Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Istri Kedua?


__ADS_3

Alan hanya menatap pria tersebut dan kembali fokus pada istrinya yang ada di sampingnya, "Sandra bilang kapten Alan menerima Sandra kembali dan akan segera menikah dengan Sandra ya, wah saya senang sekali karena impian saya memiliki menantu hebat seperti kapten Alan terwujud," ucap Papa dokter Sandra.


"Papa jangan gitu malu tahu," ucap dokter Sandra dan kelihatan salah tingkah.


"Maaf, sepertinya ada kesalahan di sini. Saya tidak pernah menerima dokter Sandra bahkan saya sering mengatakan pada dokter Sandra jika saya risih dan terganggu dengan keberadaan dokter Sandra yang terus mendekati saya dan saya juga sering menolak dokter Sandra karena saya sudah menikah dengan perempuan yang sangat saya cintai dan saat ini istri saya juga tengah mengandung buah hati saya, sangat b*doh dan tidak tahu diri jika saya menerima dokter Sandra," ucap Alan dan memeluk Rea dari samping.


"Saya rasa selama ini apa yang dokter Sandra bicarakan pada komandan adalah sebuah khayalan yang dibuat oleh dokter Sandra dan satu lagi komandan saya tidak pernah menyukai dokter Sandra baik itu dulu ataupun sekarang," lanjut Alan.


"Kapten Alan sudah menikah?" tanya Papa dokter Sandra dan diangguki Alan.


"Iya, saya sudah menikah dan ini istri saya namanya Rea," ucap Alan dan Rea pun tersenyum pada Papa dokter Sandra.


"Maaf saya tidak tahu kalau kapten Alan sudah menikah, saya kira apa yang dikatakan Sandra itu benar dan ternyata semua itu tidak benar," ucap Papa dokter Sandra.


"Tidak apa-apa, saya bisa memaafkan apa yang dokter Sandra katakan pada anda," ucap Alan.


"Memalukan," gumam Papa dokter Sandra dan menatap tajam ke arah dokter Sandra.


"Gak kok Pa, orang waktu itu kapten Alan terima Sandra," ucap dokter Sandra.


"Sudah lupakan kapten Alan, lebih baik kamu cari yang lain. Ayo kita pergi dari sini jangan bikin malu Papa," ucap Papa dokter Sandra dan menarik lengan dokter Sandra.


Tapi, dokter Sandra memberontak, "Kapten Alan saya mau kok jadi yang kedua, gapapa kalau saya harus jadi istri kedua, saya rela dan ikhlas," ucap dokter Sandra.


"Istri kedua? bahkan saya tidak pernah berpikir untuk mempunyai istri kedua. Bagi saya, istri saya hanya satu selamanya yaitu Edrea Aleta Bratadikara," ucap Alan.


"Itu dengar, sadar Sandra kalau kapten Alan gak akan memilih kamu, sekarang pergi dari sini sebelum semua yang kamu punya Papa sita," ucap Papa dokter Sandra. Akhirnya dokter Sandra pun menurut dan mengikuti Papa nya.


"Gila ya tuh orang, kok bisa kayak gitu," ucap Raka.


"Dia bisa keterima jadi dokter gimana ya?" tanya Qilla.


"Gampang kan ibunya punya uang, gue denger kalau ibunya dokter Sandra itu sosialita kelas atas pokoknya, gengnya itu juga geng wanita karir yang berduit dan tentunya suaminya juga berduit bahkan gue denger kalau ibunya dokter Sandra selalu manjain dokter Sandra dari kecil makanya dokter Sandra jadi kayak gitu, apa yang diinginkan pasti langsung dapat," ucap Gara.


"Tahu darimana lo?" tanya Ryan.


"Gue pernah ketemu sama saja satu anak buah keluarga dokter Sandra dan dia bilang kalau keluarganya dokter Sandra itu kayak keluarga kerajaan apa-apa pasti sudah terjadwal terus juga gak boleh berbuat sembarangan dan yang pasti barang-barang mahal di rumahnya dokter Sandra semuanya berkelas," ucap Gara.


"Dokter Sandra juga kan anak tinggal jadi pasti di manja lah," ucap Ryan.


"Nah itu, bahkan kabarnya dulu dokter Sandra pernah bullying waktu sekolah di luar negeri, tapi gak ada yang tahu karena keluarganya nyuap sekolahannya dokter Sandra dan ngancem korban," ucap Gara.


"Parah juga ya," ucap Rea.


"Banget, bahkan nih ya katanya saat dokter Sandra masuk ke rumah sakit dia punya ruangan khusus untuk dia karena dia gak mau satu ruangan sama dokter lain karena katanya ruangannya hal level sama dia," ucap Gara.

__ADS_1


"Kok lo dulu bisa suka sama dia sih Vin, tapi untungnya lo cepet sadar kalau gak pasti lo udah sesat deh sekarang," ucap Ryan, dengan seenak jidatnya tanpa memikirkan perempuan di samping Alvin yang terkejut dengan perkataannya.


"Lo ya kalau ngomong los banget gak di rem," ucap Alvin.


