
"Apa ada yang perlu di tanyakan?" tanya ayah Alan.
"Maaf komandan, apa tidak bisa saya digantikan dengan anggota lain?" tanya Noah, dengan se-sopan mungkin.
"Ini sudah keputusan dari para pejabat militer, bukan hanya saya yang memutuskan dan kalau memang letnan Noah ingin digantikan oleh anggota lain, silahkan ajukan surat pada jenderal," ucap ayah Alan.
"Tapi, saya tidak mungkin meninggalkan istri saya yang baru saja tertimpa musibah komandan," ucap Noah.
"Saya tau, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jenderal sendiri yang mengusulkan untuk letnan Noah ikut dalam pelaksanaan ini, seperti diklat prajurit sebelumnya yang letnan Noah ikuti, bicarakan dulu dengan istri letnan Noah dan setelah itu ambil keputusan yang terbaik tentunya, tapi ingat tugas letnan Noah sebagai prajurit," ucap ayah Alan.
"Baik komandan, saya akan membicarakannya terlebih dahulu dengan istri saya. Saya akan berusaha yang terbaik," ucap Noah.
"Letnan Noah harus profesional, karena ini memang tugas letnan Noah, sekarang bagaimana cara letnan Noah menjelaskannya dengan istri letnan Noah," ucap ayah Alan.
"Iya, komandan," ucap Noah.
"Kalau begitu saya permisi," pamit ayah Alan dan pergi dari ruangan tersebut.
"Semoga Lea bisa ngertiin lo," ucap Prabu.
"Semoga, tapi gue juga takut trauma dia kambuh," ucap Noah.
"Istri lo gak sendirian, masih banyak keluarga dan sahabat dia yang bakal jagain dia kok," ucap Tian.
"Huh, semoga saat gue jelasin ini ke dia, dia bisa ngerti dan izinin gue pergi," ucap Noah.
"Pasti dia bakal ngizinin lo, secara ayahnya dia aja komandan Alan yang sering tugas di luar kota," ucap Bondan.
"Semoga kalian disana baik-baik aja ya, kalian tidak perlu khawatir masalah rayon di sini biar gue yang jaga," ucap Reyhan.
"Lo kemarin dipilih ke daerah C ya makanya sekarang lo gak di pilih enak banget," ucap Prabu.
"Kalian ke sana diklat prajurit lah gue waktu ke daerah C nangkap ******* b*go," ucap Reyhan.
"Biasa aja dong, gak usah ngegas segala," ucap Prabu.
*
Disisi lain, Lea saat ini berada di ruangannya dan menatap jengah sahabatnya ini yang baru saja berkenalan dengan seorang pria di media sosial, "Gila, kalau lo tau orangnya pasti lo bakal suka deh," ucap Tyas.
"Gak penting banget," ucap Lea.
"Tapi, beneran gue gak nyesel deh kenal sama dia, dia ganteng banget tau gak," ucap Tyas.
"Bahas cowok terus nih anak," ucap Rudy.
"Biarin aja sih, jomblo mah bebas," ucap Tyas.
"Sama Pak Joshua sana dia kan suka sama lo," ucap Rudy.
"Ogah ya, gue juga milih-milih kaki kalau mau cari cowok. Modelnya kayak pak Joshua mah bukan tipe gue ya, ya kali gue sama cowok botak," ucap Tyas.
"Tapi, pak Joshua tajir loh," ucap Rudy.
__ADS_1
"Ya, tajir juga percuma kalau visual gak mendukung," ucap Tyas.
"Awas aja ya kalau lo sampe jodoh sama pak Joshua," ucap Lea.
"Gak bakal ya," ucap Tyas.
"Hai, Lea," aapa seorang pria yang duduk di depan meja kerja Lea siapa lagi kalau bukan Mark.
Lea tidak merespon sapaan Mark dan malah fokus pada pekerjaannya, "Udah deh Dy, kita pergi aja yuk," ajak Tyas dan mereka pun pergi dari meja kerja Lea.
"Kenapa kamu gak masuk? kamu sakit ya? kamu gak masuk kurang lebih selama seminggu loh padahal gak biasanya kamu gak masuk lama, kamu sakit apa?" tanya Mark.
"Gue gak kerja karena gue enek ketemu sama lo terus, udah deh gak usah deket-deket gue," usir Lea.
"Manis banget sih calon pacar aku kalau ngomong," ucap Mark.
"Ck, dasar gak jelas," ucap Lea.
