Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Tidur Bersama


__ADS_3

Malam harinya Lea dan Tyas sudah berada di kamar, "Ini masih hari pertama dan gue gak kuat gila, kok bisa sih gue ada di sini," ucap Tyas.


"Mau ngeluh juga percuma Yas, kita udah di sini dan kita gak bisa pergi gitu aja," ucap Lea.


"Iya juga sih, yakin bolehlah gue ngeluh karena gue ada di sini," ucap Tyas.


"Terserah lo yang penting tentaranya gak ada yang tau," ucap Lea.


"Lea," panggil Disna.


"Eh, Bu tentara ada apa Bu?" tanya Tyas.


"Saya ke sini mau manggil Lea," ucap Disna.


"Manggil saya Bu? memangnya kenapa Bu?" tanya Lea.


"Kamu dipanggil sama letnan Noah dan di suruh ke ruangannya," ucap Disna.


"Saya Bu? kalau boleh tau ada apa ya Bu saya di panggil?" tanya Lea.


"Saya juga kurang tau, tapi tadi saya di suruh letnan Noah buat panggil kamu," ucap Disna.


"Baik Bu, terimakasih," ucap Lea dan diangguki Disna.


"Yasudah kamu ke sana sekarang, kalau begitu saya permisi," ucap Disna dan pergi dari tempat tersebut.


"Kenapa kak Noah manggil aku ya?" tanya Lea.


"Mana gue tau, udah sana pergi. Mungkin aja letnan Noah kangen sama lo," ucap Tyas.


"Mana mungkin kak Noah kangen sama aku," ucap Lea.


"Ya kan bisa aja, udah sana hus hus," ucap Tyas.


Lea pun pergi dari kamar dan menuju ruangan Noah yang berada tidak jauh dari asrama perempuan.


Tok tok tok


Lea mengetuk pintu saya ia sudah berada di depan ruangan Noah dan setelah mendapat izin untuk masuk barulah Lea masuk ke dalam ruangan tersebut.


Lea dapat melihat dengan jelas bagaimana Noah yang tengah berdiri dan menatap jendela, "Letnan Noah manggil saya," ucap Lea.


Aura Noah cukup menakutkan, tapi kadar ketampanan dan wibawanya tidak luntur. Noah pun berbalik dan menatap tajam Lea.


"Duduk," ucap Noah.

__ADS_1


"Hah, maksudnya?" tanya Lea.


"Duduk," ucap Noah kembalikan menunjuk sofa yang ada di ruangan tersebut.


Mau tidak mau Lea pun duduk di sofa tersebut sesuai dengan perintah Noah. Hingga beberapa saat kemudian, Noah pun mendekat kearahnya dan berjongkok tepat dihadapan Lea.


Lea yang tengah duduk pun terkejut dengan tindakan yang dilakukan Noah, "Kak Noah kenapa jongkok. Bangun kak," ucap Lea.


Bukannya menuruti apa yang dikatakan Lea, Noah justru mendekatkan tubuhnya dengan kaki Lea dan langsung mengambil kaki Lea dan membuat Lea kembali terkejut karena merasakan tangan hangat suaminya itu di kakinya.


"Apa sakit?" tanya Noah dan mengusap lembut kaki Lea.


"A-apanya yang sakit kak?" tanya Lea.


"Kakimu, tadi saat lari aku lihat kau memegang kaki dan merintih kesakitan," ucap Noah.


Jika kalian pernah menyukainya seseorang secara diam-diam dan kalian mendapatkan tindakan seperti ini maka kalian akan tau bagaimana perasaan Lea saat ini. Lea saat ini merasa seperti terbang ke langit dan dikelilingi bintang-bintang serta bulan yang indah untuk dipandang.


"Lea gapapa kok kak, tadi cuma kesemutan aja, tapi gak sampe cidera atau gimana gitu," ucap Lea dan menyembunyikan senyumannya.


"Syukurlah, tapi tetap hati-hati," ucap Noah.


"Iya kak," ucap Lea.


Setelah itu, Noah menatap Lea, dengan posisi yang sama yaitu di hadapan Lea dengan jongkok dan tangannya pun masih mengusap lembut kaki Lea.


"Kalau sakit bilang ya," ucap Noah, setelah mengecup kaki Lea.


"Iya kak, nanti kalau Lea sakit, Lea bakal bilang ke kak Noah," ucap Lea, yang saat ini benar-benar merasa gugup.


Setelah mencium kaki Lea, Noah pun berdiri dan duduk di sofa tepat di samping Lea. Namun, bukannya duduk dan membernarkan posisi duduknya, Noah justru mengubah posisinya menjadi tiduran dengan paha Lea sebagai bantalannya serta wajahnya yang menghadap perut Lea.


"Kak Noah," panggil Lea.