"Hehehehe, kelepasan Vin," ucap Ryan.


"Kamu pernah suka sama si Sandra Sandra itu?" tanya Sivia.


"Huh, dulu, tapi gak sampai gimana gitu ya sekedar kagum aja soalnya dulu image dia sebagai dokter itu bagus dan gak tahu aku kalau ternyata dia kayak yang Gara ceritain, gak usah cemburu lah kalau kamu cemburu aku gak bisa bujuknya," ucap Alvin.


"Ish, tapi tetep aja kenapa gak cerita ke aku sih?" tanya Sivia.


"Kan masa lalu yang gak penting dan perlu diingat," ucap Alvin.


"Huh, kamu mah," ucap Sivia.


"Kita foto berempat yuk," ajak Qilla.


"Hayuklah, tapi dimana fotonya?" tanya Nina.


"Di sana aja yang kelihatan bangunannya," ucap Rea.


"Yaudah yuk," ajak Nina.


Rea pun menarik tangan Sivia, "Sama aku juga?" tanya Sivia.


Akhirnya mereka berempat pun menuju tempat yang di maksud, "Kamu fotoin ya," ucap Rea.


"Iya," ucap Alan dan mulai mengambil gambar keempat perempuan tersebut.


Para pria senantiasa mengawasi dan menunggu keempat perempuan yang tengah asik berpose dan juga saling mengobrol entahlah apa yang mereka bicarakan yang jelas itu sangat berisik.


"Besok kita ke vila gue yuk," ajak Ryan.


"Boleh," ucap Rea.


"Lo gak ada pasien besok?" tanya Qilla.


"Bisa izin lah," ucap Rea.


"Yaudah gue mah ayo," ucap Qilla dan diangguki para perempuan.


"Kalau yang pria mah pasti oke aja kan soalnya yang cewek bisa semua," ucap Ryan.


"Gue gak bisa," ucap Nando.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Alvin.


"Besok gue harus ke pendeta," ucap Nando.


"Gak bisa lain kali?" tanya Nina.


"Gak bisa dong, ini penting terus setelah itu juga gue ada urusan gereja," ucap Nando.


"Yaudah deh kalau emang lo sibuk gak masalah kita juga gak maksa," ucap Ryan dan diangguki Nando.


Saat ini para perempuan tengah duduk di kursi sedangkan para pria tengah mengobrol dengan komandan mereka di lapangan, "Lo pasti sedih denger jawabannya dokter Nando tadi?" tanya Qilla.


"Mau bilang gak juga gimana, sedih pastilah," ucap Nina.


"Setauku ya kalau dokter Nando itu salah satu pengikut yang taat bahkan dokter Nando juga sering ikut dalam berbagai acara di gereja," ucap Sivia.


"Lo harus cepet cari yang baru Na, lo gak bisa terus-terusan bareng dokter Nando," ucap Rea.


"Apalagi lo ikut kayak gini walaupun lo sebagai teman, tapi mustahil kalau lo gak baper sama soalnya dokter Nando kan," ucap Qilla dan diangguki Nina.


"Kamu udah bilang ke dokter Nando kalau kalian emang gak bisa bersama karena perbedaan keyakinan?" tanya Sivia.


"Udah dan dokter Nando pun gak ada respon gimana gitu, dia hanya yaudah gitu," ucap Nina.


"Dahlah cari yang lain aja soalnya dokter Nando gak meyakinkan," ucap Qilla.


"Iya, gue juga harus cari lain karena gak mungkin juga kan gue ngambil dokter Nando dari tuhannya," ucap Nina.


"Sayang, ayo ke sana ketemu sama komandan Ivan," ucap Alan.


"Ah iya, gue duluan ya dah" ucap Rea dan pergi dari tempat tersebut.


Ia pun sampai di tempat komandan Ivan dan mulai mengobrol, ia baru tahu jika Papa Aldi memiliki saudara meskipun saudara angkat, tapi dari cerita komandan Ivan Rea dapat simpulkan jika keluarga Papa Aldi sangat menyayangi komandan Ivan.


Disela-sela obrolan tersebut, Rea dapat melihat dokter Sandra yang terus melihat ke arah Alan dan dengan kesal Rea pun mendekat pada Alan dan memeluk suaminya itu di depan umum, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang berada di sana. Ia hanya ingin membuat dokter Sandra semakin iri, bahkan sesekali Rea mengecup pipi Alan, Rea kira Alan akan menanyakan sikap anehnya atau menyuruh Rea melepaskan pelukannya, tapi ternyata Alan justru membalas pelukannya dan mengecup Rea tepat di bibir.


"Dasar anak muda udah mau punya anak masih aja pamer kemesraan," ucap komandan Ivan.


"Harus dong paman, kalau gak nanti ada pelakor yang datang," ucap Rea. Ya, Rea memang memanggil komandan Ivan dengan sebutan paman karena itu yang diinginkan komandan Ivan.


Rea menatap dokter Sandra yang menatapnya dan dengan senang Rea tersenyum lebar bahkan memperlihatkan giginya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2