Saat Mark tengah menggodanya dengan godaan yang membuat ke enek tiba-tiba ponsel Lea berdering dan Lea pun menatap ponselnya.
'Emang adek gue yang satu ini terbaik sih,' ucap Lea dalam hati.
Lea pun mengangkut sambungan telepon tersebut.
^^^Iya, sayang ada apa?^^^
Sayang?
^^^Kenapa sayang? kangen ya? sama aku juga kok, tapi kamu gak usah khawatir kan nanti kamu jemput aku^^^
^^^Iya, nanti kita bicarain itu di kamar aja ya^^^
Ogah! kalau mau santai di kamar sama kak Noah sana ngapain ngajak-ngajak Nial, ya kali Nial harus lihat kalian bercocok tanam
^^^Apa kamu udah gak sabar buat nanti, iya aku juga^^^
Kak Nial telepon kakak mau tanya kok kak Lea malah gak jelas kayak gini sih
^^^Apa sayang?^^^
Ish, aneh. Jadi gini kak, kak Lea punya nomornya Karin gak?
^^^Siapa itu sayang?^^^
Karin temennya Daisy.
^^^Gak deh kayaknya sayang, kenapa emangnya?^^^
Temennya Nial minta nomornya dia
^^^Oh, aku gak tau sayang. Nanti aja ya mau lanjut ngobrolnya di rumah. Dah sayangku, MUACH....^^^
Lea pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan melirik Mark yang ternyata sudah menatap tajam Lea bahkan terlihat wajah marah Mark.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Mark.
"Ada lah orang spesial dalam hidup gue," ucap Lea.
Gak salah kan Lea, Nial kan salah satu orang spesial dalam hidupnya karena Nial adik kandung Lea.
"Sejak kapan?" tanya Mark.
"Apanya?" tanya Lea.
"Kamu berhubungan sama dia," ucap Mark.
"Oh itu, udah lama sih bahkan orangtua gue udah kenal sama dia dan suka sama dia," ucap Lea.
"Namanya siapa?" tanya Mark.
"Ngapain lo nanya namanya?" tanya Lea.
"Ya, aku mau tau siapa laki-laki yang buat kamu luluh sampe kamu manggil dia sayang gitu," ucap Mark.
"Yang jelas dia lebih baik dari lo dan lagi pula gue suka sama siapapun gak ada hubungannya sama lo," ucap Lea.
"Tapi, aku udah suka sama kamu dari lama, Le," ucap Mark.
"Gue juga udah nolak lo dari lama Mark, gue cuma berharap lo berhenti ngejar gue dan cari perempuan lain yang lebih baik dari gue. Pasti banyak kok yang suka sama lo secara muka lo itu gak jelek Mark, lo harus bahagiain diri lo dengan cara cari perempuan yang juga suka sama lo," ucap Lea.
"Aku gak bisa Lea, aku udah suka sama kamu. Aku gak mau cari perempuan lain, aku maunya kamu," ucap Mark.
"Keras kepala banget lo Mark, gue udah bilang kan kalau gue gak suka sama lo. Ada orang lain yang gue sayang bahkan gue udah suka sama dia dari sebelum gue kenal semua lo," ucap Lea.
"Aku gak percaya, kamu pasti ngomong kayak gini biar aku jauh dari kamu kan karena aku berpikir kamu udah lainya pasangan. Gak akan, aku gak akan pernah ngejauhin kamu," ucap Mark.
"Lo gak bisa bahasa manusia ya, gue itu gak suka dan gak akan suka sama lo, jadi gue harap lo gak ganggu gue lagi paham, gue yakin lo bakal dapat perempuan yang lebih baik daripada gue," ucap Lea.
"Aku gak mau Lea. Aku maunya sama kamu," ucap Mark dan memegang tangan Lea bahkan mengecup tangan Lea.
Lea pun terkejut dan murka dengan apa yang dilakukan Mark, dengan refleks Lea menampar pipi Mark, "GILA LO YA!" teriak Lea.
"Kamu nampar aku, Le," gumam Mark dan memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Lea.
"Iya, gue tampar lo kenapa gak suka, udah lah Mark lo pergi aja dan jangan ganggu gue lagi, gue benar-benar muak sama lo," ucap Lea.
"Gak, Lea," ucap Mark.
"Yaudah, kalau lo gak mau pergi biar gue yang pergi," ucap Lea dan pergi dari ruangan tersebut.
Lea lebih memilih rooftop untuk mengerjakan pekerjaannya dan sekaligus untuk menenangkan dirinya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.