"Hem," Noah hanya menjawab dengan deheman saja.


"Kak, nanti kalau ada yang lihat gimana?" tanya Lea.


Lea cukup takut jika tiba-tiba seseorang datang dan memergokinya tengah bersama dengan Noah meskipun sebenarnya tidak ada masalah sama sekali bahkan tidak ada yang melarang karena mereka suami istri.


"Biarin," ucap Noah dan mengecup lembut perut Lea.


"Kak Noah pengen banget punya anak ya?" tanya Lea, saat melihat Noah yang mengecup perutnya bertubi-tubi.


Noah pun menghentikan aksinya dan menatap Lea, "Bohong kalau aku gak pengen anak, tapi aku gak memaksa kok. Ingat, aku cuma butuh kamu di sisiku karena yang menemaniku sampai tua itu kamu. Kamu juga ingat bukan perkataanku dulu, jika dalam pernikahan tujuan utamanya bukan anak, anak itu hanya bonus," ucap Noah dan mengusap lembut pipi Lea yang terdapat air mata.

__ADS_1


"Jangan nangis dong, kan udah janji gak bakal nangis lagi," ucap Noah dan duduk lalu memeluk Lea.


"Lea masih ngerasa bersalah kak, harusnya Lea gak keluar rumah dan lebih milih nungguin kakak," ucap Lea.


"Gapapa sayang," ucap Noah.


"Kak Noah tau, sebenarnya saat menunggu kak Noah waktu itu Lea bosan dan akhirnya Lea memilih buat pergi ke rumah ayah sendiri. Lea lupa gak ngabarin kak Noah dan ya tiba-tiba Lea ingetnya waktu dijalan akhirnya waktu di tengah jalan Lea berhenti dan berniat untuk menghubungi kak Noah, tapi belum sempat Lea nelpon kak Noah tiba-tiba Lea lihat anak kecil yang butuh bantuan gitu kak, Lea kasihan dan Lea bantuin eh baru aja Lea turun dari mobil dan mau bantuin anak itu tiba-tiba ada pengendara motor dengan kecepatan tinggi kearah anak yang mau Lea bantuin. Lea refleks kak karena anak itu kan memiliki kekurangan ya kak, jadi Lea lari dan meluk anak itu. Le benar-benar gak tau kalau saat itu Lea hamil. Yang Lea pikirin justru anak itu, Lea juga gapapa kok saat bantuin anak itu, tapi saat Lea mengendarai mobil Lea menuju rumah ayah, perut Lea sakit kak alhasil Lea mengendarai mobil pelan-pelan dan berniat untuk berhenti, tapi ternyata ada orang yang nabrak Lea dari belakang dan membuat mobil Lea oleh ke kiri dan menabrak pembatas jalan, hiks hiks," ucap Lea.


Lea merasa sakit saat mengingat kembali mengenai kegugurannya saat itu, betapa bodohnya dia yang tidak tau jika ia hamil.


"Sudah, aku udah tau semuanya. Gak sudah di inget lagi ya," ucap Noah dan mengusap lembut punggung Lea.


"Maafin Lea ya kak," ucap Lea.


"Iya sayang, aku maafin," ucap Noah dan mengecup lama kening Lea.


"Udah malam, tidur ya," ucap Noah.


"Iya kak, Tyas mungkin udah nungguin Lea juga," ucap Lea.


"Siapa ya nyuruh kamu tidur di asrama sama temen kamu," ucap Noah.


"Terus Lea tidur dimana?" tanya Lea.


"Tidur di kamarku," ucap Noah.


"Tapi, kak nanti Lea gimana masa Lea harus tidur bareng kak Noah sama anggota kak Noah?" tanya Lea.


"Para tentara tidurnya sendiri-sendiri, jadi gak masalah kalau kita tidur bersama ayo," ajak Noah dan menarik lembut tangan Lea.


Sesampainya di kamar Noah, Lea pun diarahkan untuk tidur di kasur sederhana yang ada di sana.


"Kasurnya gak empuk kayak di rumah, jadi harap maklum," ucap Noah, setelah mendudukkan Lea.


"Jadi karena kasurnya gak empuk kak Noah nyuruh ke tidur bareng kak Noah," ucap Lea.


Noah tidak habis pikir dengan Lea, apakah dia berpikiran seperti itu ya walaupun ada benarnya juga. Tapi, alasan utamanya adalah karena ia sudah terbiasa tidur dengan Lea sebelum ditugaskan di sini bahkan Noah jarang sekali tidur di kasur sejak bertugas di sini ia lebih sering menghabiskan waktunya di ruangannya.


Tapi, karena ada Lea yasudah Noah pun mengajaknya tidur bersama, siapa tau ia bisa tidur. Tidak ada peraturan yang melarang bukan jika Noah melakukan hal ini.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2