Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Pengen Sama Kamu


__ADS_3

"Kamu darimana kata-kata itu?" tanya Alan, setelah menjauh dari Riko.


"Kenapa emangnya? jelek ya kata-katanya," tanya Rea.


"Gak kok, malah bagus kata-katanya ngena banget bahkan menyakitkan," ucap Alan.


"Aku dapat dari Nina terus kata Nina dia dapet garya scroll Instagram, yaudah aku copy aja kata-katanya," ucap Rea.


"Ada-ada aja kamu ini," ucap Alan.


Riko sendiri yang melihat kepergian Alan dan Rea pun mengepalkan tangannya, "Gue gak bisa Re, gue udah terlanjur suka sama lo. Dulu gue nembak Desti cuma karena gue mau deket sama lo, tapi ternyata rencana gue justru buat gue jauh dari lo. Gue gak pernah suka sama Desti bahkan gue sampe nikah sama seorang aktris buat ngelupain lo, tapi tetep aja gue gak bisa ngilangin nama lo dari hati gue," gumam Riko.


"Apa bisa gue lupain lo," lanjut Riko dan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Disisi lain Alan dan Rea sudah dalam perjalanan menuju rumah, "Kayaknya besok kamu gak sudah jemput aku deh," ucap Rea.


"Loh, kenapa? terus kalau aku gak jemput kamu gimana? masa kamu harus naik taksi sih, aku gak mau ya pokoknya aku bakal jemput kamu titik," tanya Alan.


"Ish, jangan nyerocos terus dong, aku kan belum nyelesain omonganku. Besok itu katanya Nina sama Qilla mau mampir ke rumah makanya aku bilang kamu gak usah jemput, besok biar aku bareng Nina sama Qilla ha gitu loh," ucap Rea.


"Oh gitu, tapi aku khawatir kalau kamu gak bareng sama aku," ucap Alan.


"Gak usah khawatir ah kamu mah nanti kalau khawatir yang ada malah beneran kena aku lagi apa yang kamu khawatirin," ucap Rea.


"Eh, gak dong. Aku gak mau kalau sampe kena ke kamu, yaudah besok kamu gak aku jemput, tapi kamu harus bilang ke Nina sama Qilla buat hati-hati dan jagain kamu sama baby loh ya awas aja kalau mereka buat kalian kenapa," ucap Alan.


"Iya ayah Alan yang bawel," ucap Rea, dengan menirukan suara anak kecil.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di depan rumah yang ternyata di sana sudah ada beberapa anggota tim Alan, "Kalian ngapain ke sini? kalian gak ada niatan buat pulang ke rumah kalian apa mumpung hari ini ada jeda cukup lama?" tanya Alan.


"Gak ah kapten, kita ini di sini mau ketemu sama bumil cantik," ucap Ryan.


"Ngapain mau ketemu sama istri orang, mau jadi orang ketiga?" tanya Alan, dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Astaga kapten Alan padahal niat saya baik loh ingin menghibur bumil siapa tahu bumil nya bosen ya gak bumil?" tanya Ryan dan mengedipkan mata kanannya pada Rea.


"Bosen sih, tapi tadi aku habis jalan-jalan ke mall jadinya sekarang capek dan mau tidur, lebih baik sersan Ryan pulang aja soalnya gak di butuhin juga dirumah," ucap Rea.


"Tuhan kuatkan lah hamba mu ini dalam menghadapi semua ini oh salah maksud hamba sepasang kekasih ini," ucap Ryan.


"Lebay," gumam Alvin dan masih dapat di dengar Ryan.


"Tidak jadi Tuhan maksud hamba sepasang kekasih dan juga nambah seonggok manusia yang bernama Alvin Ardana," ucap Ryan dan setelah itu menatap tajam ke arah Alvin dan Alvin hanya cuek melihatnya.


"Ayo Mas kita pulang, aku udah capek," ajak Rea dan diangguki Alan.


Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Ryan, Alvin dan beberapa anggota lainnya, "Sumpah ya gue pengen banget marah sama dokter Rea, malah ninggalin kita lagi padahal gue kiranya kita bakal di suruh masuk terus disuruh makan kek," ucap Ryan.


