya," ucap Maudy.
"Caca kenapa memangnya kak? dia kabur lagi?" tanya Lita.
"Ya, gitulah. Kamu tau sendiri gimana Caca," ucap Maudy.
Ya, Lita sudah tau mengenai sifat keras kepala adiknya bahkan Lita juga tau bagaimana sikap Caca pada Maudy karena Caca sendiri yang bercerita pada Lita dan setelah itu Lita selalu bercerita pada Maudy. Karena bagaimanapun apa yang dilakukan Caca itu salah apalagi pada Maudy kakak kandungnya.
"Kalau gitu kakak pergi ya," ucap Maudy.
"Iya kak, hati-hati," ucap Lita.
Maudy pun menyusuri sepanjang jalan pelabuhan berharap bertemu sang adik, "Kamu kemana Ca?" tanya Maudy, pada dirinya sendiri.
"Caca," gumam Maudy.
Maudy melihat Caca yang berada di pinggir pantai dan duduk di salah satu pohon tumbang yang ada di sana.
Maudy pun berlari ke arah Caca, "Kamu kemana aja dari tadi kakak nyariin kamu?" tanya Maudy, saat sudah berada di hadapan Caca.
"Bukan urusan kakak, ngapain kakak nyariin Caca," ucap Caca.
"Kamu tau gak bapak dari tadi khawatir sama kamu," ucap Maudy.
"Caca gak peduli, lebih baik kakak pergi sekarang," ucap Caca.
"Gak, kakak gak akan pergi sebelum kamu pulang. Kamu gak tau apa kalau bapak itu bener-bener khawatir sama kamu," ucap Maudy.
"Udah Caca bilang bukan kalau Caca gak peduli," ucap Caca dan mendorong Maudy hingga Maudy terduduk diatas pasir pantai.
__ADS_1
"Huh, sebenarnya apa mau kamu, Ca?" tanya Maudy.
"Mau Caca kakak pergi dari sini," ucap Caca.
"Ca, tolong ngertiin kakak ah jangan kakak, tapi bapak, bapak udah khawatir sama kamu," ucap Maudy.
"Bacot," bentak Caca dan berlari meninggalkan Maudy.
Beberapa saat kemudian, Maudy yang berlari mengikuti Caca sejak tadi pun kehilangan jejak Caca, "Ca," gumam Maudy.
Ia merasa gagal menjadi kakak karena adik kandungnya sendiri membencinya bahkan adiknya berharap ia yang menggantung Chelsea untuk meninggal.
Saat tengah bergelut dengan pikirannya tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Kita di sana.
^^^Halo, ada apa Lit?^^^
Kak, ini Caca ada di rumah Lita, dia nangis kak dan kayaknya dia udah tidur deh.
^^^Huh, syukurlah. Dia baru sampai atau udah dari tadi, Lit?^^^
Baru kok kak, gak sampe 5 menitan.
^^^Yaudah deh, Caca hari ini di rumah kamu dulu deh ya biar aman dan kakak bakal jemput Caca kalau keadaannya udah stabil.^^^
Iya kak.
Maudy pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan menatap sekelilingnya, dimana ternyata ia berada di tempat pengepul ikan.
"Kok aku bisa ada di sini ya," gumam Maudy dan berniat pergi dari tempat tersebut.
Belum sempat Maudy pergi dari tempat tersebut seseorang sudah menahan tangannya, Maudy pun menatap orang tersebut yang mengenakan pakaian serba hitam serta menutup wajahnya dengan masker dan topi bahkan ia juga menggunakan kaca mata hitam.
"Ada apa ya?" tanya Maudy.
"Ini jalanan umum, jadi wajar bukan kalau aku ada di sini, yakin kau siapa kenapa aku gak pernah lihat?" tanya Maudy.
"Bukan urusanmu," ucap orang tersebut.
"Kok songong, kan aku tanya baik-baik," ucap Maudy.
"Menarik, kayaknya kalau kau jadi mangsa oke juga nih," ucap orang tersebut.
"AAAAA! kau pasti preman kan," ucap Maudy.
"Tau juga," ucap orang tersebut.
"Tolong!" teriak Maudy.
"Percuma berteriak karena tempat ini jauh dari pemukiman," ucap orang tersebut.
Maudy benar-benar takut, jika terjadi sesuatu pada dirinya bagaimana, ia belum membahagiakan keluarganya dan yang terpenting ia belum bertemu jodohnya. Maudy memikirkan cara agar ia dapat kabur dari orang ini dan dengan cepat Maudy menggigit tangan orang itu.
Maudy membalikkan tubuhnya dan berlari menjauh dari orang tersebut, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba saja kepalanya terbentur ke dada bidang seseorang.
Sakit, itulah yang Maudy rasakan dan dengan cerita Maudy menatap orang yang menghadangnya.
"Sersan Nial," gumam Maudy.
Ya, pria yang berada di hadapannya saat ini adalah Nial, seseorang yang tidak seharusnya ia dekati atau ia temui.
"Sudah jangan bercanda," ucap Nial, menatap orang yang Maudy kira adalah preman.
Maudy pun menatap orang tersebut, "Ish, lo buat rencana gue gagal aja," ucapnya dan membuka masker serta kacamata dan topinya.
__ADS_1
"Sersan Yudha," gumam Maudy.
"Halo Maudy, maaf ya pasti kamu takut ya tadi," ucap Yudha.
"Tidak apa-apa sersan, kalau begitu saya permisi," ucap Maudy dan pergi meninggalkan Nial dan Yudha.
"Ck, dasar gak peka. Anterin," ucap Yudha.
"Ngapain di anterin?" tanya Nial.
"Dai cewek loh, masa lo tega sih biarin dia pulang sendirian kalau ada apa-apa gimana," ucap Yudha.
Entahlah apa yang terjadi pada Nial, ia pun menghela napasnya dan berlari menghampiri Maudy. Maudy yang masih berjalan menuju ke rumahnya terkejut saat Nial sudah berada di sampingnya.
"Ada apa sersan Nial?" tanya Maudy.
"Ayo saya antarkan," ucap Nial.
"Tidak perlu sersan, saya sudah biasa pulang sendirian lewat sini," ucap Maudy.
"Tidak apa-apa, biar saya antarkan," ucap Nial.
Maudy teringat bagaimana nasib keluarganya karena ia berdekatan dengan Nial dan mulai sekarang ia akan menjauh dari Nial dan melupakan rasa kagumnya pada sang tentara itu.
"Saya bilang tidak usah ya tidak usah!" ucap Maudy, yang mulai meninggikan suaranya karena sikap keras kepala Nial.
Setelah mengatakan hal tersebut Maudy pun berlari, ia malu karena telah berteriak di depan Nial. Tapi, ia tidak punya pilihan lain.
Sedangkan, Nial cukup terkejut karena ini adalah pertama kalinya perempuan berteriak di hadapannya kecuali bunda Rea, Lea dan Daisy tentunya.
"Dia berteriak padaku," gumam Nial.
Nial pun akhirnya membuntuti Maudy, meksipun Maudy sempat berteriak padanya, tapi sebagai pria ia tidak tega melihat perempuan yang harus pulang sendirian.
Setelah Maudy sampai di rumah dengan selamat barulah Nial pergi dan kembali ke pangkalan militer.
Disisi lain, Maudy melihat Ruslan yang masih menyiapkan beberapa bahan untuk berjualan besok.
"Bagaimana Caca udah ketemu?" tanya Ruslan.
"Caca ada di rumahnya Lita kok pak," ucap Maudy.
"Huh, syukurlah," ucap Ruslan.
"Besok bapak istirahat aja ya biar Maudy yang jualan," ucap Maudy.
"Bapak gapapa kok nak," ucap Ruslan.
"Bukan itu, maksud Maudy itu. Bapak istirahat karena kan bapak pasti capek karena harus menyiapkan pesanan yang cukup banyak, jadi biar besok Maudy yang antarkan pesanannya dan setelah itu Maudy yang berjualan. Bapak jualannya besoknya aja gimana pak, biar gantian gitu?" tanya Maudy.
"Gapapa nak? bapak gak ngerepotin kamu?" tanya Ruslan.
"Gak pak, bapak gak pernah ngerepotin Maudy kok," ucap Maudy.
"Yaudah," ucap Ruslan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1