"Apa saya bilang pasti gak bakal berhasil kan," ucap Raka.


"Mau kemana lo, Vin?" tanya Ryan, yang melihat Alvin pergi meninggalkan halaman rumah Alan.


"Pulang," ucap Alvin.


Disisi lain Alan saat ini tengah memasukkan belanjaan Rea di lemari. Sedangkan, Rea tengah duduk santai di sofa ruang tamu dengan cemilan tentunya, setelah semuanya selesai Alan segera menghampiri istrinya itu.


"Sayang, mau minum apa?" tanya Alan.


"Kayaknya yang dingin-dingin enak deh, mungkin jus semangka atau tomat," ucap Rea.


"Yaudah, aku bikinin dulu ya," ucap Alan dan menuju dapur.


Sesampainya di dapur Alan membuka kulkas dan saat melihat ada yang aneh Alan pun berpikir hingga ia tahu apa jawabannya, "Sayang kenapa es krim di kulkas habis ya padahal waktu itu kita beli lumayan banyak loh?" tanya Alan, dengan menaruh jus semangka di atas meja yang ada di ruang tamu.


'Mampus, gue lupa lagi kalau es krimnya udah gue habisin semalam. Alamat ada banteng ngamuk nih, aduh gimana dong,' ucap Rea, dalam hati.


"Hehehehe, iya. Kemarin malam aku tuh tiba-tiba pengen banget makan es krim yaudah aku makan eh gak tahunya udah habis aja, maaf ya," ucap Rea.

__ADS_1


"Kamu minum jus kamu, aku mau ngurus berkas-berkas dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu panggil aku," ucap Alan dan mengusap lembut kepala Rea, lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Pasti Mas Alan marah deh," gumam Rea dan mengambil jus tersebut lalu mengikuti Alan yang masuk ke dalam kamar.


"Maaf ya, aku salah karena gak nurut sama ucapan kamu padahal kamu gak bolehin kau makan es krim banyak-banyak, tapi aku malah gak dengerin dan makan es krim itu semalam," ucap Rea dan duduk di samping Alan.


"Huh, iya gapapa kok, tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Yaudah, tadi katanya capek mau istirahat kok malah duduk di sini," ucap Alan.


"Pengen sama kamu," ucap Rea dan memeluk lengan Alan dengan manja.


"Yaudah, kita ke kasur biar kamu enak istirahatnya," ucap Alan.


Mereka berdua pun duduk di kasur dengan Rea yang bersandar di dada bidang Alan, "Mas, kamu pengen baby-nya cowok apa cewek?" tanya Rea.


"Kalau aku sih terseru mau cowok atau cewek yang penting sehat," ucap Alan.


"Kalau seandainya cowok, nanti anak kita bakal jadi tentara dong kayak kamu," ucap Rea.


"Aku gak maksain buat anak nantinya jadi tentara, aku mau dia ngelukain apapun yang dia suka. Aku harap saat anak kita besar nanti kita tidak berharap apapun padanya," ucap Alan.


"Maksudnya?" tanya Rea.


"Kita jangan jadikan anak sebagai bentuk balas budi karena kita yang menginginkan anak itu untuk lahir jadi cukup kita rawat dan jaga dia lalu setelah dia besar kita serahkan sepenuhnya pada anak kita mau dia apa, jangan menuntut dia dalam hal apapun, paham," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Iya, aku sempat berpikir kayak gitu. Dulu saat aku magang juga pernah ketemu sama dokter dan dia bilang kalau dia punya pasien gitu terus dia bilang kalau pasien dia itu mengalami depresi karena tekanan orangtua dimana dia harus segera bekerja dan sebagainya. Bahkan dokter itu juga bilang kalau pasien dia mencoba untuk bunuh diri berkali-kali, tapi untung saja percobaan itu dapat digagalkan. Pasien dia juga sempat teriak-teriak gitu di depan orangtuanya dia bilang kalau dia berharap gak dilahirkan di dunia ini," ucap Rea.


"Itu yang aku takutkan, kita terlalu menuntut anak agar sempurna sesuai dengan apa yang kita harapkan padahal itu salah," ucap Alan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2